ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kadar senyawa aktif dan aktivitas farmakologi tanaman dapat dipengaruhi oleh umur tanaman atau bagian tanaman yang digunakan. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan daun muda dan tua. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, penetapan kadar flavonoid total menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun matoa mengandung metabolit sekunder berupa Flavonoid, Saponin, Tanin, Steroid. Berdasarkan hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak daun matoa tua dengan rata-rata kadar flavonoid lebih tinggi yaitu sebesar 25,237 ± 0,898 mgQE/g dibandingkan dengan ekstrak daun matoa muda 19,821 ± 0,357 mgQE/g, dan Aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa tua lebih tinggi dengan nilai IC50 14,65 ppm dan daun muda dengan rata-rata 15,09 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.)Urb) merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai antioksidan, untuk mengetahui terkait senyawa yang berperan terhadap aktifitas tersebut maka dapat dianalisis secara spesifik melalui uji profil metabolit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antioksidan dan menganalisis profil metabolit yang ada pada umbi bawang dayak. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, dan uji profil metabolit menggunakan LC-HRMS (Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry). Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah umbi bawang dayak. Sedangkan untuk uji profil metabolit sampel dianalisis dengan fase gerak berbasis air-asetonitril yang mengandung asam format, menggunakan kolom Phenyl Hexyl dalam gradien elusi dengan LC-HRMS. Pada penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak etanol umbi bawang dayak, variabel terikat adalah nilai IC50 dan potensi antioksidan serta profil metabolit dari ekstrak etanol umbi bawang dayak Eleutherine bulbosa (Mill.Urb)). Data yang diperoleh pada aktivitas antioksidan dilakukan dengan analisis statistik uji independent sample t-test. Sedangkan uji profil metabolit dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi bawang dayak memiliki aktivitas antioksidan dengan rata-rata nilai IC50 yaitu 27,00 ppm yang tergolong sangat kuat dan hasil analisis profiling metabolite adanya keberadaan senyawa bioaktif Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE), Gly-Leu, Hydroquinone, 4-(2,3-dihydrobenzo[b]furan-5-yl) pyrimidine-2-thiol, menaquinone (Vitamin K2), niacin (Vitamin B3), 4-[amino(carboxy)methyl]-5-oxoproline, volasertib, dan alangicine. Senyawa-senyawa tersebut menunjukkan potensi aktivitas antioksidan melalui berbagai mekanisme, seperti penghambatan ROS, pengikatan ion logam, pendonoran elektron.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas adalah atom atau molekul dengan elektron tidak berpasangan yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif, sehingga dapat merusak sel-sel tubuh dengan menyerang makromolekul seperti lipid, asam nukleat, dan protein. Kerusakan ini dapat dicegah oleh senyawa antioksidan, yang mampu menghambat atau mencegah proses oksidasi. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam berbagai tanaman, salah satunya adalah daun kratom yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzoatiazolin-6-sulfonat). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kratom, serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol air terhadap ekstrak etanol daun kratom, setelah itu dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi daun kratom. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun kratom diperoleh nilai IC50 2,7101 ppm, fraksi n-heksan nilai IC50 16,4710 ppm, fraksi etil asetat IC50 4,4733 ppm, dan fraksi etanol air nilai IC50 6,1873 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara sampel lainnya karena nilai IC50 ekstrak etanol yang paling rendah dibanding fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, fraksi etanol air.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai antioksidan, untuk mengetahui senyawa yang berperan terhadap aktivitas tersebut maka dianalisis secara spesifik melalui uji profil metabolit. Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas antioksidan dan menganalisis profil metabolit yang ada pada umbi bawang dayak. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, pembuatan fraksi n-heksan menggunakn metode ekstraksi cair-cair, uji aktivitas antioksidan metode DPPH, dan uji profil metabolit menggunakan LC-HRMS (Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry). Pada uji profil metabolit sampel dianalisis dengan fase gerak berbasis air-asetonitril yang mengandung asam format, menggunakan kolom Phenyl Hexyl dalam gradien elusi dengan LC-HRMS. Hal ini diperkuat oleh uji statistik meliputi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukan data berdistribusi normal pada IC50 vitamin C dan IC50 fraksi n heksan, yaitu: 0,262 dan 0,341 (p>0,05) selanjutnya, uji independen T-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,003 (p0,05). Data yang diperoleh pada aktivitas antioksidan dilakukan dengan analisis yaitu uji independent sample t-test. Sedangkan uji profil metabolit dianalisis dengan LC-HRMS secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan umbi bawang dayak memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 yaitu 108,975 ppm yang tergolong sedang dan hasil analisis profiling metabolit adanya keberadaan senyawa bioaktif menaquinone (Vitamin K2), kafeat asam phenetyl ester (CAPE) dan niacin (Vitamin B3).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Reaksi oksidasi yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai efek merugikan, terutama karena produksi radikal bebas yang tidak terkendali. Untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dibutuhkan senyawa antioksidan. Salah satu sumber alami yang berpotensi sebagai antioksidan berasal dari tumbuhan, adalah buah tampoi (Baccaurea macrocarpa). Buah ini ketahui mengandung senyawa metabolit seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana aktivitas antioksidan buah Tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan metode DPPH. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan variabel bebas ekstrak etanol buah tampoi dan variabel terikat aktivitas antioksidan. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan slimpisia, ekstraksi secara maserasi, skrining fitokimia penetapan kadar air ekstrak, uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. Data aktivitas antioksidan diperoleh dari persentase inhibisi DPPH dan nilai IC50. Skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil uji menunjukkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 11,8165 ppm yang tergolong sangat kuat, sedangkan vitamin C sebagai pembanding memiliki IC50 sebesar 7,5019 ppm.Dengan demikian, ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung berbagai senyawa fitokimia flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan steroid. Senyawa fenolik meliputi kuinon fenolik, flavonoid, fenil propanoid, fenol monosiklik, polifenol, dan kuinon fenolik. Senyawa fenolik merupakan jenis senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat astringen, antidiare, antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar fenolik total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun matoa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, penetapan kadar air, uji skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total dengan pereaksi folin-ciocalteu dengan pembanding asam galat dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan pembanding vitamin C. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol daun matoa terdapat metabolit sekunder yaitu fenolik, flavonoid, dan steroid. Rendemen ekstrak etanol daun matoa yang diperoleh sebesar 22,30%. Hasil perhitungan dari penetapan kadar fenolik total ekstrak etanol daun matoa sebesar 260,3177± 0,5388 mg GAE/g yang berarti dalam setiap ekstrak etanol daun matoa setara dengan 260,3177 mg asam galat. Hasil perhitungan dari aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa diperoleh IC50 sebesar 13,40 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengeringan merupakan tahapan pasca panen yang berperan penting terhadap mutu simplisia karena dapat memengaruhi kandungan senyawa aktif, khususnya senyawa antioksidan. Daun wanyi (Mangifera caesia J.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun wanyi berdasarkan dua metode pengeringan, yaitu secara alami (diangin-anginkan) dan buatan (oven pada suhu 50°C), menggunakan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 5, 10, 15, 20, dan 25 ppm. Sebagai pembanding digunakan vitamin C dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menentukan nilai IC₅₀ menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antioksidan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun wanyi memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Nilai IC₅₀ ekstrak dengan pengeringan alami sebesar 20,83 ± 0,38 ppm, sedangkan dengan pengeringan oven sebesar 14,90 ± 1,72 ppm. Aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh dari ekstrak yang dikeringkan menggunakan oven. Hal ini menunjukkan bahwa metode pengeringan berpengaruh terhadap efektivitas aktivitas antioksidan ekstrak daun wanyi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nama : Dita Julidia Gustia Nisyah Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Pembimbing : 1. Risa Supriningrum, S.Si., M.M. 2. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. Konsentrasi pelarut yang digunankan pada proses ekstraksi dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif suatu ekstrak. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi daun matoa secara maserasi dengan variasi konsentrasi pelarut etanol (50%, 70%, dan 95%), penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Data dianalisis dengan uji normalitas dan uji homogenitas, dilanjutkan sengan uji ANOVA dan LSD (Least Significant Difference). Hasil penetapan susut pengeringan simplisia daun matoa sebesar 9,6333%. Hasil rendemen ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa adalah sebesar 27,2245%; 29,8055%; 21,9760% dan kadar air sebesar 25,4866%; 19,11%; 19,83%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun matoa menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa memperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 10,1600; 8,8992 dan 17,1354 ppm serta vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,6866 ppm, sehinga ketiga ekstrak etanol daun matoa termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun matoa memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol 50% dna 95% daun matoa. Hasil uji normalitas dan homogenitas terdistribusi normal dan homogen. Hasil uji ANOVA dan LSD menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar ekstrak etanol daun matoa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perubahan pola hidup modern sering kali meningkatkan risiko penyakit degeneratif yang disebabkan oleh stres oksidatif akibat radikal bebas, seperti hidrogen peroksida, superoksida, dan radikal hidroksil. Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan biomolekul seperti protein, lipid, dan DNA, sehingga berkontribusi terhadap penyakit seperti kanker, diabetes mellitus, hipertensi, dan penuaan dini. Untuk menangkal efek radikal bebas, diperlukan senyawa antioksidan yang mampu menetralisir dan mencegah kerusakan sel. Salah satu sumber antioksidan potensial adalah daun tampoi (Baccaurea macrocarpa), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun tampoi menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Proses penelitian melibatkan beberapa tahapan, yaitu determinasi tumbuhan untuk memastikan spesies, pembuatan simplisia daun tampoi, dan ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Selanjutnya, ekstrak diuji kandungan fitokimianya, meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan triterpenoid. Aktivitas antioksidan ekstrak ditentukan melalui pengukuran nilai IC50 menggunakan spektrofotometri UV-Vis, yang mengukur kemampuan ekstrak dalam mereduksi radikal bebas DPPH. Analisis data menggunakan analisis deskriptif yang dinarasikan dalam bentuk tabel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) merupakan tumbuhan asli Kalimantan yang memiliki beragam manfaat sebagai obat tradisional. Umbi bawang dayak mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, steroid, tanin dan senyawa golongan polifenol, yang memiliki potensi sebagai antioksidan serta berperan dalam menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam fraksi air umbi bawang (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) dan mengetahui profil metabolit umbi bawang dayak menggunakan LC-HRMS. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian ekperimental. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, pembuatan fraksi air umbi bawang dayak, uji aktivitas antioksidan, dan pengujian profil metabolit menggunakan LC-HRMS. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang dayak, sedangkan uji profil metabolit sampel dianalisis dengan fase gerak air-asetonitril yang mengandung asam format menggunakan kolom Phenyl Hexyl dalam gradien elusi dengan LC-HRMS. Data yang diperoleh pada aktivitas antioksidan dilakukan dengan analisis statistik uji independent sampel t-test, sedangkan uji profil metabolit dianalisis dengan LC-HRMS secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air Umbi bawang dayak memiliki aktivitas antioksidan dengan rata-rata nilai IC50 yaitu 152.8208 ppm yang tergolong sedang dan hasil analisis profil metabolit adanya keberadaan senyawa bioaktif Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE), Hydroquinone, dan Menaquinone. Penelitian ini diperkuat oleh uji analisis statistik meliputi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal pada IC50 vitamin C dan IC50 fraksi air, yaitu 0.262 dan 0.153 karena uji Independent t-tes menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.010 (p0.05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott merupakan salah satu jenis tumbuhan paku yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan steroid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun Nephrolepis biserrata. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental, sampel daun paku diekstraksi menggunakan pelarut metanol. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun paku menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak metanol daun paku diperoleh ekstrak kental dengan persentase rendemen 21,12% dan persentase kadar air dengan nilai rata-rata 17,34%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tanin dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan diperoleh nilai IC₅₀ sebesar 121,48 ± 18,77 ppm yang termasuk dalam kategori antioksidan sedang, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,91 ± 0,058 ppm dan tergolong sangat kuat. Uji statistik menggunakan uji Independent Sample T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aktivitas antioksidan ekstrak daun paku dan vitamin C p = 0,049 (0,05). Berdasarkan hasil tersebut membuktikan bahwa ekstrak metanol daun paku Nephrolepis biserrata memiliki potensi sebagai antioksidan alami, meskipun aktivitasnya lebih rendah dibandingkan vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bakau hitam merupakan salah satu jenis tanaman bakau yang tersebar luas di Kawasan Samudra Hindia dan Pasifik, salah satu spesies mangrove yang umum ditemukan di sepanjang pesisir wilayah Semenanjung Malaya. Masyarakat pesisir banyak memanfaatkan bahan mentahnya untuk pengobatan tradisional dengan khasiat berbagai penyakit, termasuk diare, malaria, cacar, asma, diabetes, demam, pembengkakan, rematik, penyakit kulit, hepatitis, diuretik, kusta, antitumor, leukemia, antikanker, antivirus, gondok, sebagai obat pelangsing, antimuntah, dan beri-beri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas antioksidan dari ekstrak daun bakau hitam (Rhizophora mucronata Poir) menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Daun bakau hitam diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid yang berperan sebagai antioksidan alami. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dan aktivitas diukur berdasarkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun bakau hitam memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 10,97 ± 3,19 ppm, mendekati efektivitas vitamin C sebagai pembanding. Dengan demikian, daun bakau hitam berpotensi sebagai sumber antioksidan alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Terong susu (Solanum mammosum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi mencegah kerusakan oksidatif dalam sistem biologis, sehingga berperan dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan kanker. Secara tradisional, tanaman ini digunakan dalam pengobatan infeksi jamur, batuk, asma, serta kanker payudara melalui perebusan buahnya. Variasi konsentrasi pelarut akan memengaruhi kualitas ekstrak yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak buah terong susu dengan variasi konsentrasi etanol 70% dan 95% serta vitamin C sebagai pembanding menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penelitian bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tanaman, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, ekstraksi maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan microplate reader. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% dan etanol 95% sebesar 13,66%. Kadar air ekstrak etanol 70% sebesar 19,86 ± 0,12% dan etanol 95% sebesar 13,05 ± 0,65%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70% sebesar 242,04 ± 59,85 ppm (kategori sedang), sedangkan etanol 95% sebesar 83,05 ± 9,71 ppm (kategori kuat). Vitamin C sebagai kontrol positif memiliki IC₅₀ 4,84 ± 1,21 ppm (sangat kuat). Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p 0,05). Hasil uji lanjut Tukey HSD menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan vitamin C, sedangkan ekstrak etanol 95% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan berperan dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Salah satu upaya untuk menangkal radikal bebas adalah dengan memanfaatkan antioksidan yang berasal dari bahan alam. Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol batang jarak pagar (Jatropha curcas L.) menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penetapan susut pengeringan simplisia, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara spektrofotometri UV-Vis. Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan nilai IC₅₀ yang diperoleh dari persamaan regresi linier antara konsentrasi sampel dan persen inhibisi radikal bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai susut pengeringan simplisia sebesar 10,40%, sedangkan kadar air ekstrak sebesar 17,28%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol batang jarak pagar mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan steroid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak metanol batang jarak pagar memiliki nilai IC₅₀ sebesar 476,4857 ppm, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 9,7961 ppm yang termasuk kategori antioksidan sangat kuat. Berdasarkan klasifikasi nilai IC₅₀, ekstrak metanol batang jarak pagar termasuk dalam kategori antioksidan lemah. Dengan demikian, ekstrak metanol batang jarak pagar memiliki kemampuan menangkap radikal bebas DPPH, namun aktivitas antioksidannya masih tergolong lemah sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan potensi aktivitas antioksidannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan bahan alam dalam produk kosmetik semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu bahan alam yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif kosmetik adalah daun senduduk (Melastoma malabathricum L.). Masker gel peel-off merupakan sediaan perawatan kulit berbentuk gel yang setelah diaplikasikan pada kulit akan mengering dan membentuk lapisan film tipis, transparan, elastis, serta mudah dikelupas. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan formula masker gel peel-off yang mengandung ekstrak daun senduduk dengan variasi kombinasi Polyvinyl Alcohol (PVA) dan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) guna memperoleh sediaan dengan karakteristik fisik yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan optimasi formula menggunakan metode Design Factorial. Hasil penelitian ini diperoleh data sifat fisik sediaan yang dianalisis menggunakan aplikasi Design Expert® versi 13. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan komposisi optimum PVA dengan konsentrasi 15% dan HPMC dengan konsentrasi 2%, keduanya mampu mempengaruhi karakteristik pada sediaan masker gel peel-off ekstrak daun senduduk. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS menunjukkan bahwa masker gel peel-off ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) memiliki nilai IC₅₀ sebesar 11,5010 ppm, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 0,5017 ppm. Berdasarkan klasifikasi aktivitas antioksidan, kedua sampel termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IC₅₀ kurang dari 50 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sediaan tetap mampu mempertahankan aktivitas antioksidan yang sangat kuat setelah proses formulasi, sehingga berpotensi digunakan sebagai produk perawatan kulit untuk membantu menangkal radikal bebas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produk prototipe Haruan Soybean merupakan sediaan kapsul lunak yang dikembangkan dari kombinasi minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max L.) yang memiliki potensi kandungan senyawa bioaktif. Potensi komponen bioaktif dari kedua bahan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada produk prototipe Haruan Soybean. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan produk prototipe Haruan Soybean berdasarkan nilai persen inhibisi menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode ABTS dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 733 nm. Vitamin C 100 ppm digunakan sebagai kontrol positif. Data dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk serta Independent Sample T-Test menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk prototipe Haruan Soybean memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 32,61% ± 0,68, sedangkan vitamin C memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 7,40 % ± 0,30. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persen inhibisi produk prototipe Haruan Soybean dan vitamin C. Berdasarkan hasil tersebut, produk prototipe Haruan Soybean menunjukkan adanya aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuannya meredam radikal ABTS. Pada kondisi dan konsentrasi pengujian yang digunakan, Haruan Soybean menunjukkan nilai persen inhibisi lebih tinggi dibandingkan vitamin C. Namun, hasil tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa aktivitas antioksidan Haruan Soybean secara umum lebih kuat daripada vitamin C karena aktivitas antioksidan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, komposisi senyawa, metode, dan kondisi pengujian. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan identifikasi dan kuantifikasi senyawa bioaktif menggunakan GC-MS atau LC-MS serta menentukan nilai IC50 untuk memperoleh gambaran aktivitas antioksidan yang lebih komprehensif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat memicu stres oksidatif
yang berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan
dibutuhkan untuk menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Produk
prototipe kapsul Haruan Oil Plus merupakan formulasi kombinasi minyak ikan
haruan 70% (Channa striata), minyak kedelai 20% (Glycine max L.), dan minyak
zaitun 10%(Olea europaea L.), yang memiliki aktivitas antioksidan karena
mengandung asam lemak omega-3, polifenol, dan vitamin E. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan produk prototipe kapsul Haruan
Oil Plus menggunakan metode ABTS (2,2-Asinobis 3-ethylbenzothiazoline 6-
sulfonic Acid). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan
determinasi produk, penyiapan sampel, pembuatan larutan ABTS, penentuan
panjang gelombang maksimum, pembuatan larutan uji, dan pembuatan larutan
pembanding vitamin C. Aktivitas antioksidan diukur secara in vitro menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dan dinyatakan dalam persentase inhibisi (Radical
Scavenging Activity). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata persen inhibisi
sebesar 38,80 ± 2,83% dengan koefisien variasi 7,29%. Pada uji Independent
Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,007 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok Haruan Oil Plus dan vitamin C. Pada konsentrasi
yang diuji, Haruan Oil Plus menunjukkan kemampuan menangkap radikal bebas
yang lebih tinggi dibandingkan kontrol vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan endemik di berbagai daerah masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian terkait pencarian antioksidan baru dari sumber alami, terutama dari bagian tanaman yang belum termanfaatkan, menjadi sangat relevan. Perhatian terhadap sumber antioksidan alami meningkat seiring kebutuhan untuk melawan radikal bebas penyebab penyakit degeneratif. Kulit buah tampoi (Baccaurea Pyriformis Gage), yang merupakan limbah pertanian, berpotensi tinggi mengandung senyawa bioaktif, khususnya kelompok flavonoid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan signifikan. Penelitian non-eksperimental ini bertujuan menetapkan kadar flavonoid total dalam ekstrak kulit tampoi secara kuantitatif. Sampel kulit tampoi matang dari Kalimantan Tengah, Palangkaraya diolah menjadi simplisia, dilanjutkan dengan ekstraksi melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kuantifikasi kadar flavonoid total dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis yang melibatkan pereaksi AlCl₃ dan menggunakan kuersetin sebagai standar. Hasil pengukuran menunjukkan panjang gelombang maksimum pada 440 nm dengan persamaan regresi linear y = 0,0079x - 0,0063 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9963. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah tampoi adalah sebesar 3,8409% dengan nilai Standar Deviasi (SD) sebesar 0,091. Kadar ini tergolong lebih tinggi dibandingkan kadar flavonoid pada bagian biji buah tampoi yang dilaporkan pada penelitian terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah tampoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dari bahan alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan kulit berbahan alam mendorong pengembangan sediaan kosmetik yang lebih efektif. Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan, namun pemanfaatannya dalam sediaan topikal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum Tween 80 dan PEG 400 pada formulasi serum nanoemulsi ekstrak daun senduduk serta mengetahui aktivitas antioksidannya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode Factorial Design menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi serum nanoemulsi. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, transmitan, ukuran droplet, polydispersity index (PDI), dan zeta potensial. Formula optimum ditentukan menggunakan perangkat lunak Design Expert, kemudian dilakukan verifikasi dan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi Tween 80 sebesar 12,844% dan PEG 400 sebesar 14,663%. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan karakteristik fisik yang baik dengan nilai pH 6,4, viskositas 20 cP, transmitan 96,34%, ukuran droplet 91 nm, Polydispersity Index (PDI) 0,364, dan zeta potensial -2,86 mV. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter pH, viskositas, dan zeta potensial tidak berbeda signifikan antara hasil prediksi dan verifikasi (p > 0,05). Formula tersebut memiliki nilai IC₅₀ sebesar 115,85 ± 33,79 ppm, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Dengan demikian, ekstrak daun senduduk berpotensi dikembangkan sebagai serum nanoemulsi antioksidan berbahan alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bajakah merupakan tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan yang ada pada batang bajakah dengan ekstrak etanol dan menggunakan metode uji DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, sampel batang bajakah diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol batang bajakah dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan melalui spektrofotometer UV-Vis dan analisis data. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang bajakah (Spatholobus littoralis Hassk). Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung flavonoid, fenolik, saponin, dan terpenoid. Uji kuantitatif menghasilkan nilai IC₅₀ ekstrak sebesar 206,81 ppm (kategori sangat lemah), sedangkan kontrol positif vitamin C memiliki nilai IC₅₀ 7,62 ppm (kategori sangat kuat). Analisis statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p=0,061 > 0,05). Uji independent sample T-Test dengan Levene test sig 0,018 (p<0,05) menghasilkan nilai p=0,015 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kelompok ekstrak batang bajakah dan vitamin C. Hasil uji ekstrak etanol batang bajakah memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami, namun efektivitasnya masih jauh lebih rendah dibandingkan vitamin C sehingga perlu proses penyesuaian metode ekstraksi atau kombinasi dengan senyawa lain.