ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman tengkawang dikenal dengan Shorea mecistopteryx merupakan jenis lemak padat yang umumnya digunakan dalam bidang kosmetik. Lemak tengkawang mulai dikenal sebagai lemak nabati khas dari hutan dipterokarpa berpotensi sebagai bahan baku margarin. Margarin dibuat dengan basis lemak nabati, dan yang saat ini umumnya berbahan dasar dari minyak sawit. Pasar margarin di dunia tahun 2028 diproyeksikan mencapai 4,32 milyar USD. Kandungan margarin selain lemak nabati, mengandung sekitar 20% air ditambah bahan pengemulsi, bahan aroma, bahan aditif lainnya untuk meningkatkan nilai gizi fungsional lainnya melalui proses fortifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi margarin yang menggunakan bahan baku lemak tengkawang yang terfortifikasi dengan vitamin A, D dan E. Proses fortifikasi dibuat dengan menambahkan vitamin A, D dan E. Proses pengujian fisiko-kimia margarin lemak tengkawang yang terfortifiasi terdiri atas uji pH, uji daya sebar, uji kadar air, uji bilangan peroksida, uji kadar asam lemak bebas. Dan untuk uji kesukaan dilakukan uji hedonik. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif yaitu berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data yang diperoleh pada penelitian ini akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan dinarasikan. Hasil penelitian menunjukkan, evaluasi sifat fisik sediaan margarin dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40% memenuhi persyaratan uji pH, uji daya sebar, uji kadar air, uji hedonik, uji bilangan peroksida, dan uji kadar asam lemak bebas. Hasil uji hedonik dari aroma dan rasa margarin lemak tengkawang dengan konsentrasi 30% lebih disukai responden, sedangkan untuk warna margarin pada konsentrasi 40% lebih disukai responden.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan polusi, radiasi sinar UV dan radikal bebas berlebih merupakan salah satu penyebab penuaan dini yang terjadi saat ini. Penuaan dini dapat dicegah dengan cara memanfaatkan antioksidan dan pelembab baik yang yang diberikan secara oral maupun topikal. Lemak tengkawang dari buah Shorea mecistopteryx merupakan genus dari famili Dipterocarpacea yang menghasilkan minyak nabati bernilai tinggi, seperti asam oleat, palmitat, miristat dan stearat. Asam oleat berfungsi sebagai pelembab, pelembut dan pelindung kulit serta adanya kandungan asam palmitat dan asam ftalat menjadikan lemak tengkawang memiliki sifat antioksidan. Tujuan dari penelitian ini untuk membuat formula krim lemak tengkawang yang memenuhi persyaratan fisik krim dan menguji aktivitas antioksidan. Pada penelitian ini dibuat krim dengan variasi konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Sifat fisik krim diketahui melalui beberapa evaluasi, yaitu organoleptis, homogenitas, uji tipe krim, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat dan uji freeze-thaw. Aktivitas antioksidan diukur dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lemak tengkawang dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan memiliki aktivitas antioksidan. Hasil evaluasi menunjukkan krim dengan konsentrasi lemak tengkawang 5%, 10% dan 15% memenuhi semua persyaratan uji sifat fisik krim. Hasil uji aktivitas peredaman radikal bebas DPPH menunjukkan krim dengan konsentrasi lemak tengkawang 5% memiliki persen RSA 87,1±0,005%, konsentrasi lemak tengkawang 10% memiliki persen RSA 92,3±0.001% dan konsentrasi 15% memiliki persen RSA 95,1±0,001%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia dikenal sebagai salah satu dari tujuh negara dengan keanekaragaman hayati terbesar dan memiliki potensi dalam pengembangan obat herbal dalam bidang kesehatan. Obat herbal yang biasa digunakan dimasyarakat adalah tanaman, yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder. Salah satu tanaman yang memiliki banyak kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu tanaman kemangi (Ocimum santcum L.), senyawa yang terdapat pada tanaman kemangi diantaranya adalah flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan sehingga dapat dikembangkan menjadi sediaan farmasi yaitu granul sirup kering. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan campuran Natrium CMC dan Avicel pH 101 sebagai suspending agent yang dapat menghasilkan granul sirup kering yang memenuhi persyaratan fisik sirup kering. Penelitian ini meliputi beberapa tahan diantaranya determinasi tanaman, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, pembuatan granul sirup kering dan evaluasi sediaan granul sirup kering. Formulasi granul sirup kering dibuat dalam tiga variasi konsentrasi dengan perbandingan Natrium CMC dan Avicel pH 101 sebagai suspending agent yaitu Formula I (0,5% : 1,5%), formula II (1% : 1%), dan formula III (1,5% : 0,5%). Sediaan yang dihasilkan dilakukan evaluasi karakteristik fisik granul yaitu uji organoleptis, uji higroskopis, kandungan lembab, sifat alir, densitas massa, distribusi ukuran partikel, dan waktu rekonstitusi dan karakteristik fisik granul setelah rekonstitusi uji viskositas, uji pH dan uji bobot jenis.