Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

28 hasil
Subjek: antibiotik
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan Antibiotik Amoxicillin di Puskesmas

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK AMOXICILLIN DI PUSKESMAS ABSTRAK Antibiotik adalah obat yang berasal dari seluruh atau bagian tertentu mikroorganisme dan digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistansi bakteri atau konsumen dapat kebal terhadap bakteri yang menginfeksi. Resistansi antibiotik dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain yaitu peresepan antibiotik yang berlebihan oleh tenaga kesehatan, adanya anggapan di masyarakat bahwa antibiotik merupakan obat dari segala penyakit, dan lalai dalam menghabiskan atau menyelesaikan terapi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di puskesmas. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini berfokus pada hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di Puskesmas II Mendoyo dan Puskesmas X Kabupaten Cirebon. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang data-data hasil penelitian yang telah terkumpul berupa data karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia,, dan tingkat pendidikan. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran mengenai hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di puskesmas. Kata kunci : Hubungan, Kepatuhan, Antibiotik, Amoxicillin, Puskesmas.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA MASYARAKAT DI KAMPUNG LIRUNG UBING

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan resistensi bakteri, meningkatkan biaya pengobatan, serta menurunkan efektivitas terapi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi penggunaan antibiotik adalah tingkat pengetahuan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, gambaran penggunaan antibiotik, serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 72 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap variabel dan secara bivariat menggunakan uji Korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 30 responden (41,7%), sedangkan penggunaan antibiotik sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 41 responden (56,9%). Hasil uji Korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi (r = 0,323) dengan nilai signifikansi (p = 0,006). Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Hubungan tersebut bersifat positif dengan kekuatan hubungan rendah, yang berarti semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat maka semakin baik pula penggunaan antibiotiknya.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG DI RUANG ICCU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA MENGGUNAKAN METODE ATC/DDD ((Anatomical Therapeutic Chemical / Defined Daily Dose) PERIODE JULI – DESEMBER 2024

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, maupun diproduksi secara sintetis yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri serta organisme lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuai evaluasi penggunaan antibiotik di Ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis dan kuantitas penggunaan metode ATC/DDD. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan rancangan cross-sectional, dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini purposive sampling, dengan sampel yang digunakan adalah pasien ICCU dengan kriteria inklusi rawat inap yang menerima terapi antibiotik serta mempunyai data rekam medik yang lengkap selama periode Juli - Desember 2024. Analisis data dilakukan berdasarkan pada demografi pasien, karakteristik pasien (jenis kelamin, usia, lama rawat inap), dan profil penggunaan antibiotik (jenis dan rute pemberian).Kemudian Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/DDD, dengan menghitung nilai DDD/100 pasien-hari untuk setiap jenis antibiotik, dan total nilai DDD/100 pasien-hari penggunaan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi antibiotik mencapai 393,8 DDD dengan nilai sebesar 124,23 DDD/100 hari rawat. Antibiotik yang paling dominan digunakan adalah Ceftriaxone dengan nilai 57,10 DDD/100 hari rawat, diikuti oleh Ampicillin Sulbactam sebesar 28,80 DDD/100 hari rawat. Berdasarkan analisis metode DU 90%, penggunaan antibiotik terkonsentrasi pada empat jenis utama, yaitu Ceftriaxone, Ampicillin Sulbactam, Metronidazol (PO), dan Metronidazol (IV) dengan persentase kumulatif 89,23%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas pada pasien kritis di ruang ICCU. Meskipun pola penggunaan antibiotik relatif terfokus, evaluasi lebih lanjut secara berkala serta penerapan program pengawasan penggunaan antibiotik (antimicrobial stewardship) tetap diperlukan guna memastikan rasionalitas terapi dan mencegah terjadinya resistensi antimikroba.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN SIKAP DAN TINDAKKAN DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DOKTER

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan tantangan serius karena risiko resistensi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap tindakan penggunaan antibiotik tanpa resep. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan tinjauan artikel dari Google Scholar dan Garuda periode 2015– 2025. Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan lebih dominan dibandingkan pengetahuan. Tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah (47,7%), sikap cenderung negatif (54,2%), dan tindakan penggunaan antibiotik tidak tepat (57,3%). Secara bersama, pengetahuan dan sikap memiliki hubungan signifikan terhadap tindakan (p=0,000). Faktor pendidikan dan pekerjaan juga turut mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Kesimpulannya, kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik rasional tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga sangat bergantung pada sikap positif serta faktor sosiodemografi. Saran yang diajukan adalah perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap positif, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam mengawasi penggunaan antibiotik di masyarakat.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter masih banyak ditemukan di masyarakat dan berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti efek samping obat serta meningkatnya risiko resistensi antibiotik. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dalam penggunaan antibiotik. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik tanpa resep dokter berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Rancangan penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu dengan melakukan pengumpulan data, penelaahan, dan analisis terhadap beberapa artikel ilmiah, buku referensi, serta dokumen resmi yang relevan. Objek penelitian ini adalah hasil-hasil penelitian terdahulu yang membahas pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menyusun gambaran dari data yang terkumpul mengenai tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada desa ilung pasar lama sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebesar 55% dan sikap dalam kategori cukup. Pada desa kota bangun sebrang mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah sebesar 55,9% serta sikap yang kurang baik. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat masih bervariasi, yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, serta akses terhadap informasi kesehatan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PERBANDINGAN RESISTENSI TERHADAP PENGOBATAN ANTIBIOTIK DALAM PENYAKIT INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi dan menjadi perhatian utama di bidang kesehatan, terutama disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis pola resistensi antibiotik terhadap bakteri penyebab ISK di beberapa rumah sakit di Indonesia, dengan fokus utama pada tingkat resistensi terhadap antibiotik tertentu seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan golongan β-laktam. Data dikumpulkan dari berbagai sumber ilmiah, termasuk jurnal dan hasil kultur urin pasien, kemudian dianalisis secara deskriptif secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi terhadap antibiotik tertentu meningkat secara signifikan akibat penggunaan yang tidak rasional dan terapi empiris tanpa uji kepekaan. Escherichia coli tetap menjadi penyebab utama ISK dengan tingkat resistensi tinggi terhadap beberapa antibiotik, sementara antibiotik seperti amikacin, meropenem, dan ceftazidime masih menunjukkan efektivitas. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik secara rasional dan pengawasan pola resistensi secara berkala untuk meningkatkan efektivitas pengobatan serta menekan perkembangan resistensi antibiotik di fasilitas kesehatan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENGARUH EDUKASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG DAGUSIBU ANTIBIOTIK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah kesehatan utama di Indonesia adalah tingginya prevalensi penyakit infeksi,terutama di negara berkembang. Untuk mengatasi masalah ini, digunakan berbagai jenis antimikroba seperti antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, dan antiprotozoa. Penggunaan antibiotik yang terlalu tinggi akan menyebabkan dampak yang besar bagi munculnya penyebaran resistensi antibiotik. Salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik yaitu tingkat pengetahuan dari masyarakat.Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat tentang DAGUSIBU antibiotic di Dusun Baloa Kec. Bajo Barat Kab. Luwut dan Di Kurnia Selatan Sungai Rumbai.Tahapan penelitian diawali dengan mencari dan mengumpulkan literatur berupa jurnal penelitian sesuai dengan tema penelitian, menelaah dan mempelajari data data dari jurnal, buku, sumber literatur lain yang relevan, menampilkan dalam table,membahas dan menyimpulkan. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah edukasi mengenai DAGUSIBU antibiotik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian di dunia karena berisiko tinggi terhadap kesakitan dan kematian. Prevalensi ISPA di Indonesia mencapai 25% dengan insidensi berada pada rentang 17,5%- 41,4%. Salah satu tatalaksana untuk mengobati penyakit ISPA yaitu dengan memberikan antibiotik. Pada saat pemberian obat antibiotik diperlukan perhatian dalam penggunaannya, namun saat ini masih banyak ditemukan permasalahan dalam pemberian antibiotik, salah satunya penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Per tahun 2019, terdapat sekitar 17,1-19,8% pemberian antibiotik yang tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat pada pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian restrospektif dengan pengumpulan data yang dilakukan secara sekunder. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis ISPA dan diberikan pengobatan antibiotik di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda periode Oktober – Desember 2023. Teknik pengambilan sampel adalah non-probability sampling. Analisis data akan dilakukan secara deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri dari Amoxicillin 500 mg sebanyak 124 (67,8%), diikuti oleh Cefadroxil 500 mg sebanyak 28 (15,3%), Cefixime 100 mg dan Clindamycin masing-masing sebanyak 11 (6%), Ciprofloxacin 500 mg sebanyak 6 (3,3%). Cotrimoxazole 480 mg, Chloramphenicol 1% ear drop, dan Ofloxacin ear drop masing-masing diberikan pada 1 pasien (0,6%). Analisa mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri atas tepat indikasi yaitu sebanyak 86,6%, tepat obat sebanyak 100%, tepat pasien sebanyak 100%, dan tepat dosis sebanyak 80,3%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi literatur tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik amoksisilin di puskesmas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik bisa bersifat bakterisid atau bakteriostatik. Antibiotik banyak di resepkan di puskesmas, namun penggunaanya sering kali tidak tepat, akibatnya terjadi peningkatan resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik yang sering di konsumsi dan di pasarkan secara bebas adalah amoksisilin. Ketidakpatuhan dalam penggunaan antibiotik dikarenakan kurangnya pengetahuan di masyarakat. Kepatuhan dalam penggunaan antibiotik bertujuan untuk memperkecil resiko terjadinya efek samping dan resistensi. Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendapat terapi antibiotik yang sesuai. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan amoksisilin di Puskesmas. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik. Hasil studi literatur Tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik amoksisilin Puskesmas Campurejo sebanyak 24 responden (48%) patuh minum obat antibiotik amoksisilin dan Puskesmas Masbagik sebanyak 89 responden (97,8%).

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA DAN DR. SOETOMO

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, salah satunya ialah penyakit infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan adanya infeksi yang di tandai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih. Rancangan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan dan penyajian data, dalam tabel deskriptif. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Objek penelitian ini adalah penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit RSUD Dr. Soetomo dan Rumah Sakit Bhayangkara kupang. Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis antibiotik yang terbanyak digunakan pada kasus Infeksi Saluran Kemih (ISK) di beberapa rumah sakit yaitu ceftriaxone yang termasuk golongan sefalosporin generasi ketiga. Kesimpulan yang dapat di ambil bahwa antibiotik Infeksi Saluran Kemih yang paling banyak digunakan adalah antibiotik ceftriaxon golongan sefalosporin.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) DI BEBERAPA RUMAH SAKIT

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan anitibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea atau pasien bedah sesar di beberapa Rumah Sakit. Antibiotik profilaksis adalah antibiotik digunakan bagi pasien yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur. Objek dari penelitian ini pasien sectio caesarea di rumah sakit. Tahapan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, meringkas, dan menarik kesimpulan dari data yang didapat dilakukan secara benar. Analisis data yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data yang telah di dapat dari jurnal yang akan di teliti. Berdasarkan hasil studi literatur, antibiotik profilaksis yang digunakan pada Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB adalah sefotaksim, seftriakson, dan ampisilin. Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo antibiotik profilaksis yang digunakan adalah sefazolin dan seftrikason. Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang antibiotik profilaksis yang digunakan adalah sefotaksim dan seftriakson. Dengan rute pemberian secara intra vena (IV). Dan waktu pemberian 30 menit sebelum sectio caesarea.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI PUSKESMAS

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan suatu penyakit menular dimana penyakit ini dapat menyerang semua umur dan masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun negara berkembang. Indonesia menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, persentase prevalensi penyakit ISPA seluruh provinsi di Indonesia sebesar 9,3%. Tujuan Penelitian studi literatur ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik, jenis dan dosis antibiotik pada pasien ISPA. Metode yang di digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, mulai dari pengumpulan data melalui jurnal maupun literatur tentang penggunaan antibiotik pada pasien ISPA, penelaahan data serta mempelajari data-data pada jurnal. Analisis data menggunakan analasis deskriptif, data yang dianalisis berupa data demografi, data penggunaan antibiotik, jenis dan golongan antibiotik.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar di rumah sakit. Sectio caesarea (SC) berasal dari bahasa latin caedere yang berarti memotong atau mengiris yang mengacu pada tindakan pembedahan untuk melahirkan bayi dengan membuka dinding perut dan rahim ibu. Risiko yang mungkin terjadi setelah persalinan dengan operasi sectio caesarea adalah infeksi. Antibiotik profilaksis dianjurkan pada persalinan bedah sesar karena dapat mengurangi kejadian infeksi yang disebabkan oleh kuman pada saat operasi. Objek penelitian yaitu penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar di rumah sakit. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul yaitu data demografi pasien dan data penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar (sectio caesarea) di RSUD Arifin Ahmad Provinsi Riau, RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, dan RSUD Provinsi NTB. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis antibiotik profilaksis yang terbanyak digunakan pada kasus sectio caesarea dirumah sakit adalah antibiotik dosis tunggal yaitu seftriakson yang termasuk golongan sefalosporin generas ketiga. Selain itu juga digunakan antibiotik ampisilin, sefazolin dan sefotaksim. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa antibiotik profilaksis yang paling banyak dan sering digunakan adalah antibiotiik golongan sefalosporin yaitu sefazolin dan seftriakson.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBEDAAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN COVID-19 DI BEBERAPA KOTA DI INDONESIA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Coronavirus disease (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-Cov2. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan COVID-19 sebagai pandemi dan skala penyebaran penyakit terjadi secara global di seluruh dunia. Antibiotik dalam Penatalaksanaan COVID-19 menjadi salah satu terapi yang diberikan pada pasien COVID-19 di rumah sakit. Pemberian antibiotik pada pasien COVID-19 di rumah sakit masih terdapat perbedaan terapi yang didasari oleh infeksi atau gejala yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penggunaan antibiotik pada pasien COVID-19 di rumah sakit beberapa kota. Penggunaan antibiotik pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin, usia, golongan antibiotik, penggunaan antibiotik, dan pemberian antibiotik kombinasi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan cara mengumpulkan, mempelajari, lalu menelaah sumber literatur yang kemudian disajikan dalam tabel data. Data yang diteliti adalah penggunaan antibiotik pada pasien COVID-19 di rumah sakit yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan penyebaran COVID-19 berdasarkan jenis kelamin dari keempat rumah sakit yang paling banyak adalah laki-laki, sedangkan berdasarkan usia penyebaran COVID-19 paling banyak terinfeksi pada usia 40 sampai 65 tahun keatas. Perbedaan penggunaan antibiotik berdasarkan golongan antibiotik terbanyak yaitu pada Rumah Sakit Kota Bandung golongan makrolida (40,42%), untuk Rumah Sakit Kota Semarang golongan kuinolon (32,3%), Rumah Sakit Kota Jakarta golongan meropenem (52,68%), sedangkan Rumah Sakit Kota Banjarmasin golongan makrolida (5,84%). Pemberian antibiotik kombinasi hanya pada dua rumah sakit yaitu Rumah Sakit kota Bandung dengan kombinasi azitromisin dan seftriakson (28,03%), sedangkan Rumah Sakit Kota Semarang dengan kombinasi sefoperazon dan sulbaktam (7,3%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PSIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STUDI LITERATUR EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Pneumonia salah satu bentuk infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru dengan pilihan terapi untuk infeksi adalah antibiotika. Penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia perlu diperhatikan, jenis antibiotik yang digunakan harus sesuai, serta penggunaan antibiotik harus tepat untuk mengurangi resiko resistensi dan meningkatkan efektivitas antibiotik. Pemberian antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan efek samping infeksi seperti komplikasi, waktu rawat inap lebih lama dan meningkatnya resiko kematian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia. Penelitian ini adalah jenis penelitian studi literatur. Objek penelitian ini adalah penggunaan antibiotika pada pasien pneumonia. Hasil studi literatur menunjukan penggunaan antibiotik berdasarkan jenis kelamin dan usia yang paling banyak terjadi pada laki-laki di RSUD Pontianak dr. Soedarso dan Sultan Syarif dengan usia 0-4 tahun berturut-turut (62,29%), (50,82%), dan (51,42%), 42,85%) dan di RSUD Ibnu Sina Makasar (58%) dengan usia 0-5 tahun (34%). Penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah antibiotik tunggal ceftriakson di RSUD Pontianak dr. Soedarso dan Sultan Syarif dengan ampisilin-gentamisin berturut-turut (29,51%), (16,39%) dan (48,57%), (14,28%). RSUD Ibnu sina Makasar (44,1%) dan cefotaksim-gentamisin (57%). Evaluasi penggunaan antibiotik didapatkan tepat indikasi berturut-turut (93,02%), (100%) dan (62%). Tepat obat (100%), (100%) dan (62%). Tepat dosis (68,60%), (100%) dan (62%). Tepat lama pemberian (62,79%), (79,16%) dan (58%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROFIL GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK PADA PENYAKIT ISPA UNTUK PASIEN ANAK RAWAT INAP DI BEBERAPA RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) termasuk salah satu penyebabutama morbiditas dan mortalitas penyakit menular didunia. ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan akut yangmenyerang bagian saluran atas dan bawah secara stimulun atau berurutan. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diresepkan untuk infeksi ini. Penggunaan yang salah terhadap penggunaan antibiotik menyebabkan pasien tidak sembuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan antibiotik dan permasalahan terkait obat kategori ketidaktepatan pemilihan obat, dosis rendah dan dosis tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode non eksperimental dengan pengambilan data tertrospektif dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari penelitian yaitu kelompok usia yang menerima terapi antibiotik pada usia 1-4 tahun sebesar 37,89% dan penggunaan antibiotik terbesar pada pasien anak adalah ceftriaxone sebesar 38,59 %.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROFIL PERESEPAN ANTIBIOTIK UNTUK ISPA DI APOTEK INDONESIA

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Peresepan antibiotik dalam jumlah besar akan mempengaruhi stock obat di apotek, data konsumsi antibiotik di perlukan untuk meningkatkan sistem pengelolaan obat di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang profil peresepan antibiotik untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Apotek Indonesia. Penelitian berupa studi literatur yang dilakukan dengan cara menghimpun data dari berbagai sumber. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2020. Obyek penelitian adalah jenis antibiotik yang digunakan untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut di apotek. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif yaitu menganalisa gambaran data-data berdasarkan kumpulan jurnal ilmiah. Hasil penelitian di apotek Ashvin, apotek Kepuh Farma, dan apotek X Dinoyo, menunjukan bahwa pengobatan pasien ISPA menggunakan antibiotik sebesar 78,3% dan yang tidak menggunakan antibiotik sebesar 21,7%. Antibiotik yang paling banyak digunakan pada pasien ISPA bertutur-turut adalah golongan penisilin sebesar 32,6%, golongan sefalosforin sebesar 25,9%, golongan quinolon sebesar 23,4%, golongan makrolida sebesar 17,5%, dan golongan tetrasiklin sebesar 0,6%.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS PADA KASUS SECTIO CAESARAE DI RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antibiotik merupakan obat yang berfungsi menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme sebagai pencegahan dan penanganan terhadap infeksi mikroba. Antibiotik profilaksis dianjurkan pada persalinan SC karena dapat mencegah atau mengurangi kejadian infeksi yang disebabkan oleh kuman staphylococcus aureus pada saat operasi, penggunaan antibiotik profilaksis terbukti efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk medapatkan gambaran mengenai profil penggunaan antibiotika profilaksis sectio caesarae di rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah Jurnal Ilmiah, Buku Prosiding Seminar Kefarmasian, dan Karya Tulis Ilmiah. Tahapan penelitian berupa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Objek penelitian yaitu penggunaan antibiotika profilaksis pada kasus sectio caesarae di rumah sakit. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis antibiotik profilaksis tertinggi yang digunakan pada kasus SC di rumah sakit merupakan antibiotik golongan sefalosporin dalam bentuk tunggal. Selain itu juga digunakan antibiotik profilaksis kombinasi diantaranya yaitu gentamisin dan seftriakson, amoksisilin dan klavulanat serta ampisilin dan sulbaktam. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa antibiotik profilaksis yang paling banyak dan sering digunakan adalah antibiotik golongan sefalosporin yaitu seftriakson dan sefotaksim.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA KASUS SECTIO CAESARAE DI RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan studi literatur adalah untuk mengetahui evaluasi penggunaan antibiotik profilaksis pada kasus Sectio Caesarae di rumah sakit. Sectio Caesarea (SC) adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Pemberian antibiotik profilaksis merupakan upaya untuk mencegah terjadinya infeksi. Penggunaan antibiotika profilaksis terbukti mampu menurunkan risiko infeksi pasca bedah secara signifikan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah literatur ilmiah yang terkait. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan kesesuaiannya dengan standar pemberian antibiotik profilaksis Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa sebagian besar rumah sakit menggunakan antibiotik sefalosporin generasi III pada penggunaan antibiotika profilaksis untuk kasus Sectio Caesarae. Hasil evaluasi kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien SC dibandingkan dengan standar pemberian antibiotik yang direkomendasikan oleh Pedoman Dasar Farmakologi dan Terapi menurut Goodman & Gilman, Permenkes Nomor 2406 tahun 2011 tentang panduan umum penggunaan antibiotik serta SIGN: Antibiotik Prophylaxis in Surgery (2014) dan WHO (2015), dapat disimpulkan bahwa tidak tepat obat dan dosis, namun tepat cara dan waktu pemberian

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail