ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan isu kritis dalam pelayanan kesehatan yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Tahap prescribing (peresepan) diidentifikasi sebagai salah satu fase yang paling rentan terhadap kesalahan, terutama pada penggunaan resep manual yang sering terkendala masalah keterbacaan tulisan tangan dan ketidaklengkapan administratif seperti identitas pasien, usia, berat badan, dan kejelasan dosis. Implementasi resep elektronik (e- prescribing) diharapkan menjadi solusi untuk meminimalisir risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengobatan medication error pada fase prescribing pada pengunaan resep elektronik dan resep manual di rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah studi literatur dengan metode deskriptif- komparatif, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah dokumen relevan seperti karya tulis ilmiah dan jurnal penelitian. Objek yang digunakan adalah kesalahan pengobatan medication error pada tahap peresepan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyusun gambaran dari data yang terkumpul untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara prescribing error pada resep manual sebesar 23,44% lebih tinggi dibanding resep elektronik sebesar 7,13% . Pada RSUD Sidoarjo pada prescribing error resep manual sebesar 25% dan resep elektronik 17%, meskipun perbedaan antara resep manual dan resep elektronik tidak ada perbedaan yang signifikan terdapat penurunan kesalahan pada penggunaan sistem resep elektronik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan serius dalam dunia kesehatan yang dapat membahayakan keselamatan pasien. Salah satu bentuknya adalah prescribing error, yaitu kesalahan yang terjadi pada tahap peresepan obat. Diberbagai rumah sakit di Indonesia, tingkat kejadian prescribing error pada resep manual masih tergolong tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kejadian prescribing error pada resep manual dan resep elektronik di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah jurnal ilmiah tentang prescribing errror pada resep manual dan elektronik yang dilakukan di beberapa Rumah Sakit. Hasil Kejadian medication error yang ditemukan di Rumah Sakit Diponegoro pada fase prescribing 45% resep manual, 14% e-resep sedangkan pada Rumah Sakit Umum Madyang Palopo esep manual 58,78% dan tingkat prescribing error pada resep elektronik 8,4%. Kesimpulan menunjukkan bahwa tingkat prescribing error pada resep manual lebih tinggi dari pada tingkat prescribing error pada resep elektronik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nama : Kartini Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Evaluasi Medication Error dari Fase Prescribing pada Resep Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja Kota Bangun Pembimbing : 1. apt. Nurul Fatimah, M.Sc. Pembimbing : 2. apt. Heri Wijaya, M.Si., Ph.D. Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarga pasien. Kejadian ini dapat terjadi di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan apotek. Medication error dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan hingga penyerahan obat (dispensing), dan dalam proses penggunaan obat (administration). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi medication error pada fase prescribing pasien hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara prospektif menggunakan 213 resep pasien hipertensi yang masuk di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Medication error yang terjadi pada fase prescribing yaitu tidak ada rute pemakaian 7,04%; tidak ada frekuensi 1,88%; tidak ada paraf dokter 100%; tidak ada nomor rekam medis pasien sebanyak 2,35%; tidak ada usia pasien sebanyak 26,30%; tidak ada berat badan pasien 21,12%. Kejadian Medication error di instalasi farmasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja Kota Bangun yaitu terjadi pada fase prescribing.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarga pasien. Kejadian ini dapat terjadi di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan apotek. Medication error dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan hingga penyerahan obat (dispensing), dan dalam proses penggunaan obat (administration). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi medication error pada fase prescribing pasien hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara prospektif menggunakan 213 resep pasien hipertensi yang masuk di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Medication error yang terjadi pada fase prescribing yaitu tidak ada rute pemakaian 7,04%; tidak ada frekuensi 1,88%; tidak ada paraf dokter 100%; tidak ada nomor rekam medis pasien sebanyak 2,35%; tidak ada usia pasien sebanyak 26,30%; tidak ada berat badan pasien 21,12%. Kejadian Medication error di instalasi farmasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dayaku Raja Kota Bangun yaitu terjadi pada fase prescribing.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarganya. Kesalahan ini dapat terjadi dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan obat (dispensing) dan pemberian obat (administration). Tujuan penelitan untuk mengetahui profil medication error pada fase prescribing resep pasien diabetes melitus di Puskesmas Segiri Samarinda. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan medication error fase prescribing yang paling banyak terjadi pada resep pasien diabetes melitus adalah tidak ada nomor SIP dokter (100%), tidak ada bentuk sediaan (100%), tidak ada cara penggunaan obat (100%), tidak ada rute pemberian (100%), tidak ada tanda tangan dokter (100%), tidak ada tinggi badan pasien (99,4%) dan tidak ada berat badan pasien (99,1%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan setiap kejadian yang tidak hanya dapat merugikan pasien, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan khususnya dalam hal pelayanan pengobatan pasien. Medication error dapat terjadi didalam setiap proses pengobatan, salah satunya pada fase prescribing meliputi kelengkapan resep, tidak adanya umur pasien, tidak ada bentuk sediaan, tulisan resep yang tidak terbaca, tidak jelas nama pasien, tidak ada aturan pakai, tidak ada jumlah obat dan tidak jelas nama pasien. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran medication error pada fase prescribing pasien poli rawat jalan di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan tahapan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah tiga literatur ilmiah yang bersumber dari satu jurnal Ilmiah dan dua Karya Tulis Ilmiah, reduksi data, penyajian data dalam bentuk tabel dan penarikan simpulan. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Berdasarkan hasil telaah literatur tentang gambaran medication error pada fase prescribing pasien poli rawat jalan di Rumah Sakit yang berbeda menunjukkan bahwa terdapat medication error dengan persentase yang tinggi yaitu pada bagian nama dokter, SIP dokter, tanggal penulisan resep, dosis sediaan, bentuk sediaan, aturan pakai, umur dan berat badan yang masih belum terpenuhi, sehingga dapat disimpulkan bahwa masih terdapat medication error pada tiga Rumah Sakit yang di teliti.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDI LITERATUR IDENTIFIKASI KESALAHAN PERESEPAN (PRESCRIBING ERROR) PADA RESEP DI RUMAH SAKIT Tujuan studi literatur ini adalah membandingkan identifikasi kesalahan peresepan (prescribing error) pada resep pasien di rumah sakit. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa medication error yang terjadi pada tahap prescribing meliputi nama pasien, umur, nama obat, bentuk sediaan, dosis, jumlah obat dan aturan pakai. Berdasarkan penelitian Maalangen dkk (2019), nama pasien 1,20%, umur 80,12%, nama obat 0%, bentuk sediaan 38,85%, dosis 27,71%, jumlah obat 0,30%, aturan pakai 0,30%, penelitian Oktarlina dkk (2017), nama pasien 0%, umur 73,3%, nama obat 0%, bentuk sediaan 26%, dosis 53,1%, jumlah obat 0%, aturan pakai 1,1%, penelitian Wijaya dkk (2019), nama pasien 2,25%, umur 0%, nama obat 12%, bentuk sediaan 39,5%, dosis 28,25%, jumlah obat 0%, aturan pakai 1,75%, penelitian Timbongol dkk (2015), nama pasien 0%, umur 62,87%, nama obat 0%, bentuk sediaan 74,53%, dosis 20,87%, jumlah obat 0%, aturan pakai 0%. Dari hasil studi literatur yang telah dilakukan tentang identifikasi kesalahan peresepan (prescribing error) pada resep pasien di rumah sakit dapat diambil kesimpulan bahwa masih banyak kesalahan peresepan (prescribing error) di beberapa rumah sakit. Kesalahan penulisan resep pada kelengkapan resep yang tertinggi yaitu umur 80,12% dan bentuk sediaan 74,53%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesalahan dalam tahap prescribing merupakan kesalahan yang terjadi pada proses penulisan resep kesalahan penulisan resep yang di maksud ialah ketidak lengkapan resep dan resep tidak terbaca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan apa saja yang terjadi pada tahap peresepan di Rumah Sakit Kalimantan dan di Rumah Sakit Sulawesi. Penelitian dilakukan merupakan penelitian study literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, mempelajari dan menelaah dokumen yang terkait seperti karya tulis ilmiah dan jurnal ilmiah. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesalahan pengobatan (medication error) yang terjadi pada tahap peresepan (prescribing) di Rumah Sakit Kalimantan dan di Rumah Sakit Sulawesi pada persyaratan administrasi dan persyaratan farmasetik dalam resep. Hasil penelitian persentase kesalahan tertinggi yang terdapat pada peryaratan administrasi ialah nama pasien RS X di Kota Manado 4,98%, umur pasien RS Bhayangkara Tk. III Manado 80,12%, nama dokter RSUD Taman Husada Bontang 1,5%, paraf dokter RSUD Taman Husada Bontang 7,5%, tanggal resep RS Dirgahayu Samarinda 10%. dan pada persyaratan farmasetik ialah nama obat RSUD Taman Husada Bontang 12%, bentuk sediaan RSUD Bintung 74,53%, dosis dan kekuatan sediaan RS Dirgahayu Samarinda 41,75%, jumlah obat RS X di Kota Manado 0,33%, dan pada aturan pakai RSUD Taman Husada Bontang 1,75%.