COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
STUDI LITERATUR ANALISIS EVALUASI WAKTU TUNGGU LAYANAN RESEP RACIKAN DAN NON RACIKAN PADA PASIEN INSTALASI RAWAT JALAN DI RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI DAN RSI SULTAN AGUNG BANJARBARU
Waktu pelayanan resep adalah hal dalam mengembangkan kualitas layanan kesehatan untuk pasien. Waktu tunggu pelayanan kefarmasian yang lama akan muncul dampak yang buruk pada sebuah proses produksi, kualitas pelayanan, terutama pada kepuasan pasien. Kepuasan pasien dapat mengukur kualitas pelayanan terhadap pelayanan rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat kepuasan pasien. Adanya hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan tingkat kepuasaan pasien menunjukkan perlunya peninjauan lebih lanjut terhadap waktu tunggu pelayanan resep. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dan RSI Sultan Agung Banjarbaru. Studi literatur ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah, jurnal, dan dokumen relevan yang membahas pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran waktu tunggu layanan resep racikan dan resep non racikan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi pelayanan resep di instalasi rawat jalan rumah sakit.
STUDI LITERATUR EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica L. Urban) DALAM PENYEMBUHAN LUKA BAKAR
Luka bakar merupakan kerusakan jaringan kulit akibat paparan panas, listrik, bahan kimia, atau radiasi yang dapat menimbulkan gangguan fungsi kulit, nyeri, serta risiko infeksi. Pengembangan terapi berbasis bahan alam terus dilakukan, salah satunya dalam bentuk sediaan gel yang memiliki keunggulan efek dingin, mudah diaplikasikan, dan mampu meningkatkan penetrasi zat aktif ke dalam kulit. Daun pegagan (Centella asiatica L. Urban) mengandung senyawa aktif seperti asiaticoside, madecassoside, flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan dalam proses penyembuhan luka melalui stimulasi proliferasi fibroblas, peningkatan sintesis kolagen, dan percepatan reepitelisasi. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah relevan dan dianalisis secara deskriptif-komparatif berdasarkan konsentrasi ekstrak, metode ekstraksi, serta hasil penyembuhan luka pada hewan uji. Hasil kajian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun pegagan efektif mempercepat penyembuhan luka bakar pada hewan uji tikus putih jantan dengan ekstrak etanol 96% pada beberapa variasi konsentrasi dibandingkan kelompok kontrol positif dan negatif sehingga peningkatan konsentrasi ekstrak cenderung meningkatkan laju penyembuhan luka secara signifikan pada kelompok perlakuan gel tersebut dalam penelitian efektivitas.
STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIJAMUR ESKTRAK DAUN MANGGA (Mangifera indica L.) terhadap Candida albicans
Kandidiasis merupakan infeksi jamur yang banyak disebabkan oleh Candida albicans dan masih menjadi permasalahan kesehatan, khususnya pada daerah tropis. Penggunaan antijamur sintetis dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serta resistensi. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antijamur adalah daun mangga (Mangifera indica L.) yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan polifenol. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji metode pengujian aktivitas antijamur ekstrak daun mangga terhadap pertumbuhan Candida albicans. Rancangan yang digunakan adalah studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dengan menganalisis beberapa jurnal ilmiah. Objek penelitian ini yaitu uji aktivitas antijamur ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) terhadap jamur Candida albicans dari dua artikel utama. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif, dengan menguraikan dan membandingkan hasil dari data yang terkumpul berupa zona hambat pada pengujian aktivitas antijamur secara in vitro dengan metode difusi cakram.
STUDI LITERATUR AKTIVITAS EKSTRAK DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) TERHADAP Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.
STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) TERHADAP BAKTERI Staphylococus aureus
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang berasal dari bahan alam, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji dan membandingkan dua artikel penelitian yang membahas efektivitas ekstrak jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan konsentrasi ekstrak, metode pengujian, dan diameter zona hambat yang dihasilkan pada masing-masing penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah memiliki aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Berdasarkan hasil analisis kedua artikel, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jahe merah berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
STUDI LITERATUR PERBANDINGAN KADAR VITAMIN C PADA BAH PAPRIKA HIJAU DAN KUNING (CAPSICUM ANNUUM L. VAR. GROSSUM) DENGAN METODE IODIMETRI
Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan berperan sebagai antioksidan bagi tunuh. Salah satu sumber vitamin C adalah buah paprika, khususnya paprika kuning dan hijau yang memiliki kandungan vitamin C cukup tinggi. Perbedaan jenis paprika, media tanam, dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kadar vitamin C yang terkandung di dalamnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbandingan kadar vitamin C dari kedua jenis paprika berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpul, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah serba buku yang berkaitan dengan penetapan kadar vitamin C menggunakan metode iodimetri. Data di analisis secara deskriptif berdasarkan hasil dari dua jurnal penelitian yang memenuhi kriteria seleksi. Hasil penelitian penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C pada paprika dipengaruhi oleh media tanam dan kondisi lingkungan. Paprika kuning yang dibudidayakan secara hidroponik memiliki kadar vitamin C sebesar 98,63 mg/100 g, lebih tinggi dibandingkan paprika kuning yang ditanam di tanah sebesar 86,19 mg/100 g. Selain itu, paprika hijau yang tumbuh jauh dari Gunung Sinabung memiliki kadar vitamin C sebesar 113,71 mg/100 g, lebih tinggi dibandingkan paprika hijau yang tumbuh di sekitar Gunung Sinabung sebesar 104,67 mg/100 g. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar vitamin C pada paprika dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan media tumbuh tanaman
Studi Literatur Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Diabetes Melitus di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang terus meningkat prevalensinya dan sering menimbulkan komplikasi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Penggunaan banyak obat pada pasien rawat inap meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs), yang dapat mengganggu efektivitas terapi serta menurunkan keselamatan pasien. DRPs pada pasien diabetes perlu diidentifikasi sejak dini karena dapat berdampak pada kualitas perawatan, lama rawat inap, dan biaya pengobatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi sistematis mengenai jenis–jenis DRPs yang muncul pada pasien diabetes melitus di instalasi rawat inap rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien diabetes melitus yang menjalani perawatan di instalasi rawat inap rumah sakit. Metode penelitian yaitu menggunakan rancangan analisis deskriptif. Analisis dari dua jurnal juga menggambarkan bahwa ketidak tepatan regimen obat, interaksi obat, serta penggunaan obat tanpa indikasi maupun indikasi tanpa terapi merupakan bentuk masalah yang paling sering terjadi.
TINGKAT PENGETAHUAN APOTEKER TENTANG GOOD COMPOUNDING PRACTICE (GCP) NON-STERIL DI PUSKESMAS DAN APOTEK
Good Compounding Practice (GCP) berupa pedoman yang bertujuan menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi sediaan obat racikan dalam pelayanan kefarmasian. Pengetahuan apoteker terhadap GCP merupakan faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap kualitas peracikan serta pencegahan kesalahan yang berpotensi membahayakan pasien. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP, serta apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara apoteker di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Studi literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan apoteker tentang GCP di Puskesmas dan Apotek pada kedua wilayah, serta membandingkan apakah tingkat pengetahuan apoteker antar puskesmas dan apotek menunjukkan perbedaan atau kesamaan. Rancangan yang digunakan pada penelitian menggunakan metode studi literatur mengumpulkan, mempelajari dan menelaah beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman apoteker terhadap aspek-aspek GCP serta potensi perbedaan pengetahuan. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi dan penguatan kompetensi apoteker dalam praktik peracikan. Hasil penelitian dari dua literatur yang dibandingkan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP pada kedua penelitian termasuk dalam kategori baik, dengan skor rata-rata sebesar 87,78% pada penelitian di puskesmas dan 85,98%, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang belum dipahami secara optimal. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP secara umum sudah baik, namun tetap diperlukan peningkatan kompetensi pada beberapa aspek GCP untuk mendukung praktik peracikan yang aman dan bermutu.
Studi literatur identifikasi medication error pada resep pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit
Medication error merupakan permasalahan penting dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang dapat terjadi pada setiap tahapan penggunaan obat dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Kesalahan ini sering ditemukan pada pelayanan obat, mulai dari penulisan resep, penerjemahan, penyiapan, hingga pemberian obat kepada pasien, khususnya di poli interna yang umumnya memiliki penyakit dengan terapi obat yang kompleks, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami medication error. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengidentifikasi medication error pada resep pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis medication error yang terjadi dalam proses pelayanan resep pada pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir (2015-2025). Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan merangkum dan menyajikan temuan dalam bentuk tabel dan narasi untuk menarik kesimpulan mengenai kejadian medication error.
STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIKOLAGENASE DAN PROFIL METABOLIT EKSTRAK PIDADA MERAH (Sonneratia caseolaris) dan UWI UNGU (Dioscorea alata L.) SECARA IN VITRO
Penuaan kulit merupakan kondisi yang ditandai dengan penurunan jumlah serta kualitas kolagen pada lapisan dermis akibat meningkatnya aktivitas enzim kolagenase, terutama matrix metalloproteinase-1 (MMP-1). Pemanfaatan bahan alam sebagai sumber senyawa antikolagenase menjadi salah satu pendekatan yang berpotensi untuk dikembangkan dalam formulasi anti-aging. Tanaman pidada merah (Sonneratia caseolaris) dan uwi ungu (Dioscorea alata) diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi menghambat aktivitas enzim kolagenase. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antikolagenase ekstrak pidada merah dan uwi ungu serta mengkaji profil metabolit sekundernya secara in vitro. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan metode deskriptif yang dilakukan melalui pengumpulan, penelaahan, perbandingan, dan sintesis dari berbagai artikel jurnal ilmiah yang relevan pada rentang tahun 2015– 2025 melalui Google Scholar, dengan dua artikel utama yang memenuhi kriteria. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pidada merah dan umbi uwi ungu memiliki potensi aktivitas antikolagenase yang didukung oleh kandungan senyawa fenolik, flavonoid, dan antosianin, sehingga kedua tanaman tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan aktif anti-aging berbasis bahan alam.
STUDI LITERATUR UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli
Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit dan kematian. Salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering dijumpai adalah Escherichia coli, yaitu bakteri flora normal usus yang dapat bersifat patogen apabila jumlahnya berlebihan. Tingginya kasus resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri dari bahan alam, salah satunya daun singkong (Manihot esculenta Crantz). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun singkong terhadap bakteri E. coli. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah yang relevan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun singkong menghasilkan diameter zona hambat sebesar 19 mm, 25 mm, dan 29 mm pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Pada penelitian lainnya, diameter zona hambat yang diperoleh sebesar 3,5 mm, 4,4 mm, dan 5,2 mm pada konsentrasi 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 150.000 ppm setara dengan 5%, 10%, dan 15%, dengan kategori lemah hingga sedang. Perbedaan aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak, metode yang digunakan, serta faktor biologi dan kimia saat proses pembuatan ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol 70% daun singkong berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami terhadap E. coli.
STUDI LITERATUR TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS
Kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antihipertensi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi, namun masih banyak pasien yang tidak patuh, sehingga tekanan darah tetap tidak terkontrol dan beresiko menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran tingkat kepatuhan dalam menggunakan obat antihipertensi di puskesmas. Metodologi penelitian ini menggunakan studi literatur dengan meninjuau artikel dan jurnal tingkat kepatuhan pasien hipertensi yang di ukur menggunakan kuisioner MMAS-8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan rendah pada pasien hipertensi di puskesmas lempake samarinda dengan persentase (41,5%), sedangkan di puskesmas kema minahasa utara kepatuhan rendah dengan persentase (57,7%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan termasuk usia, pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, pengetahuan pasien, serta jenis kelamin. Pasien dengan tingkat pendidikan rendah, pekerjaan yang padat, dan yang telah lama menderita hipertensi cenderung memiliki kepatuhan yang rendah.
STUDI LITERATUR TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL DI PUSKESMAS
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang sehingga kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan dan pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 serta tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral di Puskesmas berdasarkan studi literatur. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menelaah tiga artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa karakteristik pasien pada ketiga penelitian didominasi oleh kelompok usia 46–65 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah (SD–SMA), serta sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga, meskipun pada beberapa penelitian juga ditemukan responden yang tidak bekerja dan pensiunan. Berdasarkan analisis terhadap ketiga jurnal, tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menunjukkan variasi, yaitu 37,1% termasuk kategori kepatuhan tinggi, 47,3% kategori kepatuhan sedang, dan 46,88% kategori kepatuhan rendah. Perbedaan tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, lama menjalani terapi, kompleksitas regimen pengobatan, dukungan keluarga, serta peran tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 relatif serupa, sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat masih bervariasi sehingga diperlukan edukasi, konseling, dan pemantauan terapi secara berkelanjutan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Studi Literatur Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit dan Biji Alpukat (Persea americana Mill.) Menggunakan Metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazyl)
Alpukat (Persea americana Mill.) merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Selain daging buahnya, bagian kulit dan biji alpukat diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, tanin, dan senyawa fenolik lainnya yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Radikal bebas dapat memicu stres oksidatif yang berhubungan dengan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan sumber antioksidan yang aman dan berasal dari bahan alam. Pemanfaatan bagian kulit dan biji alpukat sebagai sumber antioksidan menjadi peluang yang perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit dan biji alpukat berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelusuri artikel ilmiah melalui mesin pencari Google Scholar pada rentang tahun 2015–2025. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kesesuaian judul, metode penelitian, dan hasil yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan kulit dan biji alpukat menggunakan metode (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) DPPH. Dari hasil penelusuran dan seleksi literatur, diperoleh dua jurnal penelitian yang relevan untuk dianalisis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit dan biji alpukat berdasarkan nilai persentase penghambatan yang dilaporkan dalam literatur.
STUDI LITERATUR PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP HASIL RENDEMEN DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.)
Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang potensial secara farmakologis, namun kandungannya dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan membandingkan pengaruh metode maserasi dan perkolasi terhadap rendemen dan hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun pepaya. Data diperoleh dari dua jurnal ilmiah periode 2015–2025 dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa metode maserasi menghasilkan rendemen lebih tinggi (25,97%) dibandingkan perkolasi (6,6%). Skrining fitokimia pada kedua metode menunjukkan hasil positif terhadap alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan perbedaan ditemukan pada senyawa steroid, yang teridentifikasi pada metode maserasi namun tidak pada metode perkolasi. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan lamanya kontak antara pelarut dan simplisia.
STUDI KASUS TINJAUAN KLINIS DAN KUALITAS HIDUP PASIEN HIV (Human Immunodeficiency Virus) BERDASARKAN DATA LABORATORIUM DAN KUISIONER WHOQOL-BREF
Infeksi HIV merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan. Keberhasilan terapi tidak hanya dilihat dari pengendalian perkembangan penyakit, tetapi juga melalui pemantauan kondisi imunologis pasien dan peningkatan kualitas hidup. Salah satu parameter klinis yang digunakan dalam pemantauan pasien HIV adalah kadar CD4, yang menggambarkan kondisi sistem imun pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kondisi klinis berdasarkan kadar CD4 serta kualitas hidup pasien HIV menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF juga mengidentifikasi domain kualitas hidup (fisik, psikologis, sosial, lingkungan) yang paling terpengaruh. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi kasus dengan pendekatan cross-sectional dan data kualitatif dan kuantitatif. Objek penelitian adalah kondisi klinis dan kualitas hidup pasien HIV yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV) di Puskesmas Rapak Mahang, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi klinis pasien ditinjau berdasarkan kadar CD4 sebagai parameter imunologis, sedangkan kualitas hidup pasien dinilai menggunakan instrumen World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF) yang mencakup domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan.
Studi literatur: gambaran risiko terjadinya tuberkulosis paru antara perokok aktif dan perokok pasif
Merokok merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk tuberkulosis paru. Paparan asap rokok, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif, dapat menurunkan sistem pertahanan saluran pernapasan sehingga mempermudah infeksi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kebiasaan perokok aktif dan perokok pasif dengan risiko terjadinya tuberkulosis paru. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah jurnal ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2015–2025. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar dan diperoleh 15 artikel, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi hingga terpilih 2 jurnal yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB paru dibandingkan perokok pasif karena terpapar langsung zat berbahaya dalam rokok yang dapat merusak fungsi paru dan menurunkan daya tahan tubuh. Namun, perokok pasif juga memiliki risiko yang signifikan akibat paparan asap rokok secara terus-menerus. Selain itu, lama merokok ≥10–15 tahun turut meningkatkan risiko terjadinya TB paru. Disimpulkan bahwa kebiasaan merokok, baik aktif maupun pasif, berhubungan dengan peningkatan risiko tuberkulosis paru, dengan risiko yang lebih tinggi pada perokok aktif.
Studi Literatur Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta Indica A. Juss) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus
Infeksi bakteri, khususnya oleh Staphylococcus aureus, masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Masalah ini diperparah oleh meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis akibat penggunaan yang tidak rasional. Diperlukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri yang aman. Daun mimba (Azadirachta Indica A.Juss) kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun mimba terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan perbedaan metode uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi sumuran dan metode disfusi cakram. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan membandingkan artikel ilmiah yang relevan, dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir . Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai efektivitas berbagai konsentrasi dan metode ekstraksi daun mimba dalam menghambat pertumbuhan bakteri
STUDI LITERATUR KARAKTERISASI DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK BUNGA TELANG ( clitoria ternatea L).
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki potensi farmakologis tinggi dan banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alternatif karena kandungan antioksidan alaminya. Meskipun demikian, variasi metode ekstraksi dan sumber simplisia dalam berbagai penelitian seringkali menghasilkan data mutu dan kandungan kimia yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan hasil pengujian parameter spesifik, non-spesifik, serta profil fitokimia ekstrak bunga telang melalui penelusuran pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data difokuskan pada parameter non-spesifik yang meliputi kadar air, kadar abu total, dan susut pengeringan, serta parameter spesifik seperti organoleptik dan kadar sari larut pelarut tertentu. hasil penelitian menunjukaan ekstrak bunga telang pada penelitian (Rismayuti, Supriningrum dan Supomo, 2024) Menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 43,8% dengan karakteristik organoleptik kental, berwarna biru kehitaman, dan berasa pahit. Hasil uji parameter spesifik menunjukkan kadar sari larut air 58%, larut etanol 17,67%, sementara parameter non-spesifik mencatat kadar air 21,93%, kadar abu total 5%, serta bobot jenis 1,015 g/ml dengan angka cemaran mikroba yang memenuhi syarat keamanan BPOM. Skrining fitokimia ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan terpenoid, dan hasil negatif pada pengujian tanin, sedangkan pada penelitinan (Ramdhini, 2023) Menghasilkan rendemen ekstrak yaitu 10% dengan karakteristik berwarna cokelat tua dan tidak berasa. Parameter spesifik menunjukkan kadar sari larut air sebesar 8,5% dan larut etanol 1,1%. Parameter non-spesifik mencatat nilai susut pengeringan yaitu 0,8% dan bobot jenis 1,38 g/ml, sedangkan hasil skrining fitokimianya menunjukkan senyawa flavonoid, saponin, tanin, steroid, terpenoid, dan alkaloid.