ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior. Penyakit cacingan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya pada kelompok anak-anak. Infeksi cacing dapat menimbulkan dampak serius seperti kekurangan gizi, anemia, dan hambatan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu mengenai penggunaan obat cacing pada anak di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong, Kabupaten Kutai Barat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Responden penelitian ialah Ibu yang memiliki anak berusia 1–5 tahun dan bersedia berpartisipasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup untuk menilai pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing, kemudian dianalisis secara deskriptif guna memperoleh gambaran tingkat pengetahuan responden. Hasil penelitian di Desa Dilang Puti menunjukkan bahwa dari 75 responden, mayoritas memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 57 orang (76%), kurang baik sebanyak 17 orang (22,7%), dan kurang baik 1 orang (1,3%). Sementara itu, hasil penelitian di Desa Suakong menunjukkan bahwa dari 48 responden, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 44 orang (97,7%), cukup baik sebanyak 4 orang (8,3%), dan tidak terdapat responden dengan kategori kurang baik (0%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing pada anak 1-5 tahun di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong termasuk dalam kategori baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Demam pada anak merupakan proses alami tubuh untuk melawan infeksi masuk ke dalam tubuh yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan lain-lain. Demam tinggi pada anak berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti kejang demam, kerusakan susunan saraf pusat, hingga kematian. Sebagai langkah awal, orang tua sering kali melakukan swamedikasi, yaitu tindakan memilih dan menggunakan obat secara mandiri untuk merawat anak. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua terhadap swamedikasi obat demam pada anak. Rancangan penelitiannya merupakan jenis studi literatur yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini berfokus pada tingkat pengetahuan orang tua terhadap swamedikasi obat demam pada anak di Kelurahan Kerten Surakarta, Desa Wringinpitu Jombang dan Gunungrejo Malang. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang data-data hasil penelitian yang telah terkumpul berupa data karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua secara umum berada pada kategori baik dengan persentase tertinggi mencapai 96,9%, diikuti 68,75% dan 64%. Kesimpulannya, tingkat pengetahuan orang tua yang baik berperan dalam ketepatan swamedikasi demam pada anak, sehingga diperlukan peningkatan edukasi untuk mendukung penggunaan obat yang aman dan rasional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil peresepan obat antidiare pada pasien rawat inap anak di rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah merupakan studi literatur, dengan cara mengumpulkan menelaah buku buku serta majalah ilmiah dan jurnal ilmiah. Objek dalam penelitian ini yaitu profil peresepan obat antidiare pada pasien rawat inap anak di RS Bhayangkara Surabaya, RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, dan RSU Negara Jembrana. Analisis yang dipakai dengan metode analisis deskriftif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data yang terkumpul berdasarkan beberapa jurnal ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penanganan pasien diare di instalasi rawat inap anak di rumah sakit memiliki profil peresepan obat sebagi terapi penyembuhan diare memiliki kesamaan, hal tersebut dikarenakan telah memiliki standar penanganan diare yang telak dikeluarkan oleh Kemenkes RI tahun 2011 mengenai penatalaksaan diare pada anak. Persentase penggunaan obat terbanyak yaitu penggunaan zink dan pemberian cairan rehidrasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) termasuk salah satu penyebabutama morbiditas dan mortalitas penyakit menular didunia. ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan akut yangmenyerang bagian saluran atas dan bawah secara stimulun atau berurutan. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diresepkan untuk infeksi ini. Penggunaan yang salah terhadap penggunaan antibiotik menyebabkan pasien tidak sembuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan antibiotik dan permasalahan terkait obat kategori ketidaktepatan pemilihan obat, dosis rendah dan dosis tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode non eksperimental dengan pengambilan data tertrospektif dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari penelitian yaitu kelompok usia yang menerima terapi antibiotik pada usia 1-4 tahun sebesar 37,89% dan penggunaan antibiotik terbesar pada pasien anak adalah ceftriaxone sebesar 38,59 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi saluran nafas akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan utama yang paling sering terjadi, khususnya pada anak-anak. Tingginya penyakit ISPA serta dampak yang ditimbulkan menyebabkan tingginya penggunaan obat bebas dan antibiotika. Penyakit ISPA juga merupakan penyebab utama dari konsultasi ataupun rawat inap di fasilitas layanan kesehatan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotika untuk penyakit infeksi saluran nafas akut (ISPA) pada pasien anak. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Prosentase penggunaan antibiotika untuk penyakit ISPA pada pasien anak adalah amoksisilin 80,8%, sefadroksil 60%, sefiksim 46,49%, sefotaksim 30%, eritromisin 15,79%, amoksisilin + asam klavulanat 31,87%, seftriakson 12,5%, azitromisin 8,77%, paranomisin sulfat 5,26%, kotrimoksazol 2,1%. Amoksisilin tetap menjadi pengobatan lini pertama pada penyakit ISPA pada pasien anak sesuai dengan pedoman Pharmaceutical Care 2005, diikuti penggunaan antibiotika golongan sefalosporin yakni seftriakson, sefiksim dan sefotaksim sebagai lini kedua.