Profil penulis
SAFITRI
26 karya publik ditemukan.
Evaluasi Penyimpanan Obat Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda
Penyimpanan sangat penting untuk memastikan kualitas dan keamanan dalam penyimpanan sediaan farmasi bahan medis habis pakai serta sediaan farmasi dan alat kesehatan. Persyaratan kefarmasian dalam penyimpanan obat yang dimaksud meliputi stabilitas dan keamanan, cahaya, kelembaban, sanitasi, ventilasi, dan penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kesesuaian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda. Penelitian ini merupakan non-eksperimental yang bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data secara kualitatif dan kuantitatif, berdasarkan pengamatan untuk menghasilkan data informasi menggunakan formulir daftar periksa atau form checklist. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan total sampling. Data kualitataif yang diperoleh dari hasil lembar pengumpulan data melalui form checklist observasi disajikan dalam bentuk berupa narasi, lembar form checklist observasi berupa persentase persen untuk kategori penilaian dari penelitian ini dimasukkan pada bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda sudah sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian yang sudah dilakukan seperti persyaratan penyimpanan persentase yang di dapatkan sebesar 100%, komponen penyimpanan 100%, pengaturan penyimpanan 100%, metode penyimpanan 100%, pengelolaan obat emergency 100%, dan untuk peralatan penyimpanan 100%. Hasil evaluasi penelitian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda masih terdapat banyak indikator yang belum sesuai standarseperti hasil nilai TOR sebesar 2.127.63 kali, persentase obat kadaluarsa sebesar 1.854.737 %, persentase stok obat mati 9,1%, persentase kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok 76,22%.
PENETAPAN RENDEMEN EKSTRAK ETANOL BATANG TURI (Sesbania grandiflora L.) BERDASARKAN PERBEDAAN METODE PENGERINGAN SIMPLISIA SECARA ALAMI
Uji Aktivitas Antioksidan Produk Prototipe Kapsul Haruan-Soybean Menggunakan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
OPTIMASI FORMULA SEDIAAN SABUN DARI KOMBUCHA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.)
OPTIMASI FORMULA SEDIAAN SABUN DARI KOMBUCHA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.)
Kombucha bunga telang (Clitoria ternatea L.) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, antosianin, dan metabolit hasil fermentasi yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula optimum sabun cair kombucha bunga telang dengan variasi konsentrasi minyak zaitun dan kalium hidroksida (KOH) serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian menggunakan metode desain faktorial 2² dengan dua faktor, yaitu minyak zaitun (12,5 g dan 37,5 g) serta KOH (1,5 g dan 3 g). Respon yang diamati meliputi pH, viskositas, dan tinggi busa. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Design-Expert versi 13 untuk menentukan formula optimum, kemudian dilakukan verifikasi formula optimum dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi minyak zaitun 24,5 g dan KOH 2,7 g. Formula optimum memiliki pH 8,97, viskositas 2000 cPs, dan tinggi busa 2,1 cm serta menghasilkan diameter zona hambat sebesar 4,03 mm terhadap Staphylococcus aureus yang termasuk dalam kategori daya hambat lemah. Formula optimum memenuhi persyaratan mutu fisik sabun cair dan berpotensi sebagai sediaan antibakteri. Kata kunci: sabun cair, kombucha bunga telang, Clitoria ternatea L., desain faktorial, Staphylococcus aureus.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROTOTIPE KAPSUL HARUAN SOYBEAN MENGGUNAKAN METODE DPPH (2,2-Difenil-1-pikrilhidrazil)
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat memicu stres oksidatif yang berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan dibutuhkan untuk menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Produk prototipe kapsul Haruan Soybean merupakan formulasi kombinasi minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max (L.) Merr.), yang memiliki aktivitas antioksidan karena mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6, tokoferol, serta fitosterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan produk prototipe kapsul Haruan Soybean menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi produk, penyiapan sampel, pembuatan larutan DPPH, penentuan panjang gelombang maksimum, penentuan aktivitas antioksidan larutan Vitamin C sebagai pembanding, dan penentuan aktivitas antioksidan produk prototipe kapsul Haruan Soybean. Aktivitas antioksidan diukur secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dinyatakan dalam persentase inhibisi (Radical Scavenging Activity). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata %inhibisi sebesar 63,95% ± 2,75% dengan pembanding vitamin C sebesar 37,56% ± 1,43%. Pada uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,001 (p 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok produk prototipe kapsul Haruan Soybean dan vitamin C.
Evaluasi Penyimpanan Obat Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda
Penyimpanan sangat penting untuk memastikan kualitas dan keamanan dalam penyimpanan sediaan farmasi bahan medis habis pakai serta sediaan farmasi dan alat kesehatan. Persyaratan kefarmasian dalam penyimpanan obat yang dimaksud meliputi stabilitas dan keamanan, cahaya, kelembaban, sanitasi, ventilasi, dan penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kesesuaian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda. Penelitian ini merupakan non-eksperimental yang bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data secara kualitatif dan kuantitatif, berdasarkan pengamatan untuk menghasilkan data informasi menggunakan formulir daftar periksa atau form checklist. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan total sampling. Data kualitataif yang diperoleh dari hasil lembar pengumpulan data melalui form checklist observasi disajikan dalam bentuk berupa narasi, lembar form checklist observasi berupa persentase persen untuk kategori penilaian dari penelitian ini dimasukkan pada bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda sudah sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian yang sudah dilakukan seperti persyaratan penyimpanan persentase yang di dapatkan sebesar 100%, komponen penyimpanan 100%, pengaturan penyimpanan 100%, metode penyimpanan 100%, pengelolaan obat emergency 100%, dan untuk peralatan penyimpanan 100%. Hasil evaluasi penelitian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda masih terdapat banyak indikator yang belum sesuai standarseperti hasil nilai TOR sebesar 2.127.63 kali, persentase obat kadaluarsa sebesar 1.854.737 %, persentase stok obat mati 9,1%, persentase kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok 76,22%.
ANALISIS MINIMALISASI BIAYA (COST MINIMIZATION ANALYSIS) LANSOPRAZOLE DAN OMEPRAZOLE PADA PASIEN GASTRITIS RAWAT INAP RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA
Biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat menuntut adanya analisis yang mempertimbangkan aspek efisiensi ekonomi dalam pengobatan. Gastritis merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi tinggi yang membutuhkan terapi efektif secara klinis sekaligus efisien secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya yang lebih minimal antara penggunaan lansoprazole dan omeprazole pada pasien rawat inap dengan gastritis di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda menggunakan metode cost minimization analysis. Dalam pendekatan farmakoekonomi, metode analisis minimalisasi biaya digunakan untuk membandingkan biaya dari dua intervensi kesehatan yang memiliki efektivitas klinis setara. Penelitian ini menggunakan desain studi kuantitatif dengan pengumpulan data secara retrospektif dan data dianalisis menggunakan analisis minimalisasi biaya untuk mengetahui biaya paling minimal antara biaya pengobatan lansoprazole dan omeprazole. Metode statistik digunakan untuk mengevaluasi perbedaan signifikan antar kelompok. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Hasil menunjukan bahwa pasien dengan dengan terapi omeprazole merupakan biaya paling minimal dengan CMA per pasien Rp.2.495.987 dibandingkan dengan terapi lansoprazole dengan CMA per pasien Rp.2.512.812 yang memiliki biaya relatif lebih tinggi namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam biaya minimal antara pasien yang menggunakan omeprazole dan pasien yang menggunakan lansoprazole. Penggunaan omeprazole dan lansoprazole sebagai terapi gastritis perlu dievaluasi tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga dari segi efisiensi biaya.
ANALISIS MINIMALISASI BIAYA (COST MINIMIZATION ANALYSIS) LANSOPRAZOLE DAN OMEPRAZOLE PADA PASIEN GASTRITIS RAWAT INAP RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA
Biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat menuntut adanya analisis yang mempertimbangkan aspek efisiensi ekonomi dalam pengobatan. Gastritis merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi tinggi yang membutuhkan terapi efektif secara klinis sekaligus efisien secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya yang lebih minimal antara penggunaan lansoprazole dan omeprazole pada pasien rawat inap dengan gastritis di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda menggunakan metode cost minimization analysis. Dalam pendekatan farmakoekonomi, metode analisis minimalisasi biaya digunakan untuk membandingkan biaya dari dua intervensi kesehatan yang memiliki efektivitas klinis setara. Penelitian ini menggunakan desain studi kuantitatif dengan pengumpulan data secara retrospektif dan data dianalisis menggunakan analisis minimalisasi biaya untuk mengetahui biaya paling minimal antara biaya pengobatan lansoprazole dan omeprazole. Metode statistik digunakan untuk mengevaluasi perbedaan signifikan antar kelompok. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Hasil menunjukan bahwa pasien dengan dengan terapi omeprazole merupakan biaya paling minimal dengan CMA per pasien Rp.2.495.987 dibandingkan dengan terapi lansoprazole dengan CMA per pasien Rp.2.512.812 yang memiliki biaya relatif lebih tinggi namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam biaya minimal antara pasien yang menggunakan omeprazole dan pasien yang menggunakan lansoprazole. Penggunaan omeprazole dan lansoprazole sebagai terapi gastritis perlu dievaluasi tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga dari segi efisiensi biaya.
STUDI LITERATUR EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT
Studi Literatur Analisis Rhodamin B pada Lipstik Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri UV-Vis
Rhodamin B adalah zat warna yang tidak seharusnya digunakan dalam pembuatan kosmetika. Penggunaan rhodamin B pada umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti pertimbangan harga yang lebih ekonomis dibandingkan pewarna kosmetik, selain itu warna yang dihasilkan rhodamin B bersifat tahan lama dan lebih menarik. Rhodamin B memiliki sifat karsinogenik dan dapat menyebabkan iritasi pada bibir apabila digunakan dalam jangka panjang. Analisis rhodamin B dapat dilakukan dengan menggunakan metode seperti Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofotometri UV-Vis. Jenis penelitian ini berupa studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui hasil analisa keberadaan dan rhodamin B yang beredar di pasaran. Tahap penelitian ini meliputi pengumpulan data, menelaah dan menganalisa data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini mencakup perbandingan mengenai persiapan sampel dan informasi kadar rhodamin B yang terkandung dalam lipstik yang beredar di pasar Daerah Gorontalo dan Batam. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menyajikan data kualitatif dan kuantitatif yang fokus pada hasil analisa keberadaan dan kadar rhodamin B pada lipstik.
PENENTUAN AKTIIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT
Paparan sinar matahari memiliki efek negatif pada kulit manusia, oleh karena itu salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai tabir surya adalah rimpang temu putih (Curcuma zedoaria). Temu putih mengandung senyawa antioksidan, kurkuminoid, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, fenolik, triterpenoid, steroid dan glikosida. Salah satunya fenolik mempunyai gugus kromofor yang merupakan sistem aromatik terkonjugasi yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu pada rimpang temu putih dengan umur 9-11 bulan. Tahapan penelitian ini dimulai dengan determinasi tanaman, pengumpulan rimpang temu putih dan pembuatan simplisia yang dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di TawangMangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Tahapan selanjutnya penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penentuan aktivitas tabir surya menggunakan spektrofotometri secara in vitro dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi dan Laboratorium Kimia Analisis Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda. Analisis data yang digunakan dengan metode SPPS IBM 25 dengan taraf kepecayaan 95%. Hasil penelitian diperoleh ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%,50% dan 70% nilai SPF etanol 30% sebesar 14,14± 0,0652 (rendah) dan etanol 70% 33,65 ± 0,9517 (tinggi). Analisis data statistik ekstrak temu putih menggunakan uji Kruskal-wallis dan didapatkan nilai Asymp.sig. 0,05.
Studi Literatur Analisis Rhodamin B pada Lipstik Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri UV-Vis
Rhodamin B adalah zat warna yang tidak seharusnya digunakan dalam pembuatan kosmetika. Penggunaan rhodamin B pada umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti pertimbangan harga yang lebih ekonomis dibandingkan pewarna kosmetik, selain itu warna yang dihasilkan rhodamin B bersifat tahan lama dan lebih menarik. Rhodamin B memiliki sifat karsinogenik dan dapat menyebabkan iritasi pada bibir apabila digunakan dalam jangka panjang. Analisis rhodamin B dapat dilakukan dengan menggunakan metode seperti Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofotometri UV-Vis. Jenis penelitian ini berupa studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui hasil analisa keberadaan dan rhodamin B yang beredar di pasaran. Tahap penelitian ini meliputi pengumpulan data, menelaah dan menganalisa data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini mencakup perbandingan mengenai persiapan sampel dan informasi kadar rhodamin B yang terkandung dalam lipstik yang beredar di pasar Daerah Gorontalo dan Batam. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menyajikan data kualitatif dan kuantitatif yang fokus pada hasil analisa keberadaan dan kadar rhodamin B pada lipstik.
STUDI LITERATUR EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT
PENENTUAN AKTIIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT
Paparan sinar matahari memiliki efek negatif pada kulit manusia, oleh karena itu salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai tabir surya adalah rimpang temu putih (Curcuma zedoaria). Temu putih mengandung senyawa antioksidan, kurkuminoid, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, fenolik, triterpenoid, steroid dan glikosida. Salah satunya fenolik mempunyai gugus kromofor yang merupakan sistem aromatik terkonjugasi yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu pada rimpang temu putih dengan umur 9-11 bulan. Tahapan penelitian ini dimulai dengan determinasi tanaman, pengumpulan rimpang temu putih dan pembuatan simplisia yang dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di TawangMangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Tahapan selanjutnya penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak dengan variasi konsentrasi etanol 30%, 50%, dan 70%, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penentuan aktivitas tabir surya menggunakan spektrofotometri secara in vitro dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi dan Laboratorium Kimia Analisis Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda. Analisis data yang digunakan dengan metode SPPS IBM 25 dengan taraf kepecayaan 95%. Hasil penelitian diperoleh ekstrak temu putih dengan variasi konsentrasi etanol 30%,50% dan 70% nilai SPF etanol 30% sebesar 14,14± 0,0652 (rendah) dan etanol 70% 33,65 ± 0,9517 (tinggi). Analisis data statistik ekstrak temu putih menggunakan uji Kruskal-wallis dan didapatkan nilai Asymp.sig. 0,05.
PENGARUH METODE PENGERINGAN SIMPLISIA BIJI BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP KADAR PROANTOSIANIDIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Biji alpukat memiliki kandungan zat yang bermanfaat bagi tubuh yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati sakit gigi, maag kronis, hipertensi dan diabetes melitus. Ekstrak etanol biji alpukat (Persea Americana Mill.) memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, dan proantosianidin. Pemanfaatan biji dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi simplisia, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi simplisia adalah proses pengeringan guna mendapatkan simplisia yang bermutu. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh metode pengeringan simplisia menggunakan oven suhu 60oC dan sinar matahari pada biji buah alpukat terhadap kadar proantosianidin secara spektrofotometri UV- Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan pengumpulan biji buah alpukat yang diperoleh dari kebun alpukat Desa Berambai kota Samarinda, pengolahan simplisia dengan variasi metode pengeringan, pembuatan ekstrak dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, skrining fitokimia, dan penetapan kadar proantosianidin menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding katekin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji buah alpukat mengandung sejumlah besar alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, proantosianidin, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak diuji secara kuantitatif dengan spektrofotometer didapatkan panjang gelombang maksimum katekin adalah 499 nm. Kurva baku katekin adalah : y = 0,04903x + 0,42133 nilai r hitung = 0,99257. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol biji alpukat, pengeringan dengan metode sinar matahari memiliki kadar proantosianidin yang lebih tinggi dibandingkan dengan kadar proantosianidin dengan pengeringan metode oven. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pengeringan yang berbeda dapat mempengaruhi kadar proantosianidin pada ekstrak.
PENGARUH METODE PENGERINGAN SIMPLISIA BIJI BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP KADAR PROANTOSIANIDIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Biji alpukat memiliki kandungan zat yang bermanfaat bagi tubuh yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati sakit gigi, maag kronis, hipertensi dan diabetes melitus. Ekstrak etanol biji alpukat (Persea Americana Mill.) memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, dan proantosianidin. Pemanfaatan biji dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi simplisia, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi simplisia adalah proses pengeringan guna mendapatkan simplisia yang bermutu. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh metode pengeringan simplisia menggunakan oven suhu 60oC dan sinar matahari pada biji buah alpukat terhadap kadar proantosianidin secara spektrofotometri UV- Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan pengumpulan biji buah alpukat yang diperoleh dari kebun alpukat Desa Berambai kota Samarinda, pengolahan simplisia dengan variasi metode pengeringan, pembuatan ekstrak dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, skrining fitokimia, dan penetapan kadar proantosianidin menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding katekin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji buah alpukat mengandung sejumlah besar alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, proantosianidin, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak diuji secara kuantitatif dengan spektrofotometer didapatkan panjang gelombang maksimum katekin adalah 499 nm. Kurva baku katekin adalah : y = 0,04903x + 0,42133 nilai r hitung = 0,99257. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol biji alpukat, pengeringan dengan metode sinar matahari memiliki kadar proantosianidin yang lebih tinggi dibandingkan dengan kadar proantosianidin dengan pengeringan metode oven. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pengeringan yang berbeda dapat mempengaruhi kadar proantosianidin pada ekstrak.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PAKU (Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L. dan Aspidium biserratum Sw.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang paling banyak tersebar di daerah tropik seperti Kalimantan. Salah satu jenis tumbuhan paku yang paling sering dijumpai temui yaitu paku sejati (Felicinae) contohnya Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Setiap tumbuhan umumnya mengandung senyawa golongan flavonoid. Flavonoid terdapat hampir di semua bagian tumbuhan, seperti daun, akar, kulit tepung sari, nektar, bunga, buah dan biji. Senyawa flavonoid memiliki aktivitas antioksidan yang dapat meningkatkan pertahanan diri dari penyakit yang diinduksi radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid pada tanaman paku Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Berdasarkan hasil uji kualitatif, ketiga sampel terbukti mengandung senyawa golongan flavonoid dan steroid serta tidak mengandung senyawa golongan alkaloid, tanin dan saponin. Penetapan kadar flavonoid dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun paku Asplenium nidus memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,4440% ± 0,018599. Sementara ekstrak etanol daun paku Asplenium adiantum-nigrum memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,5439% ± 0,017408, dan pada ekstrak etanol daun paku Aspidium biserratum 0,5116% ± 0,060305.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PAKU (Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L. dan Aspidium biserratum Sw.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang paling banyak tersebar di daerah tropik seperti Kalimantan. Salah satu jenis tumbuhan paku yang paling sering dijumpai temui yaitu paku sejati (Felicinae) contohnya Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Setiap tumbuhan umumnya mengandung senyawa golongan flavonoid. Flavonoid terdapat hampir di semua bagian tumbuhan, seperti daun, akar, kulit tepung sari, nektar, bunga, buah dan biji. Senyawa flavonoid memiliki aktivitas antioksidan yang dapat meningkatkan pertahanan diri dari penyakit yang diinduksi radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid pada tanaman paku Asplenium nidus L., Asplenium adiantum-nigrum L., dan Aspidium biserratum Sw. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Berdasarkan hasil uji kualitatif, ketiga sampel terbukti mengandung senyawa golongan flavonoid dan steroid serta tidak mengandung senyawa golongan alkaloid, tanin dan saponin. Penetapan kadar flavonoid dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun paku Asplenium nidus memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,4440% ± 0,018599. Sementara ekstrak etanol daun paku Asplenium adiantum-nigrum memiliki rata-rata kadar flavonoid sebesar 0,5439% ± 0,017408, dan pada ekstrak etanol daun paku Aspidium biserratum 0,5116% ± 0,060305.