CLARA AGATHA.K
2024 · Thesis · Open Access
Bakau hitam (Rhizopora mucronata Poir) merupakan salah satu spesies tumbuhan bakau yang hidup di hutan manggrove yang memiliki kandungan metabolit sekunder serta mengandug antioksidan alami dan antibakteri yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir pantai dikonsumsi sebagai bahan pangan dan obat. Manfaat yang dimiliki suatu bahan alam berkhasiat obat perlu dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak buah bakau hitam serta kandungan senyawa metabolit sekundernya. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non spesifik Tahap pertama buah bakau hitam diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan didapatkan rendeman sebesar 23,77 %. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik dengan hasil pengamatan secara langsung pada simplisia berupa serbuk. warna coklat tua, rasa sedikit sepat, dengan aroma khas dan pada uji organoleptik ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit dengan aroma yang khas. Kadar rata-rata senyawa terlarut dalam air simplisia sebesar 7,3 % dan ekstrak sebesar 11,33 %, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol simplisia rata-rata sebesar 24 % dan ekstrak sebesar 88,33 %. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi penetapan kadar air rata-rata pada simplisia 15 % dan ekstrak 18 %. Uji kadar abu total rata-rata pada simplisia 8,3397 % dan ekstrak 10,4976 %, sedangkan uji kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia 0,2329 % dan ekstrak 0,8144 %. Bobot jenis ekstrak rata-rata 1,04 g/mL dan hasil dari uji cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 4,6 x 10-3 koloni/g dan ekstrak 4,3 x 10-3 koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 2,1 x 10-2 koloni/g dan pada ekstrak sebanyak 1,3 x 10-2 koloni/g. Pada hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak buah bakau hitam positif mengandung senyawa metabolit yaitu sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid
NOFIA INDRIANI
2024 · Thesis · Open Access
CLARA AGATHA.K
2024 · Thesis · Open Access
Bakau hitam (Rhizopora mucronata Poir) merupakan salah satu spesies tumbuhan bakau yang hidup di hutan manggrove yang memiliki kandungan metabolit sekunder serta mengandug antioksidan alami dan antibakteri yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir pantai dikonsumsi sebagai bahan pangan dan obat. Manfaat yang dimiliki suatu bahan alam berkhasiat obat perlu dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak buah bakau hitam serta kandungan senyawa metabolit sekundernya. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non spesifik Tahap pertama buah bakau hitam diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan didapatkan rendeman sebesar 23,77 %. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik dengan hasil pengamatan secara langsung pada simplisia berupa serbuk. warna coklat tua, rasa sedikit sepat, dengan aroma khas dan pada uji organoleptik ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit dengan aroma yang khas. Kadar rata-rata senyawa terlarut dalam air simplisia sebesar 7,3 % dan ekstrak sebesar 11,33 %, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol simplisia rata-rata sebesar 24 % dan ekstrak sebesar 88,33 %. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi penetapan kadar air rata-rata pada simplisia 15 % dan ekstrak 18 %. Uji kadar abu total rata-rata pada simplisia 8,3397 % dan ekstrak 10,4976 %, sedangkan uji kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia 0,2329 % dan ekstrak 0,8144 %. Bobot jenis ekstrak rata-rata 1,04 g/mL dan hasil dari uji cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 4,6 x 10-3 koloni/g dan ekstrak 4,3 x 10-3 koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 2,1 x 10-2 koloni/g dan pada ekstrak sebanyak 1,3 x 10-2 koloni/g. Pada hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak buah bakau hitam positif mengandung senyawa metabolit yaitu sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid.
RAVIAH
2024 · Thesis · Open Access
Compounding obat menjadi perhatian karena banyak munculnya kejadian yang tidak dikehendaki seperti masalah farmasetika dan interaksi obat. Good Compounding Practice (GCP) adalah panduan untuk meracik obat dengan baik yang berisi tentang petunjuk yang lebih mendalam tentang penerapan praktik compounding yang baik untuk menyiapkan formulasi obat racikan yang akan diberikan kepada manusia. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP, implementasi GCP di apotek Kota Samarinda, dan hubungan antara pengetahuan Apoteker tentang GCP dan implementasinya di apotek Kota Samarinda. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden, kemudian analisis data untuk mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan dan implementasi menggunakan analisis chi-square. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP tergolong baik, dengan nilai rata-rata 81,91. Implementasi GCP oleh Apoteker juga tergolong baik, dengan nilai rata-rata 77,91. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan implementasi Good Compounding Practice (GCP) (P value = 0,896). Hasil tabulasi silang Odd Ratio (OR) sebesar 0,992 yang menunjukkan 1 maka tingkat pengetahuan mengurangi resiko rendahnya Apoteker untuk melakukan implementasi GCP.
RISKA DELA PUTRI
2024 · Thesis · Open Access
Temu putih (Curcuma zedoaria) termasuk dalam tanaman keluarga yang mempunyai khasiat sebagai penambah nafsu makan, mengatasi kram akibat menstruasi, gangguan pencernaan, muntah, penawar racun menurunkan demam, mengobati gatal-gatal, bronkitis serta radang akibat luka. Tanaman ini juga memiliki kandungan fitokimia yaitu alkaloid, saponin, tannin, fenol, terpenoid, dan flavonoid. Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam senyawa fenol yang struktur benzenanya tersubstitusi dengan gugus OH. Flavonoid tardapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga dapat ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria) berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari determinasi tanaman, pengumpulan sampel, penetapan susut pengeringan, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol (30%, 50% dan 70%), penetapan kadar air, dan penetapan kadar flavonoid dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding kuersetin. Berdasarkan hasil rata - rata penetapan susut pengeringan sebesar 9,45%. Pada uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin dan triterpenoid. Hasil rendemen eksrak etanol 70%, 50% dan 30% secara berturut - turut yaitu 31,25%, 27,00% dan 11,76%. Sedangkan pada penetan kadar air mendapatkan hasil sebesar 9,49%, 18,9% dan 9,07%. Hasil panjang gelombang maksimum yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 441 nm. Pada penelitian ini diperoleh hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak rimpang temu putih dengan konsentrasi 70% memiliki kadar flavonoid yang lebih tinggi yaitu 1,3964 ±0,0195 di bandingkan dengan konnsentrasi etanol 50 % (1,2667±0,0187) dan 30% (1,1243±0,0171). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel sesuai dengan pertimbangan tertentu dari peneliti. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini dilakukan secara statistik menggunakan uji ANOVA dengan aplikasi Minitab. Nilai p value yang diperoleh sebesar (0,000 0,05) maka dapat disimpulkan hasil uji statistik pada ketiga variasi konsentrasi pelarut etanol tersebut menunjukkan adanya nilai kadar flavonoid yang signifikan.
NOVELIA ANGGRAENI PUTRI
2024 · Thesis · Open Access
Compounding obat menjadi perhatian karena banyak munculnya kejadian yang tidak dikehendaki seperti masalah farmasetika dan interaksi obat. Good Compounding Practice (GCP) merupakan pedoman peracikan obat yang baik. Pemahaman tentang GCP harus dikuasai oleh Apoteker untuk mengurangi risiko pada pasien dari gabungan obat yang tidak aman, tidak efektif dan berkualitas buruk, sekaligus menjaga akses terhadap obat-obatan gabungan yang dipasarkan secara sah bagi pasien yang mempunyai kebutuhan medis terhadap obat-obatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan Apoteker tentang Good Compounding Practice (GCP) di apotek Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang. Metode Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling, dengan jumlah sempel sebanyak 56 responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dengan menggunakan microsoft excel. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP tergolong baik dengan nilai rata-rata 85,98%.
TITIS WAHYUNINGTIYAS
2024 · Thesis · Open Access
Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi dengan penambahan bakteri SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast). Penambahan SCOBY dapat menambah aktivitas antioksidan dalam suatu teh. Kombucha dapat dibuat dari berbagai bagian tanaman seperti akar, umbi, kulit, bunga, batang, dan daun dari tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik memiliki aktivitas antioksidan. Salah satu daun yang dapat digunakan sebagai bahan membuat teh kombucha adalah daun alpukat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan teh kombucha daun alpukat (Persea americana Mill.) dengan variasi lama fermetasi. Uji antioksidan kombucha daun alpukat (Persea americana Mill.) dilakukan pada fermentasi hari ke 1, 3, 5, 7, 9, dan 11. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi sampel, pengolahan sampel, sterilisasi alat, pembuatan teh kombucha daun alpukat, dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan intrumen Spektofotometer UV-Vis dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) pada panjang gelombang maksimum 450-600 nm dan menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari skrining fitokimia teh kombucha dan uji hedonik. Data kuantitatif nilai IC50 kombucha daun alpukat dan pH disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS 25.0 Version dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh kombucha daun alpukat dengan variasi lama fermentasi (1, 3, 5, 7, 9, dan 11 hari) memiliki nilai IC50 3486,26; 4997,22; 3877,72; 2796,64; 2499,12; 2717,01 ppm. aktivitas antioksidan yang optimal diperoleh setelah fermentasi hari ke 7 dengan nilai pH yang masih aman untuk dikonsumsi. Uji One Way Anova pada nilai pH teh kombucha daun alpukat dengan variasi lama fermentasi diperoleh nilai signifikan 0,000 (p0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara lama fermentasi teh kombucha daun alpukat terhadap nilai pH. Hasil dari uji Kruskal wallis memiliki nilai 0,043 (p0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara lama fermentasi teh kombucha daun alpukat terhadap aktivitas antioksidan.
ANUGERAH PUTRI MAWARNI
2024 · Thesis · Open Access
Hipertensi sampai saat ini masih menjadi masalah utama bukan hanya di Indonesia tetapi di dunia. Pengobatan hipertensi dan kontrol tekanan darah secara signifikan terbukti menurunkan kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular, serta morbiditas dan mortilitas kardiovaskular baik pada pria maupun perempuan. Tujuan penelitian ini mengetahui pola peresepan obat antihipertensi yang diresepkan untuk pasien hipertensi poli jantung di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan penelitian ini bersifat kuantitatif non eksperimental dengan desain cross sectional. Objek penelitian meliputi resep obat yang diresepkan untuk pasien dengan diagnosa hipertensi pada poli jantung di Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie pada periode Oktober-Desember 2022. Analisis data dengan menggunakan tabel karakteristik pasien (Nama, Jenis kelamin, Usia, dan status pasien), penggunaan obat, dan penggolongan obat yang dikemas dalam bentuk deskriptif. Hasil penelitian yang didapatkan dari total 352 resep berdasarkan pola peresepan Pasien penderita hipertensi yang berobat yang terbanyak adalah berjenis kelamin pria dengan jumlah 179 pasien (50,86%). Usia paling banyak yang berobat adalah usia 20-44 tahun dengan prevalensi 144 pasien (40,91%). Hasil tersebut sesuai dengan teori faktor resiko lainnya hipertensi. Status pasien yang paling banyak berobat adalah dengan status BPJS yaitu sebanyak 304 pasien (86,36%). Jenis obat antihipertensi yang diresepkan berjumlah 13 jenis obat dan yang paling sering diresepkan adalah jenis obat amlodipin 10 mg sebanyak 131 obat (16,03%) dan yang paling jarang diresepkan adalah propanolol dengan jumlah 9 obat (1,10%). Golongan obat paling sering diresepkan adalah golongan obat penghambat ARB sebanyak 217 obat (26,56%) dari 5 golongan yang ada.
SIKA NOVITASARI
2024 · Thesis · Open Access
Antioksidan merupakan senyawa yang penting bagi tubuh karena dapat menghambat molekul radikal bebas sehingga dapat mencegah penyakit. Radikal bebas yang dapat masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sistem imun tubuh. Temu putih (Curcuma zedoaria) merupakan salah satu rimpang yang memiliki kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak rimpang temu putih dengan variasi konsentrasi pelarut etanol. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan serbuk simplisia temu putih, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak sampel menggunakan variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 30%, 50%, dan 70% dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan susut pengeringan sebesar 11,29%. Uji skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan triterpenoid. Hasil rendemen ekstrak etanol 70%, 50%, dan 30% secara berturut-turut adalah 21,19%, 21,19%, 19,27%. Sedangkan kadar air sebesar 13,35%, 19,58%, 9,23%. Hasil uji aktivitas antioksidan pada penelitian ini diperoleh nilai panjang gelombang maksimum sebesar 519 nm. Nilai IC50 yang terbaik diperoleh pada ekstrak temu putih dengan konsentrasi etanol 70% yaitu sebesar 142,139 ppm yang dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sedang. Pada ekstrak etanol 50% diperoleh nilai IC50 sebesar 227,522 ppm sedangkan pada etanol 30% sebesar 289,699 ppm sehingga keduanya menunjukkan kategori aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Hal ini dapat terjadi karena ekstrak etanol 70% termasuk kedalam larutan yang bersifat polar, semakin polar pelarut etanol yang digunakan maka nilai IC50 semakin besar dan aktivitas antioksidannya menjadi semakin lemah. Sebagai pembanding dalam uji ini digunakan vitamin C dengan nilai IC50 sebesar 6,84 ppm, menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat.
NUR AZIZA
2024 · Thesis · Open Access
Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg. Pengobatan hipertensi dipengaruhi oleh kepatuhan penderita dalam mengonsumsi obat hipertensi dengan melakukan modifikasi gaya hidup. Berdasarkan dari data permasalahan yang ada pasien yang tidak rutin minum obat dan tidak minum obat masih banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di Klinik Kimia Farma Dr. Sutomo Samarinda. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan desain studi cross sectional, menggunakan uji statistik chi-square dengan pendekatan prospektif. Metode pengukuran tingkat kepatuhan minum obat menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8. Objek penelitian meliputi pasien hipertensi yang berobat di Klinik Kimia Farma Dr. Sutomo Samarinda. Analisis data menggunakan tabel karakteristik pasien (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan).
NOR PIYA
2024 · Thesis · Open Access
Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh, penyakit degeneratif dan penuaan dini. Terpapar radiasi ultraviolet, terpapar polusi, asap rokok, gaya hidup dan asupan makanan yang buruk, metabolisme sel yang tidak normal, dan kekurangan nutrisi adalah semua faktor yang dapat menyebabkan radikal bebas. Kerusakan sel yang diakibatkan serangan radikal bebas dari luar yaitu penuaan dini. Penuaan dini, biasanya ditandai dengan kondisi kulit yang kering, bersisik, kasar, dan disertai munculnya keriput dan noda hitam atau flek Antioksidan bekerja dengan cara menetralisir radikal bebas, sehingga antioksidan bisa memperlambat proses penuaan, mencegah kerusakan tubuh, dan mengurangi risiko penyakit degeneratif. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kadar konsentrasi aktivitas antioksidan dalam bunga telang dari 10 penelitian yang telah dilakukan dengan metode DPPH. Metode yang digunakan pada studi literatur ini adalah metode Systematic Review (SR) atau Systematic Literature Review (SLR). Hasil aktivitas antioksidan dari 10 penelitian yang telah di review adalah ada 4 penelitian menggunakan pelarut 70% dengan rentang nilai IC50 9,44 ppm – 74,22 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat - sangat kuat, 1 penelitian menggunakan pelarut etanol 80% dengan nilai IC50 87,86 ppm kategori aktivitas antioksidan kuat, 2 penelitian menggunakan pelarut etanol 96% dengan rentang nilai IC50 26,10 ppm – 38,59 ppm kategori aktivitas antioksidan sangat kuat, serta 3 penelitian menggunakan pelarut metanol dengan rentang nilai IC50 27,75 ppm – 95,30 ppm kategori aktivitas antioksidan kuat - sangat kuat. Adapun aktivitas antioksidan yang termasuk kategori sangat kuat mempunyai nilai IC50 26,10 ppm dan aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat mempunyai nilai IC50 95,30 ppm.
MIL HADIYATUN NIKMAH
2024 · Thesis · Open Access
Anemia pada kehamilan ditegakkan apabila kadar hemoglobin (Hb) 11 g/dL. Kondisi anemia pada ibu hamil harus dideteksi sedini mungkin dan diberikan penatalaksanaan yang tepat. Tingkat pengetahuan menjadi faktor yang dapat meningkatkan pemahaman ibu hamil agar lebih selekif dalam pemilihan obat-obatan yang digunakan selama kehamilan demi menghindari risiko yang tidak diinginkan Studi farmakoepidemiologi digunakan untuk mempelajari penggunaan dan efek vitamin penambah darah serta mengukur seberapa jauh penggunaan dan efek dari obat yang digunakan oleh ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui farmakoepidemiologi vitamin penambah darah pada ibu hamil di Kelurahan Mangkurawang Tenggarong. Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu semua ibu hamil di wilayah Kelurahan Mangkurawang Tenggarong. Sampel diambil dengan teknik total sampling sehingga sampel pada penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kelurahan Mangkurawang Tenggarong. Variabel pada penelitian ini yaitu variabel tunggal yaitu profil ibu hamil yang mengkonsumsi vitamin penambah darah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat, merupakan analisis yang dilakukan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik setiap variabel, dan mengetahui distribusi frekuensi variabel yang diamati.
AJENG PUTRI NUR HIKMAH
2024 · Thesis · Open Access
Tumbuhan obat banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan jamu karena memiliki khasiat beragam salah satunya adalah buah markisa ungu (Passiflora edulis f. Sims), sehingga perlu dilakukan karakterisasi untuk mengetahui kualitas mutu dan keamanan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Karakterisasi memiliki beberapa aspek diantaranya parameter spesifik dan parameter non spesifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak metanol kulit buah markisa ungu serta kandungan senyawa metabolit sekunder didalamnya. Penelitian yang dilakukan bersifat non eksperimental dengan objek yang diteliti adalah karakterisasi spesifik dan non spesifik kulit buah markisa ungu dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian organoleptis simplisia serta ekstrak kulit markisa ungu meliputi ekstrak kental, bau khas, warna coklat tua kehitaman, serta rasa pahit dan kelat. Hasil makroskopik kulit markisa ungu yaitu memiliki tekstur lunak serta rasa pahit dan kelat, memiliki warna ungu gelap serta tidak berbau. Hasil mikroskopik fragmen pengenal pada kulit markisa ungu yaitu rambut penutup, parenkim sekresi, berkas pembuluh. Hasil uji parameter spesifik kadar sari larut air dan sari larut etanol yaitu pada simplisia 35%; 39%, dan ekstrak 33%; 42%. Hasil uji skrining fitokimia pada simplisia dan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji parameter non spesifik kadar air, kadar abu, abu tidak larut asam pada simplisia dan ekstrak kulit markisa ungu yaitu 10,16%; 13,16%, 7%; 9,5%, 3,5%; 0,83%. Hasil uji bobot jenis ekstrak kulit markisa ungu 1,013 g/mL. Hasil uji cemaran mikroba dengan metode angka lempeng total (ALT, dinyatakan dalam koloni/g) dan angka kapang/khamir (AKK, dinyatakan dalam koloni/g) pada simplisia 44,2 x 103 koloni/g; 3,3 x 102 koloni/g, pada ekstrak 8,11 x 103 koloni/g; 1 x 102 koloni/g.
FIRDIANTY LESTARI WILUJENG
2024 · Thesis · Open Access
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) dikenal sebagai obat tradisional karena memiliki beragam senyawa fitokimia yang bermanfaat bagi kesehatan secara luas. Pengetahuan tentang senyawa bioaktif bunga telang terhadap kesehatan masih perlu dikaji lebih mendalam untuk dioptimalkan dalam bidang kesehatan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui senyawa fitokimia yang terdapat dalam bunga telang dan merangkum aktivitas farmakologi bunga telang serta mengevaluasi aktivitas farmakologisnya berdasarkan penelitian yang ada. Penelitian ini memberikan pemahaman yang jelas tentang potensi kesehatan dari bunga telang. Studi literatur ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dan memperoleh beberapa jurnal dari lokal maupun internasional melalui pencarian di Google Scholar. Terdapat 10 jurnal terpilih dan dianalisis untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia serta aktivitas farmakologi bunga telang. Hasil aktivitas bunga telang yang telah di review terdapat potensi bunga telang dibuktikan dengan ekstrak bunga telang konsentrasi 5% dan 10% sebagai antiaging, ekstrak bunga telang sebagai antibakteri dengan konsentrasi 20% mampu menghambat bakteri Staphylococcus yang memiliki diameter zona hambat rata-rata 6,2 mm semakin lebar zona hambat semakin kuat senyawa untuk menghambat bakteri, konsentrasi bunga telang sebagai antidiabetes 150 mg/kg selama 21 hari berhasil mencegah penurunan berat badan pada tikus yang mengalami diabetes tipe 2 dan dapat menghambat penurunan kadar gula dalam darah, uji aktivitas antikolesterol kombucha bunga telang konsentrasi gula aren sebesar 40% memberikan hasil terbaik dalam menurunkan kadar kolesterol. Bunga telang mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, fenol, terpenoid, kuersetin, saponin, dan glikosida memberikan efek farmakologi untuk pengobatan dan pencegahan berbagai kondisi kesehatan.
SISKA DWI YULIANI
2024 · Thesis · Open Access
Indonesia memiliki banyak sekali tanaman obat yang melimpah sehingga masyarakat umumnya memanfaatkan sebagai alternatif penyembuhan penyakit dan pola hidup sehat. Antioksidan merupakan suatu zat yang dapat menetralkan radikal bebas sehingga dapat melindungi tubuh dari penyakit dengan cara mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif yang dapat merusak sel. Radikal bebas berasal dari lingkungan contohnya polusi udara, sinar matahari, gesekan mekanik, suhu panas atau dingin, dan reaksi oksidasi yang berlebihan. Kerusakan sel yang diakibatkan serangan radikal bebas dari luar yaitu penuaan dini. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa antosianin golongan flavonoid yang dapat mengikat radikal bebas. Bunga telang berkhasiat untuk antioksidan, antidiabetik, antiobesitas, antikanker, antiinflamasi, antibakteri, antihistamin, imunomodulator, antibiotik, antiparasit, dan hepatoprotektor pada bagian kelopak bunga. Suhu dan lama waktu proses pengeringan dapat mempengaruhi kualitas, warna, dan kandungan senyawa aktif yang terkandung di dalam bunga telang kering. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui suhu dan waktu yang optimal pengeringan bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap aktivitas antioksidan yang dihasilkan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Sistematic Literature Review (SLR) untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan mensintesis informasi dari berbagai literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Hasil review terhadap 10 artikel yang dilakukan menunjukkan bahwa proses pengeringan dengan suhu terbaik yaitu 45°C sampai 60°C dan waktu selama 4 jam sampai 6 jam dengan menggunakan alat pengering food dehydrator, sedangkan untuk menghasilkan aktivitas antioksidan terbaik dengan proses pengeringan menggunkan oven sebagai alat pengering dengan suhu 50°C selama 7 jam yang menghasilkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 43,68 ppm yang dikategorikan kuat.
NURFADILLA
2024 · Thesis · Open Access
Temu putih (Curcuma zedoaria) merupakan salah satu tanaman yang termasuk dalam famili Zingiberaceae, dengan genus curcuma yang banyak ditemukan di India dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Temu putih memiliki sifat antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Perbedaan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi kelarutan senyawa bioaktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Konsentrasi pelarut etanol divariasikan untuk mengetahui konsentrasi pelarut yang menghasilkan ekstrak temu putih dengan aktivitas antioksidan tertinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol temu putih dengan variasi konsentrasi pelarut etanol (70%, 50%, 30%) menggunakan metode ABTS. Penelitian ini melalui beberapa tahapan yang dimulai dengan determinasi tanaman, penyiapan simplisia, penetapan susut pengeringan, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol (70%, 50%, 30%) temu putih menggunakan metode maserasi, penetapan kadar air, pengujian antioksidan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan metode ABTS dan vitamin C (pembanding). Hasil penetapan susut pengeringan sebesar 11,17%. Hasil skrining fitokimia simplisia temu putih menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Hasil rendemen dan kadar air ekstrak etanol (70%, 50%, 30%) berturut-turut adalah rendemen (32,30%, 23,66%, 19,27%), kadar air (13,90%, 18,69%, 12,70%). Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol (70%, 50%, 30%) temu putih diperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 4,54, 6,98, 16,86 ppm, dan vitamin C (pembanding) 0,68 ppm, sehingga semua ekstrak temu putih termasuk dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Aktivitas antioksidan yang paling tinggi terdapat pada ekstrak etanol 70% temu putih.
GABRIELLA MARCELIA
2024 · Thesis · Open Access
Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarganya. Kesalahan ini dapat terjadi dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan obat (dispensing) dan pemberian obat (administration). Tujuan penelitan untuk mengetahui profil medication error pada fase prescribing resep pasien diabetes melitus di Puskesmas Segiri Samarinda. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan medication error fase prescribing yang paling banyak terjadi pada resep pasien diabetes melitus adalah tidak ada nomor SIP dokter (100%), tidak ada bentuk sediaan (100%), tidak ada cara penggunaan obat (100%), tidak ada rute pemberian (100%), tidak ada tanda tangan dokter (100%), tidak ada tinggi badan pasien (99,4%) dan tidak ada berat badan pasien (99,1%).
SALSABIL DEA SAFITRI
2024 · Thesis · Open Access
Paparan sinar matahari memiliki efek negatif pada kulit manusia, oleh karena itu salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai tabir surya adalah rimpang temu putih (Curcuma zedoaria). Temu putih mengandung senyawa antioksidan, kurkuminoid, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, fenolik, triterpenoid, steroid dan glikosida. Salah satunya fenolik mempunyai gugus kromofor yang merupakan sistem aromatik terkonjugasi yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu pada rimpang temu putih dengan umur 9-11 bulan. Tahapan penelitian ini dimulai dengan determinasi tanaman, pengumpulan rimpang temu putih dan pembuatan simplisia yang dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di TawangMangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Tahapan selanjutnya penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penentuan aktivitas tabir surya menggunakan spektrofotometri secara in vitro dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi dan Laboratorium Kimia Analisis Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda. Analisis data yang digunakan dengan metode SPPS IBM 25 dengan taraf kepecayaan 95%. Hasil penelitian diperoleh ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%,50% dan 70% nilai SPF etanol 30% sebesar 14,14± 0,0652 (rendah) dan etanol 70% 33,65 ± 0,9517 (tinggi). Analisis data statistik ekstrak temu putih menggunakan uji Kruskal-wallis dan didapatkan nilai Asymp.sig. 0,05.
NANDA RIMBUN SARI
2024 · Thesis · Open Access
Kelenjar tiroid memiliki peran penting dalam mengatur fungsi organ, jaringan, dan sel dalam tubuh manusia melalui pembentukan dan pelepasan hormon tiroid. Kanker tiroid merupakan salah satu gangguan pada kelenjar tiroid yang memiliki beberapa klasifikasi seperti karsinoma papiler, karsinoma folikular, karsinoma meduler, dan karsinoma anaplastik. Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kanker tiroid meliputi faktor genetik, jenis kelamin, usia, kebiasaan merokok, dan paparan radiasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran karakteristik dan pola pengobatan pasien kanker tiroid periode 2023 di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie yang dilaksanakan secara deskriptif kuanlitatif dengan pendekatan retrospektif, menggunakan data rekam medik pasien kanker tiroid yang telah menjalani terapi ablasi iodium-131. Hasil penelitian diolah dan dipresentasikan melalui rangkuman yang menggambarkan data secara ilmiah dalam bentuk tabel. Pada penilitian ini didapatkan hasil mengenai karakteristik pasien kanker tiroid terbanyak. Paling banyak berdasarkan jenis kelamin adalah (80,14%), berdasarkan asal pasien adalah dari Kalimantan Timur (63,71%), berdasarkan usia pasien adalah 20-44 tahun (47,94%), berdasarkan status pembiayaan adalah BPJS (91,78%), berdasarkan BMI adalah normal (46,23%), berdasarkan pekerjaan adalah IRT (45,21%), berdasarkan durasi isolasi adalah 2 hari (98,65%), berdasarkan jenis kanker adalah karsinoma papiler (86,30%). Hasil penelitian untuk pola pengobatan terbanyak, diperoleh berdasarkan dosis diagnostik SST Nal-131 adalah 5 mCi (132 tindakan), berdasarkan dosis terapi ablasi I-131 adalah 100 mCi (281 tindakan), berdasarkan peresepan obat oral pendamping adalah euthyrox 100 mcg (236 peresepan)
ZULFIA TITA ADHARANI
2024 · Thesis · Open Access
Hipertensi merupakan salah satu dari 10 penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi yang ditandai dengan nilai tekanan darah yang melebihi batas normalnya. Pada terapi pengobatan hipertensi umumnya dengan menggunakan monoterapi atau kombinasi terapi obat yang dapat memungkinkan terjadinya interaksi obat. Interaksi obat merupakan terdapatnya dua atau lebih obat yang diberikan secara bersamaan yang dapat memberikan efek masing-masing obat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis obat antihipertensi yang menyebabkan interaksi obat. Jenis penelitian yang dilakukan secara deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif. Objek yang diteliti adalah data interaksi obat antihipertensi yang diperoleh berdasarkan hasil rekam medis pasien hipertensi rawat jalan. Sampel penelitian ini adalah data rekam medis pasien hipertensi rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Kudungga Sangatta Kutai Timur periode bulan Januari-Juni tahun 2023. Data yang telah diidentifikasi selanjutnya diolah untuk mengetahui interaksi obat antihipertensi. Peninjauan data menggunakan situs drugs.com untuk mengetahui interaksi obat yang terjadi serta analisis data dengan menggunakan aplikasi Microsoft excel. Penelitian ini memaparkan persentase dalam bentuk tabel hasil dari data interaksi obat dengan kategori yang telah didapatkan. Hasil penelitian yang diperoleh obat antihipertensi yang menyebabkan interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan minor 2 kasus (2%), moderate 58 kasus (48%) dan mayor 17 kasus (14%). Berdasarkan mekanisme interaksi obat farmakodinamik sejumlah 44 kasus (59%) dan farmakokinetik sejumlah 30 kasus (41%). Obat antihipertensi yang mengalami interaksi terbanyak adalah penggunaan obat amlodipin dan bisoprolol sebanyak 17 kasus (30%) dengan tingkat keparahan interaksi obat moderate.