Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

1.289 item publik

Publikasi

Halaman 26 dari 65

PENETAPAN KADAR FENOLIK, FLAVONOID TOTAL DAN NILAI SPF EKSTRAK N-HEKSAN KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea Pyriformis Gage) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

ARDIAN MAULANA
2026 · Thesis · Open Access

Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) merupakan limbah tanaman yang belum banyak dimanfaatkan, meskipun diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai bahan aktif alami. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar fenolik total, kadar flavonoid total, dan nilai Sun Protection Factor (SPF) ekstrak n-heksan kulit buah tampoi menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang diawali dengan pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan n-heksan. Penetapan kadar fenolik total dilakukan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan standar asam galat, sedangkan kadar flavonoid total ditetapkan menggunakan metode aluminium klorida dengan standar kuersetin. Penentuan nilai SPF dilakukan secara in vitro menggunakan metode Mansur pada panjang gelombang 290–320 nm. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan persamaan regresi linear dari kurva baku asam galat dan kuersetin, sedangkan nilai SPF dihitung berdasarkan data absorbansi pada setiap panjang gelombang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan kulit buah tampoi memiliki kadar fenolik total rata-rata sebesar 15,637 ± 1,1055 mg GAE/g, kadar flavonoid total rata-rata sebesar 2,7537 ± 12,8372 mg QE/g, serta nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 2000 ppm sebesar 7,0498 ± 1,4815 yang termasuk kategori perlindungan rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksan kulit buah tampoi mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dapat ditetapkan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis serta memiliki potensi sebagai bahan aktif tabir surya alami meskipun masih memberikan tingkat perlindungan yang rendah.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA MASYARAKAT DI KAMPUNG LIRUNG UBING

LIDIA LAHAI
2026 · Thesis · Open Access

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan resistensi bakteri, meningkatkan biaya pengobatan, serta menurunkan efektivitas terapi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi penggunaan antibiotik adalah tingkat pengetahuan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, gambaran penggunaan antibiotik, serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 72 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap variabel dan secara bivariat menggunakan uji Korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 30 responden (41,7%), sedangkan penggunaan antibiotik sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 41 responden (56,9%). Hasil uji Korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi (r = 0,323) dengan nilai signifikansi (p = 0,006). Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Hubungan tersebut bersifat positif dengan kekuatan hubungan rendah, yang berarti semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat maka semakin baik pula penggunaan antibiotiknya.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BATANG BAJAKAH (Spatholobus littoralis Hassk) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis(3- ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)

ANGGITA
2026 · Thesis · Open Access

Batang bajakah (Spatholobus littoralis Hassk.) merupakan tanaman khas Kalimantan yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak sebagai obat tradisional dan diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berperan penting dalam menangkal radikal bebas penyebab stres oksidatif yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif seperti, diabetes, kerusakan hati, peradangan, kanker, gangguan kardiovaskular, gangguan sistem saraf, serta penuaan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol batang bajakah berdasarkan nilai IC50 menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dimulai dari pengumpulan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut penegeringan, pembuatan ekstrak batang bajakah dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, penetapan kadar air, skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol batang bajakah dan Vitamin C sebagai pembanding menggunakan metode ABTS dengan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% batang bajakah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 21,1665 ± 4,4473. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS yaitu Uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001( p <0,05), yang menandakan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Vitamin C memiliki kemampuan menangkal radikal bebas lebih kuat dibandingkan ekstrak etanol batang bajakah. Kata Kunci : Antioksidan, Ekstrak etanol, Spatholobus littoralis, ABTS

OPTIMASI FORMULA SERUM NANOEMULSI EKSTRAK DAUN SENDUDUK (Melastoma malabathricum L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN

DEVIN PUTRA ARIAWAN
2026 · Thesis · Open Access

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan kulit berbahan alam mendorong pengembangan sediaan kosmetik yang lebih efektif. Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan, namun pemanfaatannya dalam sediaan topikal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum Tween 80 dan PEG 400 pada formulasi serum nanoemulsi ekstrak daun senduduk serta mengetahui aktivitas antioksidannya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode Factorial Design menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi serum nanoemulsi. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, transmitan, ukuran droplet, polydispersity index (PDI), dan zeta potensial. Formula optimum ditentukan menggunakan perangkat lunak Design Expert, kemudian dilakukan verifikasi dan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi Tween 80 sebesar 12,844% dan PEG 400 sebesar 14,663%. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan karakteristik fisik yang baik dengan nilai pH 6,4, viskositas 20 cP, transmitan 96,34%, ukuran droplet 91 nm, Polydispersity Index (PDI) 0,364, dan zeta potensial -2,86 mV. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter pH, viskositas, dan zeta potensial tidak berbeda signifikan antara hasil prediksi dan verifikasi (p > 0,05). Formula tersebut memiliki nilai IC₅₀ sebesar 115,85 ± 33,79 ppm, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Dengan demikian, ekstrak daun senduduk berpotensi dikembangkan sebagai serum nanoemulsi antioksidan berbahan alam.

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT (BKO) PARASETAMOL PADA JAMU ASAM URAT MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS KOMBINASI KEMOMETRIK

AFIFA WULANDARI
2026 · Thesis · Open Access

Jamu asam urat banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi hiperurisemia. Namun, tingginya konsumsi jamu berpotensi menyebabkan penambahan Bahan Kimia Obat (BKO), salah satunya parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi parasetamol pada jamu asam urat menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis yang dikombinasikan dengan kemometrik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan sampel jamu asam urat yang diekstraksi menggunakan etanol 95% dan dianalisis pada rentang panjang gelombang 200–400 nm. Data spektrum dianalisis menggunakan PCA dan CA. Hasil penelitian menunjukkan adanya serapan parasetamol pada panjang gelombang sekitar 240–250 nm. Analisis PCA mampu menjelaskan 91,1% variasi data melalui PC1 dan PC2, sedangkan CA menunjukkan pengelompokan sampel berdasarkan kemiripan spektrum. Berdasarkan hasil tersebut, kombinasi spektrofotometri UV-Vis dan kemometrik dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk mendeteksi BKO parasetamol pada jamu asam urat.

GAMBARAN KESESUAIAN PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG DAN LOA KULU

SITI NUR AISAH
2026 · Thesis · Open Access

Penyimpanan obat di puskesmas merupakan aspek penting dalam pengelolaan sediaan farmasi karena sangat menentukan mutu, keamanan, stabilitas, dan ketersediaan obat dalam pelayanan kesehatan. Apabila penyimpanan tidak dilakukan sesuai standar, maka dapat timbul berbagai masalah seperti penurunan kualitas obat, kerusakan fisik maupun kimia, obat kedaluwarsa, pemborosan anggaran, serta terganggunya kelancaran pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Loa Kulu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2026 di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Teluk Dalam, Puskesmas Separi III, Puskesmas Loa Kulu, dan Puskesmas Jonggon. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling terhadap seluruh sistem dan fasilitas penyimpanan obat yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan tenaga kefarmasian, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan obat di keempat puskesmas berada pada kategori sangat baik, dengan nilai kesesuaian Puskesmas Teluk Dalam 88,57%, Puskesmas Separi III 88,57%, Puskesmas Loa Kulu 85,71%, dan Puskesmas Jonggon 82,86%. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, seperti belum optimalnya ventilasi ruang penyimpanan, belum tersedianya safety stock, adanya kebocoran pada atap atau plafon, serta belum adanya prosedur rotasi antibiotik yang spesifik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum penyimpanan obat telah sesuai standar, namun masih diperlukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar pengelolaan obat lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung mutu pelayanan kefarmasian secara optimal.

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT (BKO) PARACETAMOL PADA JAMU PEGAL LINU MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS KOMBINASI KEMOMETRIK

INDAH AFRILIANA
2026 · Thesis · Open Access

Jamu pegal linu merupakan salah satu obat tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia untuk meredakan nyeri otot dan rasa pegal, namun tingginya penggunaan produk ini membuka peluang terjadinya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) khususnya parasetamol yang secara regulasi dilarang karena dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi secara tidak terkontrol dan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang akurat dan efisien untuk mendeteksi keberadaan parasetamol dalam sediaan jamu. Spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi antara radiasi elektromagnetik di daerah ultraviolet dan cahaya tampak dengan molekul analit sehingga menghasilkan spektrum serapan yang khas sesuai dengan struktur kimia senyawa. Kemometrik merupakan pendekatan analisis data berbasis metode matematika dan statistik yang digunakan untuk mengekstraksi informasi kimia yang relevan dari data multivariat serta meningkatkan kemampuan interpretasi hasil analisis spektral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan BKO parasetamol pada jamu pegal linu menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis kombinasi kemometrik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan preparasi sampel melalui ekstraksi menggunakan etanol 95% p.a, kemudian dibuat campuran larutan jamu dan larutan baku parasetamol dengan variasi perbandingan 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, dan 3:7. Pengukuran absorbansi dilakukan pada rentang panjang gelombang 200–400 nm dengan interval 2 nm. Data absorbansi dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA). Hasil menunjukkan meningkatnya nilai absorbansi pada saat bertambahnya konsentrasi parasetamol dengan puncak serapan 250 nm. PCA menghasilkan PC1 dan PC2 sebesar 94,6% variasi data, sedangkan CA menunjukkan pengelompokan sampel yang konsisten. Kombinasi metode ini efektif untuk mendeteksi BKO parasetamol pada jamu pegal linu.

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENGGUNAAN OBAT CACING PADA ANAK DI BEBERAPA DESA WILAYAH KECAMATAN BENTIAN BESAR KABUPATEN KUTAI BARAT

NUR FITRIANI DEWI
2026 · Thesis · Open Access

Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior. Penyakit cacingan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya pada kelompok anak-anak. Infeksi cacing dapat menimbulkan dampak serius seperti kekurangan gizi, anemia, dan hambatan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu mengenai penggunaan obat cacing pada anak di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong, Kabupaten Kutai Barat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Responden penelitian ialah Ibu yang memiliki anak berusia 1–5 tahun dan bersedia berpartisipasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup untuk menilai pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing, kemudian dianalisis secara deskriptif guna memperoleh gambaran tingkat pengetahuan responden. Hasil penelitian di Desa Dilang Puti menunjukkan bahwa dari 75 responden, mayoritas memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 57 orang (76%), kurang baik sebanyak 17 orang (22,7%), dan kurang baik 1 orang (1,3%). Sementara itu, hasil penelitian di Desa Suakong menunjukkan bahwa dari 48 responden, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 44 orang (97,7%), cukup baik sebanyak 4 orang (8,3%), dan tidak terdapat responden dengan kategori kurang baik (0%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing pada anak 1-5 tahun di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong termasuk dalam kategori baik.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BATANG BAJAKAH (Spatholobus littoralis Hassk) DENGAN METODE DPPH (1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl)

MUHAMMAD ILHAM FAJRI
2026 · Thesis · Open Access

Bajakah merupakan tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan yang ada pada batang bajakah dengan ekstrak etanol dan menggunakan metode uji DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, sampel batang bajakah diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol batang bajakah dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan melalui spektrofotometer UV-Vis dan analisis data. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang bajakah (Spatholobus littoralis Hassk). Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung flavonoid, fenolik, saponin, dan terpenoid. Uji kuantitatif menghasilkan nilai IC₅₀ ekstrak sebesar 206,81 ppm (kategori sangat lemah), sedangkan kontrol positif vitamin C memiliki nilai IC₅₀ 7,62 ppm (kategori sangat kuat). Analisis statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p=0,061 > 0,05). Uji independent sample T-Test dengan Levene test sig 0,018 (p<0,05) menghasilkan nilai p=0,015 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kelompok ekstrak batang bajakah dan vitamin C. Hasil uji ekstrak etanol batang bajakah memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami, namun efektivitasnya masih jauh lebih rendah dibandingkan vitamin C sehingga perlu proses penyesuaian metode ekstraksi atau kombinasi dengan senyawa lain.

VARIASI SUHU PENGERINGAN TERHADAP SKRINING FITOKIMIA DAN RENDEMEN EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L.)

MIRNA ANJELIKA IMAS
2026 · Thesis · Open Access

Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan obat seperti sirih hutan (Piper aduncum L.) yang secara tradisional digunakan sebagai antibakteri untuk pengobatan luka dan infeksi. Senyawa aktif yang terdapat dalam simplisia sangat tergantung pada tahapan atau proses pembuatan simplisia, salah satunya adalah pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu pengeringan oven (40°C dan 60°C) terhadap rendemen ekstrak etanol dan kandungan fitokimia daun sirih hutan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel dari Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tahapan penelitian meliputi, pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, preparasi simplisia sesuai dengan variasi suhu pengeringan oven, pembuatan ekstrak kental dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, penentuan rendemen ekstrak, dan kandungan skrining fitokimia. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk membandingkan nilai rendemen serta hasil skrining fitokimia guna mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder pada kedua variasi suhu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan 60°C menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi (23,13%) dibandingkan suhu 40°C (14,70%). Rata-rata susut pengeringan pada suhu 40°C dan 60°C masing-masing sebesar 4,97% dan 5,27%, sedangkan kadar air sebesar 7,67% dan 7,80%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/triterpenoid. Hasil uji statistik Independent T-test menunjukkan bahwa variasi suhu pengeringan tidak berpengaruh signifikan terhadap susut pengeringan p-value 0,115 > α = 0,05, dan tidak memengaruhi kandungan metabolit sekunder.

HUBUNGAN PERSEPSI PENYAKIT DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEGIRI

LEONY PUTRI EKA MELLYA
2026 · Thesis · Open Access

Nama : Leony Putri Eka Mellya Progam Studi : Sarjana Farmasi Judul : Hubungan Prsepsi Penyakit Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Segiri Pembimbing : apt.Juliyanti,M.Farm Hipertensi merupakan kondisi kronis yang sering berkembang tanpa gejala dan memerlukan kepatuhan terhadap pengobatan untuk menjaga kestabilan tekanan darah. Kepatuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap penyakitnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 400 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki persepsi penyakit kategori sedang sebanyak 277 orang (69%) dan kepatuhan obat kategori tinggi sebanyak 216 orang (54%). Uji Chi-Square menunjukkan nilai Pearson Chi-Square sebesar 44,746 dengan df=4 dan p-value=0,000 (p<0,05), yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi. Disimpulkan bahwa persepsi penyakit berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Persepsi penyakit yang rasional dan adaptif dapat mendukung kepatuhan pasien dalam menjalani terapi jangka panjang. Kata Kunci: Hipertensi, persepsi penyakit, obat antihipertensi, kepatuhan obat, MMAS-8, B-IPQ.

PERBANDINGAN METODE PERKOLASI DAN INFUNDASI TERHADAP RENDEMEN DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L.)

MUHAMMAD SYAHID RAMADAN
2026 · Thesis · Open Access

Efisiensi teknologi ekstraksi hingga saat ini menjadi tantangan besar dalam hilirisasi komoditas tanaman obat di industri farmasi. Piper aduncum L. (sirih hutan) merupakan tumbuhan obat potensial yang profil mutu ekstraknya sangat dipengaruhi oleh karakteristik metode penyarian, Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan persen rendemen serta mengevaluasi profil golongan senyawa metabolit sekunder dan sidik jari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak daun Piper aduncum L. melalui komparasi metode perkolasi (etanol 70%, suhu ruang) dan infundasi (akuades, 90°C selama 15 menit). Sampel daun diperoleh dari Desa Loa Lepu, Kutai Kartanegara. Pengujian meliputi preparasi simplisia, ekstraksi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia kualitatif, serta analisis KLT menggunakan pembanding kuersetin. Data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan uji Independent Samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode infundasi menghasilkan rendemen rata-rata lebih tinggi (33,31% ± 0,34) dibandingkan metode perkolasi (28,97% ± 0,86), dengan perbedaan bermakna secara statistik (p 0,05). Susut pengeringan serbuk simplisia sebesar 4,97%, sedangkan kadar air ekstrak infundasi dan perkolasi masing-masing sebesar 6,64% ± 0,10 dan 6,20% ± 0,05. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan tanin; saponin terdeteksi hanya pada ekstrak infundasi, sedangkan steroid tidak terdeteksi pada kedua ekstrak. Profil KLT terbaik diperoleh pada eluen n-heksana:etil asetat (2:8). Ekstrak perkolasi menunjukkan diversifikasi senyawa yang lebih luas (7 noda) dibandingkan ekstrak infundasi (4 noda), di mana kedua ekstrak mengindikasikan kemiripan migrasi dengan pembanding kuersetin pada nilai Rf 0,49 dan 0,64. Secara umum, infundasi lebih tinggi dalam menghasilkan rendemen, sedangkan perkolasi menunjukkan keragaman profil KLT yang lebih luas.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic acid)

ADINDA FEBRIANI
2026 · Thesis · Open Access

Radikal bebas adalah molekul yang tidak berpasangan dengan sifat yang tidak stabil dan sangat reaktif. Radikal bebas berasal dari sumber endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen (polusi udara, radiasi, asap rokok, bahan kimia industri, dan paparan sinar matahari). Salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit adalah karena kerusakan sel-sel tubuh oleh radikal bebas. Kulit buah tampoi, telah dimanfaatkan secara tradisional untuk mengatasi sembelit, nyeri perut, pembengkakkan mata, peradangan sendi, dan memperlancar siklus menstruasi. Kulit buah tampoi mengandung senyawa sekunder flavonoid dan fenolik sebagai agen antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih elektron sehingga radikal bebas dapat diredam dan tidak merusak tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai IC50 dari aktivitas antioksidan ekstrak metanol buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage). Penelitian ini juga memiliki variabel kontrol yaitu vitamin C sebagai pembanding dan ABTS (2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic acid). Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian diawali dengan pengumpulan sampel, determinasi tanaman, pengolahan simplisia, persiapan ekstrak dengam metode maserasi menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, metanol dan etanol-air, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Semakin kecil nilai IC50 membuktikan semakin tinggi aktivitas antioksidan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, fenolik dan saponin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 0,8788 ppm (sangat kuat). Berdasasrkan hasil hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan menggunakan vitamin C, nilai IC50 rata-rata 0,681 ppm sebagai pembanding.

ANALISIS WAKTU TUNGGU RESEP OBAT RACIK DAN NON RACIK DI INSTALASI FARMASI PUSKESMAS JUANDA

ADELIA SEPTIA PUTRI
2026 · Thesis · Open Access

Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan resep obat racik dan non racik, menilai kesesuaiannya dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta mengidentifikasi tahapan pelayanan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional. Sampel penelitian sebanyak 288 resep yang terdiri atas 36 resep racik dan 252 resep non racik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai rata-rata, standar deviasi, dan persentase kontribusi setiap tahapan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu resep racik adalah 13,62 ± 2,93 menit, sedangkan resep non racik 3,06 ± 1,04 menit. Seluruh pelayanan resep (100%) telah memenuhi SPM, yaitu 60 menit untuk resep racik dan 30 menit untuk resep non racik. Tahapan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu adalah penyiapan obat, yaitu sebesar 83,70% pada resep racik dan 43,70% pada resep non racik. Waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda telah memenuhi standar yang ditetapkan, dengan penyiapan obat sebagai tahapan yang paling memengaruhi lamanya pelayanan.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG DI RUANG ICCU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA MENGGUNAKAN METODE ATC/DDD ((Anatomical Therapeutic Chemical / Defined Daily Dose) PERIODE JULI – DESEMBER 2024

SABINA AMALIA PUTRI
2026 · Thesis · Open Access

Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, maupun diproduksi secara sintetis yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri serta organisme lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuai evaluasi penggunaan antibiotik di Ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis dan kuantitas penggunaan metode ATC/DDD. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan rancangan cross-sectional, dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini purposive sampling, dengan sampel yang digunakan adalah pasien ICCU dengan kriteria inklusi rawat inap yang menerima terapi antibiotik serta mempunyai data rekam medik yang lengkap selama periode Juli - Desember 2024. Analisis data dilakukan berdasarkan pada demografi pasien, karakteristik pasien (jenis kelamin, usia, lama rawat inap), dan profil penggunaan antibiotik (jenis dan rute pemberian).Kemudian Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/DDD, dengan menghitung nilai DDD/100 pasien-hari untuk setiap jenis antibiotik, dan total nilai DDD/100 pasien-hari penggunaan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi antibiotik mencapai 393,8 DDD dengan nilai sebesar 124,23 DDD/100 hari rawat. Antibiotik yang paling dominan digunakan adalah Ceftriaxone dengan nilai 57,10 DDD/100 hari rawat, diikuti oleh Ampicillin Sulbactam sebesar 28,80 DDD/100 hari rawat. Berdasarkan analisis metode DU 90%, penggunaan antibiotik terkonsentrasi pada empat jenis utama, yaitu Ceftriaxone, Ampicillin Sulbactam, Metronidazol (PO), dan Metronidazol (IV) dengan persentase kumulatif 89,23%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas pada pasien kritis di ruang ICCU. Meskipun pola penggunaan antibiotik relatif terfokus, evaluasi lebih lanjut secara berkala serta penerapan program pengawasan penggunaan antibiotik (antimicrobial stewardship) tetap diperlukan guna memastikan rasionalitas terapi dan mencegah terjadinya resistensi antimikroba.

PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK ETANOL DAN METANOL DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

NISMA
2026 · Thesis · Open Access

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder, terutama flavonoid, yang dikenal memiliki khasiat sebagai agen antioksidan, anti-inflamasi dan antimikroba. Penelitian sebelumnya hanya menggunakan satu pelarut tanpa membandingkan secara langsung dengan pelarut yang lain, karena pelarut yang berbeda dapat mempengaruhi jumlah senyawa flavonoid yang terekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar total flavonoid ekstrak daun jarak pagar dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis, dan membandingkan pelarut etanol pada konsentrasi 70% dan 95% serta pelarut metanol. Metode penelitian yang dilakukan yaitu determinasi tumbuhan, pengambilan sampel daun jarak pagar yang segar, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi, dan analisis kadar flavonoid menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70%, etanol 95%, dan metanol positif mengandung flavonoid, alkaloid, fenolik, dan steroid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar flavonoid tertinggi yaitu 3,3994 ± 0,2328%, diikuti oleh ekstrak metanol sebesar 3,0222 ± 0,3090%, dan ekstrak etanol 95% sebesar 2,4216 ± 0,3373%. Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan seluruh data terdistribusi normal (p > 0,05), sedangkan uji homogenitas menunjukkan data homogen dengan nilai signifikansi 0,918 (p > 0,05). Uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok pelarut dengan nilai signifikansi 0,019 (p 0,05. Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan metanol tidak berbeda signifikan, sedangkan keduanya berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pelarut memengaruhi kadar flavonoid total ekstrak daun jarak pagar. Meskipun ekstrak etanol 70% menghasilkan rata-rata kadar flavonoid total tertinggi, hasil tersebut tidak berbeda nyata dengan ekstrak metanol, namun keduanya lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol 95%.

PENGARUH EDUKASI DAN INFORMASI MEDIA Leaflet TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK GP SEHAT

DEVITA ANJELIKA
2026 · Thesis · Open Access

Kepatuhan minum obat merupakan faktor penting dalam pengendalian hipertensi karena memengaruhi keberhasilan terapi dan pencegahan komplikasi. Namun, kepatuhan pasien masih rendah akibat kurangnya pemahaman tentang penyakit dan terapi antihipertensi. Edukasi melalui media leaflet dapat menjadi solusi karena menyajikan informasi yang mudah dipahami dan dapat dipelajari kembali secara mandiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi menggunakan media leaflet terhadap tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Klinik dan Apotek GP Sehat Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental menggunakan rancangan one group pretest-posttest. Sebanyak 60 pasien hipertensi rawat jalan dipilih sebagai responden melalui teknik accidental sampling. Intervensi dilakukan berupa edukasi langsung mengenai hipertensi, serta pentingnya kepatuhan terapi yang didukung dengan pembagian leaflet. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) versi Bahasa Indonesia sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi mayoritas responden berada pada kategori kepatuhan rendah sebanyak 25 responden (41,7%), diikuti kepatuhan sedang sebanyak 23 responden (38,3%) dan kepatuhan tinggi sebanyak 12 responden (20,0%). Setelah intervensi diberikan, jumlah responden dengan kepatuhan rendah menurun menjadi 6 responden (10,0%), sedangkan kepatuhan sedang meningkat menjadi 26 responden (43,3%) dan kepatuhan tinggi meningkat menjadi 28 responden (46,7%). Hasil analisis Wilcoxon Signed Rank-Test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 (p0,05), yang menandakan adanya peningkatan kepatuhan minum obat yang signifikan setelah pemberian edukasi menggunakan media leaflet. Edukasi menggunakan media leaflet efektif meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Penerapan edukasi berbasis leaflet di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk intervensi untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan hipertensi dan mendukung pengelolaan penyakit kronis secara berkelanjutan.

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Dengan Variasi Pelarut Menggunakan Metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl)

RAHMAWATI QUINN
2026 · Thesis · Open Access

Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) mengandung berbagai metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Antioksidan merupakan senyawa yang berfungsi untuk menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi pada senyawa lain akibat adanya radikal bebas. Radikal bebas menjadi penyebab berbagai macam penyakit karena dapat mengoksidasi komponen penting didalam tubuh. Perbedaan jenis pelarut dapat mempengaruhi kandungan senyawa aktif yang terekstrak, serta mempengaruhi nilai Inhibitory Concentration 50 (IC₅₀) ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) berdasarkan variasi pelarut. Prosedur penelitian dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, penentuan aktivitas antioksidan dengan spektrofotometri UV-Vis. Data dianalisis menggunakan SPSS Statistik versi 26 dengan uji ANOVA dan uji lanjut LSD (Least Significant Defference). Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70% sebesar 41,0872 ppm, etanol 95% sebesar 40,8550 ppm dan metanol sebesar 66,3632 ppm. Vitamin C sebagai pembanding memiliki nilai IC₅₀ sebesar 7,3511 ppm. Ekstrak etanol 70% dan etanol 95% termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat, sedangkan ekstrak metanol termasuk kategori kuat. Analisis data menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara ekstrak metanol dengan etanol 70% dan etanol 95% (p0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ekstrak etanol 70% dan ekstrak etanol 95% (p=0,947). Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan, ekstrak etanol 70% dan etanol 95% memiliki aktivitas antioksidan yang setara serta lebih tinggi dibandingkan ekstrak metanol. Kedua pelarut etanol tersebut direkomendasikan sebagai pelarut terbaik untuk mengekstrak senyawa antioksidan dari daun jarak pagar. Kata kunci: Jatropha curcas L., antioksidan, pelarut, DPPH, IC₅₀

GAMBARAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO) DI RSUD PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT

ARIQAH SALSABILA ZALMY
2026 · Thesis · Open Access

Pelayanan Informasi Obat (PIO) adalah salah satu tugas utama yang harus dilaksanakan oleh apoteker ketika berinteraksi dengan pasien yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien mengenai obat, penggunaan obat yang rasional, serta meminimalisir masalah penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelayanan informasi obat yang diterima oleh pasien di instalasi farmasi di RSUD Panglima Sebaya guna mencapai kepuasan optimal, kepuasan yang optimal berperan penting bagi kemajuan institusi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain non-eksperimen. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendistribusikan atau memberikan kuesioner yang dirancang berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yakni kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), serta bukti fisik (tangible). Sementara itu, pemilihan responden dilakukan melalui teknik accidental sampling. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis melalui beberapa tahapan pengujian yaitu uji validitas dan uji reliabilitas, dimana uji validitas dilakukan dengan tujuan sejauh mana kuesioner tersebut mampu mengukur aspek yang dimaksudkan sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi suatu kuesioner sebagai instrumen penelitian menggunakan Cronbach’s Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi reliability memperoleh nilai sebesar 85,17 dan responsiveness sebesar 85,33 yang termasuk dalam kategori baik, sedangkan dimensi assurance memperoleh nilai sebesar 88,64, empathy sebesar 88,96, dan tangible sebesar 88,59 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Secara keseluruhan, tingkat kepuasan pasien terhadap Pelayanan Informasi Obat di RSUD Panglima Sebaya Tanah Grogot berada pada kategori puas.