COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut
Nama : Dita Julidia Gustia Nisyah Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Pembimbing : 1. Risa Supriningrum, S.Si., M.M. 2. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. Konsentrasi pelarut yang digunankan pada proses ekstraksi dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif suatu ekstrak. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi daun matoa secara maserasi dengan variasi konsentrasi pelarut etanol (50%, 70%, dan 95%), penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Data dianalisis dengan uji normalitas dan uji homogenitas, dilanjutkan sengan uji ANOVA dan LSD (Least Significant Difference). Hasil penetapan susut pengeringan simplisia daun matoa sebesar 9,6333%. Hasil rendemen ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa adalah sebesar 27,2245%; 29,8055%; 21,9760% dan kadar air sebesar 25,4866%; 19,11%; 19,83%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun matoa menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa memperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 10,1600; 8,8992 dan 17,1354 ppm serta vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,6866 ppm, sehinga ketiga ekstrak etanol daun matoa termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun matoa memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol 50% dna 95% daun matoa. Hasil uji normalitas dan homogenitas terdistribusi normal dan homogen. Hasil uji ANOVA dan LSD menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar ekstrak etanol daun matoa.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Kratom (Mitragyna speciosa) Terhadap Bakteri (Staphylococcus aureus)
Penetapan Kadar Fenolik, Flavonoid dan Nilai SPF Terhadap Ekstrak Etanol Daun Tampoi (Baccaeurea Macrocarpa) Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, seperti penuaan dini hingga peningkatan risiko kanker kulit. Salah satu bentuk perlindungan terhadap sinar UV adalah penggunaan tabir surya. Kandungan senyawa antioksidan, seperti fenolik dan flavonoid, diketahui berperan dalam meningkatkan efektivitas tabir surya melalui kemampuan menyerap sinar UV. Daun tampoi (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Mull.Arg.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid, serta berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenolik, flavonoid, dan nilai SPF dari ekstrak etanol daun tampoi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tahapan ekstraksi menggunakan metode maserasi etanol 70%, dilanjutkan dengan pengujian kadar fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu, pengujian flavonoid dengan metode AlCl₃, serta penentuan nilai SPF secara in vitro dengan cara menganalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol daun tampoi yaitu alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid. Kadar fenolik sebesar 27,8021 ± 0,9553mg GAE/g dan kadar flavonoid sebesar 2,1548 ± 0,1586%. Nilai SPF ekstrak etanol daun tampoi pada konsentrasi 125 ppm sebesar 3,2005 dan 250 ppm sebesar 6,7021 termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan nilai SPF pada konsentrasi 500 ppm sebesar 13,3355 dan 1000 ppm sebesar 27,0735 termasuk dalam kategori sedang. Korelasi menunjukkan bahwa kadar flavonoid memiliki hubungan sangat kuat terhadap nilai SPF sebesar 0,9007, sedangkan kadar fenolik menunjukkan hubungan rendah sebesar 0,362.
Uji Aktifitas Tabir Surya Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Kratom (Mytraghyna Speciosa Korth) Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari efek buruk paparan sinar matahari. Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa penggunaan tabir surya tidak sepenuhnya aman, sehingga mendorong pencarian alternatif dari bahan alami. Salah satu tanaman yang berpotensisebagai bahan tabir surya alami adalah kratom (Mitragyna speciosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol dan fraksi daun kratom yang berasal dari Desa Bayur, Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan metode in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%, fraksinasi, skrining fitokimia, serta penentuan nilai SPF secara kuantitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptifserta diuji menggunakan Shapiro-Wilk dan Analisis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Post Hoc Test (PHT) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.
Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Umbil Lili Paris (Chlorophytum comosum) Sebagai Antibakteri Pada Staphylococcus aureus Menggunakan Metode Difusi Cakram
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang sering menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak. Penggunaan tanaman obat tradisional sebagai alternatif antibakteri alami terus dikembangkan, salah satunya adalah umbi lili paris (Chlorophytum comosum), yang secara empiris digunakan oleh masyarakat di Berau, Kalimantan Timur, untuk mengobati bisul. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% umbi lili paris terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Proses penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri dengan berbagai konsentrasi (20%, 30%, 40%, dan 50%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak membentuk zona hambat pada konsentrasi 30%, dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 0,57 mm, 40% sebesar 0,65 mm, dan 50% sebesar 0,65 mm yang dikategorikan sebagai aktivitas antibakteri lemah. Hasil uji KruskalWallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok konsentrasi (p = 0,007). Penelitian ini dapat disimpulkan ekstrak etanol umbi lili paris menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah terhadap Staphylococcus aureus.
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS SUNGAI SIRING KOTA SAMARINDA
Pelayanan yang memuaskan dan berkualitas akan membentuk loyalitas pasien/pelanggan dan kepuasan. Maka pelayanan yang memuaskan tersebut akan mendatangkan pelanggan baru. Ada berbagai macam layanan kesehatan di sekitar kita, salah satunya adalah Puskesmas yang memberikan salah satu layanan kesehatan dalam bidang jasa dengan harapan bahwa produk yang diberikan berupa layanan yang berkualitas kepada masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien pada pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Rancangan penelitian non - eksperimental dengan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Untuk pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Rancangan penelitian dilakukan dengan cara membagikan kuisioner kepada pasien. Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pasien yang mendapatkan pelayanan kefarmasian di Puskesmas Sungai Siring kota Samarinda. Analisis data yang dilakukan dengan menghitung jumlah rata-rata jawaban responden dari masing-masing dimensi yaitu ketanggapan (responsiveness), keandalan (reliability), empati (empaty), jaminan (assurance) dan wujud nyata (tangibles). Data diperoleh dilanjutkan dengan penilaian skala Likert. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepuasan pasien pada pelayanan kefarmasian di Puskesmas Sungai Siring menunjukan kepuasan pasien pada dimensi Keandalan (reliability) sebesar 93.24% (sangat baik), dimensi Ketanggapan (responsiveness) sebesar 90.64% (sangat baik), dimensi Empati (emphaty) sebesar 90.51% (sangat baik), jaminan (assurance) sebesar 91.18% (sangat baik), dimensi wujud nyata (tangibles) sebesar 91.14% (sangat baik). Hasil rekapitulasi survei kepuasan pasien menunjukkan indeks kepuasan pasien (IKM) adalah 91.34% dengan kategori mutu pelayanan sangat baik. Kata Kunci : Tingkat kepuasan, pelayanan kefarmasian, Puskesmas Sungai Siring
FORMULASI SEDIAAN SABUN PADAT dari EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhiz) DAN MINYAK ATSIRI JERUK LEMON (Citrus lemon)
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sabun padat yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan minyak atsiri jeruk lemon (Citrus limon) untuk meningkatkan kualitas produk kosmetik. Metode yang digunakan adalah eksperimen, meliputi ekstraksi, formulasi sabun, dan uji fisik seperti uji organoleptis, pH, stabilitas busa, homogenitas, dan uji iritasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun padat dengan konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah 2,1%, 3,6%, dan 4,2% memenuhi standar sifat fisik yang baik. Uji organoleptis menunjukkan perubahan warna sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dan pH sabun berada dalam rentang aman (9-11). Formula 3 menunjukkan stabilitas busa terbaik, dan uji iritasi pada 15 panelis menunjukkan tidak ada efek iritasi pada kulit. Kesimpulannya, sabun padat ini aman digunakan dan memanfaatkan limbah kulit buah naga merah, mendukung pengembangan produk kosmetik berbahan alami.
EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025
Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN TAMPOI (Baccaurea Macrocarpa) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2'-azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid))
Antioksidan tergolong senyawa yang memiliki kemampuan dalam mengatasi kerusakan yang bersifat oksidatif dalam tubuh yang diakibatkan oleh jumlah radikal bebas yang tidak seimbang. Antioksidan ini dapat digunakan tubuh untuk menunda terjadinya proses penuaan dan berbagai penyakit degeneratif. Tampoi (Baccaurea macrocarpa) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat. Potensi tampoi sebagai tanaman obat dapat diketahui melalui pengujian kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antioksidannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan menggunakan metode ABTS berdasarkan perhitungan nilai IC50. Objek penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun tampoi (Baccaurea macrocarpa) pada berbagai konsentrasi menggunakan metode ABTS. Pengukuran persen inhibisi dilakukan dengan spektrofotometri UV-VIS untuk mendapatkan persen dari sampel. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun tampoi mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkoloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Semakin kecil hasil IC50 membuktikan semakin tinggi akktivitas antioksidan. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 27, 00 ppm (sangat kuat). Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan menggunakan vitamin C nilai IC50 rata-rata 0,80 ppm sebagai pembanding. Kata Kunci : Antioksidan, Daun Tampoi, IC50,Radikal Bebas.
Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
Reaksi oksidasi yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai efek merugikan, terutama karena produksi radikal bebas yang tidak terkendali. Untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dibutuhkan senyawa antioksidan. Salah satu sumber alami yang berpotensi sebagai antioksidan berasal dari tumbuhan, adalah buah tampoi (Baccaurea macrocarpa). Buah ini ketahui mengandung senyawa metabolit seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana aktivitas antioksidan buah Tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan metode DPPH. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan variabel bebas ekstrak etanol buah tampoi dan variabel terikat aktivitas antioksidan. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan slimpisia, ekstraksi secara maserasi, skrining fitokimia penetapan kadar air ekstrak, uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. Data aktivitas antioksidan diperoleh dari persentase inhibisi DPPH dan nilai IC50. Skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil uji menunjukkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 11,8165 ppm yang tergolong sangat kuat, sedangkan vitamin C sebagai pembanding memiliki IC50 sebesar 7,5019 ppm.Dengan demikian, ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.
Studi Literatur Evaluasi Penyimpanan Obat LASA (Look Alike Sound Alike) Di Rumah Sakit
Penyimpanan obat merupakan salah satu cara pemeliharaan perbekalan farmasi sehingga aman dari gangguan fisik dan pencurian yang dapat merusak kualitas obat. Tenaga kefarmasian berperan penting dalam melakukan penyimpanan obat dengan baik dan benar khususnya pada sediaan high alert. Salah satu bagian high alert yaitu obat LASA (Look Alike Sound Alike) yang merupakan obat-obat dengan nama,rupa dan ucapan yang mirip dan perlu diwaspadai agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan obat. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi penyimpanan obat LASA di Rumah Sakit. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur dengan melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisa data pada beberapa jurnal penelitian. Berdasarkan hasil yang diperoleh RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan, bahwa sistem penyimpanan obat LASA telah memenuhi standar, ditunjukkan dengan penerapan prinsip FEFO (First Expired, First Out) dan FIFO (First In, First Out), pemisahan dan penandaan fisik obat menggunakan metode Tall Man Lettering, serta pemberian label yang jelas dan mencolok. Sementara itu, di Rumah Sakit Stella Maris Makassar, hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem penyimpanan obat LASA tidak memenuhi 2 kriteria, yaitu penerapan Tall Man Lattering dan penggunaan label warna yang berbeda. Meskipun terdapat beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki, kedua rumah sakit telah menunjukkan penerapan sistem penyimpanan obat LASA.
Aspirasi dan Partisipasi Mahasiswa Perempuan dalam Ormawa Stiksam
Organisasi kemahasiswaan menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah potensi diri, termasuk dalam membentuk kepemimpinan, kepekaan sosial, dan tanggung jawab. Meskipun jumlah mahasiswi terus meningkat, kepemimpinan perempuan di lingkungan akademik, khususnya dalam organisasi kemahasiswaan (ORMAWA), masih menghadapi berbagai hambatan. Stereotip tradisional yang menggambarkan perempuan sebagai individu yang lemah, lembut, atau emosional sering kali menjadi penghalang, sehingga perempuan kerap tersisih oleh dominasi laki-laki dalam posisi kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa Farmasi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) terhadap kemampuan kepemimpinan perempuan dalam ORMAWA. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksplanatif dengan metode kuantitatif, melibatkan penyebaran kuesioner kepada 261 mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi angkatan 2021 dan 2022 di STIKSAM. Data yang terkumpul dianalisis secara univariat untuk memetakan karakteristik variabel penelitian, seperti pandangan mahasiswa dan tingkat keterlibatan perempuan dalam ORMAWA. Hasil penelitian diharapkan dapat mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi persepsi mahasiswa, termasuk norma sosial, budaya lokal, dan kebijakan organisasi yang ada. Penelitian ini relevan untuk memahami dinamika gender dalam konteks kepemimpinan mahasiswa, khususnya di kalangan mahasiswa farmasi yang memiliki latar belakang akademik unik. Diharapkan temuan ini dapat menjadi dasar bagi STIKSAM untuk mengembangkan strategi yang mendukung kesetaraan gender serta meningkatkan partisipasi perempuan dalam peran kepemimpinan.
HUBUNGAN ORMAWA TERHADAP KETERAMPILAN 4C MAHASISWA S1 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
ABSTRAK Nama : Vonny Jessica Justine Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Hubungan Ormawa Terhadap Keterampilan 4C Mahasiswa S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda Pembimbing : 1. apt. Husnul Warnida, S.Si., M.Si 2. apt. Hayatus Sa’adah, M.Sc Dalam menghadapi era yang semakin kompetitif, seorang mahasiswa Farmasi tidak hanya dituntut untuk berfokus pada nilai akademik, namun diperlukannya tindakan yang lebih jauh lagi untuk mengasah potensi diri. Selain kecerdasan akademik, soft skill merupakan salah satu potensi diri yang sangat penting dikembangkan bagi mahasiswa Farmasi dalam menghadapi dunia pasca perkuliahan. Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh ormawa terhadap keterampilan dari 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication) mahasiswa S1 Farmasi STIKSAM. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Objek penelitian adalah keterampilan dari 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication) mahasiswa S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu partisipasi mahasiswa S1 Farmasi STIKSAM dalam ormawa. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu keterampilan 4C mahasiswa S1 Farmasi STIKSAM. Teknik sampling yang digunakan di dalam penelitian ini adalah dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dalam bentuk Google Form yang dibagikan secara online kepada mahasiswa S1 Farmasi STIKSAM yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Teknis analisis data yang digunakan, diantaranya adalah uji normalitas data, uji homogenitas data, dan uji regresi linear sederhana. Kata Kunci: Pengaruh, Mahasiswa, Organisasi Kemahasiswaan, Keterampilan 4C, STIKSAM.
Uji Aktivitas Antioksidan Daun Sawo Manila (Manilkara zapota L) Menggunakan Metode DPPH (1,1 diphenyl-2-picrylhidrazil)
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL DAUN PAKU ( Nephrolepis biserrate (Sw.)Schott) DENGAN METODE DPPH (1, 1-Diphenyl-2picryhidrazyl)
Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott merupakan salah satu jenis tumbuhan paku yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan steroid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun Nephrolepis biserrata. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental, sampel daun paku diekstraksi menggunakan pelarut metanol. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun paku menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak metanol daun paku diperoleh ekstrak kental dengan persentase rendemen 21,12% dan persentase kadar air dengan nilai rata-rata 17,34%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tanin dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan diperoleh nilai IC₅₀ sebesar 121,48 ± 18,77 ppm yang termasuk dalam kategori antioksidan sedang, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,91 ± 0,058 ppm dan tergolong sangat kuat. Uji statistik menggunakan uji Independent Sample T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aktivitas antioksidan ekstrak daun paku dan vitamin C p = 0,049 (0,05). Berdasarkan hasil tersebut membuktikan bahwa ekstrak metanol daun paku Nephrolepis biserrata memiliki potensi sebagai antioksidan alami, meskipun aktivitasnya lebih rendah dibandingkan vitamin C.