Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.528 item publik

Publikasi

Halaman 110 dari 127

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

RABIATUL ADAWIYAH
2020 · Book · Open Access

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran zona hambat ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil pengukuran zona hambat dengan konsentrasi tertinggi EEDP (Ekstrak Etanol Daun Pepaya) 96% konsentrasi 30%, EEDP 96% konsentrasi 100%, EEDP 96% konsentrasi 8%, EEDP 70% konsentrasi 100% dan EEDP 70% konsentrasi 2,5% berurutan adalah 16,3 mm, 13,2 mm, 8,51 mm, 4 mm dan 3 mm. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pengukuran zona hambat bervariasi tergantung pada varietas tumbuhan pepaya dan pelarut yang digunakan.

STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK FISIK DAN DISOLUSI TABLET METFORMIN HIDROKLORIDA

BAHARIA
2020 · Book · Open Access

Tablet adalah salah satu sediaan yang banyak mengalami perkembangan dari segi formulasi. Sediaan tablet mempunyai beberapa persyaratan yaitu persyaratan karakteristik mutu fisik dan disolusi yang dijadikan dasar acuan untuk menetapkan kebenaran khasiat dan keamanan serta mutu suatu sediaan obat. Studi literatur ini bertujuan mengetahui perbandingan karakteristik fisik dan disolusi tablet metformin hidroklorida yang beredar dipasaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa karakteristik mutu fisik dan disolusi tablet metformin hidroklorida. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Pengujian mutu karakteristik fisik tablet metformin hidroklorida telah memenuhi persyaratan dalam Farmakope Indonesia dari literatur terkait serta mempunyai mutu fisik tablet yang baik serta, memiliki profil disolusi yang tidak indentik satu sama lain. Namun untuk tablet dengan merek dagang dan generik dari pabrik yang sama profil disolusinya relatif sama.

KARAKTERISTIK SIMPLISIA DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L.), DAUN PAITAN (Tithonia diversifolia (HEMSLEY) A. GRAY), DAN DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis.L)

SITI MAISAROH
2020 · Book · Open Access

Studi ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik simplisia daun beluntas, daun paitan, dan daun tempuyung dari famili Asteracea. Karakterisasi merupakan suatu proses awal yang dilakukan untuk mengetahui mutu suatu bahan baik simplisia maupun ekstrak. Data yang digunakan dalam studi literatur ini adalah data sekunder dari beberapa penelitian. Berdasarkan dari tiga penelitian ini didapatkan karakteristik daun beluntas yaitu untuk kadar sari larut etanol > 5%, kadar sari larut air >26%, kadar abu total 16%, kadar abu larut air 10%, kadar abu tidak larut asam 8% dan susut pengeringan 12%. Karakteristik simplisia daun paitan adalah kadar air 5,2%, susut pengeringan 8,958%, kadar abu total 11,918%, kadar abu tidak larut asam 0,708%, kadar sari larut air 20,810% dan kadar sari larut etanol 12,241%. Sedangkan karakteristik simplisia daun tempuyung adalah kadar air 5,33%, kadar sari larut air 28,27%, kadar sari larut etanol 9,42%, kadar abu total 16,44% dan kadar abu tidak larut asam 0,61%.

STUDI LITERATUR PERBANDINGAN UJI TOKSISITAS AKUT Genus Syzygium DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

RIDA RUDIANA PAJRIN
2020 · Book · Open Access

Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut genus Syzygium dari spesies yang berbeda yaitu daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) sehingga didapatkan pebedaan LC50 dan potensi ketoksikan dari kedua spesies. Uji toksisitas kedua spesies menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC50. Didapakan LC50 daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) 347,216 bpj dan daun jambu air (Syzygium samarangense) 170,01 bpj. Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) mengandung flavonoid dan tanin. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah daun salam dan daun jambu air memiliki potensi ketoksikan kategori toksik.

POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) TERHADAP BAKTERI staphylococcus aureus dan streptococcus mutans

HERNITA MONICA
2020 · Book · Open Access

Daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun madle mara (Tabernaemontana heyneana Wall.) merupakan tumbuhan bergenus Tabernaemontana dan anggota familia Apocynaceae. Kedua tumbuhan tersebut memiliki khasiat sebagai pengobatan, khususnya pada bagian kulit. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah serta dokumen yang terkait seperti KTI (Karya Tulis Ilmiah). Objek penelitiannya adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphyloccus aureus. Data dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur yang ada. Ekstrak metanol daun madle memiliki zona hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak metanol daun madle mara memiliki zona hambat maksimum 12,66 ± 0,57 mm dengan daya hambat kategori kuat. Ekstrak etanol daun selutui puka memiliki zona hambat secara berurutan 6,09 mm, 6,24 mm, dan 6,25 mm yang merupakan daya hambat dengan kategori sedang.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli

YUSWAN NUR RAHMAN HARTONO
2020 · Book · Open Access

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran zona hambat ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Escherichia coli. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki berbagai khasiat. Daun pepaya sendiri dapat digunakan sebagai antibakteri. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Pengukuran zona hambat yang ditimbulkan oleh EEDP 96% dengan konsentrasi tertinggi yaitu 30% 100%, dan 100% menghasilkan daya hambat berturut-turut sebesar 15,3mm, 9,1mm, dan 18,67mm. dan pada EEDP 70% dengan konsentrasi ekstrak 20% dan 100% menghasilkan zona hambat sebesar 14mm, dan 16mm. Kesimpulan dari studi litertaur bahwa zona hambat yang terbentuk bervariasi tergantung pada konsentrasi ekstrak, umur daun pepaya, perbedaan konsentrasi pelarut, dan kandungan metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun pepaya (EEDP).

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BIOLARVASIDA EKSTRAK KULIT JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) DAN EKSTRAK KULIT JERUK PURUT (Citrus hystrix) TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti

RAULI DIMAS NUR RAHMAN
2020 · Book · Open Access

ABSTRAK Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan jeruk purut (Citrus hystrix) merupakan tanaman yang sama-sama bergenus Citrus. Kedua tanaman tersebut memilki kegunaan sebagai biolarvasida terutama pada bagian kulit buahnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendapatkan perbandingan efektivitas biolarvasida estrak kulit jeruk nipis dan ekstrak kulit jeruk purut terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi literatur yang dilakukan mulai dari mengumpulkan, menelaah dan mempelajari jurnal penelitian ilmiah serta dokumen seperti Karya Tulis Ilmiah. Objek dari penelitian ini adalah efektivitas biolarvasida ekstrak kulit jeruk nipis dan ekstrak kulit jeruk purut terhdap larva nyamuk Aedes aegypti. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang sudah dikumpulkan dari pembandingan literatur yang didapat. Efektivitas biolarvasida ekstrak kulit jeruk nipis terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dari konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6% dan 7% konsentrasi yang efektif membunuh seluruh hewan uji adalah konsentrasi 6% dan 7%. Ekstak kulit jeruk purut dari konsentrasi 1%, 3%, 5%, 7% dan 9% yang memiliki efektivitas untuk membunuh seluruh larva nyamuk yang diujikan adalah pada konsentrasi 3% sampai 9% setelah perlakuan selama 1440 menit (24 jam). Kulit jeruk nipis dan kulit jeruk purut sama-sama memiliki kandungan senyawa kimia yang digunakan sebagai larvasida alami terhadap larva nyamuk Aedes aegypti yaitu senyawa limonoid atau limonen yang diklasifikasikan kedalam senyawa siklik monoterpen.

GAMBARAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) DAN DAUN KAMBOJA (Plumeria acuminata) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans DAN Staphylococcus aureus

TARIS AMAZIDA ZATAYUMNI
2020 · Book · Open Access

Bakteri Streptococcus mutans merupakan salah satu flora normal yang hidup di rongga mulut, tapi pada jumlah yang berlebih merupakan agen penyebab utama karies gigi. Daun selutui puka dan daun kamboja secara empiris digunakan sebagai bahan untuk pengobatan oleh masyarakat, metabolit sekunder yang terkandung memiliki manfaat sebagai antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun kamboja terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode yang dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, serta dokumen yang terkait seperti skripsi, karya tulis ilmiah serta jurnal ilmiah. Objek penelitian studi literatur ini adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun kamboja terhadap bakteri Streptococcus mutans. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil Perbandingan menyatakan bahwa zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun selutui puka lebih kecil dibandingkan zona hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun kamboja. Pada konsentrasi yang sama, yaitu 25 % dan 50 % didapatkan hasil yang berbeda, diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun selutui puka pada konsentrasi 25 % dan 50 % secara berurut adalah 6,5 mm dan 6,9 mm sedangkan ekstrak etanol daun kamboja menghasilkan diameter 8,36 mm pada konsentrasi 25 % dan 10,38 mm pada konsentrasi 50 %.

STUDI LITERATUR ANALISIS LOGAM TIMBAL (Pb) PADA SEDIAAN LIPSTIK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

INDAH TRI HANDAYANI
2020 · Book · Open Access

Kosmetik merupakan produk perawatan pribadi untuk meningkatkan penampilan tubuh manusia. Salah satu jenis dari kosmetik yang paling banyak digunakan adalah lipstik. Lipstik merupakan sediaan kosmetik yang digunakan untuk mempercantik dan mempertegas warna pada bibir. Lipstik harus aman dan tidak boleh mengandung logam timbal (Pb). Timbal merupakan timah hitam yang digunakan pada lipstik agar tahan dari pengoksidasi udara dan tahan terhadap air. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil analisis logam timbal (Pb) pada sediaan lipstik dengan metode spektrofotometri serapan atom Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian jenis studi literatur. Objek yang diteliti adalah analisis kadar logam timbal (Pb) pada sediaan lipstik. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan literatur, perbandingan literatur, pengkajian literatur, dan menarik kesimpulan. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan metode deskriptif. Hasil yang diperoleh pada sampel lipstik dengan metode kualitatif positif mengandung logam timbal (Pb) dengan ditandai terbentuknya endapan kuning oleh reagen KI. Pada metode kuantitatif yaitu menggunakan metode spektrofotometri serapan atom sampel lipstik mengandung logam timbal, dengan hasil kadar logam timbal (Pb) yaitu dari 0,45999 µg/g hingga kadar logam timbal yang melebihi batas yaitu 56,6496 µg/g (20 ppm).

AKTIVITAS DAYA HAMBAT DARI TUMBUHAN GENUS MILLETTIA TERHADAP BAKTERI Staphyloccous aureus DAN Escherichia coli

ARPIAH
2020 · Book · Open Access

Tumbuhan genus Millettia merupakan tumbuhan yang memiliki senyawa metabolit sekunder yang diketahui menghasilkan aktivitas biologis seperti sitotoksik, antimalaria, antiinflamasi, antifungi, dan antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas daya hambat dari tumbuhan genus Millettia terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Penelitian bersifat studi literatur. Objek yang diteliti adalah aktivitas daya hambat dari tumbuhan genus Millettia terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Tahap penelitian meliputi reduksi, meringkas, menyajiakan, meninjau dan menarik simpulan. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder berupa daya hambat tumbuhan genus Millettia terhadap bakteri. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun Millettia aboensis memiliki daya hambat terhadap Staphilococcus aureus tertinggi 6,05 mm (400 mg/ml) dan tidak menghambat Escherichia coli. Ekstrak Batang Millettia Pinnata memiliki daya hambat lebih besar terhadap Staphilococcus aureus dibandingkan Escherichia coli daya terendah 4 mm,3mm (10 mg/ml), daya hambat tertinggi 20 mm, 12 mm (400 mg/ml). Ekstrak Millettia Peguensis dengan tiga pelarut berbeda daya hambat tertinggi yaitu petroleum eter disusul kloroform dan heksana. Ekstrak millettia peguensis memiliki daya hambat lebih besar terhadap Escherichia coli dibandingkan Staphilococcus aureus yaitu daya hambat tertinggi 17,5 mm, 15 mm konsentrasi ekstrak petroleum eter (400 mg/ml).

STUDI LITERATUR PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) BERDASARKAN PERBEDAAN TEMPAT TUMBUH TANAMAN

MUHAMMAD APRIYANDI
2020 · Book · Open Access

Kopi merupakan salah satu tanaman yang terkenal di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kopi mengandung senyawa polifenol seperti asam kafeat, asam klorogenat, asam koumarat yang berkhasiat sebagai antioksidan. Perbedaan tempat tumbuh tanaman kopi robusta berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak biji kopi robusta berdasarkan perbedaan tempat tumbuh tanaman. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur. Tahapan penelitian dimulai dari penyuntingan dan meringkas isi artikel ilmiah, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Aktivitas antioksidan ekstrak biji kopi robusta Bandung, Bogor dan Garut memiliki nilai IC50 sebesar 55,13 ppm, 56,48 ppm, dan 54,14 ppm), Provinsi Jawa Barat (Bogor, Kuningan, Sumedang memiliki IC50 sebesar 62,04 ppm, 59,94 ppm 52,24 ppm), Provinsi Jawa Tengah (Temanggung, Boyolali, Wonosobo memiliki IC50 sebesar 50,18 ppm, 9,88 ppm 42,63 ppm), dan Provinsi Jawa Timur (Jombang, Malang, dan Kediri memiliki IC50 sebesar 76,59 ppm, 37,47 ppm 42,77 ppm). Aktivitas antioksidan ekstrak kopi robusta Wonosobo paling kuat dibandingkan kopi robusta dari sembilan daerah lainnya di Pulau Jawa.

GAMBARAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) DAN DAUN TAPAK DARA (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

THERESIA MERLIANA SIHOMBING
2020 · Book · Open Access

Infeksi merupakan penyakit yang memiliki tingkat keparahan yang beragam hingga pada infeksi berat yang disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan infeksi kulit terutama pada lingkungan yang lembap, hangat atau kulit mengalami luka terbuka. Selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) merupakan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat untuk herpes, kudis, kulit gatal dan melepuh. Tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) merupakan tumbuhan hias yang dapat digunakan sebagai obat untuk mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun tapak dara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur. Objek yang diteliti adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun tapak dara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data terkumpul. Hasil penelitian menunjukan daun tapak dara memiliki aktivitas antibakteri lebih baik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan daun selutui puka. Zona hambat daun selutui puka menggunakan metode kertas cakram pada konsentrasi 5%,10% dan 15% adalah 6,09 mm, 6,24 mm dan 6,25 mm termasuk kategori daya hambat sedang dan daun tapak dara menggunakan metode sumuran pada konsentrasi 20%, 50% dan 75% adalah 13,3 mm, 17,33 mm dan 20,00 mm termasuk kategori kuat.

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTINOSISEPTIF DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.)

EVI AGUSTINA TYASTUTI
2020 · Book · Open Access

Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan salah satu tanaman herbal. Tumbuhan kratom dapat digunakan sebagai obat demam, meringankan nyeri otot dan mengurangi nafsu makan. Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) memiliki efek analgesik opioid (antinosiseptif). Kandungan utama daun kratom adalah mitraginin yang memiliki afinitas kuat pada reseptor opioid. Studi ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antinosiseptif ekstrak dan fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Fraksi n-heksan daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi diklorometana daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi air daun kratom dosis I (140mg/kgBB), dosis II (280mg/kgBB) dan dosis III (560 mg/kgBB) memiliki efek antinosiseptif. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antinosiseptif fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Fraksi air daun kratom dosis 560 mg/kgBB memiliki aktivitas antinosiseptif lebih lemah dibandingkan dosis 280 mg/kgBB yang dihasilkan oleh fraksi n-heksan dan fraksi diklorometana.

STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK PATI BIJI BUAH DURIAN (Durio zibethinus) DAN PATI BIJI BUAH LAI (Durio kutejensis) SEBAGAI EKSIPIEN TABLET

SULLY MARGARETA
2020 · Book · Open Access

Perkembangan obat sangat didukung dengan penemuan bentuk sediaan baru yang melibatkan eksipien pendukung sebagai campuran untuk mendapatkan pengembangan suatu formula yang baik dan aman, salah satu bahan yang dapat dikembangkan dalam sediaan farmasi yaitu pati biji durian. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik pati biji durian yang memenuhi persyaratan sebagai eksipien farmasetika. Penelitian ini merupakan studi literatur. Objek yang diteliti adalah karkateristik pati biji durian dan pati biji lai. Tahapan penelitian dimulai mereduksi data yaitu melakukan penyuntingan dan meringkas data yang berasal dari jurnal, sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif kemudian akan dilakukan penarikan kesimpulan yaitu verifikasi dan tinjauan ulang dari penarikan data kesimpulan agar data penelitian ini didapatkan dengan benar. Analisis penelitian ini dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa kedua jenis pati biji durian semuanya memenuhi persyaratan standar sebagai bahan eksipien farmasi, pemeriksaan organoleptik memiliki bentuk serbuk halus; warna putih kecoklatan; tidak berasa dan bau khas pati biji durian, pemeriksaan kadar air 9,45%, 8,06% dan 8%-13%, kadar abu hanya dimiliki kode B sebesar 1,32%, kadar pati 27,22%, 38,89%, dan 26,16%, daya kembang 6,03%, 3,23%, dan 11,63%. Dengan demikian pati biji durian memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan eksipien farmasetika.

IDENTIFIKASI BORAKS PADA LONTONG DENGAN MENGGUNAKAN KERTAS KURKUMIN DAN UJI NYALA API

NOVIANA
2020 · Book · Open Access

Boraks sering kali disalahgunakan sebagai pengenyal dan pengawet dalam pembuatan berbagai macam makanan salah satunya seperti lontong. Penggunaan boraks dalam waktu lama dan jumlah banyak dapat menyebabkan gangguan otak, hati dan ginjal. Jenis penelitian ini menggunakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui hasil dari identifikasi boraks terhadap lontong dengan menggunakan kertas kurkumin dan uji nyala api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis kualitatif dengan metode kertas kurkumin dan uji nyala api memiliki kualitas pengujian sama nilainya untuk identifikasi boraks pada lontong. Dibuktikan oleh penelitian sebelumnya pada sampel lontong yang diidentifikasi hanya 1 sampel yang positif mengandung boraks, dimana memberikan hasil yang serupa pada metode kertas kurkumin dan uji nyala api. Pada uji nyala api yang menunjukkan terjadi nyala hijau diikuti pula metode kertas kurkumin yang menunjukkan terbentuk warna merah kecokelatan untuk sampel positif boraks.

STUDI LITERATUR HAND SANITIZER EKSTRAK BUAH NANAS (Ananas comosus (L) Merr.) SEBAGAI ANTIBAKTERI

LILIK DINA LESTARI
2020 · Book · Open Access

Nanas (Ananas comossus (L.) Merr.) merupakan tanaman yang dipercaya untuk pengobatan dan tanaman buah yang selalu tersedia sepanjang tahun. Salah satu khasiat buah nanas dalam bidang kesehatan dikaitkan dengan kandungan enzim bromelin yang ada dalam buah nanas. Potensi enzim bromelin yaitu sebagai enzim proteolitik yang berperan dalam pemecahan protein yang merupakan salah satu penyusun membran bakteri staphylococcus aureus. Hal ini menyebabkan bakteri terhambat pertumbuhannya dan akhirnya mati. Tujuan studi ini untuk mengetahui potensi hand sanitizer yang mengandung buah nanas sebagai antibakteri. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal ilmiah. Tahapan penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikkan kesimpulan. Obyek penelitian adalah potensi hand sanitizer ekstrak buah nanas sebagai antibakteri. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Kesimpulan yang dapat diambil adalah ekstrak kulit nanas pada konsentrasi 50% mempunyai daya hambat terhadap bakteri Staphylococus aureus sebesar 15,06 mm dengan kategori kuat. Ekstrak kulit nanas memiliki Konsentrasi Hambatan Minimum (KHM) pada konsentrasi 1,56%. Fomula hand sanitizer dengan konsentrasi 1,5% ekstrak kulit nanas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus sebesar 15,5 mm yang termasuk dalam kategori kuat.

FORMULASI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH SEBAGAI ZAT WARNA DALAM SEDIAAN PEWARNA BIBIR

DIA SRI LESTARI
2020 · Book · Open Access

ABSTRAK Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika, yang bertujuan untuk mewarnai bibir agar dapat menyempurnakan bentuk dan memberikan warna dekoratif pada bibir. Pewarna yang terkandung dalam sediaan pewarna bibir memegang peranan yang sangat penting sebab pewarna tersebut yang akan memberikan sentuhan warna pada bibir si pemakainya. Namun pemakaian sediaan pewarna bibir dalam jangka waktu yang panjang dapat memberikan efek samping bagi penggunanya oleh karena itu alternatif lain yang dapat diberikan untuk formula pewarna yang aman adalah dengan menggunakan bahan alam. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak kulit buah naga merah sebagai zat warna alami dalam sediaan pewarna bibir. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa formulasi sediaan pewarna bibir yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat yaitu data uji sifat fisik sediaan pewarna bibir meliputi uji homogenitas, uji organoleptik, uji titik lebur, uji iritasi, dan pengukuran pH. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak kulit buah naga merah mengandung senyawa betasianin yang berpotensi menjadi zat warna alami dalam sediaan pewarna bibir.

PENETAPAN KADAR FLAVONOID DAUN CENGKEH, DAUN PACAR KUKU DAN DAUN KARAMUNTING DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

INDRIAYANI LESTARI
2020 · Book · Open Access

Daun cengkeh (Syzygum aromaticum L.), daun pacar kuku (Lawsonia inermis L.) dan daun karamunting (Melastoma malabathricum L.) adalah tumbuhan dengan ordo Myrtales, memiliki kandungan seyawa kimia berupa flavonoid yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kadar flavonoid dari daun cengkeh, daun pacar kuku dan daun karamunting. Data yang digunakan dalam studi literatur ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal ilmiah. Tahapan penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, pembahasan dan penarikan kesimpulan. Objek penelitian adalah kadar flavonoid ekstrak etanol daun cengkeh, daun pacar kuku dan daun karamunting. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid daun cengkeh sebesar 7,308%, daun pacar kuku 6,15% dan daun karamunting 0,011% menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi AlCl3 sebagai pembentuk komplek.

STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK BAGIAN TUMBUHAN Ficus racemosa Linn

ASTUTI
2020 · Book · Open Access

ABSTRAK Secara empiris bagian tumbuhan Ficus racemosa L. dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti khasiat pada daun digunakan untuk disentri dan diare. Khasiat pada buah digunakan untuk batuk kering, luka bakar, cacingan, kusta, keputihan, kanker dan kudis. Khasiat pada kulit kayu sebagai obat penyakit kulit, pencahar, diabetes, maag, keputihan, gangguan saraf, diare dan penyakit vagina. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik daun, buah dan kulit kayu dari tumbuhan Ficus racemosa L. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian studi literatur. Objek yang diteliti adalah karakteristik bagian tumbuhan Ficus racemosa L. Tahapan penelitian dimulai dari reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil karakterisasi spesifik tumbuhan Ficus racemosa L., pada kadar sari larut air rata-rata ekstrak daun 10,89%, ekstrak buah 9%, ekstrak kulit kayu 11,27%, dan kadar sari larut etanol rata-rata ekstrak daun 1,78%, ekstrak buah 7%, ekstrak kulit kayu 8,48%. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak daun (flavonoid, steroid dan terpenoid), pada ekstrak buah (alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid), pada ekstrak kulit kayu (flavonoid, tanin, saponin, steroid dan terpenoid). Hasil karakterisasi non spesifik pada kadar abu total rata-rata ekstrak daun 11,56%, ekstrak buah 3,96%, ekstrak kulit kayu 16,31%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata ekstrak daun 3,52%, ekstrak buah 9,29%, ekstrak kulit kayu 1,35%, sedangkan kadar abu larut air ekstrak buah rata-rata 7,45%.