ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Peresepan antibiotik dalam jumlah besar akan mempengaruhi stock obat di apotek, data konsumsi antibiotik di perlukan untuk meningkatkan sistem pengelolaan obat di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang profil peresepan antibiotik untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Apotek Indonesia. Penelitian berupa studi literatur yang dilakukan dengan cara menghimpun data dari berbagai sumber. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2020. Obyek penelitian adalah jenis antibiotik yang digunakan untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut di apotek. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif yaitu menganalisa gambaran data-data berdasarkan kumpulan jurnal ilmiah. Hasil penelitian di apotek Ashvin, apotek Kepuh Farma, dan apotek X Dinoyo, menunjukan bahwa pengobatan pasien ISPA menggunakan antibiotik sebesar 78,3% dan yang tidak menggunakan antibiotik sebesar 21,7%. Antibiotik yang paling banyak digunakan pada pasien ISPA bertutur-turut adalah golongan penisilin sebesar 32,6%, golongan sefalosforin sebesar 25,9%, golongan quinolon sebesar 23,4%, golongan makrolida sebesar 17,5%, dan golongan tetrasiklin sebesar 0,6%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi saluran nafas akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan utama yang paling sering terjadi, khususnya pada anak-anak. Tingginya penyakit ISPA serta dampak yang ditimbulkan menyebabkan tingginya penggunaan obat bebas dan antibiotika. Penyakit ISPA juga merupakan penyebab utama dari konsultasi ataupun rawat inap di fasilitas layanan kesehatan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotika untuk penyakit infeksi saluran nafas akut (ISPA) pada pasien anak. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Prosentase penggunaan antibiotika untuk penyakit ISPA pada pasien anak adalah amoksisilin 80,8%, sefadroksil 60%, sefiksim 46,49%, sefotaksim 30%, eritromisin 15,79%, amoksisilin + asam klavulanat 31,87%, seftriakson 12,5%, azitromisin 8,77%, paranomisin sulfat 5,26%, kotrimoksazol 2,1%. Amoksisilin tetap menjadi pengobatan lini pertama pada penyakit ISPA pada pasien anak sesuai dengan pedoman Pharmaceutical Care 2005, diikuti penggunaan antibiotika golongan sefalosporin yakni seftriakson, sefiksim dan sefotaksim sebagai lini kedua.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran profil penggunaan antibiotika pada pasien di puskesmas. Antibiotika merupakan suatu zat yang dapat membunuh atau melemahkan bakteri, parasit ataupun jamur. Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk indonesia. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik yang digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama dan penyajian data dalam tabel deskriptif, yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran penggunaan antibiotika dari data-data yang telah terkumpul. Penggunaan antibiotik pada penelitian di Puskesmas Bengkuring jenis antibiotik yang paling banyak digunakan adalah amoxicillin dengan presentase (64%), berdasarkan usia 26-45 tahun dengan presentase 49%, berdasarkan pada jenis kelamin yang lebih banyak mendapatkan terapi antibiotik yaitu perempuan dan pada penelitian Puskesmas Kendal jenis antibiotik amoxicillin dengan presentase 84,14%, berdasarkan usia 25-55 tahun dengan presentase 37,71%, berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan presentase 42,61% serta pada penelitian disalah satu Puskesmas di Kota Yogyakarta jenis antibiotik amoxicillin dengan presentase 75,84%, berdasarkan usia 20-30 tahun dengan presentase 45,93%, serta berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan presentase 70,63%.