BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu penyakit kulit yang sering disebabkan oleh bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri adalah minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) karena mengandung senyawa aktif eugenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak cengkeh terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada berbagai konsentrasi. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi sumuran. Minyak cengkeh diuji pada konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis menggunakan SPSS melalui uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak cengkeh mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri pada seluruh konsentrasi yang diuji. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm, 6,20 mm, 10,35 mm, dan 14,15 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 3,33 mm, 6,27 mm, 9,97 mm, dan 12,60 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p 0,001 pada kedua bakteri, yang berarti terdapat perbedaan bermakna antar kelompok konsentrasi. Uji lanjut LSD menunjukkan seluruh kelompok perlakuan berbeda signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa minyak cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, serta aktivitas penghambatannya meningkat seiring bertambahnya konsentrasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.