Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.528 item publik

Publikasi

Halaman 6 dari 127

Perbandingan Metode Pengeringan Oven dan Kering Angin Terhadap Skrining Fitokimia dan Hasil Rendemen Ekstrak Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.)

STEVANIA HARVINKA GENO
2026 · Book · Open Access

Pengeringan merupakan tahapan pascapanen yang berperan penting dalam menjaga mutu simplisia dan kestabilan senyawa bioaktif tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode pengeringan oven dan kering angin terhadap rendemen ekstrak etanol serta hasil skrining fitokimia daun sirih hutan (Piper aduncum L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan dua perlakuan pengeringan, yaitu kering angin dan oven suhu 40°C. Simplisia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Parameter yang diamati meliputi susut pengeringan, rendemen ekstrak, kadar air, dan skrining fitokimia. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk membandingkan nilai rendemen serta hasil skrining fitokimia, dan secara statistik menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk uji normalitas, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk data susut pengeringan yang tidak berdistribusi normal, serta uji Independent Sample t-test untuk data kadar air yang berdistribusi normal dan homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan oven menghasilkan susut pengeringan sebesar 5,18%, rendemen 21,09%, dan kadar air 4,41%, sedangkan pengeringan kering angin menghasilkan susut pengeringan sebesar 4,96%, rendemen 27,73%, dan kadar air 6,76%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode pengeringan menghasilkan golongan metabolit sekunder yang sama, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/terpenoid. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan susut pengeringan antara kedua metode (p = 0,046 0,05), dengan mean rank metode oven (5,00) lebih tinggi dibandingkan kering angin (2,00). Hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kadar air antara kedua metode (p = 0,013 0,05), dengan kadar air metode oven lebih rendah dibandingkan kering angin.

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) DENGAN VARIASI PELARUT EKSTRAKSI MENGGUNAKAN MICROPLATE READER

NAMIRA AZZAHRO
2026 · Book · Open Access

Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan flavonoid yang terekstraksi dari bahan alam dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat kepolarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar flavonoid total menggunakan microplate reader dengan kuersetin sebagai pembanding. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar flavonoid total tertinggi sebesar 21,1633 ± 1,1145 mgQE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 19,6867 ± 0,8927 mgQE/g, dan ekstrak etanol 95% sebesar 18,0467 ± 1,3300 mgQE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,040 ( 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Variasi Konsentrasi Pelarut Etanol Terhadap Bakteri Escherichia coli

REVA AULIA NUR ISNANI
2026 · Book · Open Access

Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri Escherichia coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian ekspekrimental. Daun matoa diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise Comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Dengan demikian, variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri Escherichia coli, dan pelarut etanol 95% memberikan aktivitas antibakteri yang paling tinggi.

ANALISIS IN SILICO SENYAWA DARI BATANG BAJAKAH SEBAGAI INHIBITOR HUMAN EPIDERMAL RECEPTOR 2 (HER-2) PADA KANKER PAYUDARA

YANTI KORINA
2026 · Book · Open Access

Kanker payudara dengan ekspresi berlebih protein Human Epidermal Receptor 2 (HER-2) merupakan kondisi keganasan agresif yang menjadi penyebab utama kematian wanita di dunia. Penelitian ini mengeksplorasi potensi kekayaan hayati Indonesia, khususnya batang kayu Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) asal Kalimantan, sebagai kandidat inhibitor HER-2. Melalui metode penambatan molekul (molecular docking) secara in silico, penelitian ini mengevaluasi afinitas pengikatan senyawa metabolit sekunder Bajakah terhadap protein target yang strukturnya diperoleh dari Protein Data Bank (PDB). Parameter utama yang diamati meliputi nilai energi bebas ikatan (ΔG) dan konstanta inhibisi untuk menentukan kekuatan interaksi ligan-protein. Selain aspek farmakodinamik, studi ini juga mengintegrasikan analisis ADME dan Aturan Lima Lipinski guna memprediksi profil farmakokinetik serta kelayakan senyawa sebagai obat oral pada manusia. Hasil evaluasi Lipinski's Rule of Five menunjukkan bahwa sepuluh senyawa uji memenuhi kriteria kelayakan sebagai obat oral, serta memiliki profil ADMET yang relatif baik tanpa adanya prediksi potensi toksisitas mutagenik (AMES) maupun hepatotoksik. Hasil docking molekuler menunjukkan seluruh senyawa mampu berinteraksi pada kantong aktif HER-2, di mana liquiritigenin menunjukkan energi ikatan paling rendah (-7,61 kcal/mol) dan konstanta inhibisi terkecil (2,63 µM) di antara senyawa uji, sedangkan aromadendrin membentuk jumlah ikatan hidrogen terbanyak yaitu delapan ikatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar saintifik terhadap penggunaan tradisional Bajakah dalam pengembangan terapi kanker modern yang efektif.