ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas didunia. Penggunaan obat antihipertensi yang tepat berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah dan mencegah terjainya komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan gambaran mengenai penggunaan obat antihipertensi sebagai bahan evaluasi pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu. Metode penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh 178 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Data analisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien paling banyak berusia 49-59 tahun (50,0%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 122 pasien sebesar (68,5%), hipertensi tahap I sebanyak 86 pasien (48,3%), dan penyakit penyerta paling banyak adalah diabetes melitus sebanyak 26 (59,1%). Gambaran penggunaan obat antihipertensi menunjukkan bahwa obat paling banyak digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipin 10 mg sebanyak 112 resep (58,6%). Pola penggunaan obat tunggal didominasi oleh amlodipin 10 mg sebanyak 164 pasien (99,4%), sedangkan pola penggunaan kombinasi yang paling banyak amlodipin 10 mg dan catopril 25 mg sebanyak 8 pasien (61,5%). Frekuensi pemberian obat paling banyak adalah 1 kali sehari sebanyak 112 (62,9%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Permasalahan yang biasanya terjadi adalah stok obat yang berlebih atau kurang serta adanya obat rusak atau kadaluarsa yang masih ditemukan di gudang penyimpanan obat. Masalah ini muncul biasanya dipengaruhi oleh sistem pengelolaan obat di puskesmas yang kurang diperhatikan. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Puskesmas sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah jurnal nasional tentang gambaran penyimpanan obat di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengidentifikasi, membandingkan, mengelompokkan temuan penelitian berdasarkan studi literatur tentang penyimpanan obat di puskesmas tentang bagaimana penyimpanan obat di puskesmas berdasarkan bentuk dan jenis sediaan, suhu penyimpanan, cahaya dan kelembaban, bahan yang mudah terbakar/ meledak serta penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016. Hasil kajian studi literatur diperoleh bahwa perbedaan utama terdapat pada aspek ventilasi. Puskesmas Galesong Utara sudah memiliki ventilasi, sedangkan Puskesmas Piyungan belum memiliki ventilasi. Namun gambaran penyimpanan obat di kedua puskesmas secara umum telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur bertujuan untuk mengetahui gambaran kelengkapan resep pada aspek administratif di Puskesmas sesuai dengan Permenkes No.74 tahun 2016. Resep yang baik harus memuat cukup informasi yang memungkinkan ahli kefarmasian yang bersangkutan mengerti obat apa yang akan diberikan kepada pasien. Dilakukan pengkajian terhadap kelengkapan administratif pada resep apakah memenuhi ketentuan Permenkes No 74 tahun 2016. Objek penelitian yaitu aspek kelengkapan administratif resep di Puskesmas, yakni meliputi kelengkapan data pasien (Nama, umur, jenis kelamin, berat badan pasien) , kelengkapan data dokter (Nama dan paraf dokter) tanggal penulisan resep dan ruangan asal/unit di Puskesmas Cilamaya di Kabupaten Karawang, Puskesmas Tamalanrea Kota Makassar dan Puskesmas Sarolangun Puskesmas menurut Permenkes No 74 tahun 2016. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisa dengan disajikan dalam bentuk berupa tabel data-data yang terkumpul Hasil analisis berupa persentase dan dinarasikan dalam bentuk paragraf. kelengkapan resep dari 3 jurnal aspek administratif berdasarkan nama pasien diperoleh persentasi keseuaian berkisar 100%, berdasarkan umur pasien berkisar 98,2%, jenis kelamin berkisar 33,3%, berat badan berkisar 32,2%, nama dokter berkisar 58,4%, paraf dokter berkisar 65,6%, tanggal penulisan resep berkisar antara 92,7% dan ruangan asal 25,3%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radiofarmaka digunakan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit terutama untuk diagnostik dan terapi berkaitan erat dengan jumlah fasilitas kedokteran nuklir yang masih terbatas dan ketersediaan radiofarmaka di Indonesia yang merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, mengingat kendala masa tunggu pasien yang cukup lama mulai hitungan bulan hingga satu tahun. Tujuan penelitian ini untuk memberikan gambaran penggunaan radiofarmaka pada pasien rawat jalan dan rawat inap di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda selama periode 2018–2020, meliputi proporsi berdasarkan jumlah pasien, asal pasien, jenis kelamin, rentang usia, jenis penyakit, kombinasi pemeriksaan dan radiofarmaka yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode deskriptif menggunakaan data retrospektif, dan data yang dipilih adalah rekam medik pasien. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2021, sampel diambil secara total sampling dan hasil analisis disajikan secara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi Literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat pada pasien hipertensi di PUSKESMAS. Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah lebih besar dari 140/90 mmHg. Berdasarkan data hasil RISKESDAS tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi hasil pengukuran pada penduduk dengan usia lebih dari 18 tahun yaitu 34,1%, jumlahnya mengalami kenaikan dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada tahun 2013 yaitu 25,8%. Objek dari penelitian ini adalah gambaran penggunaan obat pada pasien hipertensi di puskesmas. Tahapan dari penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan, meringkas, dan menarik kesimpulan dari data yang didapat dilakukan secara benar. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data yang telah di dapat dari jurnal yang akan diteliti. Berdasarkan pada hasil penelitian dari kedua jurnal tersebut telah disimpulkan bahwa obat yang paling banyak digunakan adalah amlodipin dengan persentase 56,51% dan 89,66% dari golongan Calcium Channel Blocker (CCB), dan pada penggunaan obat kombinasi dua jenis diketahui bahwa yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi ACEi dan CCB dengan persentase 35% dan 73,33%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran penggunaan obat antibiotik pada beberapa Puskesmas. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Objek dalam penelitian ini adalah gambaran penggunaan antibiotik pada beberapa Puskesmas yaitu pada Puskesmas Kendal, Puskesmas Bengkuring, Puskesmas Tarakan, dan Puskesmas Pamanukan. Analisa data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukan bahwa walaupun dengan pengambilan sampel yang berbeda terdapat persamaan yaitu pada penggunaan jenis obat antibiotik generik yang paling sering digunakan yaitu amoxicillin dengan persentase sebagai berikut: Puskesmas Kendal berjumlah 76,04%, Puskesmas Bengkuring berjumlah 64%, Puskesmas Tarakan berjumlah 73%, Puskesmas Pamanukan berjumlah 29,91%. Bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan yaitu tablet/kaplet dengan persentase sebagai berikut: Puskesmas Kendal berjumlah 81,07%, Puskesmas Bengkuring berjumlah 97,29%, Puskesmas Tarakan berjumlah 94,18%, Puskesmas Pamanukan berjumlah 52,55%. Pada Studi ini ditemukan persamaan di Puskesmas Kendal, Puskesmas Bengkuring, dan Puskesmas Tarakan pada pasien yang paling sering berobat adalah pasien dengan umur 26-55 tahun. Pada Puskesmas Kendal dari 3222 lembar resep, pasien yang berumur 26-55 tahun berjumlah 37,71%, Puskesmas Bengkuring dari 964 lembar resep, pasien berumur 26-45 tahun berjumlah 49%, dan Puskesmas Tarakan dari 786 lembar resep, pasien yang berumur 26-55 tahun berjumlah 32%. Pada Puskesmas Pamanukan dari 1277 lembar resep, pasien yang paling sering berobat berumur 1-5 tahun berjumlah 40,02%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di beberapa Puskesmas di Indonesia. Salah satu fungsi Puskesmas adalah memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. Obat merupakan unsur penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan dan untuk menjaga mutu obat maka perlu dilakukan penyimpanan obat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Tahapan penelitian yaitu mengumpulkan literatur , reduksi data, menyajikan data dan membuat kesimpulan. Objek penelitian adalah gambaran penyimpanan obat di Puskesmas. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif pada gudang obat beberapa Puskesmas di Indonesia. Hasil telaah literatur menyimpulkan bahwa penyimpanan obat di beberapa Puskesmas di Indonesia telah cukup baik. Masih ada Puskesmas yang belum mempunyai gudang permanen yaitu Puskesmas Tompobulu Kabupaten Maros tetapi penyimpanan obat telah di sesuaikan dengan keadaan lapangan sehingga masih harus di perbaiki lagi. Puskesmas Pahandut dan Bukit Hindu Palangkaraya sebagian besar telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat. Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Kotamadya Pekanbaru telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
High Alert Medication merupakan obat yang harus diwaspadai karena sering terjadi kesalahan yang serius (Sentinel Event) dan obat yang beresiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Dinginkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan obat High Alert Medication salah satunya yaitu mengatur penyimpanan obat tersebut. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran penyimpanan obat High Alert Medication di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan mencari teori penlitian dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Tahapan penelitian yaitu: 1. Reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama ini tulisan; 2. Penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif; 3. Penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data agar penarikan simpulan dapat dilakukan dengan benar. Objek penelitian yaitu hasil dari Studi Literatul berjudul penyimpanan obat High Alert di Rumah Sakit. Hasil penelitian ini adalah dari lima indikator terdapat dua indikator yang belum dapat dipenuhi oleh Rumah sakit., hal ini dipengaruhi oleh ketersediaannya ruangan penyimpanan serta kurang pahamnya petugas akan pentingnya pelabelan obat High Alert Medication yang dapat mengurangi kekeliruan saat pengambilan obat yang dapat berakibat fatal pada pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) sampai saat ini belum bisa disembuhkan, namun infeksi ini dapat dikendalikan dengan obat antiretroviral. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antiretroviral (ARV) pada pasien penderita AIDS rawat jalan di Rumah Sakit Umum Undata Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Rumah Sakit Swasta yang berada di Kota Bandung, dan RSUD Kabupaten Temanggung.Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah karya tulis ilmiah, jurnal ilmiah tentang penggunaan obat Antiretroviral (ARV). Objek penelitian yaitu penggunaan obat antiretroviral pada pasien penderita AIDS rawat jalan di rumah sakit yang berbeda, yaitu Rumah Sakit Umum Undata Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Rumah Sakit Swasta yang berada di Kota Bandung, dan RSUD Kabupaten Temanggung. Hasil kesimpulan menunjukkan penggunaan terbanyak di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah yaitu golongan NNRTI dengan jenis obat Efavirenz (46,5%), di RS Swasta di Kota Bandung penggunaan antiretrovial terbanyak pada kombinasi lini pertama tenofovir+lamivudine+efavirenz (69%) dan di RSUD Kabupaten Temanggung paling banyak menggunakan obat antiretroviral Neviral® (29,2%) dan Duviral® (27,4%).