UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROTOTIPE HARUAN SOYBEAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis 3-ethylbenzothiazoline)-6-Sulfonic Acid)
Produk prototipe Haruan Soybean merupakan sediaan kapsul lunak yang dikembangkan dari kombinasi minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max L.) yang memiliki potensi kandungan senyawa bioaktif. Potensi komponen bioaktif dari kedua bahan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada produk prototipe Haruan Soybean. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan produk prototipe Haruan Soybean berdasarkan nilai persen inhibisi menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode ABTS dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 733 nm. Vitamin C 100 ppm digunakan sebagai kontrol positif. Data dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk serta Independent Sample T-Test menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk prototipe Haruan Soybean memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 32,61% ± 0,68, sedangkan vitamin C memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 7,40 % ± 0,30. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persen inhibisi produk prototipe Haruan Soybean dan vitamin C. Berdasarkan hasil tersebut, produk prototipe Haruan Soybean menunjukkan adanya aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuannya meredam radikal ABTS. Pada kondisi dan konsentrasi pengujian yang digunakan, Haruan Soybean menunjukkan nilai persen inhibisi lebih tinggi dibandingkan vitamin C. Namun, hasil tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa aktivitas antioksidan Haruan Soybean secara umum lebih kuat daripada vitamin C karena aktivitas antioksidan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, komposisi senyawa, metode, dan kondisi pengujian. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan identifikasi dan kuantifikasi senyawa bioaktif menggunakan GC-MS atau LC-MS serta menentukan nilai IC50 untuk memperoleh gambaran aktivitas antioksidan yang lebih komprehensif.