SARI NADILA PERTIWI
2026 · Thesis · Open Access
Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis tidak menular dengan angka rawat inap tinggi di RSUD Kudungga Kutai Timur, tercatat sebanyak 182 pasien berkode E10 pada tahun 2024, yang berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara tarif INA-CBG's dan biaya riil rumah sakit, terutama pada pasien BPJS Kesehatan yang merupakan jenis jaminan dengan jumlah kunjungan terbanyak di rumah sakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara tarif INA-CBG's dengan tarif riil rumah sakit pada pasien BPJS Diabetes Mellitus Tipe 2 rawat inap kelas 2 di RSUD Kudungga Kutai Timur. Metode yang digunakan adalah kuantitatif observasional analitik cross sectional dengan total sampling pada seluruh berkas klaim periode Januari–Juni 2025, dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dilanjutkan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian dari 9 pasien menunjukkan total tarif riil sebesar Rp94.807.397 dengan rata-rata Rp10.534.155 per pasien, sedangkan total tarif INA-CBG's hanya Rp50.495.500, sehingga terdapat selisih kumulatif negatif sebesar Rp44.311.897 (46,74%). Sebanyak 8 dari 9 pasien (88,9%) memiliki tarif riil yang melebihi tarif INA-CBG's dengan komponen biaya terbesar yang menyebabkan selisih tersebut adalah obat dan BMHP (30,19%), diikuti tindakan medis (16,87%), dan pemeriksaan laboratorium (15,39%). Tingginya komponen biaya obat dan BMHP mencerminkan kompleksitas penanganan klinis pasien DM Tipe 2 yang membutuhkan terapi jangka panjang serta pemantauan intensif selama masa perawatan di rumah sakit. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -2,192 dan p = 0,028 (p 0,05). Tarif riil rumah sakit secara konsisten melebihi tarif INA-CBG's di semua kelompok pasien, yang berarti tarif paket INA-CBG's belum mampu menutup seluruh biaya pelayanan aktual rumah sakit untuk pasien DM Tipe 2 rawat inap kelas 2 di RSUD Kudungga Kutai Timur, sehingga biaya riil pelayanan tidak sepenuhnya sejalan dengan tarif klaim INA-CBG's yang diterima.
SAFIRA AULIA ASY-SYIFA .T.
2026 · Thesis · Open Access
Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.
ANNIDA KHAIRUNNISA
2026 · Thesis · Open Access
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pelayanan dan akurasi pengelolaan data di rumah sakit, termasuk di instalasi farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja SIMRS di Instalasi Farmasi RSUD IA Moeis Samarinda menggunakan metode HOT-Fit yang menilai variabel human, organization, dan technology terhadap net benefit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan 31 responden yang dipilih melalui total sampling. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner skala likert 1-4 yang disusun berdasarkan empat variabel utama HOT-Fit yaitu human (system use dan user satisfaction), organization (structure dan environment), technology (system quality, information quality, dan service quality), serta net benefit. Analisis data dilakukan menggunakan PLS-SEM dengan software SmartPLS 4.1.6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja SIMRS berada pada kategori sangat baik. Variabel human berpengaruh positif dan signifikan terhadap net benefit (β = 0,335; t = 2,383; p = 0,017), variabel organization juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap net Benefit (β = 0,536; t = 2,598; p = 0,009), sedangkan variabel technology tidak berpengaruh signifikan terhadap net benefit (β = 0,179; t = 0,950; p = 0,342). Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi SIMRS di Instalasi Farmasi RSUD IA Moeis Samarinda lebih dipengaruhi oleh faktor manusia dan organisasi dibandingkan faktor teknologi.
Kata kunci: SIMRS, HOT-Fit, Instalasi Farmasi, PLS-SEM
DESYFA ADELLIA MAHARANI
2026 · Thesis · Open Access
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.
DALILAH RAHMADINA ADHA
2026 · Thesis · Open Access
Produk prototipe kapsul haruan soybean merupakan sediaan berbasis bahan alam yang mengkombinasikan minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max) dengan perbandingan 70% dan 30% yang berpotensi dikembangkan sebagai produk kesehatan. Sebelum dikembangkan lebih lanjut, produk perlu melalui pengujian keamanan sebagai skrining awal untuk mengetahui potensi toksisitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi toksisitas akut produk prototipe kapsul haruan soybean terhadap Artemia salinamenggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan variasi konsentrasi sampel 0, 100, 200, 400, dan 800 ppm. Larva Artemia salina berumur 24–48 jam digunakan sebagai organisme uji, dengan masing-masing konsentrasi terdiri atas 10 larva dan dilakukan empat kali replikasi. Larva dipaparkan selama 24 jam, kemudian diamati jumlah kematian untuk menentukan persentase mortalitas pada setiap konsentrasi. Data mortalitas dianalisis menggunakan metode probit untuk memperoleh nilai LC₅₀ sebagai indikator tingkat toksisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi sampel diikuti dengan peningkatan persentase mortalitas larva. Nilai LC₅₀ yang diperoleh sebesar 404,1104 ppm, sehingga produk prototipe kapsul haruan soybean termasuk dalam kategori toksik terhadap larva Artemia salina. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal mengenai keamanan produk serta menjadi dasar bagi penelitian toksisitas lanjutan menggunakan hewan uji tingkat yang lebih tinggi.
CANTIKA NATANIA VIJRIANIZA
2026 · Thesis · Open Access
Face mist berbasis bahan alam memiliki potensi sebagai sediaan perawatan kulit, namun kombinasi humektan yang optimal untuk menghasilkan karakteristik fisik yang baik sekaligus mempertahankan aktivitas antioksidan masih perlu ditentukan. Penelitian ini bertujuan menentukan formula optimum face mist ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) dengan variasi konsentrasi gliserin dan propilenglikol serta mengevaluasi aktivitas antioksidannya menggunakan metode ABTS. Penelitian dilakukan melalui determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, skrining fitokimia, formulasi face mist menggunakan desain faktorial dengan bantuan Design Expert 13, evaluasi sifat fisik sediaan, optimasi formula, verifikasi menggunakan One Sample T-Test, dan pengujian aktivitas antioksidan metode ABTS dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak sebesar 19,63% dengan susut pengeringan 8,67%, kadar air 20,17%, serta ekstrak mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Formula optimum diperoleh pada kombinasi gliserin 15,5% dan propilenglikol 8% dengan nilai desirability 0,737. Formula tersebut memiliki pH 4,977, viskositas 66,667 cP, daya semprot 5,575 cm, dan waktu kering 3,29 menit. Hasil verifikasi menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil prediksi dan hasil percobaan (p>0,05), sehingga model optimasi dinyatakan valid. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ face mist optimum sebesar 565,85 ± 63,325 ppm, sedangkan vitamin C sebesar 0,5017 ± 0,1872 ppm. Dengan demikian, kombinasi gliserin dan propilenglikol yang diperoleh mampu menghasilkan face mist dengan karakteristik fisik yang memenuhi target optimasi, namun aktivitas antioksidannya masih tergolong sangat lemah.
PUTRI SILALAHI
2026 · Thesis · Open Access
Luka bakar merupakan kerusakan jaringan kulit akibat paparan panas, listrik, bahan kimia, atau radiasi yang dapat menimbulkan gangguan fungsi kulit, nyeri, serta risiko infeksi. Pengembangan terapi berbasis bahan alam terus dilakukan, salah satunya dalam bentuk sediaan gel yang memiliki keunggulan efek dingin, mudah diaplikasikan, dan mampu meningkatkan penetrasi zat aktif ke dalam kulit. Daun pegagan (Centella asiatica L. Urban) mengandung senyawa aktif seperti asiaticoside, madecassoside, flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan dalam proses penyembuhan luka melalui stimulasi proliferasi fibroblas, peningkatan sintesis kolagen, dan percepatan reepitelisasi. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah relevan dan dianalisis secara deskriptif-komparatif berdasarkan konsentrasi ekstrak, metode ekstraksi, serta hasil penyembuhan luka pada hewan uji. Hasil kajian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun pegagan efektif mempercepat penyembuhan luka bakar pada hewan uji tikus putih jantan dengan ekstrak etanol 96% pada beberapa variasi konsentrasi dibandingkan kelompok kontrol positif dan negatif sehingga peningkatan konsentrasi ekstrak cenderung meningkatkan laju penyembuhan luka secara signifikan pada kelompok perlakuan gel tersebut dalam penelitian efektivitas.
GERVIAN FADILLAH RAYZHANTA
2026 · Thesis · Open Access
Waktu pelayanan resep adalah hal dalam mengembangkan kualitas layanan kesehatan untuk pasien. Waktu tunggu pelayanan kefarmasian yang lama akan muncul dampak yang buruk pada sebuah proses produksi, kualitas pelayanan, terutama pada kepuasan pasien. Kepuasan pasien dapat mengukur kualitas pelayanan terhadap pelayanan rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat kepuasan pasien. Adanya hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan tingkat kepuasaan pasien menunjukkan perlunya peninjauan lebih lanjut terhadap waktu tunggu pelayanan resep. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dan RSI Sultan Agung Banjarbaru. Studi literatur ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah, jurnal, dan dokumen relevan yang membahas pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran waktu tunggu layanan resep racikan dan resep non racikan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi pelayanan resep di instalasi rawat jalan rumah sakit.
TRI SUPRAPTI
2026 · Thesis · Open Access
Medication error merupakan permasalahan penting dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang dapat terjadi pada setiap tahapan penggunaan obat dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Kesalahan ini sering ditemukan pada pelayanan obat, mulai dari penulisan resep, penerjemahan, penyiapan, hingga pemberian obat kepada pasien, khususnya di poli interna yang umumnya memiliki penyakit dengan terapi obat yang kompleks, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami medication error. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengidentifikasi medication error pada resep pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis medication error yang terjadi dalam proses pelayanan resep pada pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir (2015-2025). Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan merangkum dan menyajikan temuan dalam bentuk tabel dan narasi untuk menarik kesimpulan mengenai kejadian medication error.
NAIFA ROSSIDA
2026 · Thesis · Open Access
Good Compounding Practice (GCP) berupa pedoman yang bertujuan menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi sediaan obat racikan dalam pelayanan kefarmasian. Pengetahuan apoteker terhadap GCP merupakan faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap kualitas peracikan serta pencegahan kesalahan yang berpotensi membahayakan pasien. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP, serta apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara apoteker di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Studi literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan apoteker tentang GCP di Puskesmas dan Apotek pada kedua wilayah, serta membandingkan apakah tingkat pengetahuan apoteker antar puskesmas dan apotek menunjukkan perbedaan atau kesamaan. Rancangan yang digunakan pada penelitian menggunakan metode studi literatur mengumpulkan, mempelajari dan menelaah beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman apoteker terhadap aspek-aspek GCP serta potensi perbedaan pengetahuan. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi dan penguatan kompetensi apoteker dalam praktik peracikan. Hasil penelitian dari dua literatur yang dibandingkan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP pada kedua penelitian termasuk dalam kategori baik, dengan skor rata-rata sebesar 87,78% pada penelitian di puskesmas dan 85,98%, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang belum dipahami secara optimal. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP secara umum sudah baik, namun tetap diperlukan peningkatan kompetensi pada beberapa aspek GCP untuk mendukung praktik peracikan yang aman dan bermutu.
SOFHI NUR AZZAHRA
2026 · Thesis · Open Access
Penuaan kulit merupakan kondisi yang ditandai dengan penurunan jumlah serta kualitas kolagen pada lapisan dermis akibat meningkatnya aktivitas enzim kolagenase, terutama matrix metalloproteinase-1 (MMP-1). Pemanfaatan bahan alam sebagai sumber senyawa antikolagenase menjadi salah satu pendekatan yang berpotensi untuk dikembangkan dalam formulasi anti-aging. Tanaman pidada merah (Sonneratia caseolaris) dan uwi ungu (Dioscorea alata) diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi menghambat aktivitas enzim kolagenase. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antikolagenase ekstrak pidada merah dan uwi ungu serta mengkaji profil metabolit sekundernya secara in vitro. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan metode deskriptif yang dilakukan melalui pengumpulan, penelaahan, perbandingan, dan sintesis dari berbagai artikel jurnal ilmiah yang relevan pada rentang tahun 2015– 2025 melalui Google Scholar, dengan dua artikel utama yang memenuhi kriteria. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pidada merah dan umbi uwi ungu memiliki potensi aktivitas antikolagenase yang didukung oleh kandungan senyawa fenolik, flavonoid, dan antosianin, sehingga kedua tanaman tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan aktif anti-aging berbasis bahan alam.
YULIANA ANDRIANI
2026 · Thesis · Open Access
Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan berperan sebagai antioksidan bagi tubuh. Salah satu sumber vitamin C adalah buah paprika, khususnya paprika kuning dan hijau yang memiliki kandungan vitamin C lebih 190 mg/100 g tinggi daripada cabai rawit merah 143,7 mg/ 100 g. Perbedaan jenis paprika, media tanam, dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kadar vitamin C yang terkandung di dalamnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbandingan kadar vitamin C dari kedua jenis paprika berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menganalisis artikel ilmiah serba buku yang berkaitan dengan penetapan kadar vitamin C menggunakan metode iodimetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C pada paprika dipengaruhi oleh media tanam dan kondisi lingkungan. Paprika kuning yang dibudidayakan secara hidroponik memiliki kadar vitamin C sebesar 98,63 mg/100 g, lebih tinggi dibandingkan paprika kuning yang ditanam di tanah sebesar 86,19 mg/100 g. Selain itu, paprika hijau yang tumbuh 6 km dari Gunung Sinabung memiliki kadar vitamin C sebesar 113,71 mg/100 g, lebih tinggi dibandingkan paprika hijau yang tumbuh di 30 km Gunung Sinabung sebesar 104,67 mg/100 g. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar vitamin C pada paprika dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan media tumbuh tanaman.
SUKMAWATI NINGRUM HARSONO
2026 · Thesis · Open Access
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang berasal dari bahan alam, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji dan membandingkan dua artikel penelitian yang membahas efektivitas ekstrak jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan konsentrasi ekstrak, metode pengujian, dan diameter zona hambat yang dihasilkan pada masing-masing penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah memiliki aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Berdasarkan hasil analisis kedua artikel, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jahe merah berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
AISYAH FITRI WULANDARI
2026 · Thesis · Open Access
Kandidiasis merupakan infeksi jamur yang banyak disebabkan oleh Candida albicans dan masih menjadi permasalahan kesehatan, khususnya pada daerah tropis. Penggunaan antijamur sintetis dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serta resistensi. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antijamur adalah daun mangga (Mangifera indica L.) yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan polifenol. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji metode pengujian aktivitas antijamur ekstrak daun mangga terhadap pertumbuhan Candida albicans. Rancangan yang digunakan adalah studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dengan menganalisis beberapa jurnal ilmiah. Objek penelitian ini yaitu uji aktivitas antijamur ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) terhadap jamur Candida albicans dari dua artikel utama. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif, dengan menguraikan dan membandingkan hasil dari data yang terkumpul berupa zona hambat pada pengujian aktivitas antijamur secara in vitro dengan metode difusi cakram.
YOSUA FEBRIANTO LAFAU
2026 · Thesis · Open Access
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.
AULIA NURFADILA
2026 · Thesis · Open Access
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang terus meningkat prevalensinya dan sering menimbulkan komplikasi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Penggunaan banyak obat pada pasien rawat inap meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs), yang dapat mengganggu efektivitas terapi serta menurunkan keselamatan pasien. DRPs pada pasien diabetes perlu diidentifikasi sejak dini karena dapat berdampak pada kualitas perawatan, lama rawat inap, dan biaya pengobatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi sistematis mengenai jenis–jenis DRPs yang muncul pada pasien diabetes melitus di instalasi rawat inap rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien diabetes melitus yang menjalani perawatan di instalasi rawat inap rumah sakit. Metode penelitian yaitu menggunakan rancangan analisis deskriptif. Analisis dari dua jurnal juga menggambarkan bahwa ketidak tepatan regimen obat, interaksi obat, serta penggunaan obat tanpa indikasi maupun indikasi tanpa terapi merupakan bentuk masalah yang paling sering terjadi.
NANDA AULIA PUTRI
2026 · Thesis · Open Access
Infeksi HIV merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan. Keberhasilan terapi tidak hanya dilihat dari pengendalian perkembangan penyakit, tetapi juga melalui pemantauan kondisi imunologis pasien dan peningkatan kualitas hidup. Salah satu parameter klinis yang digunakan dalam pemantauan pasien HIV adalah kadar CD4, yang menggambarkan kondisi sistem imun pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kondisi klinis berdasarkan kadar CD4 serta kualitas hidup pasien HIV menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF juga mengidentifikasi domain kualitas hidup (fisik, psikologis, sosial, lingkungan) yang paling terpengaruh. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi kasus dengan pendekatan cross-sectional dan data kualitatif dan kuantitatif. Objek penelitian adalah kondisi klinis dan kualitas hidup pasien HIV yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV) di Puskesmas Rapak Mahang, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi klinis pasien ditinjau berdasarkan kadar CD4 sebagai parameter imunologis, sedangkan kualitas hidup pasien dinilai menggunakan instrumen World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF) yang mencakup domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan.
IRA AYU EFENDI
2026 · Thesis · Open Access
Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit dan kematian. Salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering dijumpai adalah Escherichia coli, yaitu bakteri flora normal usus yang dapat bersifat patogen apabila jumlahnya berlebihan. Tingginya kasus resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri dari bahan alam, salah satunya daun singkong (Manihot esculenta Crantz). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun singkong terhadap bakteri E. coli. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah yang relevan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun singkong menghasilkan diameter zona hambat sebesar 19 mm, 25 mm, dan 29 mm pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Pada penelitian lainnya, diameter zona hambat yang diperoleh sebesar 3,5 mm, 4,4 mm, dan 5,2 mm pada konsentrasi 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 150.000 ppm setara dengan 5%, 10%, dan 15%, dengan kategori lemah hingga sedang. Perbedaan aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak, metode yang digunakan, serta faktor biologi dan kimia saat proses pembuatan ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol 70% daun singkong berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami terhadap E. coli.
NANDA ATIKA DELYA
2026 · Thesis · Open Access
Kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antihipertensi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi, namun masih banyak pasien yang tidak patuh, sehingga tekanan darah tetap tidak terkontrol dan beresiko menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran tingkat kepatuhan dalam menggunakan obat antihipertensi di puskesmas. Metodologi penelitian ini menggunakan studi literatur dengan meninjuau artikel dan jurnal tingkat kepatuhan pasien hipertensi yang di ukur menggunakan kuisioner MMAS-8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan rendah pada pasien hipertensi di puskesmas lempake samarinda dengan persentase (41,5%), sedangkan di puskesmas kema minahasa utara kepatuhan rendah dengan persentase (57,7%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan termasuk usia, pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, pengetahuan pasien, serta jenis kelamin. Pasien dengan tingkat pendidikan rendah, pekerjaan yang padat, dan yang telah lama menderita hipertensi cenderung memiliki kepatuhan yang rendah.
BAHRIATUL KHAIRIAH
2026 · Thesis · Open Access
Infeksi bakteri, khususnya oleh Staphylococcus aureus, masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Masalah ini diperparah oleh meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis akibat penggunaan yang tidak rasional. Diperlukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri yang aman. Daun mimba (Azadirachta Indica A.Juss) kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun mimba terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan perbedaan metode uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi sumuran dan metode disfusi cakram. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan membandingkan artikel ilmiah yang relevan, dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir . Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai efektivitas berbagai konsentrasi dan metode ekstraksi daun mimba dalam menghambat pertumbuhan bakteri