ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan dan pendistribusian obat merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit karena berkaitan dengan mutu, keamanan, ketersediaan, dan ketepatan penggunaan obat bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penyimpanan dan pendistribusian obat yang benar di RSUD Aji Muhammad Salehuddin II berdasarkan Permenkes RI Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pengumpulan data melalui observasi, lembar checklist, dan wawancara terhadap petugas yang terlibat dalam pengelolaan dan pendistribusian obat di Instalasi Farmasi. Pengamatan meliputi penyimpanan obat di seluruh Instalasi Farmasi serta pendistribusian obat pada pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ruangan dan fasilitas penyimpanan memperoleh persentase sebesar 93,33%, sedangkan penyimpanan obat di seluruh Instalasi Farmasi memperoleh persentase sebesar 90,91%. Pada aspek pendistribusian obat, pelayanan rawat jalan memperoleh persentase sebesar 80%, sedangkan pelayanan rawat inap memperoleh persentase sebesar 66%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pelaksanaan penyimpanan dan pendistribusian obat di RSUD Aji Muhammad Salehuddin II telah memenuhi standar Permenkes RI Nomor 72 Tahun 2016. Penerapan standar dalam penyimpanan dan pendistribusian obat perlu dipertahankan serta dilakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk menjaga mutu dan keamanan obat serta meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi penyimpanan dan pendistribusian obat di Rumah Sakit. Penyimpanan dan Pendistribusian merupakan tahapan yang sangat penting dalam kegiatan pengelolaan obat. Penyimpanan yang baik bisa menjamin mutu dan kualitas obat tetap terjaga, sehingga bisa mengurangi kerugian dari Rumah Sakit yang diakibatkan dari obat-obatan yang rusak. Sistem Pendistribusian yang tepat bisa mempermudah pelayanan kepada pasien yang di rawat di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur. Objek dari penelitian ini adalah evaluasi penyimpanan dan pendistribusian obat di Rumah Sakit.Tahapan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, meringkas, dan menarik kesimpulan dari data yang didapat dilakukan secara benar. Analisis data yang digunakan menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data yang telah di dapat dari jurnal yang akan diteliti.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDI LITERATUR PERBANDINGAN PROFIL PENYIMPANAN OBAT DI GUDANG FARMASI BEBERAPA RUMAH SAKIT ABSTRAK Instalasi farmasi rumah sakit merupakan salah satu bagian dari rumah sakit yang dapat melakukan kegiatan pengelolaan obat. Termasuk dalam pengelolaan obat diantaranya seleksi, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat. Penyimpanan obat bertujuan untuk menjamin mutu dan kualitas obat agar tetap terjaga. Pendistribusian obat memastikan obat tepat sasaran dan mempermudah pelayanan pasien di rumah sakit. Kendala yang sering ditemukan dalam kegiatan penyimpanan dan pendistribusian obat diantaranya belum diterapkannya sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO), sistem alfabetis, penerapan kelas terapi obat dan sarana prasarana penyimpanan dan pendistribusian yang tidak memadai. Penelitian ini merupakan studi literatur yang membahas tentang evaluasi penyimpanan obat di gudang farmasi beberapa rumah sakit menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan standar pengelolaan penyimpanan obat di gudang farmasi beberapa rumah sakit belum memenuhi ketentuan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010 dan Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit Permenkes No. 72 Tahun 2016, diantaranya beberapa gudang farmasi rumah sakit belum menerapkan penyusunan obat berdasarkan kelas terapi dan belum menerapkan sistem pendistribusian floor stock. . Selain itu, beberapa gudang belum memiliki lemari/rak untuk obat rusak dan atau kadaluarsa dan tidak terdapat alat bantu untuk pemindahan obat.