SEPRIANI TIKU LEMBANG
2024 · Book · Open Access
Tanaman nyirih (Xylocarpus granatum) merupakan salah satu spesies yang banyak ditemukan di hutan mangrove yang termasuk dalam famili Meliaceae. Berdasarkan data empiris tanaman nyirih digunakan sebagai obat diare dan pembersih luka. Manfaat biji buah nyirih dimasyarakat yang dicampur dengan tepung beras digunakan sebagai masker wajah untuk mengobati jerawat. Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit karena adanya penumpukan minyak yang menyebabkan pori-pori kulit wajah tersumbat sehingga memicu aktivitas bakteri dan peradangan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih dalam menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah antibakteri ekstrak biji buah nyirih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Aktivitas antibakteri diuji dengan menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi ekstrak 10%, 15% dan 20%. Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO 1% dan kontrol positif yang digunakan yaitu kloramfenikol 0,1%. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji buah nyirih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes dengan kriteria sedang pada konsentrasi 10%, 15%, 20%.
RAHMADANI
2024 · Book · Open Access
Tingkat kepolaran pelarut dapat mempengaruhi kandungan senyawa yang di ekstrak berdasarkan prinsip like dissolve like, yaitu senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut polar dan senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar. Kulit buah kapul (Baccaurea macrocarpa ) mengandung senyawa flavonoid dan memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian adalah mengetahui kadar flavonoid ekstrak kulit buah kapul berdasarkan variasi jenis pelarut dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Objek penelitian adalah kadar flavonoid total ekstrak kulit buah kapul menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 95%, etil asetat, n-heksan, dilanjutkan skrining fitokimia dan penetapan kadar flavonoid . Hasil penelitian menunjukan bahwa kulit buah kapul mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, saponin dan flavonoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar flavonoid total ekstrak kulit buah kapul berdasarkan variasi jenis pelarut etanol 95%, etil asetat, dan n-heksan diperoleh masing-masing kadar sebesar 4,7238±0,5807 mgQE/g, 2,9699±0,1539 mgQE/g dan 2,0417±0,4236 mgQE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen sehingga digunakan uji one way anova dengan hasil nilai p value (0,00) (0,05) dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar flavonoid total dari ketiga sampel.
DANI WISMA WARDANA
2024 · Book · Open Access
Radikal bebas adalah molekul yang tidak berpasangan dengan sifat yang tidak stabil dan sangat reaktif. Radikal bebas berasal dari sumber endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen (polusi udara, radiasi, asap rokok, bahan kimia industri, dan paparan sinar matahari). Salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit adalah karena kerusakan sel-sel tubuh oleh radikal bebas. Buah tampoi (Baccaurea macrocarpa) dapat ditemukan di Kalimantan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil akhir IC50 dari aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea macrocarpa). Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian diawali dengan pengumpulan sampel, penentuan tanaman, dan pengolahan simplisia, persiapan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah tampoi mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, dan steroid. Semakin kecil hasil IC50 membuktikan semakin tinggi aktivitas antioksidan. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 14,5785 ppm (sangat kuat). Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan menggunakan vitamin C sebagai perbandingan.
RAHMAT NUR YAHYA
2024 · Book · Open Access
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat yang berasal dari famili Zingiberaceae. Temulawak sering dimanfaatkan sebagai obat herbal atau jamu yang digunakan secara turun-temurun, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Rimpang temulawak diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, flavonoid, terpenoid dan triterpenoid yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan suatu bahan alam adalah konsentrasi pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan pada ekstrak rimpang temulawak menggunakan metode ABTS. Tahapan dalam penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pembuatan serbuk simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut menggunakan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan dan analisis data. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan 95%. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Data yang diperoleh merupakan data kualitatif berupa hasil skrinning fitokimia dan data kuantitatif berupa nilai IC50. Data kuantitatif dari hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan vitamin C sebagai pembanding dan pengujian secara deskriptif Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan terbaik yaitu pada ekstrak rimpang temulawak dengan pelarut etanol 70% dengan nilai IC50 sebesar 2,6045 ppm, sedangkan pada pelarut etanol 95% dengan nilai IC50 sebesar 1,1641 ppm. Sedangkan pada pembanding vitamin C diperoleh nilai IC50 sebesar 0,6413 ppm Ekstrak etanol rimpang temulawak dan vitamin C ketiganya masuk dalam kategori sangat kuat.
BAKTI ADTIYA PURNOMO
2024 · Book · Open Access
Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa kimia seperti golongan fenol, alkaloid, dan saponin. Daun Senggani dapat dimanfaatkan berbagai penyakit, seperti diare, disentri, luka infeksi, sakit gigi, sakit perut, perut kembung, dan sariawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak daun Senggani serta kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bersifat non eksperimental. Penelitian dimulai dari pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dengan etanol 96%. Karakteristik spesifik dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan identitas dengan pengamatan organoleptik pada simplisia berupa potongan tipis, bau khas, hijau, dan rasa pahit serta hasil pengamatan pada ekstrak berupa ekstrak kental, berbau khas, berwarna hijau tua, dan rasa pahit. Kadar senyawa terlarut dalam air untuk ekstrak sebesar 3,3% dan simplisia sebesar 1%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol untuk ekstrak sebesar 98% dan simplisia sebesar 5%. Karakterisasi non spesifik dari simplisia dan ektrak etanol buah labu kuning didapatkan kadar abu total ekstrak sebesar 2,40% dan simplisia sebesar 3,5%, kadar abu tidak larut asam ekstrak sebesar 0,68% dan simplisia sebesar 0,38%. Kadar air esktrak sebesar 17,55% dan simplisia sebesar 4,33%. Bobot jenis ekstrak 0,98 g/mL dan hasil dari total cemaran mikroba pada ekstrak sebanyak 9,840 koloni/g dan simplisia sebesar 3,093,3 koloni/g serta angka kapang khamir pada ekstrak sebesar 20,820 koloni/g dan simplisia sebesar 1,243,3 koloni/g. Pada pengujian skrining fitokimia dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan hasil bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun senggani mengandung metabolit sekunder diantaranya alkaloid, flavonoid, saponin, dan terpenoid.
ANISA UMAIMAH
2024 · Book · Open Access
LISKHOLIDAH CHAIRINA
2024 · Book · Open Access
Daun petai belalang (Archidendron clypearia (Jack.) Nielsen) memiliki senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, steroid dan fenol. Senyawa fenol memiliki lebih dari satu gugus fenol (gugus hidroksi) dalam setiap molekulnya dan memiliki sifat antioksidan yang berkhasiat menghambat radikal bebas, menurunkan resiko kanker, penyakit jantung koroner, stroke, inflamasi dan penyakit neuro degeneratif. Tujuan penelitian ini untuk mengtahui kandungan total senyawa fenol pada ekstrak etanol daun petai belalang. Penelitian ini bersifat non eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia daun petai belalang, pembuatan ekstrak daun dengan metode maserasi dan menggunakan pelarut etanl 70%, uji skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi folin-ciocalteau dan pembanding asam galat. Penetapan kadar fenolik total ditetapkan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi folin-ciocalteau dan asam galat sebagai pembanding. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif. Berdasakan hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder yaitu, alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan fenol. Hasil rendemen ekstrak etanol daun petai belalang didapatkan sebanyak 18,16%. Sedangkan hasil dari penetapan kadar fenolik total ekstrak etanol daun petai belalang sebesar 23,543±1,0720 mg GAE/g yang menandakan dalam setiap ekstrak etanol daun petai belalang setara dengan 23,543 mg asam galat.
EKA HANDAYANI
2024 · Book · Open Access
DEVINDY ARSITA RUSMAWANTI
2024 · Book · Open Access
NURLIA
2024 · Book · Open Access
INDRA SAPUTRA
2024 · Book · Open Access
Biji markisa ungu kaya akan senyawa antioksidan seperti flavonoid, alkaloid, triterpenoid, fenolik, dan vitamin C. Biji buah makisa ungu mengandung flavonoid dan alkaloid yang merupakan salah satu antioksidan kuat yang dapat menangkal radikal bebas. Karakterisasi merupakan suatu proses awalan yang dilakukan untuk mengetahui mutu dari suatu simplisia dan ekstrak. Simplisia maupun ekstrak yang digunakan sebagai bahan baku dan bahan produk langsung harus memenuhi persyaratan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak metanol biji buah markisa ungu (Passiflora edulis Sims var.edulis). Hasil karakterisasi spesifik menunjukkan pada uji makroskopik secara organoleptik simplisia berwarna hitam, rasa sedikit sepat dan berbau khas serta ekstrak berwarna hitam, rasa pahit dan berbau khas. Nilai kadar sari larut dalam air pada simplisia sebesar 14,3% dan ekstrak sebesar 4,3%, larut dalam etanol pada simplisia sebesar 19% dan ekstrak sebesar 32%. Hasil skrining simplisia dan ekstrak menunjukkan hasil positif pada senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid. Hasil karakterisasi nonspesifik menunjukkan susut pengeringan pada simplisia sebesar 8,3%, kadar air ekstrak sebesar 7,1%, kadar abu total simplisia sebesar 5,89% dan ekstrak sebesar 8,5%, kadar abu tidak larut asam simplisia sebesar 0,38% dan ekstrak sebesar 0,43% dan bobot jenis ekstrak sebesar 0,977g/mL. Hasil uji cemaran mikroba simplisia sebesar 153,4 x 10-3 koloni/g dan ekstrak sebesar 486,7 x 10-3 koloni/g, cemaran kapang/khamir simplisia sebesar 140,1 x 10-3 koloni/g dan ekstrak sebesar 100,9 x 10-3 koloni/g
HERMASIA BULAN ULUI
2024 · Book · Open Access
Madu merupakan cairan alami yang memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan memiliki potensi sebagai antioksidan.Madu hutan dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata sedangkan madu budidaya dihasilkan oleh lebah Apis cerana. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada madu hutan dan madu budidaya Kalimantan Utara kabupaten Malinau dengan metode ABTS (2,2-Asinobis 3-ethyl benzothiazoline 6-sulfonic Acid). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah madu hutan dan madu budidaya. Penelitian ini meliputi determinasi hewan, ekstraksi, uji kadar air, skrinning fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode ABTS (2,2-Asinobis 3- ethyl benzothiazoline 6-sulfonic Acid) secara spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding vitamin C. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari skrining fitokimia madu hutan dan madu budidaya dan data kuantitatif disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, analisis data menggunakan independent t-test pada Microsoft Excel. Hasil penelitian skrinning fitokimia yang terdapat pada ekstrak madu hutan dan madu budidaya ialah flavonoid dan tanin. Aktivitas antioksidan pada vitamin C sebesar 0,5968 ppm termasuk kategori sangat kuat. Ekstrak madu hutan didapatkan nilai IC50 sebesar 55,7451 ppm dan pada ekstrak madu budidaya IC50 sebesar 75,5317 ppm dan dapat disimpulkan antioksidan ekstrak madu hutan dan madu budidaya termasuk kategori kuat. Analisis data pada ekstrak madu hutan dan madu budidaya homogen dan normal dan dilanjutkan uji Independent t-test: Two-Sample Assuming Equal Variances didapatkan hasil p-value yaitu 0,1805 (p > 0,05) (tidak ada perbedaan yang signifikan).
ROBIATUL ADAWIAH
2024 · Book · Open Access
Indonesia negara beriklim tropis dengan paparan sinar ultra violet (UV) yang tinggi menyebabkan penuaan dini dan peningkatan risiko kanker kulit. Sangat penting untuk menggunakan tabir surya yang menggunakan bahan protektif sinar matahari, seperti antioksidan, karena sinar matahari, terutama UV-A dan UV-B, memiliki efek merusak pada kulit. Markisa ungu (Passiflora edulis Sims) adalah buah yang dikenal memiliki zat aktif seperti flavonoid dan fenolik yang berfungsi untuk melindungi kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh sinar matahari ultraviolet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengethaui aktivitas antioksidan dan tabir surya ekstrak metanol biji markisa ungu. Tahapan penelitian meliputi deteminasi tumbuhan, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan dengan metode ABTS, uji SPF menggunakan spektrofometer. Hasil skrining menunjukkan ekstrak biji markisa ungu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan memberikan nilai IC50 sebesar 1,1358 ppm, masuk dalam kategori antioksidan sangat kuat. Hasil uji SPF (Sun Protect Factor) menunjukkan nilai SPF 30,81pada konsentrasi 200 ppm, termasuk dalam kategori proteksi ultra.
REQISKA SABILLA MAHARANI
2024 · Book · Open Access
DEWI RAYI DINANTI SUCIPTO
2024 · Book · Open Access
KARTINI
2024 · Book · Open Access
Nama : Kartini Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Evaluasi Medication Error dari Fase Prescribing pada Resep Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja Kota Bangun Pembimbing : 1. apt. Nurul Fatimah, M.Sc. Pembimbing : 2. apt. Heri Wijaya, M.Si., Ph.D. Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarga pasien. Kejadian ini dapat terjadi di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan apotek. Medication error dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan hingga penyerahan obat (dispensing), dan dalam proses penggunaan obat (administration). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi medication error pada fase prescribing pasien hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara prospektif menggunakan 213 resep pasien hipertensi yang masuk di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Medication error yang terjadi pada fase prescribing yaitu tidak ada rute pemakaian 7,04%; tidak ada frekuensi 1,88%; tidak ada paraf dokter 100%; tidak ada nomor rekam medis pasien sebanyak 2,35%; tidak ada usia pasien sebanyak 26,30%; tidak ada berat badan pasien 21,12%. Kejadian Medication error di instalasi farmasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja Kota Bangun yaitu terjadi pada fase prescribing.
ENI AGUSTINA
2024 · Book · Open Access
MARIA MARSELINA INE
2024 · Book · Open Access
MARIA DEINCE SATRIANI BONG J
2024 · Book · Open Access
RAYHAN FAJAR RAHMAT
2024 · Book · Open Access
Keanekaragaman bahan baku minyak atsiri yang ada di Indonesia terdiri atas empat puluh jenis dari sembilan puluh sembilan jenis tanaman atsiri yang ada di dunia. Beberapa jenis minyak atsiri Indonesia yaitu salah satunya adalah kayu putih. Penggunaan minyak atsiri sebagai bahan baku industri seperti pembuatan kosmetik, antiseptik dan obat-obatan. Berkembangnya variasi pemanfaatan kayu putih membuat permintaan kebutuhan minyak kayu putih semakin meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi sediaan lotion minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) dengan variasi konsentrasi minyak kayu putih yang memenuhi syarat fisik. Variabel bebas lotion dengann konsenterasi 0%, 5%, 10%, dan 20%. Uji fisik meliputi evaluasi organoleptis, homogenita, tipe emulsi, pH, viskositas, daya sebar uji freeze-thaw dan serta uji hedonik dari formulasi sediaan lotion minyak kayu putih yang berasal dari daerah Imogiri, Yogyakarta. Hasil penelitian diperoleh hasil evaluasi minyak kayu putih dapat diformulasikan menjadi sediaan pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% karena memenuhi persyaratan uji organoleptis, homogenitas, pH, tipe emulsi, viskositas, daya sebar, dan memenuhi uji stabilitas freeze thaw. Sifat fisik terbaik didapatkan pada formula dengan konsentrasi minyak kayu putih 10% dan juga merupakan yang paling disukai oleh panelis. Sediaan minyak kayu putih memiliki rasa panas saat di oleskan di permukaan kulit, memiliki bau yang enak, mudah di tuangkan, mudah di oleskan di permukaan kulit, terasa lengket di permukaan kulit, memiliki rasa yang lembab, mudah di cuci dengan air, terasa cukup nyaman di gunakan di kulit sebagai.