COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Berdasarkan Variasi Konsentrasi Pelarut Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Gambaran Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong
Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) seringkali disertai dengan penyakit penyerta (komorbiditas) yang menuntut penggunaan terapi polifarmasi dan berpotensi memicu terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien rawat jalan DMT2 di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong periode Juli-Desember 2025. Penelitian observasional deskriptif ini menggunakan metode pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medis pasien. Sebanyak 293 data rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan minor, moderate, dan major. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 229 dari 293 lembar resep (78,16%) berpotensi mengalami interaksi obat, dengan total mencapai 677 kejadian interaksi. Kategori keparahan didominasi oleh interaksi moderate sebanyak 602 kejadian (88,92%), diikuti interaksi minor sebanyak 62 kejadian (9,16%), dan interaksi major sebanyak 13 kejadian (1,92%). Kombinasi pasangan obat yang paling sering memicu interaksi pada kategori moderate adalah metformin dan glimepirid (84 kejadian), pada kategori major didominasi oleh spironolakton dan candesartan (7 kejadian).
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma Caesia Roxb.) DENGAN VARIASI PELARUT MENGGUNAKAN METODE DPPH (2.2-diphenyl-1-picrylhidrazyl)
VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BATANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN METODE DPPH (2,2-Diphenyl- 1- picrylhydrazyl)
OPTIMASI FORMULA STIK TABIR SURYA EKSTRAK DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.)
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA PRODUK PROTOTIPE KAPSUL HARUAN OIL PLUS® MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-Asinobis 3- ethylbenzothiazoline 6-sulfonic Acid)
OPTIMASI FORMULA SEDIAAN KRIM TABIR SURYA DAN UJI SPF EKSTRAK DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa) MENGGUNAKAN ASAM STEARAT DAN TRIETANOLAMIN SEBAGAI EMULGATOR
GAMBARAN INTERAKSI OBAT DALAM RESEP PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARONG TONGKOK
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Kondisi ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan laporan profil kesehatan, jumlah penderita DM menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sehingga memerlukan perhatian serius. Pasien DM umumnya memiliki penyakit penyerta, sehingga sering menerima lebih dari satu jenis obat dalam satu resep. Penggunaan monoterapi maupun terapi kombinasi berpotensi menimbulkan interaksi obat, yaitu kondisi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan saling memengaruhi efek masing-masing. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi interaksi obat pada resep pasien DM. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari resep elektronik di Instalasi Farmasi Puskesmas Barong Tongkok. Analisis dilakukan menggunakan Drugs.com dan Microsoft Excel secara sistematis untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 174 resep pasien, sebanyak 132 pasien (75,9%) memiliki potensi interaksi obat, sementara 42 pasien (24,1%) tidak menunjukkan potensi interaksi. Total kejadian interaksi obat tercatat sebanyak 228 kejadian, dengan tingkat keparahan terbanyak adalah kategori moderat sebanyak 183 kejadian (80,3%), diikuti kategori minor sebanyak 37 kejadian (16,2%), dan kategori mayor sebanyak 8 kejadian (3,5%). Pasangan obat yang paling banyak berinteraksi adalah glimepirid dengan metformin, sementara interaksi mayor ditemukan pada kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Temuan ini mengindikasikan tingginya beban farmakoterapi dan risiko polifarmasi pada pasien DM di Puskesmas Barong Tongkok, sehingga diperlukan pemantauan klinis yang ketat serta peran aktif apoteker dalam melakukan skrining, evaluasi, dan monitoring terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi pasien
OPTIMASI FORMULA SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.) DENGAN MENGKOMBINASIKAN CERA ALBA DAN VASELINE SEBAGAI BASIS
Bibir rentan mengalami kekeringan dan kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet (UV) karena memiliki lapisan stratum corneum yang tipis dan tidak memiliki kelenjar keringat. Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan adalah penggunaan lip balm yang mengandung bahan aktif tabir surya. Daun kratom (Mitragyna speciosa (Korth.) Havil.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan dan fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula optimum lip balm ekstrak etanol 70% daun kratom melalui variasi konsentrasi cera alba dan vaseline album, serta mengevaluasi karakteristik fisik dan aktivitas tabir suryanya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Ekstrak daun kratom diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Karakterisasi bahan dilakukan melalui uji susut pengeringan, kadar air, dan skrining fitokimia. Hasil karakterisasi menunjukkan nilai susut pengeringan simplisia sebesar 8,67% dan kadar air ekstrak sebesar 14,86%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid, serta negatif terhadap terpenoid. Ekstrak kemudian diformulasikan menjadi sediaan lip balm dengan variasi konsentrasi cera alba dan vaseline album sebagai basis. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode factorial design dengan bantuan perangkat lunak Design-Expert. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat. Aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290–320 nm menggunakan metode Mansur untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF).
Optimasi Formula Masker Gel Peel-Off Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L.) Menggunakan Kombinasi PVA dan HPMC dengan Metode Design Factorial
Penggunaan bahan alam dalam produk kosmetik semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu bahan alam yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif kosmetik adalah daun senduduk (Melastoma malabathricum L.). Masker gel peel-off merupakan sediaan perawatan kulit berbentuk gel yang setelah diaplikasikan pada kulit akan mengering dan membentuk lapisan film tipis, transparan, elastis, serta mudah dikelupas. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan formula masker gel peel-off yang mengandung ekstrak daun senduduk dengan variasi kombinasi Polyvinyl Alcohol (PVA) dan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) guna memperoleh sediaan dengan karakteristik fisik yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan optimasi formula menggunakan metode Design Factorial. Hasil penelitian ini diperoleh data sifat fisik sediaan yang dianalisis menggunakan aplikasi Design Expert® versi 13. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan komposisi optimum PVA dengan konsentrasi 15% dan HPMC dengan konsentrasi 2%, keduanya mampu mempengaruhi karakteristik pada sediaan masker gel peel-off ekstrak daun senduduk. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS menunjukkan bahwa masker gel peel-off ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) memiliki nilai IC₅₀ sebesar 11,5010 ppm, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 0,5017 ppm. Berdasarkan klasifikasi aktivitas antioksidan, kedua sampel termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IC₅₀ kurang dari 50 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sediaan tetap mampu mempertahankan aktivitas antioksidan yang sangat kuat setelah proses formulasi, sehingga berpotensi digunakan sebagai produk perawatan kulit untuk membantu menangkal radikal bebas.
Optimasi Formula Sediaan Krim Tabir Surya Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Paparan radiasi sinar ultraviolet (UV) yang tinggi di wilayah tropis seperti Indonesia dapat menyebabkan berbagai gangguan kulit, seperti eritema, hiperpigmentasi, penuaan dini, hingga kanker kulit. Penggunaan tabir surya merupakan salah satu upaya efektif untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV. Kulit bawang merah (Allium ascalonicum L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan metabolit sekunder lainnya yang berpotensi sebagai bahan aktif tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi formula krim tabir surya ekstrak etanol kulit bawang merah menggunakan variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol serta menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) sediaan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi krim tabir surya. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode factorial design dengan bantuan perangkat lunak Design Expert 13. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat, sedangkan aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak memiliki rendemen sebesar 7,56%, kadar air 16,9%, serta mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid. Variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol berpengaruh terhadap karakteristik fisik krim, dengan asam stearat memberikan pengaruh paling dominan terhadap pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Formula optimum yang direkomendasikan Design Expert mengandung 14,196% asam stearat dan 5,0995% setil alkohol, dengan karakteristik pH 7,65, viskositas 17.392 cP, daya sebar 5,70 cm, dan daya lekat 3,87 detik. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata nilai SPF sebesar 28,60, yang termasuk kategori Ultra Protection, sehingga krim ekstrak etanol kulit bawang merah berpotensi dikembangkan sebagai sediaan tabir surya alami dengan kemampuan proteksi yang sangat baik terhadap radiasi UVB.
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BARONG TONGKOK KUTAI BARAT
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh rasionalitas penggunaan obat antihipertensi, Sehingga diperlukan evaluasi terhadap ketepatan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi, pola penggunaan obat antihipertensi, serta mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat berdasarkan ketepatan pasien, ketepatan indikasi, ketepatan obat, dan ketepatan dosis pada pasien hipertensi di Puskesmas Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Januari–Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 376 data resep yang memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, mengoptimalkan keberhasilan terapi, serta mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi melalui penggunaan obat yang tepat dan sesuai pedoman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh perempuan sebanyak 239 pasien (63,56%) dan kelompok usia 61–70 tahun sebanyak 130 pasien (34,57%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan adalah diabetes melitus sebanyak 104 pasien (71,72%). Sebagian besar pasien telah mencapai target tekanan darah sistolik, yaitu sebanyak 304 pasien (80,85%), sedangkan 72 pasien (19,15%) belum mencapai target pengendalian tekanan darah. Pola penggunaan antihipertensi didominasi oleh terapi monoterapi golongan Calcium Channel Blocker menggunakan amlodipin sebanyak 311 pasien (82,71%), sedangkan terapi kombinasi amlodipin–kaptopril diberikan pada 65 pasien (17,29%). Hasil evaluasi rasionalitas menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi telah memenuhi kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis sesuai pedoman terapi yang digunakan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Barong Tongkok telah memenuhi prinsip penggunaan obat secara rasional sesuai pedoman terapi, meskipun masih terdapat pasien yang belum mencapai target tekanan darah sehingga diperlukan pemantauan terapi, peningkatan kepatuhan minum obat.
GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PASIEN HIPERTENSI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD AJI MUHAMMAD PARIKESIT TENGGARONG
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.
Hubungan Persepsi Penyakit Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat Antidiabetes Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Segiri
Uji Aktivitas Antioksidan Produk Prototipe Kapsul Haruan-Soybean Menggunakan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT
Rinosinusitis kronik merupakan inflamasi persisten pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung selama 12 minggu atau lebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik di RSUD Panglima Sebaya Tanah Grogot menggunakan instrumen Sino Nasal Outcome Test-22 (SNOT-22). Metode penelitian adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara prospektif selama bulan April-Mei 2026 di Poliklinik THT-KL RSUD Panglima Sebaya dengan jumlah sampel sebanyak 71 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Data dianalisis secara univariat menggunakan software dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, persentase, dan rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada kelompok usia dewasa awal (26-35 tahun) sebanyak 24 orang (34%) dan didominasi pasien perempuan sebanyak 44 orang (62%). Seluruh responden (100%) memperoleh kategori kualitas hidup buruk berdasarkan penilaian SNOT-22 dengan skor dalam rentang 51-110. Berdasarkan nilai rata-rata setiap gejala, domain gejala hidung mencatat beban tertinggi dengan hidung tersumbat sebagai gejala paling dominan (4,38), diikuti produksi cairan hidung bagian belakang (4,20), cairan hidung kental (4,10), hidung berair (4,07), bersin-bersin (3,82), berkurangnya indera penghidu atau pengecap (3,76), dan perlu menghembuskan hidung (3,44). Pada domain gejala wajah dan telinga, nyeri atau tekanan pada wajah memiliki nilai tertinggi (4,21), diikuti pusing (3,97), rasa penuh pada telinga (3,56), dan nyeri telinga (3,35). Pada domain gangguan tidur, kurang tidur malam berkualitas memiliki nilai tertinggi (3,08), diikuti sulit memulai tidur (2,90), terbangun malam hari (2,62), dan terbangun lelah (2,15). Pada domain aspek psikologis, penurunan produktivitas memiliki nilai tertinggi (3,15), diikuti frustrasi atau mudah marah (3,01), kelelahan sepanjang hari (2,79), penurunan konsentrasi (2,76), sedih (2,14), dan malu (1,86). Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik tergolong dalam kategori buruk dengan domain gejala hidung dan wajah memberikan beban paling dominan, sedangkan domain gangguan tidur dan aspek psikologis berkontribusi lebih rendah namun tetap memperburuk kualitas hidup secara keseluruhan.
Tingkat Kepatuhan Pasiean Diabetes Mellitus Terhadap Penggunaan Obat Antidiabetik Di Rumah Sakit Dirgahayu
Analisis Gambaran Interaksi Obat Pada Resep di Apotek Media Farma Samarinda
Interaksi obat merupakan salah satu dari delapan kategori Drug Related Problems (DRPs) yang paling sering dilaporkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Polifarmasi menjadi faktor risiko utama terjadinya interaksi obat, dengan prevalensi global mencapai 37%. Apotek Media Farma Samarinda melayani sekitar 9.000 resep dari 12.000 kunjungan pasien setiap bulan, sehingga berpotensi meningkatkan kejadian interaksi obat yang signifikan secara klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran interaksi obat berdasarkan pasangan obat, frekuensi kejadian, dan derajat keparahan pada resep yang diterima di Apotek. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap resep periode Oktober 2025. Sampel penelitian berjumlah 620 resep yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Software DrugBank dan dianalisis secara deskriptif menggunakan Software Microsoft Excel. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 523 resep (84,35%) berpotensi mengalami interaksi obat dengan total 1.704 kejadian interaksi. Berdasarkan derajat keparahan, interaksi moderat merupakan kategori yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 1.293 kejadian (75,88%), diikuti interaksi minor sebanyak 301 kejadian (17,67%), dan interaksi major sebanyak 110 kejadian (6,46%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi pada kategori minor adalah acetaminophen dan albuterol (8,30%), kategori moderat adalah dexamethasone dan acetaminophen (7,27%), dan kategori major adalah chlorpheniramine dan domperidone (22,73%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa potensi interaksi obat ditemukan pada sebagian besar resep di Apotek Media Farma Samarinda, dengan derajat keparahan terbanyak adalah moderat, sehingga optimalisasi sistem skrining resep dan pemantauan penggunaan obat dapat dipertimbangkan untuk menjamin keselamatan pasien di apotek.