KRISTINA INDAH PRADILA
2020 · Thesis · Open Access
Tumbuhan Ficus merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Moraceae dan telah tersebar luas diberbagai wilayah. Masyarakat memanfaatkan potensi yang dimiliki tumbuhan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Secara empiris tumbuhan ficus memiliki khasiat sebagai antidiare, antikanker, antimikroba, analgesik, antiinflamasi, antioksidan, penawar racun, dan antibakteri. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak tumbuhan Ficus dengan menggunakan metode maserasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dari pengumpulan data-data seperti jurnal-jurnal ilmiah, meringkas data, lalu kemudian mengolah data penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dari jurnal ilmiah. Berbagai literatur yang diperoleh memiliki bagian-bagian tumbuhan berbeda dengan proses ekstraksi maserasi dan penggunaan pelarut yang berbeda sehingga hasil filtrat ekstrak yang diperoleh bervariasi, hal tersebut juga dapat berasal dari tempat tumbuh tumbuhan Ficus yang berbeda-beda. Ekstraksi dengan metode maserasi terhadap tumbuhan Ficus pada spesies berbeda menghasilkan nilai rendemen ekstrak yang bervariasi diantaranya Ficus racemosa L. memperoleh ekstrak etanol pada buah sebanyak 9,2%, dan akar 1,3125%. Ekstrak n-heksan pada kulit batang sebanyak 2,28% dan ekstrak petroleum eter pada daun sebanyak 4,79%. Kemudian ekstrak etanol pada daun Ficus carica L. sebanyak 13,56%. Ekstrak etanol pada buah Ficus benjamina L. sebanyak 1,004%. Ekstrak etanol pada buah Ficus variegata Blume. sebanyak 4,5%. Tumbuhan Ficus memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan.
ASTUTI
2020 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Secara empiris bagian tumbuhan Ficus racemosa L. dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti khasiat pada daun digunakan untuk disentri dan diare. Khasiat pada buah digunakan untuk batuk kering, luka bakar, cacingan, kusta, keputihan, kanker dan kudis. Khasiat pada kulit kayu sebagai obat penyakit kulit, pencahar, diabetes, maag, keputihan, gangguan saraf, diare dan penyakit vagina. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik daun, buah dan kulit kayu dari tumbuhan Ficus racemosa L. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian studi literatur. Objek yang diteliti adalah karakteristik bagian tumbuhan Ficus racemosa L. Tahapan penelitian dimulai dari reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil karakterisasi spesifik tumbuhan Ficus racemosa L., pada kadar sari larut air rata-rata ekstrak daun 10,89%, ekstrak buah 9%, ekstrak kulit kayu 11,27%, dan kadar sari larut etanol rata-rata ekstrak daun 1,78%, ekstrak buah 7%, ekstrak kulit kayu 8,48%. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak daun (flavonoid, steroid dan terpenoid), pada ekstrak buah (alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid), pada ekstrak kulit kayu (flavonoid, tanin, saponin, steroid dan terpenoid). Hasil karakterisasi non spesifik pada kadar abu total rata-rata ekstrak daun 11,56%, ekstrak buah 3,96%, ekstrak kulit kayu 16,31%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata ekstrak daun 3,52%, ekstrak buah 9,29%, ekstrak kulit kayu 1,35%, sedangkan kadar abu larut air ekstrak buah rata-rata 7,45%.
M IRFAN ALAM HARAHAP
2020 · Thesis · Open Access
Studi Literatur ini bertujuan untuk melihat profil penggunaan obat antihipertensi pada pasien BPJS di Apotek. Penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Objek yang menjadi penelitian adalah profil penggunaan obat antihipertensi. Analisa data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu data yang di peroleh dikelompokan berdasarkan jenis kelamin, usia, penggolongan obat antihipertensi, dan pola peresepan. Setelah itu data dianalisis dan dicari persentasinya berdasarkan kriteria, untuk mangetahui perbandingan pola peresepan obat antihipertensi dan disajikan dalam bentuk tabel.
EVI AGUSTINA TYASTUTI
2020 · Thesis · Open Access
Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan salah satu tanaman herbal. Tumbuhan kratom dapat digunakan sebagai obat demam, meringankan nyeri otot dan mengurangi nafsu makan. Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) memiliki efek analgesik opioid (antinosiseptif). Kandungan utama daun kratom adalah mitraginin yang memiliki afinitas kuat pada reseptor opioid. Studi ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antinosiseptif ekstrak dan fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Fraksi n-heksan daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi diklorometana daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi air daun kratom dosis I (140mg/kgBB), dosis II (280mg/kgBB) dan dosis III (560 mg/kgBB) memiliki efek antinosiseptif. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antinosiseptif fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Fraksi air daun kratom dosis 560 mg/kgBB memiliki aktivitas antinosiseptif lebih lemah dibandingkan dosis 280 mg/kgBB yang dihasilkan oleh fraksi n-heksan dan fraksi diklorometana.
TITIN MURTININGSIH
2020 · Thesis · Open Access
Daun kerehau (Callicarpa longifolia) memiliki manfaat sebagai antiinflamasi dan antimalaria. Daun Kemangi (Ocimum sanctum ) digunakan sebagai penurun kadar asam urat. Jeruju (Acanthus illicifolius) digunakan sebagai antidiabetes dan antirematik. Karakterisasi adalah langkah awal untuk mengetahui mutu ekstrak, tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik ekstrak etanol daun kerehau, daun kemangi dan daun jeruju. Penelitian ini berupa studi literatur. Tahapan penelitian yaitu, reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas; penyajian data; penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Karakteristik ekstrak daun kerehau, daun kemangi dan daun jeruju secara organoleptis yaitu: warna coklat tua, rasa pahit, bau khas dan ekstrak kental; hijau kecoklatan, rasa pahit, bau aromatis dan ekstrak kental; kecoklatan, rasa pahit, bau khas dan ekstrak kental. Senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun Kerehau, daun kemangi dan daun jeruju yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/terpenoid. Kadar sari larut air dan etanol dari ekstrak etanol daun Kerehau, daun kemangi dan daun jeruju berurutan adalah 40,4% dan 39,9%; 6,74% dan 22,83%; (-). Kadar air, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam ekstrak etanol daun Kerehau, daun kemangi dan daun jeruju beurutan adalah 15%, 3,5% dan 0,3%; (-), 4,8% dan 4,53%; 25,40%, 15,6% dan 0,74%.
SITI MAISAROH
2020 · Thesis · Open Access
Studi ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik simplisia daun beluntas, daun paitan, dan daun tempuyung dari famili Asteracea. Karakterisasi merupakan suatu proses awal yang dilakukan untuk mengetahui mutu suatu bahan baik simplisia maupun ekstrak. Data yang digunakan dalam studi literatur ini adalah data sekunder dari beberapa penelitian. Berdasarkan dari tiga penelitian ini didapatkan karakteristik daun beluntas yaitu untuk kadar sari larut etanol > 5%, kadar sari larut air >26%, kadar abu total 16%, kadar abu larut air 10%, kadar abu tidak larut asam 8% dan susut pengeringan 12%. Karakteristik simplisia daun paitan adalah kadar air 5,2%, susut pengeringan 8,958%, kadar abu total 11,918%, kadar abu tidak larut asam 0,708%, kadar sari larut air 20,810% dan kadar sari larut etanol 12,241%. Sedangkan karakteristik simplisia daun tempuyung adalah kadar air 5,33%, kadar sari larut air 28,27%, kadar sari larut etanol 9,42%, kadar abu total 16,44% dan kadar abu tidak larut asam 0,61%.
ALIF TRIBUDI
2020 · Thesis · Open Access
Daun mangga, daun katuk dan buah pepaya adalah tumbuhan yang berkhasiat obat dan mengandung senyawa flavonoid dan vitamin C. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler, jantung koroner, kanker dan penuaan dini yang disebabkan oleh radikal bebas. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan efektivitas antioksidan sediaan krim daun katuk, krim buah pepaya dan krim daun mangga berdasarkan nilai IC50. Penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa aktivitas antioksidan sediaan krim ekstrak daun mangga, krim ekstrak daun katuk dan krim esktrak buah pepaya dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil). Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat yaitu nilai IC50. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang tekumpul. Nilai IC50 dari sediaan krim ekstrak daun mangga, krim ekstrak daun katuk dan krim ekstrak buah pepaya berurutan adalah 50,54 ppm, 55,85 ppm dan 99,86 ppm. Sediaan krim ekstrak daun mangga, krim ekstrak daun katuk, dan krim ekstrak buah pepaya dapat dikategorikan sebagai antioksidan yang kuat.
LOLA NOVITA
2020 · Thesis · Open Access
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat ISPA di Puskesmas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal serta Karya Tulis Ilmiah (KTI) tentang profil penggunaan obat ISPA di puskesmas. Objek penelitiannya adalah Profil Penggunaan Obat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Puskesmas. Data dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur yang ada. Penggunaan obat ISPA berdasarkan jenis kelamin yang tertinggi pada penelitian Tatu (2017) dan Natsir (2019) adalah laki-laki dengan persentase 50,54% dan 52,8%, sedangkan pada penelitian Mola (2018) dan Barus (2019) yang tertinggi adalah perempuan dengan persentase 54,67% dan 60,37%. Berdasarkan usia, pada penelitian Tattu (2017), Natsir (2019) dan Mola (2018) yang tertinggi adalah pada usia balita dengan persentase 100%, 27,8% dan 41,36%, sedangkan pada penelitian Barus (2019) yang tertinggi ada pada lansia yaitu dengan persentase 42,09%. Berdasarkan obat yang sering digunakan adalah amoxicillin dengan persentase 80,34%, Glyceril guaiacolat 92,2%, obat kombinasi 78,75% dan mukolitik 38,28%. Kesimpulan hasil literatur adalah berdasarkan jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang terlalu signifikan, berdasarkan usia terbanyak adalah balita, dan berdasarkan obat yang diberikan terapi utama adalah amoxicillin dan terapi suportif glyceril guaiacolat.
USWATUN HASANAH
2020 · Thesis · Open Access
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) sampai saat ini belum bisa disembuhkan, namun infeksi ini dapat dikendalikan dengan obat antiretroviral. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antiretroviral (ARV) pada pasien penderita AIDS rawat jalan di Rumah Sakit Umum Undata Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Rumah Sakit Swasta yang berada di Kota Bandung, dan RSUD Kabupaten Temanggung.Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah karya tulis ilmiah, jurnal ilmiah tentang penggunaan obat Antiretroviral (ARV). Objek penelitian yaitu penggunaan obat antiretroviral pada pasien penderita AIDS rawat jalan di rumah sakit yang berbeda, yaitu Rumah Sakit Umum Undata Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Rumah Sakit Swasta yang berada di Kota Bandung, dan RSUD Kabupaten Temanggung. Hasil kesimpulan menunjukkan penggunaan terbanyak di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah yaitu golongan NNRTI dengan jenis obat Efavirenz (46,5%), di RS Swasta di Kota Bandung penggunaan antiretrovial terbanyak pada kombinasi lini pertama tenofovir+lamivudine+efavirenz (69%) dan di RSUD Kabupaten Temanggung paling banyak menggunakan obat antiretroviral Neviral® (29,2%) dan Duviral® (27,4%).