Abstrak
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.