ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kadar senyawa aktif dan aktivitas farmakologi tanaman dapat dipengaruhi oleh umur tanaman atau bagian tanaman yang digunakan. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan daun muda dan tua. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, penetapan kadar flavonoid total menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun matoa mengandung metabolit sekunder berupa Flavonoid, Saponin, Tanin, Steroid. Berdasarkan hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak daun matoa tua dengan rata-rata kadar flavonoid lebih tinggi yaitu sebesar 25,237 ± 0,898 mgQE/g dibandingkan dengan ekstrak daun matoa muda 19,821 ± 0,357 mgQE/g, dan Aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa tua lebih tinggi dengan nilai IC50 14,65 ppm dan daun muda dengan rata-rata 15,09 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung berbagai senyawa fitokimia flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan steroid. Senyawa fenolik meliputi kuinon fenolik, flavonoid, fenil propanoid, fenol monosiklik, polifenol, dan kuinon fenolik. Senyawa fenolik merupakan jenis senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat astringen, antidiare, antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar fenolik total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun matoa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, penetapan kadar air, uji skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total dengan pereaksi folin-ciocalteu dengan pembanding asam galat dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan pembanding vitamin C. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol daun matoa terdapat metabolit sekunder yaitu fenolik, flavonoid, dan steroid. Rendemen ekstrak etanol daun matoa yang diperoleh sebesar 22,30%. Hasil perhitungan dari penetapan kadar fenolik total ekstrak etanol daun matoa sebesar 260,3177± 0,5388 mg GAE/g yang berarti dalam setiap ekstrak etanol daun matoa setara dengan 260,3177 mg asam galat. Hasil perhitungan dari aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa diperoleh IC50 sebesar 13,40 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nama : Dita Julidia Gustia Nisyah Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Pembimbing : 1. Risa Supriningrum, S.Si., M.M. 2. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. Konsentrasi pelarut yang digunankan pada proses ekstraksi dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif suatu ekstrak. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi daun matoa secara maserasi dengan variasi konsentrasi pelarut etanol (50%, 70%, dan 95%), penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Data dianalisis dengan uji normalitas dan uji homogenitas, dilanjutkan sengan uji ANOVA dan LSD (Least Significant Difference). Hasil penetapan susut pengeringan simplisia daun matoa sebesar 9,6333%. Hasil rendemen ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa adalah sebesar 27,2245%; 29,8055%; 21,9760% dan kadar air sebesar 25,4866%; 19,11%; 19,83%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun matoa menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa memperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 10,1600; 8,8992 dan 17,1354 ppm serta vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,6866 ppm, sehinga ketiga ekstrak etanol daun matoa termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun matoa memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol 50% dna 95% daun matoa. Hasil uji normalitas dan homogenitas terdistribusi normal dan homogen. Hasil uji ANOVA dan LSD menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar ekstrak etanol daun matoa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri E.coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Daun matoa diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Hasil uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok ekstrak etanol 50% dengan konsentrasi 20% dan kelompok ekstrak etanol 95% dengan konsentrasi 30% dengan nilai Adjusted Significance sebesar 0,048 (p0,05). Sehingga variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri E.coli dan ekstrak yang diperoleh menggunakan pelarut etanol 95% menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E.coli.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi oleh bakteri paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (S.aureus) dan Escherichia coli (E.coli). Terapi pengobatan yang digunakan selama ini adalah dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibakteri yang terus menerus dapat berakibat pada resistensi antibakteri, sehingga perlu dilakukan eksplorasi terhadap bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa terhadap pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus. Tahapan penelitian meliputi penetapan kadar air, uji skrining fitokimia, dan uji antibakteri E.coli dan S.aureus menggunakan metode difusi cakram. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol 0,1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun matoa mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil penelitian uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun matoa mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi yang digunakan. Pada bakteri E.coli, rata-rata diameter zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30% berturut-turut sebesar 6,45 mm; 6,72 mm; 6,98 mm; 8,98 mm dan 9,60 mm, yang seluruhnya termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan pada bakteri S.aureus, rata-rata diameter zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi yang sama berturut-turut sebesar 12,30 mm; 14,51 mm; 14,83 mm; 15,48 mm dan 16,62 mm, yang seluruhnya termasuk dalam kategori kuat. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar variasi konsentrasi terhadap diameter zona hambat bakteri E.coli dan S.aureus. dengan nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05. Ekstrak etanol daun matoa lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri gram positif S.aureus dibandingkan E.coli. Perbedaan efektivitas tersebut berkaitan dengan struktur dinding sel, di mana bakteri gram negatif memiliki lapisan luar berupa lipopolisakarida dan protein yang lebih kompleks, sedangkan bakteri gram positif hanya tersusun atas satu lapisan peptidoglikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia termasuk negara yang memiliki kasus kematian akibat resistensi antibiotik yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) berpotensi sebagai senyawa antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Perbedaan umur daun dapat mempengaruhi kadar metabolit tersebut dan aktivitas antibakterinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa tua dan muda terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 33591. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengujian kadar air ekstrak, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan kadar air ekstrak daun muda matoa sebesar 5,45% dan ekstrak daun tua sebesar 7,80% termasuk dalam kategori ekstrak kental. Ekstrak daun muda matoa memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 11,37 mm sedangkan ekstrak daun tua memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 12,19 mm. Terdapat perbedaan rata-rata zona hambat antara ekstrak daun tua dan muda matoa, yang menunjukkan daun tua memiliki zona hambat lebih besar dibandingkan daun muda, meskipun secara statistik hasil uji menunjukkan nilai sig 0,126 > 0,05 yang menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan antara zona hambat kelompok ekstrak daun muda dan daun tua matoa.