ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kombucha teh hijau (Camellia sinensis) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif hasil fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombucha teh hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis serta menentukan lama fermentasi optimum. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Objek yang diteliti adalah kombucha teh hijau dengan variasi lama fermentasi 0, 3, 6, 9, 12, 15, dan 18 hari. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode well diffusion (sumuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombucha teh hijau tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh variasi lama fermentasi yang digunakan. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-3, 6, 9, dan 12, dengan diameter zona hambat tertinggi pada hari fermentasi ke-6 sebesar 2,75 ± 0,25 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi lama fermentasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap diameter zona hambat bakteri Staphylococcus epidermidis (p0,05). Lama fermentasi optimum kombucha teh hijau dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-6.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dikaitkan dengan pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri adalah minyak pala (Myristica fragrans) karena mengandung berbagai senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri serta konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada berbagai konsentrasi. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi sumuran. Minyak pala diuji pada konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%. Klindamisin 0,1% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis menggunakan SPSS melalui uji normalitas, homogenitas, One-Way Analysis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak pala mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri pada seluruh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis diperoleh pada konsentrasi 5%. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 2,00 mm, 5,56 mm, 8,89 mm, dan 13,22 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut sebesar 0,22 mm, 3,89 mm, 8,44 mm, dan 12,22 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p 0,05 pada kedua bakteri, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok konsentrasi. Uji lanjut LSD menunjukkan seluruh kelompok perlakuan berbeda signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa minyak pala memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 5%, serta aktivitas penghambatannya meningkat seiring bertambahnya konsentrasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman nyirih (Xylocarpus granatum) merupakan salah satu spesies yang banyak ditemukan di hutan mangrove yang termasuk dalam famili Meliaceae. Berdasarkan data empiris tanaman nyirih digunakan sebagai obat diare dan pembersih luka. Manfaat biji buah nyirih dimasyarakat yang dicampur dengan tepung beras digunakan sebagai masker wajah untuk mengobati jerawat. Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit karena adanya penumpukan minyak yang menyebabkan pori-pori kulit wajah tersumbat sehingga memicu aktivitas bakteri dan peradangan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih dalam menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah antibakteri ekstrak biji buah nyirih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Aktivitas antibakteri diuji dengan menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi ekstrak 10%, 15% dan 20%. Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO 1% dan kontrol positif yang digunakan yaitu kloramfenikol 0,1%. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji buah nyirih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes dengan kriteria sedang pada konsentrasi 10%, 15%, 20%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi hingga saat ini masih menjadi masalah besar bagi negara- negara berkembang, salah satunya Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur. Mikroorganisme penyebab penyakit infeksi kulit adalah bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) terhadap bakteri Staphyloccus epidermidis dan Staphyloccus aureus dan mengetahui nilai KHM dan KBM minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) terhadap bakteri Staphyolococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode difusi cakram dengan minyak kayu putih Biak, Gunung Kidul, Lamongan, dan Lampung pada konsentrasi 1%, 5%, 10% dan 25% sedangkan metode dilusi pada konsentrasi 10%, 25%, 50%, dan 100. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui minyak kayu putih dari keempat jenis memiliki nilai bobot jenis yang sesuai dengan SNI. Minyak kayu putih Biak, Gunung Kidul, Lamongan, dan Lampung pada konsentrasi 1%, 5%, 10% dan 25% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Minyak kayu putih tiap jenis pada konsentrasi 1% hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan kategori sedang, sedangkan pada konsentrasi pada konsentrasi 5%, 10% dan 25% menghambat pertumbuhan bakteri kategori kuat. Kemudian Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak kayu putih dimulai dari konsentrasi 10% dan memiliki nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) pada konsentrasi 50% terhadap kedua bakteri uji. Berdasarkan analisis data menggunakan metode Post Hoc Test, membuktikan bahwa terdapat perbedaan zona hambat pada tiap jenis minyak kayu putih terhadap Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biji anggur mengandung berbagai jenis senyawa kimia, salah satunya yakni senyawa polifenol. Kandungan senyawa polifenol dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, penghambat enzim hidrolisis dan oksidatif serta bekerja sebagai antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji anggur (Vitis vinifera L) terhadap bakteri Streptococcus mutans, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi mahasiswa kesehatan atau peneliti sebagai referensi bagi penelitian terkait pemanfaatan ekstrak biji anggur. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa penelitian. Objek penelitian ini yaitu aktivitas antibakteri ekstrak biji anggur. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data hasil rendemen ekstrak, penapisan fitokimia dan diameter daya hambat terhadap bakteri uji. Hasil telaah studi literatur ini menunjukkan bahwa esktrak etanol biji anggur (Vitis venifera) memiliki aktivitas antibakteri kategori kuat pada bakteri Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus epidermidis. Pada bakteri Streptococcus mutan aktivitas antibakteri tergolong kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selutui puka leaves (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) is one of the plants used by the community as a medicinal plant to treat various diseases. Selutui puka leaves contain alkaloid compounds, flavonoids, tannins, saponins and steroids that have antibacterial activity. Staphylococcus epidermidis is one of the bacteria that causes skin infections, these bacteria cause inflammation and become acne bumps. This study aims to determine the extract of selutui puka leaves has antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis. The research conducted is experimental research. The research phase includes sampling, determination of selutui puka leaf plants, making simplisia, making selutui puka leaf extract and testing antibacterial activity using the well diffusion method using selutui puka leaf extract concentrations of 2.5%, 5%, 10%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, and 75%. The data were statistically analyzed with Anova/Kruskal Wallis and presented in tabular form. The inhibitory zone results obtained at concentrations of 2.5%, 5%, 10%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55% in the weak category ( 5 mm) while at concentrations of 65% and 75% in the medium category with an average inhibitory zone of 5.20 mm and 5.30 mm. In the positive control ciprofloxacin was 27.86 mm with a very strong category.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi merupakan salah satu penyebab penyakit kulit yang sering terjadi. Bakteri Staphylococcus epidermidis merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi kulit ringan yang disertai dengan pembentukan abses. Bakteri lain yang dapat menyebabkan infeksi adalah Pseudomonas aeruginosa. Spesies bakteri ini merupakan salah satu penyebab infeksi kulit pada penderita dengan neoplastik, ecthyma gangrenosum, luka dan luka bakar yang berat. Infeksi kulit akibat mikroorganisme dapat diatasi dengan pemberian obat antimikroba. Penelitian tentang bahan yang berpotensi sebagai bahan antimikroba memiliki hubungan dalam menemukan adanya nilai KHM dan KBM pada sampel. Lignin tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diduga memiliki kandungan fenolik seperti lignin dari tanaman lain sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan antimikroba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibakteri lignin TKKS terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa secara in vitro. Metode yang digunakan yaitu metode difusi cakram dan metode dilusi dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 20% dan 30%. Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam tabel memuat data zona hambat, KHM dan KBM sampel uji. Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui lignin TKKS memiliki kandungan alkaloid dan flavonoid pada uji skrining fitokimia. Selain itu, lignin TKKS juga memiliki zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa dimulai dari konsentrasi 10%, 20% dan 30%. Kemudian KHM lignin TKKS dimulai dari konsentrasi 10% dan tidak adanya KBM pada variasi konsentrasi dibawah 30% terhadap kedua bakteri uji. Berdasarkan analisis data menggunakan metode Post Hoc Test, membuktikan bahwa terdapat perbedaan daya hambat pada konsentrasi 10%, 20 dan 30%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan pulai (Alstonia scholaris R. B.r) adalah tumbuhan dengan famili yang sama yaitu Apocynaceae dan memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama seperti tanin, flavonoid, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri. Studi ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun pulai (Alstonia scholaris R. .B.r) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, analisis data dilakukan denan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah, skripsi, serta karya tulis ilmiah. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul Pada daun selutui puka dengan ekstrak etanol menggunakan konsentrasi 10% dengan zona hambat yang didapat adalah 6,25 mm. Pada daun pulai dengan ekstrak metanol menggunakan konsentrasi 10% dengan zona hambat yang didapat adalah 6,75 mm. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun selutui puka menghasilkan zona hambat yang lebih kecil dibandingkan dengan ekstrak metanol daun pulai.