COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Dengan Variasi Pelarut Menggunakan Microplate reader
EVALUASI KINERJA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN FARMASI DI RSUD INCHE ABDOEL MOEIS SAMARINDA DENGAN METODE HUMAN ORGANIZATION TECHNOLOGY FIT (HOT-FIT) MODEL
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAKN-HEKSAN KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)
Pengaruh Metode Ekstraksi Maserasi dan Digesti Ekstrak Etanol Daun Sirih Hutan (Piper aduncum L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus
Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis-(3-etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat) DENGAN VARIASI PELARUT
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.
UJI TOKSISITAS AKUT PRODUK PROTOTIPE KAPSUL HARUAN SOYBEAN TERHADAP ARTEMIA SALINA MENGGUNAKAN METODE BSLT (Brine shrimp lethality test)
EVALUASI PENYIMPANAN OBAT DI INSTALASI FARMASI UPTD PUSKESMAS KARANG JATI BALIKPAPAN
Penyimpanan obat merupakan tahapan krusial dari sistem pengelolaan sediaan farmasi yang berisiko tinggi, dan berpengaruh langsung terhadap ketersediaan, keterjangkauan, stabilitas, serta mutu obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem penyimpanan obat di UPTD Puskesmas Karang Jati Balikpapan berdasarkan Permenkes RI No.74 Tahun 2016. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis retrospektif dan prospektif terhadap data periode Januari hingga Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kualitatif meliputi stabilitas, keamanan, sanitasi, pencahayaan, kelembaban, dan ventilasi telah sesuai standar. Indikator kuantitatif memperlihatkan kesesuaian jumlah item obat dengan kartu stok sebesar 100%, nilai Inventory Turn Over Ratio (ITOR) sebesar 9 kali per tahun (sesuai standar 8–12 kali), serta persentase obat kedaluwarsa hanya 0,23% (memenuhi standar 1%). Namun, persentase stok mati sebesar 24,7% belum sesuai dengan standar ideal (0%).
Evaluasi Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Kualitas Pelayanan Kefarmasian di Apotek Wilayah Sanga-Sanga Kutai Kartanegara
Pelayanan kefarmasian yang berkualitas memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah dengan fasilitas terbatas seperti Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di dua apotek wilayah Sanga-Sanga pada periode Februari–Maret 2026. Kepuasan diukur menggunakan model SERVQUAL yang meliputi lima dimensi: reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangible (bukti fisik). Metode penelitian bersifat kuantitatif deskriptif non-eksperimental dengan teknik accidental sampling, jumlah sampel sebanyak 350 pasien yang menerima layanan kefarmasian. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi menampilkan nilai GAP negatif, yang mengindikasikan adanya selisih antara harapan pasien dan kenyataan layanan di apotek. Pada Apotek A, rata-rata skor kenyataan adalah 84,55 dan harapan 98,46 sehingga GAP total −13,90. Sedangkan pada Apotek B, skor kenyataan 82,95 dan harapan 97,43 sehingga GAP total −14,48. Dimensi dengan GAP terbesar pada Apotek A adalah tangible (−15,86), menunjukkan kebutuhan peningkatan fasilitas fisik dan penampilan layanan. Pada Apotek B dimensi terbesar adalah responsiveness (−15,45), menandakan perlunya peningkatan kecepatan dan ketanggapan staf dalam melayani pasien. Berdasarkan penilaian pasien tingkat pelayanan kefarmasian kedua apotek masih dikategorikan baik. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pelayanan kefarmasian di wilayah Sanga-Sanga belum sepenuhnya memenuhi harapan pasien sehingga diperlukan perbaikan, khususnya pada dimensi yang memiliki GAP terbesar. Penelitian diharapkan menjadi acuan evaluasi bagi apotek setempat, referensi akademik bagi mahasiswa farmasi, serta dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam upaya peningkatan dan pemerataan layanan kesehatan di daerah terpencil.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA TELANG (Clitorea ternatea L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 DAN Escherichia coli ATCC 0195 DENGAN METODE DIFUSI CAKRAM
Uji Aktivitas Penghambat Tirosinase Pada Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Dengan Variasi Konsentrasi Pelarut
Uji Toksisitas Akut Produk Prototipe Haruan Soybean Pada Mencit Putih (Mus Musculus) Berdasarkan Organization For Economic Co-Operation And Develompment (OECD)
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak N-Heksan Kulit Buah Tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
Antioksidan merupakan senyawa yang dikenal karena kemampuannya untuk menetralisir radikal bebas dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Antioksidan dapat bersumber dari tanaman seperti Baccaurea pyriformis Gage. Buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) merupakan salah satu tanaman lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui antioksidan dari ekstrak n-heksan kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan menggunakan vitamin C sebagai pembanding. Metode penelitian diawali dengan proses ekstraksi maserasi dengan pelarut n-heksan. Ekstrak yang diperoleh diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH dan dilakukan skrining fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya. Hasil penelitian dari indentifikasi fitokimia ekstrak n-heksan kulit buah tampoi mengandung senyawa steroid dan triterpenoid. Nilai aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan kulit buah tampoi dengan nilai IC50 sebesar 3742,66 ppm dalam kategori sangat lemah, sedangkan vitamin C memiliki IC50 sebesar 5,38 ppm dengan kategori sangat kuat. Jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan kulit buah tampoi lebih rendah dibandingkan dengan vitamin C, namun masih berpotensi sebagai antioksidan.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Kulit Buah Tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan untuk pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) berdasarkan nilai IC₅₀. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan metode DPPH dengan prinsip pengukuran penurunan absorbansi radikal bebas. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan vitamin C sebagai pembanding. Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam persentase penghambatan terhadap radikal bebas DPPH dan selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai IC₅₀ sebagai parameter aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai IC₅₀ ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu 13,5849 ppm dan rata-rata nilai IC₅₀ vitamin C sebagai pembanding yaitu 8,4020 ppm. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi dan vitamin C sangat kuat. Hal ini diperkuat dengan uji analisis statistik menggunakan independent sample t-test yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara dua kelompok tersebut.
ANALISIS IN SILICO SENYAWA DARI MINYAK KEDELAI (Glycine Max) TERHADAP RESEPTOR GHSR SEBAGAI KANDIDAT ANTI STUNTING
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) TERHADAP BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Pseudomonas aeruginosa
Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen penyebab infeksi kulit. Penggunaan antibiotik jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi, sehingga bahan alam digunakan sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) terhadap kedua bakteri dengan metode difusi sumuran. Tahapan penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi maserasi etanol 70%, skrining fitokimia, serta uji antibakteri pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20%. Siprofloksasin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes menghasilkan zona hambat 6,1 mm; 8,48 mm; dan 10,76 mm (kategori sedang–kuat), sedangkan terhadap Pseudomonas aeruginosa sebesar 4,96 mm; 6,56 mm; dan 8,13 mm (kategori lemah–sedang). Analisis One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar konsentrasi (p=0,000), dan uji Independent Sample Test menunjukkan perbedaan signifikan antar kedua bakteri (p=0,039; p=0,041). Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat terhadap Cutibacterium acnes dibandingkan Pseudomonas aeruginosa, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami.
Analisis Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda.
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit merupakan bagian penting dalam menjamin mutu penggunaan obat, keselamatan pasien, dan keberhasilan terapi. Evaluasi kepuasan pasien diperlukan sebagai salah satu indikator mutu pelayanan kefarmasian sesuai Standar Pelayanan Kefarmasian berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda menggunakan metode Importance- Performance Analysis (IPA). Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 404 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan metode IPA untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan pelayanan yang diterima pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian keseluruhan pelayanan kefarmasian sebesar 89,12% dan termasuk kategori memuaskan. Dimensi assurance memperoleh tingkat kesesuaian tertinggi, sedangkan dimensi tangible memperoleh tingkat kesesuaian terendah. Hasil analisis IPA menunjukkan bahwa kecepatan waktu tunggu pelayanan obat dan sistem antrean masih menjadi prioritas utama perbaikan. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda secara umum telah berjalan baik dan memuaskan, namun optimalisasi kecepatan pelayanan dan pengelolaan antrean masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien.
ANALISIS IN SILICO SENYAWA DARI MINYAK IKAN HARUAN (Channa striata) TERHADAP RESEPTOR PPAR-γ SEBAGAI KANDIDAT ANTISTUNTING
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea Pyriformis Gage) TERHADAP Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa MENGGUNAKAN METODE SUMURAN
Resistensi antibiotik menjadi permasalahan kesehatan yang mendorong pencarian sumber antibakteri alternatif dari bahan alam. Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) dipilih dalam penelitian ini karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri serta belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat kulit buah tampoi terhadap Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Penelitian ini diawali dengan pembuatan simplisia, ekstraksi secara maserasi bertingkat menggunakan n-heksana dan etil asetat, penentuan rendemen, kadar air, serta skrining fitokimia. Uji aktivitas antibakteri dilakukan pada variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 20% dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat kulit buah tampoi memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji. Pada Cutibacterium acnes, rata-rata zona hambat berturut-turut sebesar 0,78 mm; 4,53 mm; dan 9,06 mm, sedangkan pada Pseudomonas aeruginosa sebesar 2,13 mm; 4,91 mm; dan 7,01 mm. Aktivitas antibakteri meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak dan tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Hasil analisis statistik menggunakan uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar konsentrasi (p 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etil asetat kulit buah tampoi memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, meskipun aktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif ciprofloxacin.
Analisis waktu tunggu resep obat racik dan non racik di instalasi farmasi puskesmas juanda
Waktu tunggu pelayanan resep merupakan indikator mutu pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan menganalisis rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat racik dan non racik, kesesuaiannya dengan standar pelayanan minimal, serta tahapan alur pelayanan yang berkontribusi terhadap lamanya waktu tunggu di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap pelayanan resep pasien rawat jalan menggunakan teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi serta dibandingkan dengan standar pelayanan yang berlaku. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar evaluasi dan peningkatan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas Juanda.