ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia merupakan negara tropis dengan kelembapan tinggi yang memicu produksi minyak berlebih pada kulit kepala, sehingga mempermudah pertumbuhan jamur penyebab ketombe. Penggunaan sampo antiketombe sintetis sering kali menimbulkan efek samping berupa iritasi dan kerontokan rambut, sehingga diperlukan alternatif alami yang lebih aman. Bahan alami yang berpotensi sebagai antiketombe yaitu lidah buaya dan sari buah jeruk nipis. Lidah buaya dan sari buah jeruk nipis berfungsi menghambat pertumbuhan jamur penyebab ketombe yaitu Candida albicans. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan sediaan sampo kombinasi ekstrak lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) dan sari buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) yang stabil secara fisik dan efektif sebagai antiketombe menggunakan formula optimum. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Formula sampo dibuat dengan kombinasi Na lauril sulfat dan Cocamide DEA, lalu diuji secara fisik meliputi uji organoleptik, pH, homogenitas, viskositas, dan tinggi busa. Data hasil uji fisik dianalisis menggunakan perangkat lunak desain faktorial untuk menentukan formula optimum. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan komposisi optimum Na lauril sulfat dengan konsentrasi 10% dan Cocamide DEA dengan konsentrasi 1,53% keduanya mampu mempengaruhi karakteristik pada sediaan sampo antiketombe. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan nilai pH 5,36, viskositas 3498, dan tinggi busa 10,7. Pengujian aktivitas antiketombe terhadap jamur Candida albicans menghasilkan diameter zona hambat sebesar 18,21 mm yang termasuk dalam kategori daya hambat kuat. Uji iritasi terhadap 5 orang sukarelawan menunjukkan hasil negatif, menandakan tidak adanya iritasi kulit. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak lidah buaya 14% dan sari buah jeruk nipis 10% berhasil diformulasikan menjadi sediaan sampo antiketombe yang stabil secara fisik, aman, serta memiliki efektivitas yang kuat dalam menghambat jamur Candida albicans.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Face mist berbasis bahan alam memiliki potensi sebagai sediaan perawatan kulit, namun kombinasi humektan yang optimal untuk menghasilkan karakteristik fisik yang baik sekaligus mempertahankan aktivitas antioksidan masih perlu ditentukan. Penelitian ini bertujuan menentukan formula optimum face mist ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) dengan variasi konsentrasi gliserin dan propilenglikol serta mengevaluasi aktivitas antioksidannya menggunakan metode ABTS. Penelitian dilakukan melalui determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, skrining fitokimia, formulasi face mist menggunakan desain faktorial dengan bantuan Design Expert 13, evaluasi sifat fisik sediaan, optimasi formula, verifikasi menggunakan One Sample T-Test, dan pengujian aktivitas antioksidan metode ABTS dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak sebesar 19,63% dengan susut pengeringan 8,67%, kadar air 20,17%, serta ekstrak mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Formula optimum diperoleh pada kombinasi gliserin 15,5% dan propilenglikol 8% dengan nilai desirability 0,737. Formula tersebut memiliki pH 4,977, viskositas 66,667 cP, daya semprot 5,575 cm, dan waktu kering 3,29 menit. Hasil verifikasi menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil prediksi dan hasil percobaan (p>0,05), sehingga model optimasi dinyatakan valid. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ face mist optimum sebesar 565,85 ± 63,325 ppm, sedangkan vitamin C sebesar 0,5017 ± 0,1872 ppm. Dengan demikian, kombinasi gliserin dan propilenglikol yang diperoleh mampu menghasilkan face mist dengan karakteristik fisik yang memenuhi target optimasi, namun aktivitas antioksidannya masih tergolong sangat lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak daun afrika (Gymnanthemum amygdalina Del.) dipilih sebagai bahan aktif masker gel peel-off karena memiliki kandungan antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. PVA atau polivinil alkohol merupakan bahan yang sering digunakan sebagai basis masker gel peel-off. Hal ini karena PVA memiliki pengaruh yang baik terhadap karakteristik masker gel peel-off. HPMC atau hidroksilpropil metilselulosa pada masker gel peel-off mampu meningkatkan jumlah serat polimer dimana akan semakin banyak cairan yang tertahan dan pembentuk gel akan mengikat air tersebut. Kedua dari basis tersebut memiliki karakteristik dan sifat fisik yang dapat berpengaruh terhadap sifat fisik sediaan yang meliputi organoleptis, pH, daya sebar, viskositas, daya lekat, dan lama pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengetahui komposisi optimum formula masker gel peel-off ekstrak daun afrika dengan kombinasi PVA dan HPMC. Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental dan optimasi menggunakan metode desain faktorial. Hasil data sifat fisik sediaan dibuat masing-masing contour plot berdasarkan kriteria sifat fisik yang baik, lalu contour plot digabungkan menjadi contour plot superimposed yang akan menunjukkan area optimum. Analisis menggunakan aplikasi Design Expert 11. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan komposisi optimum PVA dengan konsentrasi 12,349 % dan HPMC dengan konsentrasi 4,47109 %. Bahan-bahan dengan konsentrasi tersebut mampu mempengaruhi karakteristik pada masker gel peel-off ekstrak daun afrika dimana semakin tinggi konsentrasi basis maka semakin tinggi viskositas sediaan yang akan menyebabkan daya sebar rendah, daya lekat lebih lama, dan waktu mongering lebih lama.