BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri Escherichia coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian ekspekrimental. Daun matoa diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise Comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Dengan demikian, variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri Escherichia coli, dan pelarut etanol 95% memberikan aktivitas antibakteri yang paling tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri E.coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Daun matoa diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Hasil uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok ekstrak etanol 50% dengan konsentrasi 20% dan kelompok ekstrak etanol 95% dengan konsentrasi 30% dengan nilai Adjusted Significance sebesar 0,048 (p0,05). Sehingga variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri E.coli dan ekstrak yang diperoleh menggunakan pelarut etanol 95% menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E.coli.