Abstrak
Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan obat seperti sirih hutan (Piper aduncum L.) yang secara tradisional digunakan sebagai antibakteri untuk pengobatan luka dan infeksi. Senyawa aktif yang terdapat dalam simplisia sangat tergantung pada tahapan atau proses pembuatan simplisia, salah satunya adalah pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu pengeringan oven (40°C dan 60°C) terhadap rendemen ekstrak etanol dan kandungan fitokimia daun sirih hutan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel dari Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tahapan penelitian meliputi, pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, preparasi simplisia sesuai dengan variasi suhu pengeringan oven, pembuatan ekstrak kental dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, penentuan rendemen ekstrak, dan kandungan skrining fitokimia. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk membandingkan nilai rendemen serta hasil skrining fitokimia guna mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder pada kedua variasi suhu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan 60°C menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi (23,13%) dibandingkan suhu 40°C (14,70%). Rata-rata susut pengeringan pada suhu 40°C dan 60°C masing-masing sebesar 4,97% dan 5,27%, sedangkan kadar air sebesar 7,67% dan 7,80%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/triterpenoid. Hasil uji statistik Independent T-test menunjukkan bahwa variasi suhu pengeringan tidak berpengaruh signifikan terhadap susut pengeringan p-value 0,115 > α = 0,05, dan tidak memengaruhi kandungan metabolit sekunder.