WIDYA KARMILA FAISAL
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan lebih dari 1,28 miliar penderita dewasa di seluruh dunia. Di Kalimantan Timur, prevalensi hipertensi menempati peringkat ketiga tertinggi di Indonesia pada usia >18 tahun sebesar 29,6%, sedangkan di Kota Samarinda pada tahun 2023–2024 mencapai 39,46% pada usia >15 tahun. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi) di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional cross-sectional. Sampel sebanyak 385 pasien hipertensi dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi diagnosis hipertensi ICD-10:I10;I11, kesediaan menjadi responden, dengan kriteria eksklusi komplikasi jantung atau ginjal disertai edema/asites dan kehamilan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Pengumpulan data dilakukan melalui data pasien di aplikasi e-Pus dan kuesioner di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang pada periode 25 Maret–25 Mei 2026. Analisis data menggunakan SPSS, meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden terbanyak adalah pasien berjenis kelamin perempuan (74,8%), kelompok usia pralansia 45–59 tahun (47,5%), berpendidikan SD (34,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (56,1%), dan menderita hipertensi ≥5 tahun (53,5%). Tingkat kepatuhan minum obat menunjukkan kategori tinggi sebanyak 178 orang (46,2%), kategori rendah sebanyak 140 orang (36,4%), dan kategori sedang sebanyak 67 orang (17,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi, yaitu jenis kelamin (p=0,895), usia (p=0,363), tingkat pendidikan (Fisher-Freeman-Halton, p=0,508), pekerjaan (p=0,629), dan lama menderita hipertensi (p=0,552). Disimpulkan bahwa karakteristik pasien bukan merupakan faktor penentu kepatuhan minum obat antihipertensi pada populasi penelitian ini.
ADINDA FEBRIANTY
2026 · Book · Open Access
Apotek sebagai sarana pelayanan kefarmasian dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu, efisien, dan berorientasi pada kepuasan pasien. Pengukuran kinerja apotek yang hanya berfokus pada aspek keuangan belum mampu menggambarkan kinerja secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Apotek Mangkupalas Kota Samarinda menggunakan pendekatan Balanced Scorecard melalui tiga perspektif utama, yaitu perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, serta menganalisis hubungan antar ketiga perspektif tersebut terhadap kinerja apotek. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain deskriptif dan naratif dengan pengambilan data secara ambispektif yaitu dengan menggabungkan data retrospektif (melihat masa lalu) dan data prospektif (mengikuti ke masa depan) pada periode tahun 2023–2025. Data diperoleh melalui observasi dan kuesioner kepada pelanggan dan karyawan Apotek Mangkupalas. Indikator yang digunakan meliputi kepuasan dan pertumbuhan pelanggan, ketersediaan obat, kelengkapan label, waktu dispensing, kepuasan karyawan, pengadaan obat, serta mutu karyawan. Data dianalisis secara univariat, dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman.
ADINDA TIARA SAFITRI
2026 · Book · Open Access
SILVY SEPTIA RAHMAWATY
2026 · Book · Open Access
Indonesia termasuk negara yang memiliki kasus kematian akibat resistensi antibiotik yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) berpotensi sebagai senyawa antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Perbedaan umur daun dapat mempengaruhi kadar metabolit tersebut dan aktivitas antibakterinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa tua dan muda terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 33591. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengujian kadar air ekstrak, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan kadar air ekstrak daun muda matoa sebesar 5,45% dan ekstrak daun tua sebesar 7,80% termasuk dalam kategori ekstrak kental. Ekstrak daun muda matoa memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 11,37 mm sedangkan ekstrak daun tua memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 12,19 mm. Terdapat perbedaan rata-rata zona hambat antara ekstrak daun tua dan muda matoa, yang menunjukkan daun tua memiliki zona hambat lebih besar dibandingkan daun muda, meskipun secara statistik hasil uji menunjukkan nilai sig 0,126 > 0,05 yang menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan antara zona hambat kelompok ekstrak daun muda dan daun tua matoa.
MARIA FLORYDA
2026 · Book · Open Access
Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya praktik kefarmasian oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Tenaga kefarmasian sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki kewenangan dan kewajiban untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang optimal kepada pasien. Swamedikasi merupakan upaya seseorang untuk mengobati dan mengatasi keluhan yang dialaminya tanpa menggunakan resep dari dokter. Analgetik merupakan golongan Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit sehingga sering digunakan masyarakat untuk mengobati nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan pasien tentang swamedikasi analgetik di Apotek Merdeka Bengalon. Objek penelitian difokuskan pada tingkat pengetahuan pasien. Sampel dalam penelitian adalah masyarakat yang membeli obat analgetik di Apotek Merdeka Bengalon dan memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan sebanyak 290 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling dengan pengambilan data diambil dari bulan November 2025 -Februari 2026. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil : Karakteristik berdasarkan jenis kelamin responden adalah laki-laki sebanyak 132 orang (45,5%), dan perempuan sebanyak 158 orang (54,5%). Kategori umur 17-25 tahun sebanyak 72 orang (24,8%), usia 26-35 tahun sebanyak 84 orang (29%), usia 36-45 tahun sebanyak 68 orang (23,4%), usia 46-55 tahun sebanyak 44 orang (15,2%), usia 56-65 tahun sebanyak 22 orang ( 7,6%). Mayoritas responden sebagai pgawai swasta sebanyak 68 orang (23,4%). Dan dari hasil penelitian ini tingkat pengetahuan pasien tentang swamedikasi analgetik di Apotek Merdeka Bengalon adalah Baik atau sebanyak 223 orang dengan persentase 76,90%.
SANTIKA
2026 · Book · Open Access
Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan yang memiliki fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan tingkat pertama di wilayah tertentu. Puskesmas perlu memperhatikan pengelolaan farmasi dengan seksama karena hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan terapi pasien. Penyimpanan obat merupakan salah satu tahapan krusial yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan mutu obat selama masa simpan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil penyimpanan obat di Puskesmas dengan mengkaji kesesuaian praktik di lapangan terhadap ketentuan dalam Permenkes No. 72 Tahun 2016 dan pedoman teknis lainnya yang relevan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif observasi dengan menyajikan data primer dan sekunder untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap fasilitas penyimpanan obat, wawancara terstruktur dengan petugas farmasi atau penanggung jawab obat. Sampel pada penelitian ini yaitu seluruh item obat yang ada di Instalasi Farmasi dan teknik sampling yang di gunakan yaitu total dari sampel tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan pedoman Permenkes dan standar penyimpanan obat, serta analisis deskriptif dengan menyusun frekuensi dan distribusi data yang diperoleh dari observasi dan kuesioner. Data kemudian disajikan dalam bentuk naratif dan tabulasi untuk memudahkan interpretasi terhadap sejauh mana tingkat kesesuaian praktik penyimpanan obat di Puskesmas dengan standar yang berlaku. Dari hasil penelitian didapatkan pengelolaan penyimpanan obat di apotek dan gudang farmasi di Puskesmas Bontang Lestar dengan aspek umum 70% dengan predikat baik dan aspek khusus 83,33 % dengan predikat sangat baik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penguatan sistem pengelolaan obat di Puskesmas serta menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas sumber daya farmasi di tingkat layanan primer.
ARDIANSYAH
2026 · Book · Open Access
Penyimpanan serta pelayanan obat yang efektif merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas dan keamanan sediaan farmasi, termasuk obat-obatan LASA (Look Alike Sound Alike) yang berisiko menimbulkan kesalahan penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem penyimpanan dan pelayanan obat LASA (Look Alike Sound Alike) beberapa apotek di kota Samarinda, dengan berfokus pada penyimpanan dan pelayanan. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental yang bersifat kualitatif yang menggunakan metode observasional dan wawancara. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan prospektif, yang melibatkan observasi melalui form ceklist serta wawancara dengan kepala Apoteker di Apotek M. Yamin, Apotek Klinik Media Farma dan Apotek Sehat Mulia. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi.
STEFANIA MARIA MERCINDY
2026 · Book · Open Access
Infeksi kulit merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum terjadi pada manusia dan dapat disebabkan oleh bakteri, antara lain Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan flora normal kulit. Penggunaan antibiotik secara berulang dan jangka panjang dalam penanganan infeksi kulit berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi bakteri. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi antibakteri, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak metanol kulit buah tampoi sebagai antibakteri terhadap C. acnes dan P. aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan bakteri pada media agar. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak metanol, perhitungan rendemen ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri. Data hasil pengujian antibakteri dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan zona hambat antar kelompok perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% terhadap bakteri C. acnes menghasilkan rata-rata zona hambat masing-masing sebesar 3,95 mm, 4,28 mm, dan 4,70 mm, yang termasuk dalam kategori lemah. Sementara itu, pada bakteri P. aeruginosa, konsentrasi yang sama menghasilkan zona hambat sebesar 4,35 mm, 5,30 mm, dan 6,40 mm, yang tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara konsentrasi 50% dan 100% terhadap aktivitas antibakteri pada P. aeruginosa
YUGITA BAGENSA
2026 · Book · Open Access
Paparan sinar ultraviolet (UV) memberikan sejumlah manfaat bagi kehidupan, namun di balik manfaat tersebut, sinar UV dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia seperti dapat memicu pembentukan radikal bebas pada jaringan kulit yang berujung pada terjadinya stres oksidatif, penuaan dini, hingga risiko kanker kulit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif akibat paparan sinar matahari adalah dengan penggunaan tabir surya yang mengandung senyawa bioaktif alami. Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) yang dapat ditemukan di wilayah Kalimantan, diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan serta berpotensi sebagai tabir surya alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar fenolik, kadar flavonoid total, serta nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan dilakukan secara in vitro. Objek penelitian ini adalah ekstrak metanol kulit buah tampoi. Pengujian kadar fenolik total menggunakan metode Folin-Ciocalteu, kadar flavonoid total menggunakan metode AICI3, dan pengujian SPF dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 40,5393 ± 0,44138 mg GEA/g, kadar flavonoid total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 15,6102 ± 0,41521 mg QE/g, dan nilai SPF tertinggi diperoleh pada konsentrasi 1500 ppm sebesar 22,2824 termasuk dalam kategori SPF sedang.
ELYVIANA TETING
2026 · Book · Open Access
ROSSA
2026 · Book · Open Access
NANDA ARISTA
2026 · Book · Open Access
SISKA YULIANTI
2026 · Book · Open Access
Hipertiroid merupakan gangguan endokrin yang ditandai dengan peningkatan produksi hormon tiroid secara berlebihan, penyakit ini memerlukan terapi jangka panjang menggunakan obat antitiroid untuk mengendalikan kadar hormon tiroid. Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai dengan dosis dan durasi yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan minum obat antitiroid pada pasien hipertiroid di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda menggunakan MMAS-8. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan total sampling terhadap seluruh pasien hipertiroid yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani terapi antitiroid di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda. Pengukuran tingkat kepatuhan dilakukan menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi pengobatan antitiroid. Karakteristik terhadap 50 responden menunjukkan sebagian besar berusia 18-44 tahun sebanyak 36 pasien (72%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 37 pasien (74%), berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 30 pasien (60%), tidak memiliki pekerjaan sebanyak 19 pasien (38%), dan tidak memiliki penyakit penyerta sebanyak 36 pasien (72%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 32 pasien (64%), kepatuhan sedang sebanyak 12 pasien (24%), dan kepatuhan rendah sebanyak 6 pasien (12%). Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hipertiroid di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda memiliki tingkat kepatuhan minum obat antitiroid yang tinggi.
ERIKA OCTAVIANI
2026 · Book · Open Access
HANNY RAHMA SABILLA
2026 · Book · Open Access
KLAUDIANA WEA ANGI
2026 · Book · Open Access
ZIQRY BILHAQ
2026 · Book · Open Access
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat dengan diameter 0,7-1,2 µm, Staphylococcus aureus hidup pada hidung dan kulit manusia. Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri adalah bakau kurap. Bakau kurap kaya dengan beberapa macam senyawa seperti tanin, alkaloid, flavonoid, terpenoid dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri dari buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylcoccus aureus. Tahapan Penelitian yaitu pengumpuan bahan baku, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dan fraksi, skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 5%,10% dan 20%, kontrol positif Kloramfenikol 1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah bakau kurap mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, flavonoid dan tanin. Berdasarkan hasi penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah bakau kurap memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol dengan konsentrasi 5% dikategori lemah 10% dan 20% kategorikan sedang dan kuat, fraksi n-heksan dengan konsentrasi 5% dan 10% kategorikan lemah dan 20% kategorikan sedang, fraksi etil asetat dengan kategori 5% dan 10% dikategori sedang untuk 20% kategorikan kuat, fraksi air dengan konsentrasi 5%, 10% dan 20% kategorikan sedang, kontrol positif kategorikan sangat kuat.
OKTAVIA MERICI
2026 · Book · Open Access
RAHMAT GHIFRAN PRADANA
2026 · Book · Open Access
NI NYOMAN ANGGUN PATRICIA MUTIARA DEWI
2026 · Book · Open Access