Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

61 hasil
Subjek: Antibakteri
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun petai belalang (Archidendron clypearia ( Jack) I.C Nielsen) Terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Petai belalang (Archidendron clypearia) adalah tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk demam, diare, dan detoksifikasi yang mengandung senyawa flavonoid seperti robinetin, quercetin, serta memiliki aktivitas antiinflamasi, antibakteri. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun petai belalang terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan ekstrak dan skrining fitokimia. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus untuk menilai potensi antimikroba ekstrak tumbuhan ini. Ekstrak dibuat dengan konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, menggunakan kontrol positif amoxicillin dan kontrol negatif DMSO 1%. Metode difusi cakram digunakan untuk mengukur zona hambat bakteri. Analisis data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan metode statistik One Way Anova. Hasil Penelitian aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol daun petai belalang pada konsentrasi 15% menghasilakan zona hambat sebesar 8,7 mm dengan kategori sedang, terhadap bakteri Escherichia coli, sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 15% menghasilkan zona hambat 7,9 mm. Hasil analisis statistik One Way Anova menunjukkan adanya perbedaan terhadap bakteri gram postif dan negatif.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Umbil Lili Paris (Chlorophytum comosum) Sebagai Antibakteri Pada Staphylococcus aureus Menggunakan Metode Difusi Cakram

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang sering menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak. Penggunaan tanaman obat tradisional sebagai alternatif antibakteri alami terus dikembangkan, salah satunya adalah umbi lili paris (Chlorophytum comosum), yang secara empiris digunakan oleh masyarakat di Berau, Kalimantan Timur, untuk mengobati bisul. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% umbi lili paris terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Proses penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri dengan berbagai konsentrasi (20%, 30%, 40%, dan 50%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak membentuk zona hambat pada konsentrasi 30%, dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 0,57 mm, 40% sebesar 0,65 mm, dan 50% sebesar 0,65 mm yang dikategorikan sebagai aktivitas antibakteri lemah. Hasil uji KruskalWallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok konsentrasi (p = 0,007). Penelitian ini dapat disimpulkan ekstrak etanol umbi lili paris menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah terhadap Staphylococcus aureus.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

"UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN PETAI BELALANG (ARCHIDENDRON CLYPEARIA) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN SALMONELLA TYPHI"

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi merupakan salah satu penyebab penyakit yang sering terjadi di masyarakat. Salah satu jenis infeksi disebabkan oleh Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab infeksi kulit pada manusia yang ditandai dengan abses bernanah. Selain itu, Salmonella typhi juga merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan demam tifoid. Infeksi akibat mikroorganisme dapat diatasi dengan pemberian antimikroba. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antimikroba adalah tumbuhan petai belalang (Archidendron clypearia). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun petai belalang terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri. Ekstrak dan fraksi dibuat dalam konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, dengan kontrol positif amoksisilin 0,1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran untuk mengukur zona hambat. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode difusi cakram, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berada pada kisaran 7,3–10,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 7,6–10,1 mm. Pada metode difusi sumuran, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berkisar antara 12,1–16,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 12,5–16,8 mm. Zona hambat terbesar diperoleh dari fraksi etil asetat dengan diameter 16,8 mm pada metode difusi sumuran. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri pada bakteri gram positif dan gram negatif dengan nilai signifikan 0,005 pada metode cakram dan 0,006 pada metode sumuran.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL UMBI BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.)

•Hasil Penelitian dan Pengabdian

Kekebalan bakteri terhadap antibiotik menyebabkan angka kematian semakin meningkat. Dalam menghadapi masalah tersebut, dilakukan penelitian-penelitian, salah satunya dengan memanfaatkan bahan-bahan obat alam seperti umbi bawang sabrang (Eleutherine palmifolia Merr.) famili Iridaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etilasetat dan fraksi sisa umbi bawang sabrang (Eleutherine palmifolia Merr.) terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif serta mengetahui golongan senyawa kimianya. Skrining fitokimia dilakukan terhadap simplisia umbi bawang sabrang, sedang karakterisasi dilakukan terhadap serbuk simplisia dan ekstrak etanol. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar menggunakan pencadang logam dengan konsentrasi 40%, 50% dan 60% terhadap bakteri gram positif, Staphylococcus aureus ATCC 29737, Staphylococcus epidermidis ATCC 12228) dan bakteri gram negatif (Klebsiella pneumoniae ATCC 10031, Escherichia coli ATCC 10536). Ekstrak etanol umbi bawang sabrang bersifat antibakteri untuk gram positif dan gram negatif. Golongan senyawa kimia yang terdapat pada ekstrak etanol umbi bawang sabrang adalah alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakuinon glikosida, tanin, triterpenoid, steroid..

27 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBUCHA TEH HIJAU (Camellia Sinensis) DENGAN VARIASI LAMA FERMENTASI TERHADAP Staphylococcus Aureus DAN Staphylococcus Epidermidis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kombucha teh hijau (Camellia sinensis) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif hasil fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombucha teh hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis serta menentukan lama fermentasi optimum. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Objek yang diteliti adalah kombucha teh hijau dengan variasi lama fermentasi 0, 3, 6, 9, 12, 15, dan 18 hari. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode well diffusion (sumuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombucha teh hijau tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh variasi lama fermentasi yang digunakan. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-3, 6, 9, dan 12, dengan diameter zona hambat tertinggi pada hari fermentasi ke-6 sebesar 2,75 ± 0,25 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi lama fermentasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap diameter zona hambat bakteri Staphylococcus epidermidis (p0,05). Lama fermentasi optimum kombucha teh hijau dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-6.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK PALA (Myristica fragrans) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT (acne vulgaris )

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dikaitkan dengan pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri adalah minyak pala (Myristica fragrans) karena mengandung berbagai senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri serta konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada berbagai konsentrasi. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi sumuran. Minyak pala diuji pada konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%. Klindamisin 0,1% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis menggunakan SPSS melalui uji normalitas, homogenitas, One-Way Analysis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak pala mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri pada seluruh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis diperoleh pada konsentrasi 5%. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 2,00 mm, 5,56 mm, 8,89 mm, dan 13,22 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut sebesar 0,22 mm, 3,89 mm, 8,44 mm, dan 12,22 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p 0,05 pada kedua bakteri, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok konsentrasi. Uji lanjut LSD menunjukkan seluruh kelompok perlakuan berbeda signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa minyak pala memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 5%, serta aktivitas penghambatannya meningkat seiring bertambahnya konsentrasi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum ) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT (Acne vulgaris)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI BUAH BAKAU KURAP (Rhizophora Mucronata) TERHADAP BAKTERI Staphyloococus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat dengan diameter 0,7-1,2 µm, Staphylococcus aureus hidup pada hidung dan kulit manusia. Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri adalah bakau kurap. Bakau kurap kaya dengan beberapa macam senyawa seperti tanin, alkaloid, flavonoid, terpenoid dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri dari buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylcoccus aureus. Tahapan Penelitian yaitu pengumpuan bahan baku, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dan fraksi, skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 5%,10% dan 20%, kontrol positif Kloramfenikol 1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah bakau kurap mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, flavonoid dan tanin. Berdasarkan hasi penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah bakau kurap memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol dengan konsentrasi 5% dikategori lemah 10% dan 20% kategorikan sedang dan kuat, fraksi n-heksan dengan konsentrasi 5% dan 10% kategorikan lemah dan 20% kategorikan sedang, fraksi etil asetat dengan kategori 5% dan 10% dikategori sedang untuk 20% kategorikan kuat, fraksi air dengan konsentrasi 5%, 10% dan 20% kategorikan sedang, kontrol positif kategorikan sangat kuat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN MATOA (Pometia pinnata) BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL TERHADAP BAKTERI Escherichia coli

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri E.coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Daun matoa diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Hasil uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok ekstrak etanol 50% dengan konsentrasi 20% dan kelompok ekstrak etanol 95% dengan konsentrasi 30% dengan nilai Adjusted Significance sebesar 0,048 (p0,05). Sehingga variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri E.coli dan ekstrak yang diperoleh menggunakan pelarut etanol 95% menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E.coli.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MATOA (Pometia pinnata) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit infeksi oleh bakteri paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (S.aureus) dan Escherichia coli (E.coli). Terapi pengobatan yang digunakan selama ini adalah dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibakteri yang terus menerus dapat berakibat pada resistensi antibakteri, sehingga perlu dilakukan eksplorasi terhadap bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa terhadap pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus. Tahapan penelitian meliputi penetapan kadar air, uji skrining fitokimia, dan uji antibakteri E.coli dan S.aureus menggunakan metode difusi cakram. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol 0,1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun matoa mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil penelitian uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun matoa mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi yang digunakan. Pada bakteri E.coli, rata-rata diameter zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30% berturut-turut sebesar 6,45 mm; 6,72 mm; 6,98 mm; 8,98 mm dan 9,60 mm, yang seluruhnya termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan pada bakteri S.aureus, rata-rata diameter zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi yang sama berturut-turut sebesar 12,30 mm; 14,51 mm; 14,83 mm; 15,48 mm dan 16,62 mm, yang seluruhnya termasuk dalam kategori kuat. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar variasi konsentrasi terhadap diameter zona hambat bakteri E.coli dan S.aureus. dengan nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05. Ekstrak etanol daun matoa lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri gram positif S.aureus dibandingkan E.coli. Perbedaan efektivitas tersebut berkaitan dengan struktur dinding sel, di mana bakteri gram negatif memiliki lapisan luar berupa lipopolisakarida dan protein yang lebih kompleks, sedangkan bakteri gram positif hanya tersusun atas satu lapisan peptidoglikan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Metode Ekstraksi Maserasi dan Digesti Ekstrak Etanol Daun Sirih Hutan (Piper aduncum L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE MERAH (ZINGIBER OFFICINALE VAR. RUBRUM) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang berasal dari bahan alam, salah satunya jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji dan membandingkan dua artikel penelitian yang membahas efektivitas ekstrak jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan konsentrasi ekstrak, metode pengujian, dan diameter zona hambat yang dihasilkan pada masing-masing penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah memiliki aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Berdasarkan hasil analisis kedua artikel, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jahe merah berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS EKSTRAK DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) TERHADAP Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jerawat (Acne vulgaris) merupakan gangguan kulit dengan prevalensi tinggi yang berkaitan dengan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada folikel pilosebasea. Terapi jerawat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi bakteri serta efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif antibakteri berbasis bahan alam yang lebih aman. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap C. acnes dan S. epidermidis melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif terhadap data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan sumber pustaka relevan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu mengenai kandungan metabolit sekunder daun mahkota dewa serta mekanisme penghambatan pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mahkota dewa mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, fenolik, dan kuinon. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap Cutibacterium acnes ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat sebesar 14,20–19,20 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis sebesar 8,98–13,14 mm. Berdasarkan temuan tersebut, daun mahkota dewa berpotensi menjadi sumber bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit dan kematian. Salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering dijumpai adalah Escherichia coli, yaitu bakteri flora normal usus yang dapat bersifat patogen apabila jumlahnya berlebihan. Tingginya kasus resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri dari bahan alam, salah satunya daun singkong (Manihot esculenta Crantz). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun singkong terhadap bakteri E. coli. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah yang relevan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun singkong menghasilkan diameter zona hambat sebesar 19 mm, 25 mm, dan 29 mm pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Pada penelitian lainnya, diameter zona hambat yang diperoleh sebesar 3,5 mm, 4,4 mm, dan 5,2 mm pada konsentrasi 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 150.000 ppm setara dengan 5%, 10%, dan 15%, dengan kategori lemah hingga sedang. Perbedaan aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak, metode yang digunakan, serta faktor biologi dan kimia saat proses pembuatan ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol 70% daun singkong berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami terhadap E. coli.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A.Juss) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi bakteri, khususnya oleh Staphylococcus aureus, masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Masalah ini diperparah oleh meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis akibat penggunaan yang tidak rasional. Diperlukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri yang aman. Daun mimba (Azadirachta Indica A.Juss) kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun mimba terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan perbedaan metode uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi sumuran dan metode disfusi cakram. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan membandingkan artikel ilmiah yang relevan, dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir . Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai efektivitas berbagai konsentrasi dan metode ekstraksi daun mimba dalam menghambat pertumbuhan bakteri

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) TERHADAP BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Pseudomonas aeruginosa

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen penyebab infeksi kulit. Penggunaan antibiotik jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi, sehingga bahan alam digunakan sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) terhadap kedua bakteri dengan metode difusi sumuran. Tahapan penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi maserasi etanol 70%, skrining fitokimia, serta uji antibakteri pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20%. Siprofloksasin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes menghasilkan zona hambat 6,1 mm; 8,48 mm; dan 10,76 mm (kategori sedang–kuat), sedangkan terhadap Pseudomonas aeruginosa sebesar 4,96 mm; 6,56 mm; dan 8,13 mm (kategori lemah–sedang). Analisis One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar konsentrasi (p=0,000), dan uji Independent Sample Test menunjukkan perbedaan signifikan antar kedua bakteri (p=0,039; p=0,041). Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat terhadap Cutibacterium acnes dibandingkan Pseudomonas aeruginosa, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Matoa Muda & Tua (Pometia pinnata J.R. & G. FORST) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 33591

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia termasuk negara yang memiliki kasus kematian akibat resistensi antibiotik yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) berpotensi sebagai senyawa antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Perbedaan umur daun dapat mempengaruhi kadar metabolit tersebut dan aktivitas antibakterinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa tua dan muda terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 33591. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengujian kadar air ekstrak, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan kadar air ekstrak daun muda matoa sebesar 5,45% dan ekstrak daun tua sebesar 7,80% termasuk dalam kategori ekstrak kental. Ekstrak daun muda matoa memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 11,37 mm sedangkan ekstrak daun tua memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 12,19 mm. Terdapat perbedaan rata-rata zona hambat antara ekstrak daun tua dan muda matoa, yang menunjukkan daun tua memiliki zona hambat lebih besar dibandingkan daun muda, meskipun secara statistik hasil uji menunjukkan nilai sig 0,126 > 0,05 yang menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan antara zona hambat kelompok ekstrak daun muda dan daun tua matoa.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) TERHADAP BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Pseudomonas aeruginosa

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi kulit merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum terjadi pada manusia dan dapat disebabkan oleh bakteri, antara lain Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan flora normal kulit. Penggunaan antibiotik secara berulang dan jangka panjang dalam penanganan infeksi kulit berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi bakteri. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi antibakteri, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak metanol kulit buah tampoi sebagai antibakteri terhadap C. acnes dan P. aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan bakteri pada media agar. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak metanol, perhitungan rendemen ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri. Data hasil pengujian antibakteri dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan zona hambat antar kelompok perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% terhadap bakteri C. acnes menghasilkan rata-rata zona hambat masing-masing sebesar 3,95 mm, 4,28 mm, dan 4,70 mm, yang termasuk dalam kategori lemah. Sementara itu, pada bakteri P. aeruginosa, konsentrasi yang sama menghasilkan zona hambat sebesar 4,35 mm, 5,30 mm, dan 6,40 mm, yang tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara konsentrasi 50% dan 100% terhadap aktivitas antibakteri pada P. aeruginosa

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea Pyriformis Gage) TERHADAP Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa MENGGUNAKAN METODE SUMURAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Resistensi antibiotik menjadi permasalahan kesehatan yang mendorong pencarian sumber antibakteri alternatif dari bahan alam. Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) dipilih dalam penelitian ini karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri serta belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat kulit buah tampoi terhadap Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Penelitian ini diawali dengan pembuatan simplisia, ekstraksi secara maserasi bertingkat menggunakan n-heksana dan etil asetat, penentuan rendemen, kadar air, serta skrining fitokimia. Uji aktivitas antibakteri dilakukan pada variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 20% dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat kulit buah tampoi memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji. Pada Cutibacterium acnes, rata-rata zona hambat berturut-turut sebesar 0,78 mm; 4,53 mm; dan 9,06 mm, sedangkan pada Pseudomonas aeruginosa sebesar 2,13 mm; 4,91 mm; dan 7,01 mm. Aktivitas antibakteri meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak dan tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Hasil analisis statistik menggunakan uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar konsentrasi (p 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etil asetat kulit buah tampoi memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, meskipun aktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif ciprofloxacin.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAN 96% DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus spina-christi L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Propionibacterium acnes

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jerawat atau acne vulgaris merupakan permasalahan kulit yang disebabakan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) berpotensi dapat digunakan untuk mengatasi bakteri penyebab jerawat. Etanol dengan konsentrasi berbeda sering di gunakan dalam proses ekstraksi. Perbedaan variasi konsentrasi etanol dapat mempengaruhi rendemen, senyawa biaoktif dan aktivitas antibakteri dari ekstrak suatu tanaman. Studi literatur ini bertujuan untuk membandingan aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan 96% daun bidara arab terhadap pertumbuhan bakteri penyebab jerawat Propionibacterium acnes serta untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung. Metode yang digunakan adalah studi literatur dekskriptif menggunakan data sekunder yaitu artikel dari penelitian sebelumnya. Hasil analisis data menunjukkan ekstrak etanol 70% daun bidara arab pada konsentrasi 40% menghasilkan zona hambat sebesar 10,12 mm dengan kategori daya hambat kuat sedangkan ekstrak etanol 96% pada konsentrasi 30% menghasilkan zona hambat sebesar 14,13 mm yang termasuk golongan daya hambat kuat. Hasil analisis skrining fitokimia ekstrak etanol 70% mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak etanol 96% mengandung senyawa aktif flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Perbedaan aktivitas antibakteri dan senyawa aktif yang dihasilkan diakibatkan oleh perbedaan tingkat polaritas serta perbedaan konstanta dielektrik pelarut etanol 70% dan 96%. Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab perbedaan aktivitas antibakteri serta kandungan senyawa aktif yaitu proses pembuatan simplisia, kualitas simplisia yang digunakan, metode ekstraksi, perbandingan bahan dan pelarut, pH, waktu, suhu stabilitas senyawa, konsentrasi antibakteri dalam ekstrak, laju difusi zat antibakteri ke dalam medium, serta faktor lain seperti inokulum, ukuran, suhu, inkubasi, pH, komponen media, dan aktivitas metabolisme mikroorganisme.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail