Profil penulis
Faisal
7 karya publik ditemukan.
UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Tingkat Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan lebih dari 1,28 miliar penderita dewasa di seluruh dunia. Di Kalimantan Timur, prevalensi hipertensi menempati peringkat ketiga tertinggi di Indonesia pada usia >18 tahun sebesar 29,6%, sedangkan di Kota Samarinda pada tahun 2023–2024 mencapai 39,46% pada usia >15 tahun. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi) di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional cross-sectional. Sampel sebanyak 385 pasien hipertensi dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi diagnosis hipertensi ICD-10:I10;I11, kesediaan menjadi responden, dengan kriteria eksklusi komplikasi jantung atau ginjal disertai edema/asites dan kehamilan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Pengumpulan data dilakukan melalui data pasien di aplikasi e-Pus dan kuesioner di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang pada periode 25 Maret–25 Mei 2026. Analisis data menggunakan SPSS, meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden terbanyak adalah pasien berjenis kelamin perempuan (74,8%), kelompok usia pralansia 45–59 tahun (47,5%), berpendidikan SD (34,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (56,1%), dan menderita hipertensi ≥5 tahun (53,5%). Tingkat kepatuhan minum obat menunjukkan kategori tinggi sebanyak 178 orang (46,2%), kategori rendah sebanyak 140 orang (36,4%), dan kategori sedang sebanyak 67 orang (17,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi, yaitu jenis kelamin (p=0,895), usia (p=0,363), tingkat pendidikan (Fisher-Freeman-Halton, p=0,508), pekerjaan (p=0,629), dan lama menderita hipertensi (p=0,552). Disimpulkan bahwa karakteristik pasien bukan merupakan faktor penentu kepatuhan minum obat antihipertensi pada populasi penelitian ini.
TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KAMPUNG BAQA SAMARINDA SEBERANG
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan lebih dari 1,28 miliar penderita dewasa di seluruh dunia. Di Kalimantan Timur, prevalensi hipertensi menempati peringkat ketiga tertinggi di Indonesia pada usia >18 tahun sebesar 29,6%, sedangkan di Kota Samarinda pada tahun 2023–2024 mencapai 39,46% pada usia >15 tahun. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi) di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional cross-sectional. Sampel sebanyak 385 pasien hipertensi dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi diagnosis hipertensi ICD-10:I10;I11, kesediaan menjadi responden, dengan kriteria eksklusi komplikasi jantung atau ginjal disertai edema/asites dan kehamilan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Pengumpulan data dilakukan melalui data pasien di aplikasi e-Pus dan kuesioner di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang pada periode 25 Maret–25 Mei 2026. Analisis data menggunakan SPSS, meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden terbanyak adalah pasien berjenis kelamin perempuan (74,8%), kelompok usia pralansia 45–59 tahun (47,5%), berpendidikan SD (34,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (56,1%), dan menderita hipertensi ≥5 tahun (53,5%). Tingkat kepatuhan minum obat menunjukkan kategori tinggi sebanyak 178 orang (46,2%), kategori rendah sebanyak 140 orang (36,4%), dan kategori sedang sebanyak 67 orang (17,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi, yaitu jenis kelamin (p=0,895), usia (p=0,363), tingkat pendidikan (Fisher-Freeman-Halton, p=0,508), pekerjaan (p=0,629), dan lama menderita hipertensi (p=0,552). Disimpulkan bahwa karakteristik pasien bukan merupakan faktor penentu kepatuhan minum obat antihipertensi pada populasi penelitian ini.
KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PENGUATAN DAYA SAING DAERAH DALAM RANGKA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Sehubungan dengan peran penting pemerintah daerah untuk mengarahkan pembangunan yang sinergis antara pemerintah daerah dengan sektor swasta, maka perlu dilakukan upaya yang terpadu dalam mendukung kemandirian daerah. Kemandirian daerah antara lain dapat dicapai melalui peningkatan daya saing, dimana daya saing tidak hanya berorientasi pada indikator perekonomian saja, melainkan lebih luas artinya meliputi seluruh upaya mengelola sumber daya yang dimiliki. Tantangan ke depan yang akan dihadapi semakin berat, yaitu adanya globalisasi ekonomi yang ditandai dengan perdagangan dan industri yang berlaku tanpa batas (borderless). Kemampuan bersaing (daya saing) menjadi ujung tombak agar sektor-sektor ekonomi dapat tetap tumbuh dan berkembang dan memberikan kesejahteraan masyarakat. Keunggulan, inovasi, dan antisipasi merupakan tiga kunci pokok dalam menghadapi globalisasi. Keunggulan berhubungan dengan kualitas yang dimiliki, inovasi merupakan perubahan strategis yang dilakukan, serta antisipasi adalah bagaimana mengantar pelayanan sesuai timing-nya.