Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

1.289 item publik

Publikasi

Halaman 16 dari 65

Karakterisasi dan Skrining Fitokimia Simplisa dan Ekstrak Etanol Daun Kratom (Mitrgyna Speciosa (Korth.) Havil)

TRI WAHYU HANDAYANI
· Thesis · Open Access

Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth) memiliki aktivitas sebagai analgesik, antidiare, antidepresan, antibakteri, antinosiseptif, anti-inflamasi, serta antioksidan. Karakterisasi dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui mutu dari suatu bahan baku obat tradisional. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan didapatkan rendemen sebesar 23,46%. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik pada simplisia berupa serbuk berwarna hijau kecoklatan, rasa pahit, dengan aroma khas dan pada ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit, dan aroma yang khas. Hasil pengamatan makroskopik daun kratom yaitu berbentuk elips, tepi daunnya bergigi, tulang daun dengan berwarna coklat kemerahan menyirip berjumlah 12-17 pasang, pangkal daun sub cordate dan ujung meruncing. Kadar senyawa terlarut dalam air pada simplisia sebesar 23% dan pada ekstrak sebesar 69%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 17,7% dan pada ekstrak sebesar 20,3%. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi susut pengeringan pada simplisia sebesar 13,75% dan pada ekstrak sebesar 24,3%. Kadar abu total dalam simplisia sebesar 4,12% dan dalam ekstrak sebesar 10,35%, kadar abu tidak larut asam dalam simplisia sebesar 0,85% dan dalam ekstrak sebesar 0,58%. Bobot jenis ekstrak sebesar 1,02 g/ml. Total cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 7,9  10³ koloni/g dan ekstrak 4,5  10³ koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 6,4  10³ koloni/g dan pada ekstrak 4,4  10³ koloni/g. Hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak daun kratom positif mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin,saponin, dan steroid.

Analisis Kandungan Zat besi (Fe) Pada Tepung Ikan Baung (Hamibagrus nemurus) Menggunakan Metode ICP-MS ( Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry) Dan Spektrofotometri UV-VIS

MUHAMMAD FAJAR SYAHDI
· Thesis · Open Access

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Ikan baung memiliki kandungan zat besi yang baik untuk tubuh sehingga berpotensi sebagai alternatif untuh mencegah anemia. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kadar zat besi pada ikan baung yang dianalisis dengan dua metode yaitu ICP-MS (Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry) dan Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah kadar zat besi pada tepung ikan baung. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu ICP-MS (Iductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry) dan Spektrofotometer UV-Vis. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kandungan zat besi dalam tepung ikan baung dan variabel kontrol pada penelitian ini yaitu tepung ikan baung. Penelitian ini menggunakan sampel ikan baung yang diolah menjadi tepung ikan. Tahapan penelitian mencakup derteminasi hewan, pengumpulan sampel, pengolahan sampel, uji organoleptis, analisis kualitatif, analisis kuantitatif dan analisis data seacara independent t-test menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan zat besi yang di analisis dengan ICP-MS lebih akurat dan dapat dijadikan acuan utama dalam penentuan kadar zat dalam smpel tepung ikan baunga. Hasil spektrofotometri UV-Vis tetap dapat digunakan sebagai data pendukung.

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DAN FRAKSINYA DARI KECAMATAN LOA JANAN ILIR KOTA SAMARINDA DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

ARFIATIN NURHIDAYAH
· Thesis · Open Access

Madu kelulut (Heterotrigona itama) adalah madu alami yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat seperti yang banyak dibudidayakan di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa jenis madu tanpa sengat memiliki senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya yaitu flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar flavonoid total madu kelulut budidaya dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda Kalimantan Timur dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan objek atau sampel yang diteliti adalah madu hasil lebah kelulut (Heterotrigona itama). Prosedur penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95% dengan metode maserasi, fraksinasi ekstrak kental menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol, skrinning fitokimia dan uji kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding kuersetin. Kadar flavonoid total dinyatakan dalam satuan mgQE/gram ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid ekstrak etanol 95% adalah 0,0607±0,0064 mgQE/g, fraksi n-heksana 0,0571±0,0012 mgQE/g, fraksi etil asetat 0,2031±0,0017 mgQE/g, dan fraksi air 0,0198±0,0008 mgQE/g. Uji normalitas menunjukkan distribusi nilai kadar flavonoid total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar flavonoid total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,025 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) berbeda secara signifikan.

Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona Itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

MEI LIKA SYAROH
· Thesis · Open Access

ABSTRAK Nama : Mei Lika Syaroh NIM : 21482011255 Judul Skripsi : Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Siti Jubaidah, S.Far., M.Pd. Madu kelulut merupakan madu yang berasal dari lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) yang memiliki manfaat aktivitas bioligis sebagai antibakteri, antiinflamasi dan penyembuh luka, serta memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya yaitu fenolik. Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan gugus kromofor. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol pada madu kelulut dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Data kualitatif diperoleh melalui skrinning fitokimia madu kelulut, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari penetapan kadar senyawa fenolik pada madu kelulut. Tahapan penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia madu kelulut, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, fraksinasi bertingkat, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total ekstrak etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding asam galat. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik ekstrak etanol 95% adalah 1,2958±0,1362 mgGAE/g, fraksi n-heksana 1,2535±0,0254 mgGAE/g, fraksi etil asetat 2,9765±0,0733 mgGAE/g, dan fraksi etanol-air 1,1712±0,0175 mgGAE/g. Uji normalitas menunjukkan kadar fenolik total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar fenolik total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,055 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar fenolik dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) tidak ada perbedaan yang signifikan.

FORMULASI SEDIAAN SABUN PADAT dari EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhiz) DAN MINYAK ATSIRI JERUK LEMON (Citrus lemon)

MUHAMMAD RAIHAN SAKA
· Thesis · Open Access

Penelitian ini bertujuan mengembangkan sabun padat yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan minyak atsiri jeruk lemon (Citrus limon) untuk meningkatkan kualitas produk kosmetik. Metode yang digunakan adalah eksperimen, meliputi ekstraksi, formulasi sabun, dan uji fisik seperti uji organoleptis, pH, stabilitas busa, homogenitas, dan uji iritasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun padat dengan konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah 2,1%, 3,6%, dan 4,2% memenuhi standar sifat fisik yang baik. Uji organoleptis menunjukkan perubahan warna sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dan pH sabun berada dalam rentang aman (9-11). Formula 3 menunjukkan stabilitas busa terbaik, dan uji iritasi pada 15 panelis menunjukkan tidak ada efek iritasi pada kulit. Kesimpulannya, sabun padat ini aman digunakan dan memanfaatkan limbah kulit buah naga merah, mendukung pengembangan produk kosmetik berbahan alami.

PENETAPAN KADAR FENOLIK DAN FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN WANYI (Mangifera caesia Jack.) BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI

NADIRA NUR OKTAVIA PUTRI
· Thesis · Open Access

Daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) Secara tradisional telah dimanfaatkan dalam berbagai pengobatan herbal karena kandungan zat aktifnya. Daun wanyi diketahui kaya akan senyawa flavonoid. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar flavonoid total daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Serbuk simplisia daun wanyi diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 95% selama 24 jam dan diekstraksi secara refluks menggunakan etanol 95% dengan suhu 60°C selama 1 jam. Penentuan kadar flavonoid total ekstrak daun wanyi dengan spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Hasil yang diperoleh dari data spektrofotometri UV-Vis adalah kadar flavonoid total ekstrak etanol daun wanyi dengan metode maserasi sebesar 7,5766 ± 0,2163 mgQE/g dan secara refluks sebesar 4,4324 ± 0,2576 mgQE/g. Analisis data statistik kadar flavonoid total menggunakan uji Mann-Whitney menghasilkan nilai signifikansi 0,046 (p 0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua metode ekstraksi.

Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Umbil Lili Paris (Chlorophytum comosum) Sebagai Antibakteri Pada Staphylococcus aureus Menggunakan Metode Difusi Cakram

LUHUNG SARAH
· Thesis · Open Access

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang sering menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak. Penggunaan tanaman obat tradisional sebagai alternatif antibakteri alami terus dikembangkan, salah satunya adalah umbi lili paris (Chlorophytum comosum), yang secara empiris digunakan oleh masyarakat di Berau, Kalimantan Timur, untuk mengobati bisul. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% umbi lili paris terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Proses penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri dengan berbagai konsentrasi (20%, 30%, 40%, dan 50%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak membentuk zona hambat pada konsentrasi 30%, dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 0,57 mm, 40% sebesar 0,65 mm, dan 50% sebesar 0,65 mm yang dikategorikan sebagai aktivitas antibakteri lemah. Hasil uji KruskalWallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok konsentrasi (p = 0,007). Penelitian ini dapat disimpulkan ekstrak etanol umbi lili paris menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah terhadap Staphylococcus aureus.

EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025

GIOVANNI ADICHANDRA WIBISONO
· Thesis · Open Access

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.

Persepsi dan Partisipasi Mahasiswa Sarjana Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Samarinda dalam Organisasi Kemahasiswaan

KRISDIANA SWYTA BELA
· Thesis · Open Access

Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga perlu aktif dalam organisasi untuk mengembangkan soft skills seperti kepemimpinan, kerja sama, dan komunikasi yang berguna untuk melatih mereka nanti menjadi tenaga kefarmasian serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Tujuan penelitian ini mengetahui persepsi dan partisipasi mahasiswa serta melihat hubungan antara persepsi dan partisipasi. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukan pencatatan dan penganalisisan data hasil penelitian secara numerik dengan menggunakan perhitungan statistik. Sampel dalam penelitian ini seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda prodi S1 Farmasi angkatan 2021 dan angkatan 2022. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbentuk google form dengan skala Likert. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan, sedangkan variabel terikatnya adalah partisipasi mahasiswa. Hasil analisis data dilakukan melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, dan uji t satu arah menggunakan SPSS, Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan tergolong positif, baik pada mahasiswa yang mengikuti maupun yang tidak mengikuti organisasi. Tingkat partisipasi mahasiswa aktif dalam berbagai bentuk organisasi, baik sebagai anggota maupun pengurus. Uji t satu arah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi dan partisipasi. Artinya, semakin positif persepsi mahasiswa terhadap organisasi, maka semakin tinggi kemungkinan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun persepsi positif terhadap organisasi kemahasiswaan untuk mendorong keterlibatan mahasiswa yang lebih aktif.