Abstrak
Penyakit infeksi hingga saat ini masih menjadi masalah besar bagi negara- negara berkembang, salah satunya Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur. Mikroorganisme penyebab penyakit infeksi kulit adalah bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) terhadap bakteri Staphyloccus epidermidis dan Staphyloccus aureus dan mengetahui nilai KHM dan KBM minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) terhadap bakteri Staphyolococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode difusi cakram dengan minyak kayu putih Biak, Gunung Kidul, Lamongan, dan Lampung pada konsentrasi 1%, 5%, 10% dan 25% sedangkan metode dilusi pada konsentrasi 10%, 25%, 50%, dan 100. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui minyak kayu putih dari keempat jenis memiliki nilai bobot jenis yang sesuai dengan SNI. Minyak kayu putih Biak, Gunung Kidul, Lamongan, dan Lampung pada konsentrasi 1%, 5%, 10% dan 25% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Minyak kayu putih tiap jenis pada konsentrasi 1% hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan kategori sedang, sedangkan pada konsentrasi pada konsentrasi 5%, 10% dan 25% menghambat pertumbuhan bakteri kategori kuat. Kemudian Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak kayu putih dimulai dari konsentrasi 10% dan memiliki nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) pada konsentrasi 50% terhadap kedua bakteri uji. Berdasarkan analisis data menggunakan metode Post Hoc Test, membuktikan bahwa terdapat perbedaan zona hambat pada tiap jenis minyak kayu putih terhadap Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus.