DESI NOVIANI SIANG
2023 · Thesis · Open Access
Timun Suri (Cucumis melo L) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam keluarga Cucurbitaceae yang memiliki kandungan metabolit sekunder pada kulit, buah, dan biji. Tujuan penelitian ini mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol biji timun suri (Cucumis melo L) dengan metode DPPH. Tahapan peneitian meliputi identifikasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, dan aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak biji timun suri mengandung senyawa alkoloid dengan dinyatakan hasil positif dari uji skrining fitokimia dari pereaksi mayer dan bouchardat. Hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukan bahwa ekstrak biji timun suri memiliki nilai IC50 sebesar 1226,8 ppm dengan kategori tidak ada aktivitas antioksidan.
SRI RAHMAWATI
2023 · Thesis · Open Access
Peningkatan kolesterol yang disebabkan oleh pola makan yang buruk dapat mengakibatkan terjadinya hiperkolesterolemia yaitu penyakit jantung iskemik dan stroke. Penurunan kadar kolesterol dapat dibantu dengan terapi non farmakologi yaitu herbal salah satunya adalah penggunaan daun sembung. Bagian daun tanaman sembung secara empiris telah digunakan oleh masyarakat dengan cara ekstraksi atau infusa menjadi jamu yang bernanfaat sebagai minuman fungsional yang memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti minyak atsiri, tanin, sterol, flavonoid dan sesquiterpen yang memiliki potensi sebagai antikolesterol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun sembung (Blumea balsamifera L.) secara in-vitro. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental menggunakan pereaksi Liebermann-Burchard dengan seri konsentrasi 100; 200; 300; 400; dan 500 ppm. Analisis data dilakukan secara deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung untuk menentukan nilai absorbansi dari masing-masing konsentrasi untuk selanjutnya diolah data dalam bentuk tabel, grafik dan narasi.
FADHILAH RAHMAN
2023 · Thesis · Open Access
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki aneka tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah – buahan salah satunya adalah buah alpukat yang permintaanya meningkat setiap tahunnya. Buah alpukat merupakan buah yang termasuk paling sering dikonsumsi. Masyarakat memanfaatkan pada buahnya saja sedangkan bagian lainnya seperti bijinya kurang dimanfaatkan. Pengeringan menggunakan oven dapat menghasilkan berat kering konstan lebih cepat, yang dipengaruhi oleh suhu yang digunakan sehingga dapat meningkatkan biaya produksi sedangkan pengeringan dengan sinar matahari dapat memberikan keuntungan dari segi biaya produksi yang murah dengan waktu yang singkat namun sinar matahari dapat mendegradasi senyawa fitokimia yang terkandung dalam simplisia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perlakuan pengeringan matahari langsung dan pengeringan oven serta menguji kadar fenolik total dengan fraksi etil asetat dan n-heksan biji buah alpukat (Persea americana Mill.). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60oC, ekstraksi secara maserasi, fraksinasi dengan etil asetat dan n-heksan, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif.
PASKALIA DWI AJENG PUTRI BASKORO
2023 · Thesis · Open Access
Karies gigi dan periodontitis salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Daun jeruk purut (Citrus hystrix D.C) mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan minyak atsiri yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jeruk purut terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Penelitian ini bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah zona hambat (zona bening) ekstrak daun jeruk purut terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Penelitian dimulai dari pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak etanol daun jeruk purut terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis dengan metode sumuran pada konsentrasi ekstrak 10%, 20%, 40%, dan 60%. Kontrol positif yang digunakan yaitu chlorhexidine dental dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data yang diperoleh, data kualitatif berupa hasil skrining fitokimia yang disajikan secara deskriptif dan data kuantitatif berupa hasil zona hambat (zona bening) antibakteri yang dianalisis secara statistik dengan menggunakan metode Kruskal Wallis.
FAUZIAH ZULIANI
2023 · Thesis · Open Access
Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Kandungan ekstrak etanol daun selutui puka mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun selutui puka terhadap Escherichia coli. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah zona hambat ekstrak daun selutui puka terhadap bakteri Escherichia coli. Tahapanpenelitian dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Escherichia coli dengan metode difusi sumuran pada konsentrasi 5%, 10%, 15%, 25%, 35% dan 45%. Kontrol positif yang digunakan yaitu amoxicillin 0,1% dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Escherichia coli memiliki daya hambat pada konsentrasi 5%, 10%, 15%, 25%, 35% dan 45% secara berurutan 2,53 mm, 3 mm, 4,9 mm, 5 mm, 5,3 mm, 6,23 mm, dengan kategori daya hambat sedang.
YUDHA PRATAMA PUTRA
2023 · Thesis · Open Access
Labu kuning (Cucrbita moschata D.) merupakan bahan pangan kaya vitamin A, C, mineral, dan karbohidrat. Daging buah labu kuning diketahui memiliki beberapa kandungan kimia, salah satunya adalah flavonoid sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan pada buah labu kuning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel buah labu kuning, pembuatan ekstraksi, skrining fitokimia, uji kadar flavonoid total dan uji aktivitas antioksidan secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan metode DPPH.Variabel bebas penelitian ini adalah ekstrak etanol buah labu kuning dan variabel terikat adalah kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah labu kuning. Ekstraksi pada buah labu kuning dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Uji flavonoid total menggunakan metode kolorimetri dengan AlCl3 10% sebagai reagen dan menggunakan standar kuersetin. Uji aktivitas antioksidan menggunakan DPPH dengan kuersetin sebagai pembanding. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, data yang diperoleh dari hasil pengujian kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan dibuat dalam bentuk tabel dan kurva yang kemudian dideskripsikan.
MA'RIFATUL AWALIAH
2023 · Thesis · Open Access
Buah labu kuning merupakan tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi kulit dari buah labu kuning jarang dimanfaatkan bahkan dianggap limbah yang tidak terpakai. Di sisi lain, kulit labu kaya akan metabolit sekunder seperti kandungan flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid. Bahkan kulit buah labu kuning juga memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat. Kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan akan berpengaruh terhadap senyawa aktif yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kulit labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui beberapa tahapan dimulai dari determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi dan refluks, uji aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer dengan metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrihidrazil). Analisis data yang digunakan berupa data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung dan diolah dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah.
NORSYIFA
2023 · Thesis · Open Access
Buah pare (Momordica charantia L.) adalah salah satu tanaman yang penyebarannya cukup luas di Indonesia dan sangat mudah ditemukan, seagian besar masyarakat juga meyakini bahwa buah pare yang pahit ini banyak manfaatnya untuk mengobati segala macam penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antioksidan dari ekstrak daging buah pare. Kandungan dari ekstrak metanol daging buah pare mengandung flavonoid, saponin, dan terpenoid. Salah satu kandungan didalam daging buah pare yang berfungsi sebagai antioksidan adalah flavonoid Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Tahap penelitian meliputi pengumpulan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 difenil-2-pikrilhidrazil) dan sebagai pembanding digunakan Vitamin C secara spektrofotometri UV – Vis. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan niai IC50 yaitu konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas suatu radikal bebas 50 %. Hasil rendemen ekstrak daging buah pare diperoleh sebanyak 6,08%. Sedangkan hasil dari aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50 ekstrak metanol daging buah pare termasuk dalam kategori sangat lemah yaitu sebesar 512,0606 ppm dan Vitamin C sebagai pembanding termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 17,9956 ppm.
INDRA
2023 · Thesis · Open Access
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang banyak tersebar diwilayah Indonesia, salah satunya di Kalimantan. Senyawa metabolit sekunder yang dimiliki tumbuhan paku yaitu flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan senyawa fenol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi tabir surya yang dilihat dari nilai SPF (Sun Protection Factor) tumbuhan paku yaitu Asplenium nidus Linn., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott. Penelitian dilakukan secara non eksperimental. Tahapan penelitian dimulai dengan determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak skrining fitokimia dan penentuan nilai SPF masing-masing tumbuhan paku. Variabel bebas penelitian ini adalah ekstrak etanol tumbuhan paku pada konsentrasi 500, 1000 dan 1500 ppm pada uji spektrofotometri. Konsentrasi ekstrak etanol tumbuhan paku diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk mendapatkan nilai SPF dari sampel. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai SPF tumbuhan paku Asplenium nidus Linn. pada konsentrasi 500 ppm termasuk kategori rendah dengan nilai SPF 6,96366, pada konsentrasi 1000 ppm termasuk kategori sedang dengan nilai SPF 13,81804, dan pada konsentrasi 1500 ppm termasuk kategori sedang dengan nilai SPF 20,55046. Tumbuhan paku Asplenium adiantum-nigrum L., pada konsentrasi 500 ppm termasuk kategori proteksi sedang dengan nilai SPF 20,20421, konsentrasi 1000 ppm termasuk kategori tinggi dengna nilai SPF 31,42205 dan pada konsentrasi 1500 ppm termasuk kategori tinggi dengan nilai SPF 37,93272. Tumbuhan paku Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott. pada konsentrasi 500 ppm termasuk kategori proteksi sedang dengna nilai SPF 15,35747, pada konsentrasi 1000 ppm termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai SPF 32,82903 dan pada konsentrsi 1500 ppm termasuk kategori tinggi dengan nilai SPF 38,09552.
SITI RAHMAH NURJANAH
2023 · Thesis · Open Access
The leaves of the ferns Asplenium nidus L., Asplenium adiantum nigrum L., and Aspidium biserratum Sw. contains secondary metabolites of flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, and phenols. Phenolic compounds are the largest secondary metabolites in plants. The benefits of phenolic compounds are as antioxidants and their ability to prevent various diseases such as cancer, anti-inflammatory, anti-microbial and anti-diabetic. The purpose of this study was to compare the total phenolic content of the ethanol extracts of the leaves of the ferns Asplenium nidus L., Asplenium adiantum nigrum L., and Aspidium biserratum Sw. by UV-Vis spectrophotometry method. The research conducted was non-experimental research. The objects studied were the total phenolic content of the ethanol extract of the leaves of the ferns Asplenium nidus L., Asplenium adiantum nigrum L., and Aspidium biserratum Sw. The research phase included plant determination, sample collection, simplicia processing, extract preparation, water content determination, extract phytochemical screening, and phenol content determination using the UV-Vis spectrophotometry method using Folin Ciaocalteau reagent. Total phenol content is expressed in units of mg GAE (gallic acid equivalent)/g extract. The data analysis used in this study used statistics using the one way ANOVA program in the form of the results of testing the total phenolic ethanol extract of the ferns Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-ningrum L., and Aspidium biserratum Sw.
REGINA GUSTI CAHYANI FACHSI
2023 · Thesis · Open Access
Stunting adalah suatu kondisi dimana anak mempunyai tinggi badan lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan orang seumuran pada umumnya. Kurang gizi dan multivitamin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak. Status gizi pada anak dipengaruhi oleh faktor asupan makanan,multivitamin, pendapatan, pendidikan, dan pola asuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan persepsi orang tua SDN 005 Samarinda Seberang terhadap pencegahan Stunting. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode cross sectional yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengamatan pada saat bersamaan atau sekali waktu. Data diambil menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji korelasi spearman rank.
NURUL HIKMAH SAFITRI
2023 · Thesis · Open Access
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang paling banyak tersebar di daerah tropik seperti Kalimantan. Salah satu jenis tumbuhan paku yang paling sering dijumpai temui yaitu paku sejati (Felicinae) contohnya Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Setiap tumbuhan umumnya mengandung senyawa golongan flavonoid. Flavonoid terdapat hampir di semua bagian tumbuhan, seperti daun, akar, kulit tepung sari, nektar, bunga, buah dan biji. Senyawa flavonoid memiliki aktivitas antioksidan yang dapat meningkatkan pertahanan diri dari penyakit yang diinduksi radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid pada tanaman paku Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Berdasarkan hasil uji kualitatif, ketiga sampel terbukti mengandung senyawa golongan flavonoid dan steroid serta tidak mengandung senyawa golongan alkaloid, tanin dan saponin. Penetapan kadar flavonoid dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun paku Asplenium nidus memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,4440% ± 0,018599. Sementara ekstrak etanol daun paku Asplenium adiantum-nigrum memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,5439% ± 0,017408, dan pada ekstrak etanol daun paku Aspidium biserratum 0,5116% ± 0,060305.
EKI ALIFANAH
2023 · Thesis · Open Access
Selutui puka leaves (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) is one of the plants used by the community as a medicinal plant to treat various diseases. Selutui puka leaves contain alkaloid compounds, flavonoids, tannins, saponins and steroids that have antibacterial activity. Staphylococcus epidermidis is one of the bacteria that causes skin infections, these bacteria cause inflammation and become acne bumps. This study aims to determine the extract of selutui puka leaves has antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis. The research conducted is experimental research. The research phase includes sampling, determination of selutui puka leaf plants, making simplisia, making selutui puka leaf extract and testing antibacterial activity using the well diffusion method using selutui puka leaf extract concentrations of 2.5%, 5%, 10%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, and 75%. The data were statistically analyzed with Anova/Kruskal Wallis and presented in tabular form. The inhibitory zone results obtained at concentrations of 2.5%, 5%, 10%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55% in the weak category ( 5 mm) while at concentrations of 65% and 75% in the medium category with an average inhibitory zone of 5.20 mm and 5.30 mm. In the positive control ciprofloxacin was 27.86 mm with a very strong category.
YOHANA
2023 · Thesis · Open Access
Penyakit degeneratif adalah kondisi kesehatan yang menyebabkan jaringan atau organ memburuk dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab penyakit degeneratif adalah radikal bebas di dalam tubuh yang tidak dapat dinetralkan. Radikal bebas dapat ditangkal menggunakan antioksidan yang berperan sebagai agen penetralisir. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan alami adalah labu kundur yang termasuk dalam famili Cucurbitaceae (suku labu-labuan). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol biji kundur (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn). Metode penelitian ini meliputi preparasi sampel, determinasi, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis secara deskriptif, disajikan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol biji kundur memiliki nilai IC50 sebesar 544.0936 ppm dengan kategori aktivitas antioksidan tidak aktif.
MUHAMMAD ARDIANSYAH
2023 · Thesis · Open Access
Sediaan pewarna rambut adalah kosmetik yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut. Antosianin pada bawang dayak berpotensi sebagai zat pewarna alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan ekstrak etanol bawang dayak sebagai pewarna alami pada sediaan pewarna rambut dan mengetahui stabilitas warna sediaan pewarna rambut dari ekstrak etanol bawang dayak sebagai pewarna rambut alami. Sediaan pewarna rambut dibuat dengan formula yang terdiri dari berbagai konsentrasi ekstrak etanol bawang dayak yaitu 5%, 10%, dan 15%. Pada penelitian ini bawang dayak diesktraksi dengan cara dengan cara maserasi menggunakan pelarut 95%. Kemudian diformulasikan ke dalam bentuk gel dan dilakukan pengujian terhadap uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, daya lekat, pH, viskositas, iritasi, stabilitas warna, efektivitas warna, stabilitas warna terhadap pencucian, dan stabilitas warna terhadap sinar matahari. Analisis data menggunakan analisis secara statistik.
SA'DIAH MULIAWATI
2023 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Nama :Sa’diah Muliawati Program studi :Sarjana Farmasi Judul skripsi :Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Kulit Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata) Berdasarkan Perbedaan Cara Pengeringan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis. Pembimbing : 1. apt. Supomo, M.Si. 2. apt. Fitri Handayani, M.Si. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang telah diketahui dapat memberikan efek farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak etanol kulit buah limpasu (Baccaurrea lanceolata) berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi: pengumpulan sampel, determinasi, pembuatan simplisia menggunakan metode pengeringan sinar matahari dan oven, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid. Ekstrak etanol kulit buah limpasu menggunakan perbandingan kuersetin konsetrasi 100 ppm dengan seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Nilai absorbansi diukur dengan Spektrofotometri UV- Vis. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung untuk menilai absorbansi dari masing-masing konsentrasi untuk diolah data dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Hasil penelitian pada P. oven ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,1075± 0,0746 dan P. matahari ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,4438± 0,0274. pengeringan matahari memberikan hasil kadar flavonoid yang lebih tinggi di bandingkan pengeringan oven.
KHAIRUNNISA WORO DAMAYANTI
2023 · Thesis · Open Access
Kelengkapan resep merupakan aspek yang sangat penting dalam peresepan karena dapat membantu mengurangi terjadinya kesalahan pada resep dan dapat merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan. , skrining resep merupakan suatu pemeriksaaan resep yang pertama kali dilakukan oleh petugas apotek setelah resep diterima di apotek.Skrining resep meliputi skrining admninstratif, kesesuaian farmasetis, dan kesesuian klinis. Skrining administrastif adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, tanggal penulisan resep, nama dokter, nomor Surat Izin Praktek (SIP), alamat pasien, nomor telepon pasien, dan paraf dokter. Skrining farmasetik adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri daribentuk dan kekuatan sediaan, aturan dan cara penggunaan obat, nama obat, jumlah obat, stabilitas, dan kompatibilitas (ketercampuran obat). Skrining Klinis adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri dari ketepatan indikasi, dosis obat, duplikasi dan interaksi obat.Skrining resep bertujuan untuk menjamin legalitas suatu resep dan meminimalkan kesalahan pengobatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui presentase kelengkapan Resep di Apotek Sahabat Samarinda sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.73 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental bersifat deskriptif dengan melakukan analisis hanya pada taraf deskripsi atau hanya menggambarkan keadaan objek yang didasarkan pada data. Teknik pengambilan data adalah dengan metode purposive sampling dan hasil disajikan dalam bentuk tabel. Adapun data yang digunakan adalah resep di Apotek Sahabat Samarinda pada bulan Maret 2023. Pengambilan data bersifat retrospektif.
ELMIRA AYU FADILLAH
2023 · Thesis · Open Access
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diameter zona hambat ekstrak daun selutui puka terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental yaitu dengan tahapan determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi, lalu ekstrak daun selutui puka diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi 25%, 35%, 45%, 55%, 65% dan 75%. Data dianalisis secara statistik dengan Anova/Kruskall Wallis dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki daya hambat pada konsentrasi 25%, 35%, 45%, 55%, 65% dan 75% secara berurutan 1,76 mm, 4,46 mm, 4,48 mm, 4,97 mm, 5,43 mm dan 5,83 mm kategori daya hambat lemah hingga sedang.
HANNA RAHIMMANUELIA
2023 · Thesis · Open Access
Alang-alang (Imperata cylindrica L. ) merupakan tumbuhan liar yang dapat tumbuh di daerah kering, digunakan oleh masyarakat sebagai tumbuhan berkhasiat obat. Tumbuhan ini memiliki banyak sekali potensi terapeutik termasuk aktivitas antioksidan. Pengeringan merupakan tahapan terpenting dalam menjaga kestabilan senyawa pada simplisia dan sangat berpengaruh untuk menghasilkan kualitas bahan yang baik dalam aktivitas antiokidan yang terkandung dalam simplisia. Antioksidan merupakan zat penghambat reaksi oksidasi akibat radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengeringan terhadap konsentrasi aktivitas antioksidan dari akar alang-alang. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah aktivitas antioksidan ekstrak etanol akar alang-alang. Tahapan penelitian dimulai dari pengumpulan sampel, determinasi dan pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrihidrazil) secara spektofotomeri UV-Vis. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistik menggunakan SPSS.
NURUL MAGEFIRAH
2023 · Thesis · Open Access
Kulit labu kuning yang selama ini dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki potensi sebagai antibakteri. Ekstrak etanol kulit labu kuning (Cucurbita moschata) mengandung saponin, flavonoid yang berperan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah labu kuning terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Obyek yang diteliti adalah diameter zona hambat aktivitas antibakteri dari ekstrak kulit labu kuning terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Variabel bebas pada penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak kulit labu kuning dan variabel terikat pada penelitian ini adalah diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar sumuran Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, dan dilakukan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode well diffusion dengan konsentrasi ekstrak 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 15%, 20%. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramphenikol 0,1% dan kontrol negatif adalah DMSO (Dimetil sulfoksida) 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah labu kuning dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% dengan kategori lemah. Rata-rata zona hambat yang didapatkan pada bakteri Escherichia coli 3,2 mm, 4,1 mm, dan 4,7 mm. Sedangkan pada Staphylococcus aureus didapatkan rata-rata zona hambat 2,7 mm, 3,1 mm, dan 4,1 mm.