ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan perbekalan farmasi harus menjamin mutu, kualitas dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang penyimpanan di beberapa gudang perbekalan farmasi rumah sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, jurnal-jurnal serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Objek penelitian ini adalah beberapa gudang perbekalan farmasi Rumah Sakit. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran penyimpanan obat di gudang farmasi Rumah Sakit berdasarkan data-data yang terkumpul. Berdasarkan hasil studi literatur mengenai pengelolaan penyimpanan obat di gudang farmasi Rumah Sakit dapat disimpulkan bahwa penyimpanan di Gudang Farmasi Rumah Sakit Bhayangkara Manado telah memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016. Sementara itu, di Gudang Perbekalan Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Lapangan Sawang Sitaro, tingkat kepatuhannya hanya mencapai 68%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di rumah berperan penting dalam menjaga mutu, keamanan,
stabilitas, dan efektivitas obat selama masa penggunaannya. Penyimpanan obat yang tidak sesuai masih banyak ditemukan di masyarakat sehingga berpotensi menurunkankualitas obat, mengurangi efektivitas terapi, serta meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi perilaku tersebut adalah tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyimpanan obat yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Desa Loa Duri Ilir tentang penyimpanan obat di rumah, mengidentifikasi perilaku penyimpanan obat, serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penyimpanan obat di rumah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain Cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 13.509 jiwa. Sampel penelitian sebanyak 389 responden ditentukan menggunakan rumus slovin dengan tingkat kesalahan 5% dan dipilih menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2026 menggunakan kuesioner yang terdiri atas 12 item pengetahuan dan 10 item perilaku. Instrumen telah diuji validitas menggunakan korelasi pearson product moment pada 30 responden dan seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid (Sig. < 0,05). Uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,889 pada variabel pengetahuan dan 0,780 pada variabel perilaku sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil uji normalitas Kolmogorov-smirnov menunjukkan data tingkat pengetahuan dan perilaku tidak berdistribusi normal, sehingga analisis hubungan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik (72,5%) dan perilaku penyimpanan obat kategori baik (70,9%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan
antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku penyimpanan obat di rumah. Semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat, semakin baik pula perilaku
penyimpanan obat yang diterapkan. Edukasi mengenai penyimpanan obat yang benar perlu terus ditingkatkan melalui peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, guna mendukung penggunaan obat yang aman dan rasional di masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di puskesmas merupakan aspek penting dalam pengelolaan sediaan farmasi karena sangat menentukan mutu, keamanan, stabilitas, dan ketersediaan obat dalam pelayanan kesehatan. Apabila penyimpanan tidak dilakukan sesuai standar, maka dapat timbul berbagai masalah seperti penurunan kualitas obat, kerusakan fisik maupun kimia, obat kedaluwarsa, pemborosan anggaran, serta terganggunya kelancaran pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Loa Kulu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2026 di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Teluk Dalam, Puskesmas Separi III, Puskesmas Loa Kulu, dan Puskesmas Jonggon. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling terhadap seluruh sistem dan fasilitas penyimpanan obat yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan tenaga kefarmasian, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan obat di keempat puskesmas berada pada kategori sangat baik, dengan nilai kesesuaian Puskesmas Teluk Dalam 88,57%, Puskesmas Separi III 88,57%, Puskesmas Loa Kulu 85,71%, dan Puskesmas Jonggon 82,86%. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, seperti belum optimalnya ventilasi ruang penyimpanan, belum tersedianya safety stock, adanya kebocoran pada atap atau plafon, serta belum adanya prosedur rotasi antibiotik yang spesifik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum penyimpanan obat telah sesuai standar, namun masih diperlukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar pengelolaan obat lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung mutu pelayanan kefarmasian secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan dan pendistribusian obat merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit karena berkaitan dengan mutu, keamanan, ketersediaan, dan ketepatan penggunaan obat bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penyimpanan dan pendistribusian obat yang benar di RSUD Aji Muhammad Salehuddin II berdasarkan Permenkes RI Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pengumpulan data melalui observasi, lembar checklist, dan wawancara terhadap petugas yang terlibat dalam pengelolaan dan pendistribusian obat di Instalasi Farmasi. Pengamatan meliputi penyimpanan obat di seluruh Instalasi Farmasi serta pendistribusian obat pada pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ruangan dan fasilitas penyimpanan memperoleh persentase sebesar 93,33%, sedangkan penyimpanan obat di seluruh Instalasi Farmasi memperoleh persentase sebesar 90,91%. Pada aspek pendistribusian obat, pelayanan rawat jalan memperoleh persentase sebesar 80%, sedangkan pelayanan rawat inap memperoleh persentase sebesar 66%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pelaksanaan penyimpanan dan pendistribusian obat di RSUD Aji Muhammad Salehuddin II telah memenuhi standar Permenkes RI Nomor 72 Tahun 2016. Penerapan standar dalam penyimpanan dan pendistribusian obat perlu dipertahankan serta dilakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk menjaga mutu dan keamanan obat serta meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat merupakan tahapan krusial dari sistem pengelolaan sediaan farmasi yang berisiko tinggi, dan berpengaruh langsung terhadap ketersediaan, keterjangkauan, stabilitas, serta mutu obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem penyimpanan obat di UPTD Puskesmas Karang Jati Balikpapan berdasarkan Permenkes RI No.74 Tahun 2016. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis retrospektif dan prospektif terhadap data periode Januari hingga Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kualitatif meliputi stabilitas, keamanan, sanitasi, pencahayaan, kelembaban, dan ventilasi telah sesuai standar. Indikator kuantitatif memperlihatkan kesesuaian jumlah item obat dengan kartu stok sebesar 100%, nilai Inventory Turn Over Ratio (ITOR) sebesar 9 kali per tahun (sesuai standar 8–12 kali), serta persentase obat kedaluwarsa hanya 0,23% (memenuhi standar 1%). Namun, persentase stok mati sebesar 24,7% belum sesuai dengan standar ideal (0%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Permasalahan yang biasanya terjadi adalah stok obat yang berlebih atau kurang serta adanya obat rusak atau kadaluarsa yang masih ditemukan di gudang penyimpanan obat. Masalah ini muncul biasanya dipengaruhi oleh sistem pengelolaan obat di puskesmas yang kurang diperhatikan. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Puskesmas sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah jurnal nasional tentang gambaran penyimpanan obat di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengidentifikasi, membandingkan, mengelompokkan temuan penelitian berdasarkan studi literatur tentang penyimpanan obat di puskesmas tentang bagaimana penyimpanan obat di puskesmas berdasarkan bentuk dan jenis sediaan, suhu penyimpanan, cahaya dan kelembaban, bahan yang mudah terbakar/ meledak serta penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016. Hasil kajian studi literatur diperoleh bahwa perbedaan utama terdapat pada aspek ventilasi. Puskesmas Galesong Utara sudah memiliki ventilasi, sedangkan Puskesmas Piyungan belum memiliki ventilasi. Namun gambaran penyimpanan obat di kedua puskesmas secara umum telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan yang memiliki fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan tingkat pertama di wilayah tertentu. Puskesmas perlu memperhatikan pengelolaan farmasi dengan seksama karena hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan terapi pasien. Penyimpanan obat merupakan salah satu tahapan krusial yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan mutu obat selama masa simpan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil penyimpanan obat di Puskesmas dengan mengkaji kesesuaian praktik di lapangan terhadap ketentuan dalam Permenkes No. 72 Tahun 2016 dan pedoman teknis lainnya yang relevan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif observasi dengan menyajikan data primer dan sekunder untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap fasilitas penyimpanan obat, wawancara terstruktur dengan petugas farmasi atau penanggung jawab obat. Sampel pada penelitian ini yaitu seluruh item obat yang ada di Instalasi Farmasi dan teknik sampling yang di gunakan yaitu total dari sampel tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan pedoman Permenkes dan standar penyimpanan obat, serta analisis deskriptif dengan menyusun frekuensi dan distribusi data yang diperoleh dari observasi dan kuesioner. Data kemudian disajikan dalam bentuk naratif dan tabulasi untuk memudahkan interpretasi terhadap sejauh mana tingkat kesesuaian praktik penyimpanan obat di Puskesmas dengan standar yang berlaku. Dari hasil penelitian didapatkan pengelolaan penyimpanan obat di apotek dan gudang farmasi di Puskesmas Bontang Lestar dengan aspek umum 70% dengan predikat baik dan aspek khusus 83,33 % dengan predikat sangat baik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penguatan sistem pengelolaan obat di Puskesmas serta menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas sumber daya farmasi di tingkat layanan primer.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat merupakan bagian penting dari pengelolaan sediaan farmasi. Obat-obatan harus disimpan sesuai standar pelayanan kefarmasian agar tetap aman, bebas dari cacat atau kerusakan fisika ataupun kimia, serta mutu obat dapat terjaga. Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dalam pengelolaan stok di apotek karena berpengaruh terhadap kestabilan, keamanan, dan mutu obat hingga digunakan oleh pasien. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian. Rancangan penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian studi literatur (literature review). Pendekatan ini dilaksanakan melalui kegiatan pengumpulan data, penelaah mendalam, dan analisis kritis terhadap berbagai sumber pustaka. Objek penelitian ini yaitu artikel yang menyajikan data evaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif komparatif. Data yang diperoleh dari berbagai gambaran mengenai evaluasi penyimpanan obat yang tepat di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada apotek M Manado yang memenuhi yaitu sebesar 67,57% yang termasuk dalam kategori baik sedangkan yang tidak memenuhi masih kurang sebesar 30,43%. Pada apotek X Purwokerto yang memenuhi yaitu sebesar 94,44% memenuhi dalam kategori sangat baik sedangkan yang tidak memenuhi yaitu sebesar 5,56%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dari pengelolaan perbekalan farmasi karena dapat memengaruhi mutu, keamanan, dan keberlangsungan ketersediaan obat. Penyimpanan yang tidak sesuai standar berpotensi menyebabkan kerusakan obat, memperlambat distribusi, dan meningkatkan risiko medication error. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui studi literatur sistem penyimpanan obat dan kesesuaian penyimpanan obat dengan Permenkes No. 73 Tahun 2016 dan Permenkes No. 9 Tahun 2017. Kedua penelitian dalam artikel terkait menggunakan metode observasional melalui checklist dan wawancara mendalam dengan apoteker untuk menilai penerapan standar penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma metode penelitian yang dipakai adalah metode studi literatur dengan cara mereview kedua artikel yang terkait penyimpanan obat di kimia farma. Studi literatur ini diharapkan dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan kefarmasian dan memastikan keamanan penggunaan obat dalam pelayanan kepada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar indikator penyimpanan obat telah memenuhi standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dengan tingkat kesesuaian mencapai 100%, meliputi penyimpanan dalam wadah asli, kejelasan informasi obat, pengelompokan obat, serta penerapan sistem FIFO dan FEFO. Kondisi ruang penyimpanan, sarana prasarana, serta pengelolaan administrasi juga telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, pada indikator pemantauan suhu masih ditemukan ketidaksesuaian dengan tingkat capaian sebesar 50%, yang menunjukkan bahwa pengendalian suhu belum dilakukan secara optimal. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan dalam sistem monitoring suhu untuk menjaga mutu dan stabilitas obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil penyimpanan obat gudang instalasi farmasi rumah sakit. Penyimpanan obat adalah standar pengelolaan obat dan sediaan farmasi yang diterima, menjaga agar aman (tidak hilang), bebas dari kerusakan fisik dan kimiawi, serta terjamin mutunya sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan cara mengumpulkan data dan menganalisis literatur ilmiah dan literatur terkait. Tahap penelitian kepustakaan terdiri dari reduksi data berupa menyunting dan meringkas untuk mendapatkan data inti pokok untuk penulisan, dilanjutkan dengan penyajian data yaitu menyajikan data dalam bentuk tabel deskriptif dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan, verifikasi dan review data yang diperoleh untuk menarik kesimpulan yang benar. Hasil Peneltian menyimpulkan bahwa Rumah Sakit Bhayangkara Manado 100% memenuhi persyaratan sedangkan Rumah Sakit Advent Manado 83,33% telah memenuhi persyaratan dan 16,67% masih belum memenuhi sistem penyimpanan yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat merupakan salah satu cara pemeliharaan perbekalan farmasi sehingga aman dari gangguan fisik dan pencurian yang dapat merusak kualitas suatu obat. Perlu dilakukan evaluasi terhadap penyimpanan obat karena untuk menjaga kualitas obat yang ada di gudang farmasi dan mempermudah dalam pendistribusian obat Penelitian ini betujuan untuk mengetahui bagaimana cara penyimpanan dan untuk memelihara mutu obat, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, serta mejaga kelangsungan persediaan, memudahkan pencarian dan pengawasan Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi literatur dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku tahapan penelitian yang digunakan yaitu reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas, penyajian data, penarikan kesimpulan. Objek penelitian adalah evaluasi penyimpanan obat di apotek berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Kefarmasian di Apotek tahun 2019. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada Apotek di Kota Cimahi Jawa Barat yang memenuhi yaitu sebesar 79,17% sedangkan yang tidak memenuhi yaitu sebesar 20,83%. Pada Apotek M Manado Sulawesi Utara yang memenuhi yaitu sebesar 69,57% sedangkan yang masih kurang sebesar 30,43%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil penyimpanan obat di beberapa Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit di Sulawesi Utara. Gudang adalah tempat pemberhentian sementara barang sebelum dialirkan dan berfungsi mendekatkan barang kepada pemakai sehingga menjamin kelancaran permintaan dan keamanan persediaan. Instalasi farmasi merupakan unit pelaksana yang dapat menyelenggarakan pengelolaan sediaan farmasi. Penyimpanan bertujuan untuk memelihara mutu sediaan farmasi khususnya obat dan menjaga ketersediaan obat. Penyimpanan obat yang tidak baik dapat menyebabkan kerusakan obat, sehingga obat harus disimpan dengan baik agar tetap terjaga dan dapat mengurangi kerugian dari rumah sakit yang diakibatkan dari obat - obatan yang rusak. Tahapan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, menelaah jurnal ilmiah. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu membuat gambaran berdasarkan data – data yang dikumpulkan dari jurnal ilmiah. Hasil penelitian pada prosedur penyimpanan obat di beberapa Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit di Sulawesi Utara dengan menyesuaikan ketentuan Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016, prosedur penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit Advent Manado dan Rumah Sakit Bhayangkara Manado sudah sesuai, sedangkan untuk Rumah Sakit yang belum memenuhi yaitu di RSUD Noongan Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara yang belum menerapkan penyimpanan obat berdasarkan kelas terapi dan juga belum memiliki pengaturan kelembaban, pengaturan suhu ruangan dan papan alas (pallet).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penyimpanan obat di puskesmas di wilayah Surabaya, di puskesmas Wara kota Palopo, dan puskesmas kotamadya Pekanbaru. Tahap penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan membuat gambaran data-data tentang penyimpanan sediaan farmasi di puskesmas. Hasil penelitian menyatakan beberapa puskesmas yang terdapat di Wilayah Surabaya Timur dan Pusat belum memenuhi persyaratan lemari narkotika dan psikotropika serta lemari pendingin dan belum memenuhi persyaratan luas gudang obat, terdapatnya ventilasi dan cahaya, dan tidak melakukan observasi terhadap lantai dan dinding. Puskesmas Wara Kota Palopo telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat, tetapi belum memenuhi persyaratan luas gudang obat, ventilasi dan cahaya, serta dinding. Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Kotamadya Pekanbaru telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat dan penyusunan obat, tetapi belum memenuhi persyaratan ventilasi dan cahaya, serta dinding.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Teling Atas Manado dan Puskesmas Airmadidi Minahasa Utara dengan persyaratan. Pelayanan kefarmasian di puskesmas merupakan satu hal yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Penyimpanan obat di Puskesmas mempunyai dampak besar dalam pelayanan kesehatan di puskesmas. Penyimpanan yang kurang baik dapat membawa kerugian material. Analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif, yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data tentang penyimpanan di puskesmas yang akan dibandingkan. Objek yang diteliti adalah kesesuaian prosedur penyimpanan obat di Puskesmas Teling Atas Manado dan Puskesmas Airmadidi Minahasa Utara. Hasil penelitian menyatakan bahwa penyimpanan obat di Puskesmas Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara dan Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado memenuhi parameter pengamatan mutu, tetapi belum memenuhi parameter kondisi penyimpanan obat dan dan cara menyimpan dan menyususn obat. Kondisi penyimpanan obat di Puskesmas Aimadidi Kabupaten Minahasa Utara belum memenuhi persyaratan ventilasi dan suhu ruangan, Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado belum memenuhi persyaratan luas gudang dan suhu ruangan. Puskesmas Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara belum memenuhi persyaratan penyimpanan injeksi dan penandaan obat kadaluarsa, Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado belum memenuhi persyaratan penandaan obat kadaluarsa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Gudang Farmasi Puskesmas. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur, menggunakan data yang diperoleh dengan mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah dokumen, atau jurnal ilmiah. Sebagai objek penelitian yaitu tata ruang gudang, sistem penyimpanan obat, dan penjagaan mutu obat di gudang farmasi Puskesmas di beberapa wilayah Indonesia. Analisa data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, dengan membuat gambaran penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas berdasarkan data-data yang terkumpul. Aspek pada penyimpanan obat di gudang Farmasi Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea, Kota Manado dengan nilai persentase 95%, Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo, Kota Pekanbaru 93,33%, dan dua Puskesmas Bukit Hindu dan Puskesmas Pahandut di Kota Palangkaraya dengan nilai persentase 94,43%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penyimpanan obat pada gudang farmasi puskesmas secara umum adalah memenuhi persyaratan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil penyimpanan obat di gudang instalasi farmasi rumah sakit. Penyimpanan obat merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap pengelolaan obat dan sediaan farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah literatur ilmiah serta dokumen yang terkait. Tahapan penelitian meliputi penyuntingan data, penyajian data, dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan kesimpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil studi literatur terkait penelitian tentang gambaran penyimpanan obat di Gudang Instalasi farmasi rumah sakit dapat disimpulkan bahwa rumah sakit telah menerapkan sebagian besar standar pengelolaan penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Hanya saja masih perlu melakukan beberapa peningkatan di sarana dan prasarana seperti menambah luasan gudang penyimpanan, pengadaan rak kadaluarsa, alat pemindah dan perlu memperhatikan kestabilan suhu di dalam gudang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di gudang farmasi rumah sakit. Penyimpanan merupakan suatu kegiatan menyimpan, memelihara dan menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian dan gangguan fisik. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang telah terkumpul. Berdasarkan hasil penelitian tentang penyimpanan obat di gudang farmasi secara keseluruhan belum 100% memenuhi Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia seperti, tidak adanya pengaturan kelembaban, tidak adanya papan alas dan obat diletakkan langsung di lantai, tidak ada keterangan untuk obat mudah terbakar, penyimpanan obat tidak disimpan berdasarkan kelas terapi, tidak memiliki ventilasi dan jendela bertralis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di beberapa Puskesmas di Indonesia. Salah satu fungsi Puskesmas adalah memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. Obat merupakan unsur penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan dan untuk menjaga mutu obat maka perlu dilakukan penyimpanan obat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Tahapan penelitian yaitu mengumpulkan literatur , reduksi data, menyajikan data dan membuat kesimpulan. Objek penelitian adalah gambaran penyimpanan obat di Puskesmas. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif pada gudang obat beberapa Puskesmas di Indonesia. Hasil telaah literatur menyimpulkan bahwa penyimpanan obat di beberapa Puskesmas di Indonesia telah cukup baik. Masih ada Puskesmas yang belum mempunyai gudang permanen yaitu Puskesmas Tompobulu Kabupaten Maros tetapi penyimpanan obat telah di sesuaikan dengan keadaan lapangan sehingga masih harus di perbaiki lagi. Puskesmas Pahandut dan Bukit Hindu Palangkaraya sebagian besar telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat. Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Kotamadya Pekanbaru telah memenuhi persyaratan penyimpanan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDI LITERATUR PERBANDINGAN PROFIL PENYIMPANAN OBAT DI GUDANG FARMASI BEBERAPA RUMAH SAKIT ABSTRAK Instalasi farmasi rumah sakit merupakan salah satu bagian dari rumah sakit yang dapat melakukan kegiatan pengelolaan obat. Termasuk dalam pengelolaan obat diantaranya seleksi, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat. Penyimpanan obat bertujuan untuk menjamin mutu dan kualitas obat agar tetap terjaga. Pendistribusian obat memastikan obat tepat sasaran dan mempermudah pelayanan pasien di rumah sakit. Kendala yang sering ditemukan dalam kegiatan penyimpanan dan pendistribusian obat diantaranya belum diterapkannya sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO), sistem alfabetis, penerapan kelas terapi obat dan sarana prasarana penyimpanan dan pendistribusian yang tidak memadai. Penelitian ini merupakan studi literatur yang membahas tentang evaluasi penyimpanan obat di gudang farmasi beberapa rumah sakit menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan standar pengelolaan penyimpanan obat di gudang farmasi beberapa rumah sakit belum memenuhi ketentuan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010 dan Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit Permenkes No. 72 Tahun 2016, diantaranya beberapa gudang farmasi rumah sakit belum menerapkan penyusunan obat berdasarkan kelas terapi dan belum menerapkan sistem pendistribusian floor stock. . Selain itu, beberapa gudang belum memiliki lemari/rak untuk obat rusak dan atau kadaluarsa dan tidak terdapat alat bantu untuk pemindahan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Profil penyimpanan obat di Rumah Sakit dapat menggambarkan metode penyimpanan yang dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, menurut bentuk sediaan alfabetis dengan menerapkan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out), dan disertai sistem informasi yang selalu menjadi ketersediaan persediaan farmasi sesuai kebutuhan untuk membandingkan Profil penyimpanan obat yang di lakukan di Rumah Sakit. Studi ini bertujuan untuk membandingkan profil penyimpanan obat yang dilakukan di Rumah Sakit dan penelitian ini termasuk jenis studi literatur. Data yang digunakan dalam studi literatur ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Objek penelitian yaitu Profil Penyimpanan Obat. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data–data yang terkumpul dalam bentuk grafik dan tabel. Kesimpulan yang didapat dari studi penelitian ini adalah penyimpanan obat di Rumah Sakit telah sesuai dengan Permenkes No 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit