Abstrak
Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman famili Zingiberaceae yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Kandungan metabolit sekunder dalam rimpang kunyit hitam sangat dipengaruhi oleh proses ekstraksi, terutama pemilihan jenis pelarut. Perbedaan tingkat polaritas pelarut diketahui dapat memengaruhi jumlah dan jenis senyawa metabolit sekunder yang terekstraksi, sehingga pada akhirnya turut menentukan aktivitas antioksidan ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam yang diperoleh melalui ekstraksi maserasi menggunakan tiga pelarut berbeda, yaitu etanol 70%, etanol 95%, dan metanol, dengan aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol 70% (16,60%), diikuti ekstrak metanol (12,01%), sedangkan ekstrak etanol 95% memberikan rendemen terendah (8,44%). Pada pengujian kadar air, ekstrak metanol memiliki nilai paling rendah (3,05 ± 0,04%) dibandingkan ekstrak etanol 95% (9,45 ± 0,32%) dan etanol 70% (10,85 ± 0,24%). Uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin, sedangkan ekstrak etanol 95% dan ekstrak metanol memiliki kandungan yang lebih lengkap dengan tambahan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ketiga ekstrak berada pada rentang yang berdekatan, yaitu 205,01 ± 4,53 ppm untuk etanol 70%, 217,30 ± 2,13 ppm untuk etanol 95%, dan 210,59 ± 2,10 ppm untuk etanol 95%, yang seluruhnya tergolong dalam kategori aktivitas antioksidan sangat lemah. Sebagai pembanding, vitamin C sebagai kontrol positif menunjukkan nilai IC₅₀ jauh lebih rendah (3,23 ± 0,03 ppm), yang mengindikasikan aktivitas antioksidan sangat kuat. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p 0,05) antar kelompok. Namun, uji lanjut Post Hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan antar ketiga jenis ekstrak tidak berbeda secara signifikan.