ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri, khususnya oleh Staphylococcus aureus, masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Masalah ini diperparah oleh meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis akibat penggunaan yang tidak rasional. Diperlukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri yang aman. Daun mimba (Azadirachta Indica A.Juss) kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun mimba terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan perbedaan metode uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi sumuran dan metode disfusi cakram. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan membandingkan artikel ilmiah yang relevan, dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir . Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai efektivitas berbagai konsentrasi dan metode ekstraksi daun mimba dalam menghambat pertumbuhan bakteri
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen penyebab infeksi kulit. Penggunaan antibiotik jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi, sehingga bahan alam digunakan sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) terhadap kedua bakteri dengan metode difusi sumuran. Tahapan penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi maserasi etanol 70%, skrining fitokimia, serta uji antibakteri pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20%. Siprofloksasin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes menghasilkan zona hambat 6,1 mm; 8,48 mm; dan 10,76 mm (kategori sedang–kuat), sedangkan terhadap Pseudomonas aeruginosa sebesar 4,96 mm; 6,56 mm; dan 8,13 mm (kategori lemah–sedang). Analisis One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar konsentrasi (p=0,000), dan uji Independent Sample Test menunjukkan perbedaan signifikan antar kedua bakteri (p=0,039; p=0,041). Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat terhadap Cutibacterium acnes dibandingkan Pseudomonas aeruginosa, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi kulit merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum terjadi pada manusia dan dapat disebabkan oleh bakteri, antara lain Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan flora normal kulit. Penggunaan antibiotik secara berulang dan jangka panjang dalam penanganan infeksi kulit berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi bakteri. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi antibakteri, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak metanol kulit buah tampoi sebagai antibakteri terhadap C. acnes dan P. aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan bakteri pada media agar. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak metanol, perhitungan rendemen ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri. Data hasil pengujian antibakteri dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan zona hambat antar kelompok perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% terhadap bakteri C. acnes menghasilkan rata-rata zona hambat masing-masing sebesar 3,95 mm, 4,28 mm, dan 4,70 mm, yang termasuk dalam kategori lemah. Sementara itu, pada bakteri P. aeruginosa, konsentrasi yang sama menghasilkan zona hambat sebesar 4,35 mm, 5,30 mm, dan 6,40 mm, yang tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara konsentrasi 50% dan 100% terhadap aktivitas antibakteri pada P. aeruginosa
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi masih menjadi permasalahan kesehatan yang sering terjadi di masyarakat, salah satunya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Meskipun Escherichia coli merupakan flora normal di saluran pencernaan, beberapa strain bersifat patogen dan dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional sebagai terapi infeksi dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Kondisi ini mendorong perlunya alternatif pengobatan berbahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri. Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung metabolit sekunder flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak terhadap bakteri Escherichia coli dengan metode difusi cakram dan sumuran. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan artikel ilmiah, kemudian melakukan telaah dan analisis data yang selanjutnya diringkas hingga diperoleh data utama. Data tersebut kemudian disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel, dan pada tahap akhir dilakukan penarikan kesimpulan tentang aktivitas antibakteri ekstrak daun sirsak. Hasil penelitian diperoleh, bahwa ekstrak etanol daun sirsak dengan metode difusi sumuran memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 0,5% dan 1% kategori hambatan kuat. Sedangkan dengan metode difusi cakram, ekstrak daun sirsak pada konsentrasi 25%, 50%, 75% dan100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan kategori hambatan sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, termasuk tanaman herbal yang digunakan dalam pengobatan tradisional. Rimpang lengkuas dikenal mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba. Dengan seringnya terjadi penyakit infeksi yang disebabkan bakteri E. coli dan bakteri K. pneumoniae penyebab peradangan parenkim paru yang resisten terhadap antibiotik maka, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi alternatif pengobatan berbasis bahan alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji difusi cakram dan metode sumuran untuk menilai daya hambat ekstrak lengkuas terhadap pertumbuhan bakteri. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak lengkuas efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dengan ukuran zona hambat yang signifikan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan obat antibakteri alami serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan tanaman herbal sebagai alternatif dalam pengobatan infeksi bakteri. Selain itu, penelitian ini juga berfungsi sebagai referensi bagi penelitian lebih lanjut tentang potensi tanaman obat dalam mengatasi masalah kesehatan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman nyirih (Xylocarpus granatum) merupakan salah satu spesies yang banyak ditemukan di hutan mangrove yang termasuk dalam famili Meliaceae. Berdasarkan data empiris tanaman nyirih digunakan sebagai obat diare dan pembersih luka. Manfaat biji buah nyirih dimasyarakat yang dicampur dengan tepung beras digunakan sebagai masker wajah untuk mengobati jerawat. Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit karena adanya penumpukan minyak yang menyebabkan pori-pori kulit wajah tersumbat sehingga memicu aktivitas bakteri dan peradangan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih dalam menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah antibakteri ekstrak biji buah nyirih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Aktivitas antibakteri diuji dengan menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi ekstrak 10%, 15% dan 20%. Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO 1% dan kontrol positif yang digunakan yaitu kloramfenikol 0,1%. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji buah nyirih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes dengan kriteria sedang pada konsentrasi 10%, 15%, 20%.