MONICA DEVITA MEIDY
2024 · Thesis · Open Access
Penggunaan obat dan cara pengobatan tradisional menggunakan bahan alam dari suatu etnis merupakan bagian dalam bidang etnofarmasi, obat tradisional yang ada di Indonesia merupakan warisan budaya negara, baik yang tumbuh liar atau yang ditanam sendiri perlu teliti, digali dan dikembangkan untuk dapat dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat dalam bidang kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan apa saja yang digunakan, cara memperolah, cara pengolahan dan bagain tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat suku Dayak Bahau Desa di Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif menggunakan teknik Snowball sampling. Objek penelitian yang digunakan adalah semua jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan dan digunakan oleh Masyarakat suku Dayak Bahau di Desa Ujoh Bilang. Wawancara dilakukan secara semi struktur menggunakan tipe pertanyaan open-ended. Penelitian kuantitatif dianalisis menggunakan analisis data Use Value (UV), Informant Concensus Factor (ICF) dan Fidelity Level (FL). Variabel bebas pada penelitian ini adalah pengetahuan tentang tumuhan obat. Variabel terikat pada penelitian ini adalah manfaatan tumbuhan obat yang digunakan oleh suku Dayak Bahau di Desa Ujoh Bilang. Hasil penelitian menunjukan 8 informan dengan wawancara, didapatkan 32 jenis tumbuhan obat. Bagian tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat suku Dayak Bahau di desa Ujoh Bilang yaitu bunga, buah, akar, rimpang, batang dan bagian terbanyak adalah daun dengan presentase sebesar 62,50% (20 jenis tumbuhan). Cara pengolah tumbuhan obat yang umum digunakan oleh masyarakat suku Dayak Bahau adalah direbus sebanyak 46,88% (15 jenis tumbuhan) dan cara penggunaan tumbuhan obat terbanyak yaitu diminum 84,38% (27 jenis tumbuhan). Nilai Uv tertinggi terdapat pada tumbuhan akar kuning, brotowali, pasak bumi, temulawak dan bajakah. Nilai ICF tertinggi terdapat pada kategori penyakit infeksi mikroorganisme dan neolplasia. Tumbuhan yang memiliki nilai FL tertinggi adalah akar kuning (100%) dan brotowali (87,5%).
NURUL AULIA RAHMAN
2024 · Thesis · Open Access
Nanopartikel perak (AgNP) merupakan nanopartikel yang memiliki sifat yang stabil dan potensial serta banyak menarik perhatian karena aplikasinya yang banyak diteliti sebagai agen antibakteri. Metode sintesis nanopartikel perak umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya dan mencemari lingkungan, sehingga banyak dikembangkan sintesis nanopartikel dari ekstrak tanaman (green synthesis). Penggunaan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor berkaitan dengan kandungan senyawa dalam tanaman yang berperan sebagai agen pereduksi. Review ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanopartikel perak yang dihasilkan menggunakan agen pereduksi ekstrak tanaman dan mengetahui diameter zona hambat sebagai antibakteri dari nanopartikel perak yang dihasilkan. Pengumpulan literatur dilakukan dengan pencarian pustaka secara daring menggunakan basis data Google Scholar, Science Direct, PubMed, dan Research Gate. Literatur yang dipilih berkaitan dengan topik nanopartikel perak menggunakan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor dan aktivitas antibakterinya serta merupakan publikasi 10 tahun terakhir. Penyusunan review dilakukan dengan pembuatan kerangka atau outline untuk review yang akan ditulis. Kerangka ini mencakup pendahuluan, nanopartikel perak, ekstrak tanaman sebagai bioredeuktor, karakterisasi nanopartikel perak, aktivitas antibakteri, serta kesimpulan dan perspektif masa depan. Berdasarkan review yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa ekstrak tanaman yang digunakan sebagai bioreduktor menghasilkan karakteristik ukuran nanopartikel perak yang berbeda-beda berkisar antara 15-500 nm dan memiliki aktivitas bakteri terhadap gram negatif dan gram positif. Ukuran nanopartikel perak juga berkorelasi positif dengan diameter zona hambat pertumbuhan bakteri, di mana semakin kecil ukuran nanopartikel, semakin besar pula zona hambat yang dihasilkan. Aktivitas antibakteri optimal ditunjukkan pada AgNP ekstrak daun arum dalu (Cestrum nocturnum) dengan ukuran partikel terkecil, diameter zona hambat yang besar, serta nilai MIC dan MBC yang rendah.
ALWAN DARWISSY ANNAZA
2024 · Thesis · Open Access
Biji alpukat mengandung beberapa mineral dan vitamin C, biji ini dapat difermentasi menjadi teh dengan kultur kombucha yaitu SCOBY (Symbiotic Cultures of Bacteria and Yeats). Lama fermentasi akan berdampak pada kandungan vitamin C yang ada dalam teh. Biji alpukat mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan tanin serta memiliki aktivitas farmakologi sebagai antihiperglikemik, antikanker, antiinflamasi, antihiperkolesterolemia, antioksidan, antimikroba, dan antineurogeneratif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan kandungan vitamin C berdasarkan variasi lama waktu fermentasi dari teh kombucha biji alpukat. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan variasi lama fermentasi lteh kombucha. Variabel bebas penelitian ini adalah lama waktu fermentasi (1, 3, 5, 7, 9, dan 11 hari), variabel terikatnya adalah karakteristik organoleptik, berat selulosa SCOBY, pH, kandungan vitamin C dalam teh kombucha, dan variabel kontrol penelitian ini adalah suhu media, konsentrasi gula, konsentrasi teh, dan SCOBY. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan teh kombucha berdasarkan variasi lama waktu fermentasi, uji karakteristik, analisis kualitatif dan kuantitatif vitamin C, dan analisis data menggunakan SPSS IBM 25 dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian diperoleh kadar vitamin C teh kombucha biji alpukat dengan lama fermentasi 1 hari sebesar 0,4628 ± 0,0099%, lama fermentasi 3 hari sebesar 0,4740 ± 0,0059%, lama fermentasi 5 hari sebesar 0,5081 ± 0,0118%, lama fermentasi 7 hari sebesar 0,6439 ± 0,0148%, lama fermentasi 9 hari sebesar 0,7048 ± 0,0255% dan lama fermentasi 11 hari sebesar 0,6216 ± 0,0411%. Analisis data statistik kadar vitamin C menggunakan uji One Way ANOVA dengan p0,05 dan didapatkan nilai signifikansi 0,0000 yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara keenam lama fermentasi. Nilai kadar vitamin C tertinggi terdapat pada teh kombucha biji alpukat dengan lama fermentasi 9 hari dengan kadar vitamin C sebesar 0,7048 ± 0,0255%.
MIELSYA MAULIDA
2024 · Thesis · Open Access
Temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) merupakan salah satu genus Curcuma yang banyak digunakan sebagai obat. Temu Putih memiliki aktivitas aktioksidan karena mengandung senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman dengan kombinasi antara mono dan polisakarida yang berikatan dengan satu atau lebih gugus fenolik, atau sebagai turunan ester atau metil ester. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenol total dari ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah kadar fenol total ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pelarut etanol dengan konsentrasi 30%, 50%, dan 70% dan variabel terikat yaitu kadar fenol total ekstrak rimpang temu putih. Pada penelitian ini juga memiliki variabel kontrol yaitu rimpang temu putih dan spektrofotometri UV-Vis. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temu putih dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Bagian yang diambil dari temu putih adalah bagian rimpang yang telah cukup umur 11 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid , saponin, dan terpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenol total ekstrak temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut etanol 30%, 50%, dan 70% diperoleh masing-masing kadar sebesar 23,4477±0,9827 mg GAE/g, 32,2464±1,3022 mg GAE/g, dan 51,6880±0,4948 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen sehingga digunakan uji one way anova dengan hasil nilai p value (0,00) (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenol total dari ketiga sampel.
KHARISMA DURATUL HIKMAH
2024 · Thesis · Open Access
WIDYA FIANY
2024 · Thesis · Open Access
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian di dunia karena berisiko tinggi terhadap kesakitan dan kematian. Prevalensi ISPA di Indonesia mencapai 25% dengan insidensi berada pada rentang 17,5%- 41,4%. Salah satu tatalaksana untuk mengobati penyakit ISPA yaitu dengan memberikan antibiotik. Pada saat pemberian obat antibiotik diperlukan perhatian dalam penggunaannya, namun saat ini masih banyak ditemukan permasalahan dalam pemberian antibiotik, salah satunya penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Per tahun 2019, terdapat sekitar 17,1-19,8% pemberian antibiotik yang tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat pada pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian restrospektif dengan pengumpulan data yang dilakukan secara sekunder. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis ISPA dan diberikan pengobatan antibiotik di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda periode Oktober – Desember 2023. Teknik pengambilan sampel adalah non-probability sampling. Analisis data akan dilakukan secara deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri dari Amoxicillin 500 mg sebanyak 124 (67,8%), diikuti oleh Cefadroxil 500 mg sebanyak 28 (15,3%), Cefixime 100 mg dan Clindamycin masing-masing sebanyak 11 (6%), Ciprofloxacin 500 mg sebanyak 6 (3,3%). Cotrimoxazole 480 mg, Chloramphenicol 1% ear drop, dan Ofloxacin ear drop masing-masing diberikan pada 1 pasien (0,6%). Analisa mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri atas tepat indikasi yaitu sebanyak 86,6%, tepat obat sebanyak 100%, tepat pasien sebanyak 100%, dan tepat dosis sebanyak 80,3%.
MARLINA PUSPITA CHANDRA
2024 · Thesis · Open Access
Pengendalian persediaan di rumah sakit merupakan kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan analisa kebutuhan dan perencanaan yang telah ditetapkan di rumah sakit. Pengendalian persediaan farmasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu metode analisis ABC (Always, Better, Control) dan metode EOQ (Economic Order Quantity). Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pengelompokan obat berdasarkan nilai investasinya dengan metode analisis ABC dan menentukan pemesanan obat yang ekonomis dengan metode EOQ di Depo Farmasi IGD RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode Januari – Desember 2023. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian non-eksperimental dengan analisis secara deskriptif dan menggunakan data kuantitatif. Tahapan penelitian ini dimulai dari observasi, perizinan, pengumpulan data dan pengolahan data dengan metode analisis ABC dan metode EOQ menggunakan data obat pasien di Depo Farmasi IGD RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode Januari – Desember 2023. Hasil penelitian menunjukkan Pemakaian obat klasifikasi A berjumlah 43 item dengan jumlah pemakaian sebanyak 292.905 item (69,52%). Pemakaian obat klasifikasi B berjumlah 69 item dengan jumlah pemakaian sebanyak 84.650 item (20,09%). Pemakaian obat klasifikasi C berjumlah 414 item dengan jumlah pemakaian sebanyak 43.764 item (10,39%). Nilai investasi klasifikasi A sebanyak 28 item dengan nilai investasi Rp.2.182.324.880,- (69,67%). Nilai investasi klasifikasi B sebanyak 56 item dengan nilai investasi Rp.634.427.420,- (20,25%). Nilai invesatasi klasifikasi C sebanyak 442 item dengan nilai investasi Rp.315.744.296,- (10,69%). Analisis metode EOQ diperoleh pemesanan optimum untuk obat kategori A adalah 1 – 595 item. Pemesanan optimum untuk obat kategori B adalah 1 – 2.475 item. Pemesanan optimum untuk obat kategori C adalah 1 – 2.598 item.
YENI EKA PURWANTI
2024 · Thesis · Open Access
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat yang telah di manfaatkan secara turun temurun sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Bagian tanaman salam yang banyak dimanfaatkan ialah daun. Daun salam mempunyai khasiat mengobati kolesterol, diabetes, diare dan hipertensi. Tanaman salam memiliki senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman dipengaruhi oleh proses pengeringan bahan baku simplisia. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar memperoleh simplisia daun salam yang baik sehingga diharapkan simplisia tidak mudah rusak selama penyimpanan dan ekstrak yang dihasilkan memiliki kadar flavonoid yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode pengeringan simplisia terhadap kadar flavonoid ekstrak etanol daun salam. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Tahapan penelitian ini dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia dengan perbedaan metode pengeringan yaitu pengeringan dengan sinar matahari langsung, kering angin, dan oven suhu 50°C, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, skrining fitokimia, dan uji kadar flavonoid ekstrak etanol daun salam menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Perbandingan metode pengeringan dianalisis dengan statistik uji one way ANOVA untuk mengetahui perbedaan jumlah kadar flavonoid ketiga metode pengeringan. Hasil kadar flavonoid ekstrak daun salam pada pengeringan menggunakan matahari tidak langsung (dilapisi kain hitam) sebesar 2,3034% ± 0,085, pengeringan dengan kering angin sebesar 1,5711% ± 0,032 dan pengeringan menggunakan oven dengan suhu 50°C sebesar 2,7190% ± 0,078. Analisis data statistik kadar flavonoid menggunakan uji one way ANOVA dengan sig 0,05 dan didapatkan sig 0,000 yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pengeringan matahari, kering angina dan oven. Nilai kadar flavonoid menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada kadar flavonoid ekstrak daun salam dengan perbedaan cara pengeringan.nilai kadar flavonoid tertinggi terdapat pda ektrak etanol daun salam dengan metode pengeringan oven suhu 50°C sebesar 2,7190% ± 0,078.
AMINAH
2024 · Thesis · Open Access
Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk) Lennah) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, alkaloid, flavonid, tanin. dan aktivitas antioksidan yang sangat kuat serta SPF 50 termasuk katagori very higt protection. Daun kokang secara empiris digunakan sebagai bedak dingin, merawat jerawat, bekas luka cacar, dan memudarkan noda hitam pada wajah. Selain kemampuanya dalam meredam radikal bebas, senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak berperan sebagai bioreduktor untuk pembuatan naopartikel yang akan mereduksi ion Ag+ menjadi Ag0 . Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun kokang sebagai agen pereduksi dalam biosintesis AgNP dan mengetahui stabilitas AgNP yang dihasilkan dari daun kokang. Metode penelitian ini mulai dari pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, pembuatan larutan induk AgNO3 5mM dalam 100 ml, larutan induk ekstrak 5% dalam 10 ml, selanjutnya dilakukan optimasi pH dengan variasi 8, 9, dan 10 lalu mendapatkan ph terbaik, dimana optimasi pH tersebut yang nantinya akan digunakan pada proses optimasi AgNO3 dengan variasi 1mM, 2mM, dan 4mM setelah mendapatkan optimasi Ag terbaik, tahap berikutnya dilakukan optimasi ekstrak degan variasi 0,5%, 1% dan 2% yang hasilnya akan dilihat berdasarkan puncak SPR 400-500 nm yang menandakan terbentuknya AgNP. Setelah mendapatkan optimasi dan konsentrasi yang bagus sampel di sentri fugasi lalu dikeringkan di cawan petri, lalu di karakterisasi dengan alat Scanning Elktron Microscopy (SEM). Hasil dari penelitian bahwa AgNP ekstrak etanol daun kokang mampu mereduksi pada pH 8 dengan suhu 60oc, dimana variasi konsentrasi yang optimal pada AgNO3 yaitu pada konsentrasi 2mM dan 4mM, selanjutya dari optimasi ekstrak yang tebaik pada konsentrasi 0,5% karena intensi absorbansi pada panjang gelombang yang membentuk AgNP pada puncak SPR 400-500. Berdasarkan hasil dari karakterisasi SEM, morfologi dari kosentrasi 2mM dengan permukaan yang tidak begitu halus dan ukuran tidak begitu seragam, namun pada konsentrasi 4mM permukaan halus dan partikel yang tidak seragam. Dengan ukuran partikel yang berada pada kisaran 50-80 nm yang ditentukan dengan hasil SPR menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis.
SARIFAH NURIYAH
2024 · Thesis · Open Access
RIZKY ADITYA FADILLA
2024 · Thesis · Open Access
ELVA SILVINNA
2024 · Thesis · Open Access
NUR SALZABILLAH
2024 · Thesis · Open Access
NANDA FIRANA RAHMADANI
2024 · Thesis · Open Access
Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resitensi bakteri terhadap antibiotik. Daun alpukat merupakan salah satu alternatif bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa kandungan flavonoid yang terdapat dalam daun alpukat mempunyai aktivitas sebagai antifungi dan antibakteri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hasil skrining fitokimia dan uji aktifitas ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.) terhadap bakteri (Staphylococcus aureus). Ekstrak daun alpukat mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin yang teridentifikasi memiliki aktivitas antibakteri. Pembuatan ekstrak daun alpukat menggunakan pelarut etanol dengan metode ekstraksi maserasi. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Objek dalam studi literatur ini adalah hasil skrining fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil studi literatur ini diperoleh bahwa ekstrak etanol daun alpukat memiliki aktivitas antibakteri. Pada ekstrak etanol 70% diujikan aktivitas antibakteri dengan konsentrasi 20%-100% dan didapat daya hambat yaitu hanya pada konsentrasi 100% sebesar 10,68 mm. Kemudian pada ektrak etanol 96% pada konsentrasi 25%-100% memiliki daya hambat yaitu 10,2 mm-19,2 mm. Pada penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak daun alpukat mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin dan daun alpukat memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan zona hambat yang dikategorikan kuat. Kata kunci: daun alpukat, antibakteri, skrining fitokimia, Persea americana Mill., Staphylococcus aureus.
FRISKA FITRIANI
2024 · Thesis · Open Access
STUDI LITERATUR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR ABSTRAK Imunisasi merupakan upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh akan penyakit yang dilakukan melalui pemberian vaksin. Usaha pemerintah Indonesia dalam pencapaian herd immunity yaitu, cakupan imunisasi rutin minimal harus 95% merata di seluruh wilayah, program imunisasi setiap bayi (usia 0-11 bulan) wajib mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiri dari 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 1 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak/MPR. Penelitian sebelumnya masih terdapat kurangnya persepsi sebesar 46,5% dalam pemberian imunisasi pada bayinya, dikarenakan fasilitas kesehatan masih kurang dalam penyuluhan promosi kesehatan. Tindakan yang perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan diatas maka perlu adanya peningkatan pengetahuan tentang imunisasi dasar. Tujuan penelitian mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap pemberian imunisasi dasar. Rancangan penelitian menggunakan studi literatur dengan merumuskan serta mencari perbedaan hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi dasar, dimana jurnal terpublikasi pada SINTA 1 sampai 6 pada tahun 2021-2023. Metode penelitian ini yaitu menggambarkan karateristik responden berdasarkan umur, pekerjaan, jenis kelamin, pendidikan, serta hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi dasar. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan menggunakan tabel dan grafik. Kata kunci : hubungan, tingkat pengetahuan ibu, pemberian, imunisasi dasar
NISWATU SHALEHA
2024 · Thesis · Open Access
Pengetahuan yang kurang mengenai diare dapat menyulitkan seorang ibu dalam melindungi dan mencegah anaknya dari penularan diare. Diare adalah kondisi dimana feses dikeluarkan dalam keadaan lembek hingga cair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari. Peran ibu menjadi krusial dalam merawat balita yang mengalami diare, mengingat ibu sebagai sosok terdekat diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang memengaruhi kesembuhan anak. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap penatalaksaan diare pada balita. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini yaitu hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap penatalaksanaan diare pada balita pada tahun 2022. Analisis data yang dilakukan metode analisis deskriptif adalah metode penelitian yang menggambarkan karakteristik diantaranya umur, pekerjaan, jenis kelamin, dan tingkat pengetahuan. Hasil telaah studi literatur di Wiayah kelurahan Jagakarsa, Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pahandut, Wilayah Kelurahan Sumowono Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap penatalaksanaan diare pada balita.
DINDA RARA HERDIANI
2024 · Thesis · Open Access
Penyakit infeksi dapat disebabkan dari mikroorganisme patogen seperti,bakteri. Pengobatan untuk infeksi bakteri dapat menggunakan antibiotik. Resistensi antibiotik disebabkan karena bakteri resisten terhadap antibiotik tersebut danmenjadi penyebab kegagalan pengobatan infeksi. Daun pepaya (Carica papaya L.)diketahui mengandung alkaloid, saponin, dan flavonoid, akar dan kulit batangnya,pada daun dan akarnya mengandung polifenol, serta mengandung saponin padabijinya. Kandungan zat tersebut mampu mempengaruhi perkembangan bakteribahkan membunuh bakteri tertentu. Penelitian terhadap daun pepaya (Carica papaya L.) menunjukkan aktivitas antioksidan, antidiabetes, antihipertensi,antibakteri, antijamur, dan analgetik. Daun pepaya membuatpeneliti tertarik untuk melakukan studi literatur tentang Aktivitas Antibakteri Daun Pepaya dengan banyaknya manfaat daun pepaya (Carica papaya L.) dan untuk menunjukkan perbandingan daya hambat daun pepayaterhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dan Bacillus subtilis.
IHDA MAULIDYA
2024 · Thesis · Open Access
Tanaman sirsak (Annona muricata L.) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Salah satu manfaat daun sirsak adalah sebagai iantibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Tahapan penelitian ini dimulai dari reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu dalam bentuk tabel deskriptif selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Objek penelitian ini adalah aktivitas antibakteri ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa artikel atau jurnal tentang aktivitas antibakteri ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil studi literatur menujukkan ekstrak daun sirsak pada konsentrasi 50%, 75% dan 100% memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Escherichia coli dengan kategori hambatan sedang serta menunjukkan adanya aktivitas antibakteri pada konsentrasi 60%, 70%, 80%, 90% dan 100% dengan kategori hambatan kuat.
YETI DAHLIA LESTARI
2024 · Thesis · Open Access
Demam tifoid atau typhoid fever ialah penyakit yang diakibatkan oleh kontaminasi dari bakteri Salmonella yang memiliki sifat akut serta mengenai ujung dari usus halus. Pasien yang terkena penyakit ini memiliki gejala klinis yaitu demam yang diikuti gejala mual, muntah, anoreksia, dan diare. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita demam tifoid di rumah sakit. Penelitian ini diharapkan untuk memberikan pengetahuan, pengalaman ketrampilan, serta refrensi untuk pengetahuan tentang penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita demam tifoid, Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu dilakukan pengumpulan data, menelaah, dan mempelajari data-data pada jurnal, buku-buku, literatur, catatan dan laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan. Objek dari penelitian ini yaitu penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita demam tifoid. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik berupa jenis kelamin, usia, dan karakteristik pasien berdasarkan tepat pasien 100%, tepat indikasi 100%, tepat obat 85,71%, dan tepat dosis 85,71%.
PATRISIA NONA
2024 · Thesis · Open Access
Buah jeruk mengandung vitamin C yang bermanfaat sebagai antioksidan yang berfungsi untuk membentuk sistem imun bagi tubuh sehingga mampu membantu terlindung dari berbagai penyakit. Vitamin C merupakan salah satu dari berbagai macam vitamin yang berperan penting pada proses metabolisme dan pertumbuhan. Vitamin C bersifat tidak stabil, rusak dalam pemanasan, mudah teroksidasi oleh udara, dan mudah rusak oleh basa Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada jenis buah jeruk (Citrus sp) dengan metode iodimetri. Rancangan penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal. Objek penelitian ini yaitu kadar vitamin C dalam buah jeruk limau, jeruk nipis, jeruk lemon dan jeruk sunkist. Analisis data dilakukan dengan I metode deskriptif. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data rata-rata kadar vitamin C pada buah jeruk diperoleh dari jurnal ilmiah. Hasil penelitian yang diperoleh dari data jurnal tersebut menunjukan bahwa kadar rata-rata vitamin C jeruk limau sebesar 0,113%, jeruk lemon sebesar 0,060%, jeruk sunkist sebesar 0,034%, dan jeruk nipis sebesar 0,02790.