ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuberkulosis hingga kini masih menjadi ancaman kesehatan global, termasuk di Indonesia. Strategi DOTS menjadi pendekatan utama dalam penanggulangan TBC yang menekankan pentingnya ketersediaan sarana dan prasarana, serta keterlibatan tenaga kesehatan untuk memastikan diagnosis dan pengobatan TB yang cepat. Fasilitas pelayanan kesehatan juga berperan penting dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus TBC secara terpadu dan terintegrasi melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan efektivitas strategi DOTS dalam penanggulangan tuberkulosis melalui penggunaan SITB di Klinik Aminah Amin Rianta 1 Kota Samarinda. Jenis penelitian ini adalah penelitian non-experimental metode deskriptif. Rancangan penelitian ini bersifat kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini adalah Tenaga Kesehatan yang bertugas dalam pengelolaan program TBC di Klinik Aminah Amin Rianta 1 Kota Samarinda. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam. Analisis data pada pengujian ini disusun dan disajikan dalam bentuk narasi atau naskah, dan tabel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia. Pelayanan kefarmasian berperan penting dalam mendukung penanggulangan tuberkulosis, khususnya dalam pengelolaan terapi dan pelayanan informasi obat. Fasilitas Pelayanan kesehatan juga sangat penting dimana tiap fasyankes memerlukan Tim DOTS (Directly Observed Treatment Short Course) yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program penanggulangan TB dan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan setiap kejadian penyakit TB melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penanggulangan tuberkulosis melalui penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di Instalasi Farmasi Klinik Utama Rachmi Kota Samarinda. Jenis penelitian ini adalah penelitian non-experimental menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan melalui wawancara. Sampel dalam penelitian ini adalah Apoteker dan tenaga kesehatan yang bertugas dalam pengelola program TB yang bertanggung jawab atas SITB di Instalasi Farmasi Klinik Utama Rachmi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pengelola laporan SITB kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil temuan ini menjadi dasar rekomendasi perbaikan sistem pelayanan kefarmasian untuk optimalisasi penanggulangan TB di klinik tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan global. Pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi TB, termasuk sistem pelaporan berbasis digital melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kebijakan penanggulangan TB yang diterapkan di Klinik X kota Samarinda, dengan fokus pada implementasi kebijakan, kepatuhan tenaga kesehatan, serta hambatan yang dihadapi dalam sistem pelaporan kasus TB. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan 3 orang tenaga kesehatan, observasi langsung, serta analisis dokumen kebijakan dan laporan SITB. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan analisis persentase efektivitas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan kebijakan dan pelaporan SITB di Klinik X masih bervariasi. Peningkatan kapasitas tenaga kefarmasian berada dalam kategori Kurang Baik dengan nilai efektivitas 50%, sementara tata laksana pasien TBC tergolong Cukup Baik dengan nilai 57,14%. Ketersediaan obat anti-TB (OAT) masih Kurang Baik dengan skor hanya 14,28%, menunjukkan kendala serius dalam penyediaan obat. Namun, aspek komunikasi, informasi, edukasi (KIE), dan konseling menunjukkan hasil yang Baik, dengan efektivitas 90%.