Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

12 hasil
Subjek: ABTS
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa (Korth.) Havil) DENGAN METODE ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzatiazolin-6-sulfonat)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas adalah atom atau molekul dengan elektron tidak berpasangan yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif, sehingga dapat merusak sel-sel tubuh dengan menyerang makromolekul seperti lipid, asam nukleat, dan protein. Kerusakan ini dapat dicegah oleh senyawa antioksidan, yang mampu menghambat atau mencegah proses oksidasi. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam berbagai tanaman, salah satunya adalah daun kratom yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzoatiazolin-6-sulfonat). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kratom, serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol air terhadap ekstrak etanol daun kratom, setelah itu dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi daun kratom. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun kratom diperoleh nilai IC50 2,7101 ppm, fraksi n-heksan nilai IC50 16,4710 ppm, fraksi etil asetat IC50 4,4733 ppm, dan fraksi etanol air nilai IC50 6,1873 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara sampel lainnya karena nilai IC50 ekstrak etanol yang paling rendah dibanding fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, fraksi etanol air.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Efektivitas Antioksidan Terhadap Ekstrak Daun Bakau Hitam (Rhizophora muncronata Poir) menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-Ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic Acid)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakau hitam merupakan salah satu jenis tanaman bakau yang tersebar luas di Kawasan Samudra Hindia dan Pasifik, salah satu spesies mangrove yang umum ditemukan di sepanjang pesisir wilayah Semenanjung Malaya. Masyarakat pesisir banyak memanfaatkan bahan mentahnya untuk pengobatan tradisional dengan khasiat berbagai penyakit, termasuk diare, malaria, cacar, asma, diabetes, demam, pembengkakan, rematik, penyakit kulit, hepatitis, diuretik, kusta, antitumor, leukemia, antikanker, antivirus, gondok, sebagai obat pelangsing, antimuntah, dan beri-beri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas antioksidan dari ekstrak daun bakau hitam (Rhizophora mucronata Poir) menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Daun bakau hitam diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid yang berperan sebagai antioksidan alami. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dan aktivitas diukur berdasarkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun bakau hitam memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 10,97 ± 3,19 ppm, mendekati efektivitas vitamin C sebagai pembanding. Dengan demikian, daun bakau hitam berpotensi sebagai sumber antioksidan alami.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROTOTIPE HARUAN SOYBEAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis 3-ethylbenzothiazoline)-6-Sulfonic Acid)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Produk prototipe Haruan Soybean merupakan sediaan kapsul lunak yang dikembangkan dari kombinasi minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max L.) yang memiliki potensi kandungan senyawa bioaktif. Potensi komponen bioaktif dari kedua bahan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada produk prototipe Haruan Soybean. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan produk prototipe Haruan Soybean berdasarkan nilai persen inhibisi menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode ABTS dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 733 nm. Vitamin C 100 ppm digunakan sebagai kontrol positif. Data dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk serta Independent Sample T-Test menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk prototipe Haruan Soybean memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 32,61% ± 0,68, sedangkan vitamin C memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 7,40 % ± 0,30. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persen inhibisi produk prototipe Haruan Soybean dan vitamin C. Berdasarkan hasil tersebut, produk prototipe Haruan Soybean menunjukkan adanya aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuannya meredam radikal ABTS. Pada kondisi dan konsentrasi pengujian yang digunakan, Haruan Soybean menunjukkan nilai persen inhibisi lebih tinggi dibandingkan vitamin C. Namun, hasil tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa aktivitas antioksidan Haruan Soybean secara umum lebih kuat daripada vitamin C karena aktivitas antioksidan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, komposisi senyawa, metode, dan kondisi pengujian. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan identifikasi dan kuantifikasi senyawa bioaktif menggunakan GC-MS atau LC-MS serta menentukan nilai IC50 untuk memperoleh gambaran aktivitas antioksidan yang lebih komprehensif.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA PRODUK PROTOTIPE KAPSUL HARUAN OIL PLUS® MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-Asinobis 3- ethylbenzothiazoline 6-sulfonic Acid)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat memicu stres oksidatif yang berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan dibutuhkan untuk menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Produk prototipe kapsul Haruan Oil Plus merupakan formulasi kombinasi minyak ikan haruan 70% (Channa striata), minyak kedelai 20% (Glycine max L.), dan minyak zaitun 10%(Olea europaea L.), yang memiliki aktivitas antioksidan karena mengandung asam lemak omega-3, polifenol, dan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan produk prototipe kapsul Haruan Oil Plus menggunakan metode ABTS (2,2-Asinobis 3-ethylbenzothiazoline 6- sulfonic Acid). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi produk, penyiapan sampel, pembuatan larutan ABTS, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan larutan uji, dan pembuatan larutan pembanding vitamin C. Aktivitas antioksidan diukur secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dinyatakan dalam persentase inhibisi (Radical Scavenging Activity). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata persen inhibisi sebesar 38,80 ± 2,83% dengan koefisien variasi 7,29%. Pada uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,007 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok Haruan Oil Plus dan vitamin C. Pada konsentrasi yang diuji, Haruan Oil Plus menunjukkan kemampuan menangkap radikal bebas yang lebih tinggi dibandingkan kontrol vitamin C.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK N-HEKSAN KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat memicu stress oksidatif dan berperan dalam perkembangan berbagai penyakit degeneratif. Salah satu sumber antioksidan alami yang berpotensi dikembangkan adalah kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage). Simplisia kulit buah tampoi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) menggunakan metode ABTS (2,2’-azino-bis-(ethylbenzothiazoline- 6-sulfonic acid)). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium. Simplisia kulit buah tampoi diekstraksi menggunaka metode maserasi dengan pelarut n-heksan. Selanjutnya dilakukan skrining fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan kulit buah tampoi negatif terhadap senyawa alkaloid, flavonoid saponin, dan tanin, namun positif mengandung senyawa steroid dan terpenoid. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode ABTS dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 744 nm. Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa vitamin C memiliki rata-rata IC50 sebesar 1,03761 ppm yang termasuk kategori antioksidan sangat kuat, sedangkan ekstrak n-heksan kulit buah tampoi memiliki nilai rata-rata IC50 sebesar 248,280 ppm dan termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat lemah. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksan kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah menggunakan metode ABTS. Rendahnya aktivitas antioksidan diduga dipengaruhi oleh sifat pelarut n-heksan yang cenderung mengekstraksi senyawa nonpolar.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid) DENGAN VARIASI PELARUT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULITBUAH TAMPOI (Baccaurea Macrocarp) MENGUNAKAN METODE ABTS ( 2,2 -azinobis-(3-etilbenzoti- oazolin-6-asam sulfonat)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Nama : Evline Christina Program Studi : Sarjana Farmasi Judul skripsi : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Tampoi (Beccaurea Macrocarp) Menggunakan Metode ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzoti-oazolin-6-sulfonic acid) Pembimbing : 1. apt. Reksi Sundu, M. Sc. 2. Dr. apt.Triswanto Sentat, M. Farm-Klin. Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron tidak berpasangan, sehingga sangat reaktif dan dapat merusak sel-sel tubuh melalui reaksi oksidasi. Kerusakan akibat radikal bebas dapat dicegah oleh senyawa antioksidan yang mampu menghambat proses oksidasi. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam berbagai tanaman, salah satunya adalah kulit buah tampoi yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit buah tampoi menggunakan pelarut etanol 70%, berdasarkan nilai IC50 (Inhibitory Concentration). Penelitian ini bersifat eksperimental dan menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat) secara kuantitatif, yang dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan vitamin C sebagai pembanding.Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, penetapan susut pengeringan (diperoleh sebesar 4,62%), penetapan kadar air (20,54%), skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah tampoi mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Semakin kecil nilai IC50, maka semakin tinggi aktivitas antioksidan suatu senyawa. Uji aktivitas antioksidan vitamin C sebagai pembanding yang digunakan sebagai standar memiliki IC50 rata-rata 0,6658 ppm. Sedangkan uji aktivitas antioksidan terhadap ekstrak etanol kulit buah tampoi menjukan nilai IC50 rata-rata Hasil 10,5387 ppm, yang termasuk dalam katagori aktivitas antioksidan sangat kuat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahawa ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki potensi sebagai antioksidan yang sangat kuat. Kata kunci : radikal bebas, antioksidan, Beccaurea macrocarp, IC50, ABTS. ABSTRACT Name : Evline Christina Study Program : Bachelor ofPharmacy Thesis Proposal Title : Antioxidant Activity Test of Tampoi Fruit Peel Extract (Beccaurea Macrocarp) Using ABTS Method (2,2- azinobis-(3-ethylbenzoti-oazolin-6-sulfonic acid) Counsellor : 1. apt. Reksi Sundu, M. Sc. 2. Dr. apt.Triswanto Sentat, M. Farm-Klin. Free radicals are atoms or molecules that have one or more unpaired electrons, making them very reactive and capable of damaging body cells through oxidation reactions. Damage caused by free radicals can be prevented by antioxidant compounds that can inhibit the oxidation process. Natural antioxidants can be found in various plants, one of which is the skin of the tampoi fruit, which has potential as a source of antioxidants. This study aims to determine the potential antioxidant activity of the tampoi fruit skin extract using 70% ethanol solvent, based on the IC50 (Inhibitory Concentration) value. This research is experimental and uses the ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)) method quantitatively, which is analyzed using UV-Vis spectrophotometry with vitamin C as a comparator. The research stages include sampling, plant determination, simplisia preparation, extract preparation, determination of drying loss (obtained at 4.62%), determination of water content (20.54%), phytochemical screening, and antioxidant activity testing. The results of the phytochemical screening indicate that the extract of tampoi fruit peel contains active compounds such as alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and steroids. The lower the IC50 value, the higher the antioxidant activity of a compound. The results of the antioxidant activity test show that the ethanol extract of tampoi fruit peel has an average IC50 value of 10.5387 ppm, which falls into the category of very strong antioxidant activity. Keywords : free radical, antioxidant, Baccaurea macrocarp, IC50, ABTS.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ArticleOpen AccessMetadata saja

Antioxidant Activity Test of Red Pidada Leaves (Sonneratia caseolaris L.) using ABTS Method (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazolin)-6-sulfonicacid)

2025•Artikel Penelitian dan Pengabdian

The Red Pidada (Sonneratia caseolaris L.) is one of the plants used in traditional ways, especially by Borneo's people, where the red Pidada leaves are used as a cool powder composition and applied to the face while doing activities under exposure to sunlight over a long time. Red Pidada extract has a very strong antioxidant activity of 21.62 ppm because it has secondary metabolite, which is a medicinal ingredients and have a strong molecular structure, and have various biological activities. Pidada redplant (Sonneratia caseolaris L.) is a mangrove that has antioxidant potential. Free radicals can cause cancer, heart disease, premature aging, and other degenerative diseases. The research objective was to determine the antioxidant activity of the Pidada red leaf extract and fraction.The research was conducted qualitatively and quantitatively. The qualitative test was carried out by the colour change test and the quantitative test using the ABTS method (2,2-azinobis-3-ethyl benzothiazolin-6-sulfonic acid) with a UV-Visspectrophotometer. Pidada redleaves were extracted and fractionated, namely ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and ethanol fraction, and made inti various concentrations compared to vitamin C.The IC50 value determined the antioxidant activity. The results showed that the ethanol extract had an IC50 value of 1.32 ppm (very strong), n-hexanefraction of 19.89 ppm (very strong), ethylacetate fraction of 0.50 ppm (very strong), and ethanolfraction of 1.63 ppm (very strong).

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA EKSTRAK METANOL BIJI MARKISA UNGU (Passiflora edulis Sims) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia negara beriklim tropis dengan paparan sinar ultra violet (UV) yang tinggi menyebabkan penuaan dini dan peningkatan risiko kanker kulit. Sangat penting untuk menggunakan tabir surya yang menggunakan bahan protektif sinar matahari, seperti antioksidan, karena sinar matahari, terutama UV-A dan UV-B, memiliki efek merusak pada kulit. Markisa ungu (Passiflora edulis Sims) adalah buah yang dikenal memiliki zat aktif seperti flavonoid dan fenolik yang berfungsi untuk melindungi kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh sinar matahari ultraviolet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengethaui aktivitas antioksidan dan tabir surya ekstrak metanol biji markisa ungu. Tahapan penelitian meliputi deteminasi tumbuhan, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan dengan metode ABTS, uji SPF menggunakan spektrofometer. Hasil skrining menunjukkan ekstrak biji markisa ungu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan memberikan nilai IC50 sebesar 1,1358 ppm, masuk dalam kategori antioksidan sangat kuat. Hasil uji SPF (Sun Protect Factor) menunjukkan nilai SPF 30,81pada konsentrasi 200 ppm, termasuk dalam kategori proteksi ultra.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN DAN MADU BUDIDAYA KALIMANTAN UTARA KABUPATEN MALINAU DENGAN METODE ABTS (2,2-Asinobis 3-ethyl benzothiazoline 6-sulfonic Acid)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Madu merupakan cairan alami yang memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan memiliki potensi sebagai antioksidan.Madu hutan dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata sedangkan madu budidaya dihasilkan oleh lebah Apis cerana. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada madu hutan dan madu budidaya Kalimantan Utara kabupaten Malinau dengan metode ABTS (2,2-Asinobis 3-ethyl benzothiazoline 6-sulfonic Acid). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah madu hutan dan madu budidaya. Penelitian ini meliputi determinasi hewan, ekstraksi, uji kadar air, skrinning fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode ABTS (2,2-Asinobis 3- ethyl benzothiazoline 6-sulfonic Acid) secara spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding vitamin C. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari skrining fitokimia madu hutan dan madu budidaya dan data kuantitatif disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, analisis data menggunakan independent t-test pada Microsoft Excel. Hasil penelitian skrinning fitokimia yang terdapat pada ekstrak madu hutan dan madu budidaya ialah flavonoid dan tanin. Aktivitas antioksidan pada vitamin C sebesar 0,5968 ppm termasuk kategori sangat kuat. Ekstrak madu hutan didapatkan nilai IC50 sebesar 55,7451 ppm dan pada ekstrak madu budidaya IC50 sebesar 75,5317 ppm dan dapat disimpulkan antioksidan ekstrak madu hutan dan madu budidaya termasuk kategori kuat. Analisis data pada ekstrak madu hutan dan madu budidaya homogen dan normal dan dilanjutkan uji Independent t-test: Two-Sample Assuming Equal Variances didapatkan hasil p-value yaitu 0,1805 (p > 0,05) (tidak ada perbedaan yang signifikan).

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONSENTRASI PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat yang berasal dari famili Zingiberaceae. Temulawak sering dimanfaatkan sebagai obat herbal atau jamu yang digunakan secara turun-temurun, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Rimpang temulawak diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, flavonoid, terpenoid dan triterpenoid yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan suatu bahan alam adalah konsentrasi pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan pada ekstrak rimpang temulawak menggunakan metode ABTS. Tahapan dalam penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pembuatan serbuk simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut menggunakan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan dan analisis data. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan 95%. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Data yang diperoleh merupakan data kualitatif berupa hasil skrinning fitokimia dan data kuantitatif berupa nilai IC50. Data kuantitatif dari hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan vitamin C sebagai pembanding dan pengujian secara deskriptif Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan terbaik yaitu pada ekstrak rimpang temulawak dengan pelarut etanol 70% dengan nilai IC50 sebesar 2,6045 ppm, sedangkan pada pelarut etanol 95% dengan nilai IC50 sebesar 1,1641 ppm. Sedangkan pada pembanding vitamin C diperoleh nilai IC50 sebesar 0,6413 ppm Ekstrak etanol rimpang temulawak dan vitamin C ketiganya masuk dalam kategori sangat kuat.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR ANTIOKSIDAN FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine sp.) MENGGUNAKAN METODE ABTS

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan berfungsi menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif yang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit. Untuk mendapatkan kandungan zat aktif yang bermutu maka perlu optimasi pembuatan ekstrak salah satunya adalah pelarut karena jenis pelarut akan menentukan jenis zat yang terlarut sesuai polaritasnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian terhadap pengaruh polaritas pelarut terhadap kadar antioksidan pada fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air ekstrak etanol umbi bawang dayak secara spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar antioksidan dari ekstrak dan fraksi ekstrak etanol umbi bawang dayak. Umbi bawang dayak diekstraksi dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air terhadap ekstrak etanol yang diperoleh setelah itu dilakukan pengujian kadar antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi yang dihasilkan. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 95% umbi bawang dayak diperoleh nilai IC50 4,7430 ppm, fraksi air nilai IC50 sebesar 4,6168 ppm, fraksi etil asetat sebesar 2,3900 ppm, dan fraksi n-heksan sebesar 13,0344 ppm. Aktivitas antioksidan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara ekstrak dan fraksi yang lain karena nilai IC50 fraksi etil asetat yang paling rendah diantara ekstrak dan fraksi lainnya.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail