2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pofil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan spektrum toksisitas, kegagalan terapi pengobatan, biaya pengobatan yang tinggi, komplikasi hingga kematian pasien, serta menghambat mutu pelayanan kesehatan itu sendiri. Penelitian studi literatur ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi instansi pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait penggunaan obat antihipertensi. Objek penelitian nya adalah profil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif. Data yang dianalisis berupa data karakteristik pasien dan data penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit RSUD Mardi Waluyo Blitar, RSUD Penambahan Senopati dan RSUD Sultan Imanuddin. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien terkait jenis kelamin, usia dan derajat hipertensi, data penggunaan obat hipertensi. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa karakteristik pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit paling banyak pada usia 40-60 tahun, sedangkan karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak menderita penyakit hipertensi didominasi oleh wanita dengan derajat hipertensi paling banyak pada stadium dua. Berdasarkan data penggunaan obat menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap diberikan obat antihipertensi dalam bentuk bentuk tunggal dengan pilihan obat yang cukup bervariasi antar rumah sakit. Sedangkan kombinasi dua dan tiga jenis obat memiliki persentase yang sama besar dan yang paling sedikit dengan empat kombinasi.
2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pofil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan spektrum toksisitas, kegagalan terapi pengobatan, biaya pengobatan yang tinggi, komplikasi hingga kematian pasien, serta menghambat mutu pelayanan kesehatan itu sendiri. Penelitian studi literatur ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi instansi pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait penggunaan obat antihipertensi. Objek penelitian nya adalah profil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif. Data yang dianalisis berupa data karakteristik pasien dan data penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit RSUD Mardi Waluyo Blitar, RSUD Penambahan Senopati dan RSUD Sultan Imanuddin. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien terkait jenis kelamin, usia dan derajat hipertensi, data penggunaan obat hipertensi. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa karakteristik pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit paling banyak pada usia 40-60 tahun, sedangkan karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak menderita penyakit hipertensi didominasi oleh wanita dengan derajat hipertensi paling banyak pada stadium dua. Berdasarkan data penggunaan obat menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap diberikan obat antihipertensi dalam bentuk bentuk tunggal dengan pilihan obat yang cukup bervariasi antar rumah sakit. Sedangkan kombinasi dua dan tiga jenis obat memiliki persentase yang sama besar dan yang paling sedikit dengan empat kombinasi.