Abstrak
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21 (4C), yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication. Organisasi kemahasiswaan (ormawa) menjadi salah satu wadah yang berpotensi mengembangkan keterampilan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat keterampilan 4C antara mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji homogenitas Levene's Test, dan Independent Samples t-test dengan bantuan SPSS. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal (p = 0,200), sedangkan uji homogenitas menunjukkan varians kedua kelompok homogen (p = 0,821). Hasil Independent Samples t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan 4C antara mahasiswa yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan (p 0,000), dengan perbedaan rata-rata sebesar 9,98 poin. Mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki skor lebih tinggi pada seluruh aspek keterampilan 4C, yaitu critical thinking (3,16), creativity (2,98), collaboration (3,18), dan commu-nication (3,09), dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi. Dengan demikian, organisasi kemahasiswaan berperan sebagai sarana yang mendukung pengembangan keterampilan 4C mahasiswa Farmasi sebagai kompetensi pendukung dalam mewujudkan profil Ten Star Pharmacist.