Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Penulis: Sukmawati
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK EKSTRAK BIJI ALPUKAT (Persea Americana Mill) BERDASARKAN PERBEDAAN CARA PENGERINGAN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ekstrak etanol biji alpukat mengandung alkaloid, saponin, karbohidrat, asam amino, glikosida, terpenoid, fenol, flavonoid dan kumarin glikosida. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar diperoleh ekstrak biji alpukat dengan kadar senyawa fenolik yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar fenolik ekstrak etanol biji alpukat berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan , pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60℃, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dinalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat metode pengeringan matahari dan oven positif mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid. Hasil penelitian diperoleh kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan matahari langsung sebesar 194,8769 ±0,3795 mg GAE/g dan kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan oven suhu 60℃ sebesar 56,1492 ±0,3957 mg GAE/g. Analisis data kadar fenolik menggunakan uji Independent T-Test dengan p0,05 dan didapatkan Sig. (2-tailed) adalah 0,000 maka H1 diterima yaitu, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode pengeringan.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) TERHADAP BAKTERI Staphylococus aureus

2026•Koleksi Perpustakaan

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang berasal dari bahan alam, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji dan membandingkan dua artikel penelitian yang membahas efektivitas ekstrak jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan konsentrasi ekstrak, metode pengujian, dan diameter zona hambat yang dihasilkan pada masing-masing penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah memiliki aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Berdasarkan hasil analisis kedua artikel, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jahe merah berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE MERAH (ZINGIBER OFFICINALE VAR. RUBRUM) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang berasal dari bahan alam, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji dan membandingkan dua artikel penelitian yang membahas efektivitas ekstrak jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan konsentrasi ekstrak, metode pengujian, dan diameter zona hambat yang dihasilkan pada masing-masing penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah memiliki aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Berdasarkan hasil analisis kedua artikel, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jahe merah berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK EKSTRAK BIJI ALPUKAT (Persea Americana Mill) BERDASARKAN PERBEDAAN CARA PENGERINGAN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2023•Koleksi Perpustakaan

Biji alpukat masih jarang dimanfaatkan baik bagi kesehatan maupun untuk manfaat lain. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa fenolik adalah alpukat. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar diperoleh ekstrak biji buah alpukat dengan kadar senyawa fenolik yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar fenolik ekstrak etanol biji buah alpukat berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60℃, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dinalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data statistik menggunakan uji T-Test Paired Samples. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji buah alpukat metode pengeringan matahari dan oven positif mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid. Rendemen ekstrak metode pengeringan matahari sebesar 17,49% dan metode pengeringan oven sebesar 10,80%. Kadar air ekstrak metode pengeringan matahari sebesar 17% dan kadar air metode pengeringan oven sebesar 15,5%. Hasil penelitian diperoleh kadar total fenolik ekstrak biji buah alpukat menggunakan metode pengeringan matahari langsung sebesar 194,8769 ±0,3795 mg GAE/g dan kadar total fenolik ekstrak biji buah alpukat menggunakan metode pengeringan oven suhu 60℃ sebesar 56,1492 ±0,3957 mg GAE/g. Analisis data kadar fenolik menggunakan uji Independent T-Test dengan p0,05 dan didapatkan Sig. (2-tailed) adalah 0,000 maka H1 diterima yaitu, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode pengeringan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan cara pengeringan memberikan hasil yang berbeda terhadap kadar fenolik.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Tumbuhan Obat dan Pangan Lokal Masyarakat Desa Kambuno – Bulukumba

2023•Koleksi Perpustakaan

Buku “Tanaman Obat dan Pangan Lokal Masyarakat Desa Kambuno – Bulukumba” ini merupakan hasil riset keilmuan LPDP yang dilakukan di Desa Kambuno, dengan Skema Hibah Riset Desa dengan judul ADOPSI TEKNOLOGI SEED BANK DI DESA KAMBUNO, KABUPATEN BULUKUMBA UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DAN KETAHANAN PANGAN AKIBAT COVID-19 dengan Ketua Peneliti Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng SP., MP., berkolaborasi dengan pihak antara lain Fakultas Kehutanan Unhas, Fakultas Farmasi Unhas, Fakultas Pertanian Unismuh Pare-Pare dan SRP Payo-Payo sebagai mitra. Buku ini bertujuan untuk menjadi sumber informasi bagi masyarakat desa, hingga pendatang di desa, sehingga masyarakat dapat mengetahui potensi tanaman obat dan pangan yang ada di Desa Kambuno. Hasil observasi yang dilakukan oleh tim riset keilmuan LPDP menunjukkan bahwa Kambuno memiliki potensi besar untuk menjadi sumber tanaman obat tradisional maupun pangan di masa yang akan datang. Buku ini juga menyediakan informasi tentang manfaat dan cara pengolahan dari setiap tanaman yang tercatat memiliki potensi sebagai tanaman obat dan pangan. Buku ini disusun dalam kurun waktu singkat dan tentu saja memiliki banyak kekurangan, sehingga kami mengharapkan saran dan kritik pembaca agar lebih baik lagi dalam penyusunan buku.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Farmasetika Dasar

2022•Koleksi Perpustakaan

Buku ini disusun untuk memberikan pemahaman tentang resep dokter dan bahasa Latin yang digunakan dalam peresepan serta berbagai bentuk sediaan farmasi secara konseptual. Dengan pemaparan materi perkuliahan dalam buku ajar ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dasar-dasar evaluasi resep dokter, evaluasi dosis obat, pengenalan berbagai bentuk sediaan farmasi, serta pembuatan sediaan farmasi. Materi perkuliahan dalam buku ini meliputi: Ketentuan umum dalam farmakope Indonesia, resep, dosis, pulpis dan pulveres, kapsul, pil, tablet, salep, suppositoria, larutan, emulsi, suspensi, dan sediaan galenik. Buku ini penting untuk dibaca oleh mahasiswa farmasi, para praktisi, dan apoteker.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail