Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Curcuma zedoaria
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Penghambat Tirosinase Pada Ekstrak Metanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hiperpigmentasi merupakan permasalahan kulit yang diakibatkan oleh peningkatan sintesis melanin akibat paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa yang mampu menghambat produksi melanin, salah satunya melalui penghambat aktivitas enzim tirosinase. Temu putih (Curcuma zedoaria Roxb.), khususnya pada bagian rimpangnya, diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai agen penghambat enzim tirosin dan mampu menghambat sintesis melanin pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambat enzim tirosinase terhadap ekstrak metanol rimpang temu putih dengan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 1000, 500, 250 dan 125 ppm yang ditentukan berdasarkan nilai Inhibitory Concentration (IC50) yang diperoleh dari pengukuran absorbansi ekstrak menggunakan alat microplate reader pada panjang gelombang 475 nm, sebagai pembanding digunakan asam kojat dengan konsentrasi 125, 62,5, 31,25, dan 15,627 ppm. Penelitian ini dilakukan secara in vitro menggunakan metode enzymatic analysis dengan L-DOPA sebagai substrat. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia (10,67% ± 0,45%), pembuatan ekstrak dengan hasil rendemen yaitu 9,92%, penetapan kadar air ekstrak (12,93% ± 3,13%), dan skrining fitokimia (menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik/tanin dan saponin), serta penentuan aktivitas penghambat enzim tirosinase terhadap ekstrak ekstrak metanol rimpang temu putih berdasarkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol rimpang temu putih memiliki aktivitas penghambatan enzim tirosine dengan nilai IC50 sebesar 296,076 ± 24,27 ppm, yang termasuk dalam kategori sedang, sementara itu hasil penelitian terhadap asam kojat sebagai kontrol positif menunjukkan aktivitas penghambatan enzim tirosin yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 12,495 ± 1,65 ppm.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria) dengan variasi konsentrasi pelarut

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temu putih (Curcuma zedoaria) termasuk dalam tanaman keluarga yang mempunyai khasiat sebagai penambah nafsu makan, mengatasi kram akibat menstruasi, gangguan pencernaan, muntah, penawar racun menurunkan demam, mengobati gatal-gatal, bronkitis serta radang akibat luka. Tanaman ini juga memiliki kandungan fitokimia yaitu alkaloid, saponin, tannin, fenol, terpenoid, dan flavonoid. Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam senyawa fenol yang struktur benzenanya tersubstitusi dengan gugus OH. Flavonoid tardapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga dapat ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria) berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari determinasi tanaman, pengumpulan sampel, penetapan susut pengeringan, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol (30%, 50% dan 70%), penetapan kadar air, dan penetapan kadar flavonoid dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding kuersetin. Berdasarkan hasil rata - rata penetapan susut pengeringan sebesar 9,45%. Pada uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin dan triterpenoid. Hasil rendemen eksrak etanol 70%, 50% dan 30% secara berturut - turut yaitu 31,25%, 27,00% dan 11,76%. Sedangkan pada penetan kadar air mendapatkan hasil sebesar 9,49%, 18,9% dan 9,07%. Hasil panjang gelombang maksimum yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 441 nm. Pada penelitian ini diperoleh hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak rimpang temu putih dengan konsentrasi 70% memiliki kadar flavonoid yang lebih tinggi yaitu 1,3964 ±0,0195 di bandingkan dengan konnsentrasi etanol 50 % (1,2667±0,0187) dan 30% (1,1243±0,0171). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel sesuai dengan pertimbangan tertentu dari peneliti. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini dilakukan secara statistik menggunakan uji ANOVA dengan aplikasi Minitab. Nilai p value yang diperoleh sebesar (0,000 0,05) maka dapat disimpulkan hasil uji statistik pada ketiga variasi konsentrasi pelarut etanol tersebut menunjukkan adanya nilai kadar flavonoid yang signifikan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Temu Putih (Curcuma zedoaria) Dengan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Etanol Menggunakan Metode DPPH

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan merupakan senyawa yang penting bagi tubuh karena dapat menghambat molekul radikal bebas sehingga dapat mencegah penyakit. Radikal bebas yang dapat masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sistem imun tubuh. Temu putih (Curcuma zedoaria) merupakan salah satu rimpang yang memiliki kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak rimpang temu putih dengan variasi konsentrasi pelarut etanol. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan serbuk simplisia temu putih, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak sampel menggunakan variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 30%, 50%, dan 70% dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan susut pengeringan sebesar 11,29%. Uji skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan triterpenoid. Hasil rendemen ekstrak etanol 70%, 50%, dan 30% secara berturut-turut adalah 21,19%, 21,19%, 19,27%. Sedangkan kadar air sebesar 13,35%, 19,58%, 9,23%. Hasil uji aktivitas antioksidan pada penelitian ini diperoleh nilai panjang gelombang maksimum sebesar 519 nm. Nilai IC50 yang terbaik diperoleh pada ekstrak temu putih dengan konsentrasi etanol 70% yaitu sebesar 142,139 ppm yang dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sedang. Pada ekstrak etanol 50% diperoleh nilai IC50 sebesar 227,522 ppm sedangkan pada etanol 30% sebesar 289,699 ppm sehingga keduanya menunjukkan kategori aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Hal ini dapat terjadi karena ekstrak etanol 70% termasuk kedalam larutan yang bersifat polar, semakin polar pelarut etanol yang digunakan maka nilai IC50 semakin besar dan aktivitas antioksidannya menjadi semakin lemah. Sebagai pembanding dalam uji ini digunakan vitamin C dengan nilai IC50 sebesar 6,84 ppm, menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI PELARUT

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) merupakan salah satu genus Curcuma yang banyak digunakan sebagai obat. Temu Putih memiliki aktivitas aktioksidan karena mengandung senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman dengan kombinasi antara mono dan polisakarida yang berikatan dengan satu atau lebih gugus fenolik, atau sebagai turunan ester atau metil ester. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenol total dari ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah kadar fenol total ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pelarut etanol dengan konsentrasi 30%, 50%, dan 70% dan variabel terikat yaitu kadar fenol total ekstrak rimpang temu putih. Pada penelitian ini juga memiliki variabel kontrol yaitu rimpang temu putih dan spektrofotometri UV-Vis. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temu putih dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Bagian yang diambil dari temu putih adalah bagian rimpang yang telah cukup umur 11 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid , saponin, dan terpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenol total ekstrak temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut etanol 30%, 50%, dan 70% diperoleh masing-masing kadar sebesar 23,4477±0,9827 mg GAE/g, 32,2464±1,3022 mg GAE/g, dan 51,6880±0,4948 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen sehingga digunakan uji one way anova dengan hasil nilai p value (0,00) (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenol total dari ketiga sampel.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail