Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

GIOVANNI ADICHANDRA WIBISONO

2 karya publik ditemukan.

2025: 1

EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025

· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.

EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.