Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

1.289 item publik

Publikasi

Halaman 24 dari 65

FORMULASI SEDIAAN SAMPO KOMBINASI EKSTRAK LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) Burm.f.) DAN SARI BUAH JERUK NIPIS (Citrus auranifolia S.) SEBAGAI ANTIKETOMBE

M.RANGGA FADILAH DWI NATA SAPUTRA
2026 · Thesis · Open Access

Indonesia merupakan negara tropis dengan kelembapan tinggi yang memicu produksi minyak berlebih pada kulit kepala, sehingga mempermudah pertumbuhan jamur penyebab ketombe. Penggunaan sampo antiketombe sintetis sering kali menimbulkan efek samping berupa iritasi dan kerontokan rambut, sehingga diperlukan alternatif alami yang lebih aman. Bahan alami yang berpotensi sebagai antiketombe yaitu lidah buaya dan sari buah jeruk nipis. Lidah buaya dan sari buah jeruk nipis berfungsi menghambat pertumbuhan jamur penyebab ketombe yaitu Candida albicans. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan sediaan sampo kombinasi ekstrak lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) dan sari buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) yang stabil secara fisik dan efektif sebagai antiketombe menggunakan formula optimum. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Formula sampo dibuat dengan kombinasi Na lauril sulfat dan Cocamide DEA, lalu diuji secara fisik meliputi uji organoleptik, pH, homogenitas, viskositas, dan tinggi busa. Data hasil uji fisik dianalisis menggunakan perangkat lunak desain faktorial untuk menentukan formula optimum. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan komposisi optimum Na lauril sulfat dengan konsentrasi 10% dan Cocamide DEA dengan konsentrasi 1,53% keduanya mampu mempengaruhi karakteristik pada sediaan sampo antiketombe. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan nilai pH 5,36, viskositas 3498, dan tinggi busa 10,7. Pengujian aktivitas antiketombe terhadap jamur Candida albicans menghasilkan diameter zona hambat sebesar 18,21 mm yang termasuk dalam kategori daya hambat kuat. Uji iritasi terhadap 5 orang sukarelawan menunjukkan hasil negatif, menandakan tidak adanya iritasi kulit. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak lidah buaya 14% dan sari buah jeruk nipis 10% berhasil diformulasikan menjadi sediaan sampo antiketombe yang stabil secara fisik, aman, serta memiliki efektivitas yang kuat dalam menghambat jamur Candida albicans.

OPTIMASI SEDIAAN SABUN CAIR ANTIBAKTERI EKSTRAK MINYAK ATSIRI DAUN KEMANGI (Ocimum x africanum L.) DENGAN VARIASI SLS DAN ASAM STEARAT

CLARYSKA APYLINA
2026 · Thesis · Open Access

Sabun cair merupakan sediaan pembersih yang banyak digunakan karena praktis dan higienis. Penggunaan bahan antibakteri sintetis dalam sabun cair berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi, sehingga diperlukan alternatif bahan alami. Minyak atsiri daun kemangi (Ocimum basilicum L) diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan sabun cair antibakteri yang mengandung minyak atsiri daun kemangi dengan variasi konsentrasi Sodium Lauryl Sulfat (SLS) dan asam stearat, serta mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuantitatif dengan metode desain faktorial menggunakan dua faktor, yaitu konsentrasi SLS dan asam stearat pada dua level sehingga diperoleh empat formula yang mengandung minyak atsiri daun kemangi sebesar 4%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, serta uji tinggi busa. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Desain Expert 13 untuk memperoleh formula optimum, kemudian dilakukan verifikasi dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi SLS dan asam stearat berpengaruh signifikan terhadap karakteristik fisik sediaan, meliputi pH, viskositas, dan tinggi busa (p0,05). Formula optimum diperoleh pada komposisi SLS 5,50 g dan asam stearat 3 g dengan hasil evaluasi pH 9,17, viskositas 458,33 cPs, dan tinggi busa 83 mm yang telah memenuhi persyaratan mutu sabun cair. Formula optimum juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 8,06 mm yang termasuk dalam kategori daya hambat sedang.

Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor

MUHAMMAD RAFLY
2026 · Thesis · Open Access

Pelayanan kefarmasian yang berkualitas di rumah sakit berperan penting dalam meningkatkan kepuasan dan keamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif non-eksperimental. Responden dipilih menggunakan metode accidental sampling dan data dikumpulkan melalui kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti langsung (tangible). Hasil penelitian mengenai pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor menunjukkan bahwa dimensi pelayanan berada dalam kategori baik, yaitu kehandalan 77,5, daya tanggap 77,5, jaminan 78,125, dan empati 78,75, dan bukti langsung 77,5. Secara keseluruhan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor diperoleh nilai SKM sebesar 77,8 dengan mutu pelayanan baik (B).

PENENTUAN NILAI SPF (Sun Protection Factor) EKSTRAK ETANOL BUAH TERONG SUSU (Solanum mammosum L.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

HANNY RAHMA SABILLA
2026 · Thesis · Open Access

Kulit merupakan organ terluar tubuh manusia yang berfungsi sebagai pelindung utama terhadap radiasi sinar ultraviolet (UV), sehingga penggunaan tabir surya berbahan alami menjadi alternatif yang lebih aman. Salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai tabir surya adalah buah terong susu (Solanum mammosum L.) yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenol yang berpotensi melindungi kulit dari radiasi sinar UV. Pelarut yang umum digunakan untuk mengekstraksi bahan aktif adalah etanol, dimana konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap jenis senyawa metabolit sekunder yang diperoleh dan aktivitas farmakologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF pada ekstrak etanol buah terong susu dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan etanol 95% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol 70% dan etanol 95% dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan pengujian nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290-320 nm dengan interval 5 nm. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa buah terong susu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan steroid/triterpenoid. Hasil pada serbuk simplisia buah terong susu diperoleh nilai susut pengeringan 5,50% dan hasil rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% serta etanol 95% sebesar 13,66% dengan nilai kadar air pada ekstrak etanol 70% sebesar 19,86% dan ekstrak etanol 95% sebesar 13,05%. Berdasarkan hasil penentuan nilai SPF, ekstrak etanol 70% memiliki rentang nilai SPF sebesar 9,70– 10,82 yang termasuk (kategori rendah), sedangkan ekstrak etanol 95% memiliki rentang nilai SPF yang lebih tinggi yaitu sebesar 21,71–34,43 yang termasuk (kategori sedang-tinggi). Hasil analisis statistik menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen, kemudian digunakan uji Welch T-Test dengan hasil nilai p- value (0,0132) < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penentuan nilai SPF dari kedua sampel.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH TERONG SUSU (Solanum mammosum L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL MENGGUNAKAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

MUHAMMAD DIVA FAHREZI
2026 · Thesis · Open Access

Terong susu (Solanum mammosum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi mencegah kerusakan oksidatif dalam sistem biologis, sehingga berperan dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan kanker. Secara tradisional, tanaman ini digunakan dalam pengobatan infeksi jamur, batuk, asma, serta kanker payudara melalui perebusan buahnya. Variasi konsentrasi pelarut akan memengaruhi kualitas ekstrak yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak buah terong susu dengan variasi konsentrasi etanol 70% dan 95% serta vitamin C sebagai pembanding menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penelitian bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tanaman, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, ekstraksi maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan microplate reader. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% dan etanol 95% sebesar 13,66%. Kadar air ekstrak etanol 70% sebesar 19,86 ± 0,12% dan etanol 95% sebesar 13,05 ± 0,65%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70% sebesar 242,04 ± 59,85 ppm (kategori sedang), sedangkan etanol 95% sebesar 83,05 ± 9,71 ppm (kategori kuat). Vitamin C sebagai kontrol positif memiliki IC₅₀ 4,84 ± 1,21 ppm (sangat kuat). Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p 0,05). Hasil uji lanjut Tukey HSD menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan vitamin C, sedangkan ekstrak etanol 95% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan vitamin C.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK PALA (Myristica fragrans) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT (acne vulgaris )

NATALIA
2026 · Thesis · Open Access

Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dikaitkan dengan pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri adalah minyak pala (Myristica fragrans) karena mengandung berbagai senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri serta konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada berbagai konsentrasi. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi sumuran. Minyak pala diuji pada konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%. Klindamisin 0,1% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis menggunakan SPSS melalui uji normalitas, homogenitas, One-Way Analysis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak pala mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri pada seluruh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis diperoleh pada konsentrasi 5%. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 2,00 mm, 5,56 mm, 8,89 mm, dan 13,22 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut sebesar 0,22 mm, 3,89 mm, 8,44 mm, dan 12,22 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p 0,05 pada kedua bakteri, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok konsentrasi. Uji lanjut LSD menunjukkan seluruh kelompok perlakuan berbeda signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa minyak pala memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 5%, serta aktivitas penghambatannya meningkat seiring bertambahnya konsentrasi.

OPTIMASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK KULIT MANGGIS (gracinia mangostana) DENGAN METODE DESIGN FACTORIAL

SALWA FIKRIAH SYAHPUTRI
2026 · Thesis · Open Access

ABSTRAK Nama : Salwa Fikriyah S Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Optimasi Sedian Krim Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana) Dengan Metode Design Factorial Pembimbing : apt. Yullia Sukawaty, M.Sc. Radikal bebas merupakan salah satu penyebab utama kerusakan kulit yang dapat mempercepat proses penuaan dini melalui stres oksidatif. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi sebagai antioksidan adalah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) karena mengandung senyawa aktif berupa xanton, flavonoid, dan senyawa fenolik yang mampu menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi krim yang optimum dari ekstrak etanol kulit buah manggis yang berpotensi sebagai antioksidan dengan variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol yang dapat memberikan sifat fisik sediaan krim yang baik. Krim dibuat 4 formula dengan variasi asam stearat dan setil alkohol yang dirancang sesuai dengan desain faktorial. Sediaan krim yang menghasilkan uji sifat fisiknya meliputi pengamatan organoleptik (bentuk, warna, bau), homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas. Formula optimum yang diperoleh menggunakan metode desain faktorial berdasarkan parameter uji pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas hasil sudah diperoleh dapat disimpulkan bahwa kedua faktor yaitu asam stearat dan setil alkohol maupun interaksi keduanya memiliki pengaruh dalam menentukan sifat fisik sediaan. Komposisi optimum yang mempengaruhi formula krim yang baik adalah krim dengan kombinasi asam stearat 3,6% dan setil alkohol 8,5%. Kata kunci: kulit manggis. Krim, asam stearat, setil alkohol

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum ) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT (Acne vulgaris)

TIARA NIA PARMITA
2026 · Thesis · Open Access

Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.

Hubungan Kesadaran Dan Harapan Terhadap Kepercayaan Konsumen Pada Peran Apoteker Dalam Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Wilayah Samarinda Ulu

PATIMAH NOVITA SARI
2026 · Thesis · Open Access

Apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam penyediaan obat dan informasi penggunaannya, sedangkan apoteker sebagai pelaku utama pelayanan kefarmasian juga berperan sebagai konsultan kesehatan yang mengedukasi masyarakat. Kepercayaan konsumen terhadap peran apoteker penting dalam mendukung pelayanan kefarmasian yang optimal, dan berkaitan dengan kesadaran serta harapan konsumen. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen serta menganalisis hubungan antara kesadaran dan harapan terhadap kepercayaan konsumen pada peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek Wilayah Samarinda Ulu. Metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, melibatkan 400 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden serta tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen, dan secara bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil menunjukkan tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen mayoritas tinggi (6,45%; 27,7%; 27,9%). Kesadaran tidak berhubungan signifikan dengan kepercayaan (p=0,240), sedangkan harapan berhubungan signifikan dan kuat dengan kepercayaan (p=0,000; r=0,719).

OPTIMASI FORMULA SEDIAAN SABUN DARI KOMBUCHA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.)

ADINDA TIARA SAFITRI
2026 · Thesis · Open Access

Kombucha bunga telang (Clitoria ternatea L.) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, antosianin, dan metabolit hasil fermentasi yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula optimum sabun cair kombucha bunga telang dengan variasi konsentrasi minyak zaitun dan kalium hidroksida (KOH) serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian menggunakan metode desain faktorial 2² dengan dua faktor, yaitu minyak zaitun (12,5 g dan 37,5 g) serta KOH (1,5 g dan 3 g). Respon yang diamati meliputi pH, viskositas, dan tinggi busa. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Design-Expert versi 13 untuk menentukan formula optimum, kemudian dilakukan verifikasi formula optimum dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi minyak zaitun 24,5 g dan KOH 2,7 g. Formula optimum memiliki pH 8,97, viskositas 2000 cPs, dan tinggi busa 2,1 cm serta menghasilkan diameter zona hambat sebesar 4,03 mm terhadap Staphylococcus aureus yang termasuk dalam kategori daya hambat lemah. Formula optimum memenuhi persyaratan mutu fisik sabun cair dan berpotensi sebagai sediaan antibakteri. Kata kunci: sabun cair, kombucha bunga telang, Clitoria ternatea L., desain faktorial, Staphylococcus aureus.

Hubungan Kesadaran Dan Harapan Terhadap Kepercayaan Konsumen Pada Peran Apoteker Dalam Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Wilayah Sungai Pinang

RICHA AL JUFRI
2026 · Thesis · Open Access

Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat apoteker melaksanakan praktik kefarmasian yang berorientasi pada pasien melalui konsep pharmaceutical care. Keberhasilan pelayanan kefarmasian dipengaruhi oleh kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen terhadap peran apoteker. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen serta menganalisis hubungan kesadaran dan harapan dengan kepercayaan konsumen terhadap pelayanan kefarmasian di apotek wilayah Sungai Pinang. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 400 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan Skala Guttman untuk variabel kesadaran serta Skala Likert untuk variabel harapan dan kepercayaan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran (64,2%), harapan (66,0%), dan kepercayaan (67,2%) berada pada kategori tinggi. Uji Spearman Rank menunjukkan hubungan yang signifikan antara kesadaran dengan kepercayaan konsumen (p0,05; r=0,199) dengan kekuatan hubungan sangat lemah, serta hubungan yang signifikan antara harapan dengan kepercayaan konsumen (p0,05; r=0,880) dengan kekuatan hubungan sangat kuat. Penelitian ini menunjukkan bahwa harapan konsumen memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap kepercayaan dibandingkan kesadaran terhadap peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian. Kata kunci: Apoteker, kesadaran, harapan, kepercayaan, konsume

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN PARFUM DARI BAHAN PEWANGI ALAMI MINYAK ATSIRI AKAR WANGI (Vetiveria zizanioides) SEBAGAI FIXATIVE AGENT

MUH RAFLY AIDIL FITRIANNUR
2026 · Thesis · Open Access

Penggunaan parfum saat ini menjadi kebutuhan gaya hidup, namun kelemahan utama sediaan parfum adalah aromanya yang cepat menguap. Minyak akar wangi (Vetiveria zizanioides) mengandung senyawa vetiver yang memiliki daya ikat dan titik didih tinggi, sehingga berpotensi sebagai fixative agent alami untuk mempertahankan aroma parfum lebih lama. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi terbaik minyak akar wangi sebagai fixative agent yang menghasilkan sediaan parfum cair dengan stabilitas fisik dan ketahanan aroma (longevity) yang paling baik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Tahapan penelitian diawali dengan perancangan formulasi, pembuatan sediaan parfum cair, hingga evaluasi mutu fisik dan tingkat kesukaan panelis. Sediaan parfum dibuat dalam empat formula dengan variasi konsentrasi minyak akar wangi sebagai fixative agent, yaitu F1 (0 ml), F2 (0,125 ml), F3 (0,25 ml), dan F4 (0,375 ml). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, uji ketahanan aroma (longevity) serta uji hedonik. Data hasil kesukaan panelis dianalisis secara statistik menggunakan Friedman test untuk menentukan ada tidaknya pengaruh konsentrasi minyak akar wangi terhadap kualitas sediaan parfum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik organoleptik yang baik, homogen, dan memiliki pH 5. Hasil uji spot/noda menunjukkan bahwa seluruh formula tidak menghasilkan noda permanen pada kain. Peningkatan konsentrasi minyak akar wangi menunjukkan kecenderungan peningkatan ketahanan aroma, dengan F1 bertahan selama 2-3 jam, F2 selama 4-5 jam, F3 selama 6-7 jam, dan F4 selama 8-10 jam. Formula F4 menunjukkan tingkat kesukaan tertinggi secara deskriptif. Hasil uji Friedman menunjukkan nilai p = 0,961 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat kesukaan panelis antarformula. Berdasarkan hasil evaluasi, formula terbaik adalah F4 dengan konsentrasi minyak akar wangi sebesar 0,375% karena menunjukkan karakteristik fisik yang baik dan ketahanan aroma paling lama.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI BUAH BAKAU KURAP (Rhizophora Mucronata) TERHADAP BAKTERI Staphyloococus aureus

ZIQRY BILHAQ
2026 · Thesis · Open Access

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat dengan diameter 0,7-1,2 µm, Staphylococcus aureus hidup pada hidung dan kulit manusia. Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri adalah bakau kurap. Bakau kurap kaya dengan beberapa macam senyawa seperti tanin, alkaloid, flavonoid, terpenoid dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri dari buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylcoccus aureus. Tahapan Penelitian yaitu pengumpuan bahan baku, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dan fraksi, skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak buah bakau kurap (Rhizophora mucronata) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 5%,10% dan 20%, kontrol positif Kloramfenikol 1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah bakau kurap mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, flavonoid dan tanin. Berdasarkan hasi penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah bakau kurap memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol dengan konsentrasi 5% dikategori lemah 10% dan 20% kategorikan sedang dan kuat, fraksi n-heksan dengan konsentrasi 5% dan 10% kategorikan lemah dan 20% kategorikan sedang, fraksi etil asetat dengan kategori 5% dan 10% dikategori sedang untuk 20% kategorikan kuat, fraksi air dengan konsentrasi 5%, 10% dan 20% kategorikan sedang, kontrol positif kategorikan sangat kuat.

PERBANDINGAN TINGKAT KETERAMPILAN 4C MAHASISWA S1 FARMASI DENGAN KEAKTIFAN MAHASISWA DALAM ORMAWA

VONNY JESSICA JUSTINE
2026 · Thesis · Open Access

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21 (4C), yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication. Organisasi kemahasiswaan (ormawa) menjadi salah satu wadah yang berpotensi mengembangkan keterampilan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat keterampilan 4C antara mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji homogenitas Levene's Test, dan Independent Samples t-test dengan bantuan SPSS. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal (p = 0,200), sedangkan uji homogenitas menunjukkan varians kedua kelompok homogen (p = 0,821). Hasil Independent Samples t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan 4C antara mahasiswa yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan (p 0,000), dengan perbedaan rata-rata sebesar 9,98 poin. Mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki skor lebih tinggi pada seluruh aspek keterampilan 4C, yaitu critical thinking (3,16), creativity (2,98), collaboration (3,18), dan commu-nication (3,09), dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi. Dengan demikian, organisasi kemahasiswaan berperan sebagai sarana yang mendukung pengembangan keterampilan 4C mahasiswa Farmasi sebagai kompetensi pendukung dalam mewujudkan profil Ten Star Pharmacist.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL BATANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) MENGGUNAKAN METODE DPPH (1,1-diphenyl-2-pircrylhydrazyl)

PETRA SEPTIANA ANYAQ
2026 · Thesis · Open Access

Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan berperan dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Salah satu upaya untuk menangkal radikal bebas adalah dengan memanfaatkan antioksidan yang berasal dari bahan alam. Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol batang jarak pagar (Jatropha curcas L.) menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penetapan susut pengeringan simplisia, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara spektrofotometri UV-Vis. Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan nilai IC₅₀ yang diperoleh dari persamaan regresi linier antara konsentrasi sampel dan persen inhibisi radikal bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai susut pengeringan simplisia sebesar 10,40%, sedangkan kadar air ekstrak sebesar 17,28%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol batang jarak pagar mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan steroid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak metanol batang jarak pagar memiliki nilai IC₅₀ sebesar 476,4857 ppm, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 9,7961 ppm yang termasuk kategori antioksidan sangat kuat. Berdasarkan klasifikasi nilai IC₅₀, ekstrak metanol batang jarak pagar termasuk dalam kategori antioksidan lemah. Dengan demikian, ekstrak metanol batang jarak pagar memiliki kemampuan menangkap radikal bebas DPPH, namun aktivitas antioksidannya masih tergolong lemah sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan potensi aktivitas antioksidannya.

PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL DAN METANOL DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

MILA NUR CAHYANI
2026 · Thesis · Open Access

Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan pengobatan. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan senyawa fenolik dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan selama proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak daun jarak pagar menggunakan variasi pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan metode Folin-Ciocalteu yang diukur secara spektrofotometri UV-Vis dengan asam galat sebagai standar. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, One Way ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak etanol 70%, etanol 95%, dan metanol berturut-turut sebesar 22,8289 ± 1,53 mg GAE/g, 36,0400 ± 0,66 mg GAE/g, dan 20,6133 ± 2,62 mg GAE/g. Uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar ketiga kelompok pelarut (p<0,05). Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 70% dan metanol, sedangkan antara ekstrak etanol 70% dan metanol tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 95% menghasilkan kadar fenolik total tertinggi, sehingga lebih efektif dibandingkan etanol 70% dan metanol dalam mengekstraksi senyawa fenolik daun jarak pagar.

ANALISIS VITAMIN C PADA KOSMETIK SERUM WAJAH MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

IMELLIA
2026 · Thesis · Open Access

Serum pencerah wajah merupakan sediaan kosmetik yang banyak digunakan karena mengandung bahan aktif berkonsentrasi tinggi, salah satunya vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan penghambat pembentukan melanin. Namun, tidak semua produk serum wajah yang beredar mencantumkan kandungan vitamin C sesuai dengan klaim pada label kemasannya, sehingga perlu dilakukan analisis kadar vitamin C untuk mengetahui kandungan vitamin C pada produk. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar vitamin C pada produk serum wajah yang beredar di Kelurahan Air Hitam, Samarinda menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan teknik purposive sampling. Tahapan pengujian meliputi pembuatan larutan KMnO₄ 1% dan larutan kontrol positif vitamin C untuk uji kualitatif, pembuatan larutan induk vitamin C 1000 ppm, pembuatan larutan seri, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi, serta penetapan kadar vitamin C menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa sampel A, B, dan C mengalami perubahan warna dari ungu menjadi coklat yang kemudian memudar setelah penambahan KMnO₄ 1%, sehingga dinyatakan positif mengandung vitamin C. Sebaliknya, sampel D tidak menunjukkan perubahan warna dan tetap berwarna ungu sehingga dinyatakan negatif mengandung vitamin C. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan kadar vitamin C pada sampel A, B, dan C berturut-turut sebesar 4,2903 ± 0,0894%; 4,7105 ± 0,3194%; dan 2,2076 ± 0,2241%, sedangkan pada sampel D vitamin C tidak terdeteksi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tiga dari empat sampel serum wajah yang beredar di toko kosmetik Kelurahan Air Hitam, Samarinda mengandung vitamin C dengan kadar yang bervariasi, sedangkan satu sampel yang mencantumkan vitamin C pada label kemasan tidak terdeteksi mengandung vitamin C. Kata kunci : Vitamin C, kosmetik, serum wajah, spektrofotometri UV-Vis

FORMULASI SABUN PADAT KOMBUCHA TEH HIJAU (Camellia Sinensis) TERHADAP staphylococcus aureus

AGATA TRI GIOVANI KERAWING
2026 · Thesis · Open Access

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan kulit berbahan alam mendorong pengembangan sediaan kosmetik yang lebih efektif. Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan, namun pemanfaatannya dalam sediaan topikal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum Tween 80 dan PEG 400 pada formulasi serum nanoemulsi ekstrak daun senduduk serta mengetahui aktivitas antioksidannya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode Factorial Design menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi serum nanoemulsi. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, transmitan, ukuran droplet, polydispersity index (PDI), dan zeta potensial. Formula optimum ditentukan menggunakan perangkat lunak Design Expert, kemudian dilakukan verifikasi dan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi Tween 80 sebesar 12,844% dan PEG 400 sebesar 14,663%. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan karakteristik fisik yang baik dengan nilai pH 6,4, viskositas 20 cP, transmitan 96,34%, ukuran droplet 91 nm, Polydispersity Index (PDI) 0,364, dan zeta potensial -2,86 mV. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter pH, viskositas, dan zeta potensial tidak berbeda signifikan antara hasil prediksi dan verifikasi (p > 0,05). Formula tersebut memiliki nilai IC₅₀ sebesar 115,85 ± 33,79 ppm, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Dengan demikian, ekstrak daun senduduk berpotensi dikembangkan sebagai serum nanoemulsi antioksidan berbahan alam.

Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Berdasarkan Variasi Konsentrasi Pelarut Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

YUNIA LISTI
2026 · Thesis · Open Access

Indonesia sebagai negara tropis memiliki paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sehingga berisiko menyebabkan berbagai gangguan kulit. Nilai Sun Protection Factor (SPF) digunakan untuk mengukur kemampuan tabir surya dalam melindungi kulit dari sinar UV. Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) berpotensi sebagai tabir surya alami karena mengandung flavonoid, senyawa fenolik, dan kurkumin yang bersifat fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam berdasarkan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, susut pengeringan, ekstraksi dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan pengujian nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 290–320 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai SPF sebesar 34,89–37,32 dengan kategori ptoteksi tinggi, ekstrak etanol 95% sebesar 31,25–37,10 dengan kategori proteksi tinggi, sedangkan ekstrak etanol 70% sebesar 20,46–27,49 dengan kategori proteksi sedang. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen, sehingga dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA. Hasil uji One Way ANOVA diperoleh nilai p-value (0,003) < (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam berdasarkan variasi pelarut yang digunakan. Uji lanjut Post-Hoc Tukey menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan metanol, sedangkan ekstrak etanol 95% dan metanol tidak berbeda signifikan terhadap nilai SPF. Kata kunci: Curcuma caesia Roxb., SPF, etanol, metanol, spektrofotometri UV- Vis.