Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

31 hasil
Subjek: Etanol
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Reaksi oksidasi yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai efek merugikan, terutama karena produksi radikal bebas yang tidak terkendali. Untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dibutuhkan senyawa antioksidan. Salah satu sumber alami yang berpotensi sebagai antioksidan berasal dari tumbuhan, adalah buah tampoi (Baccaurea macrocarpa). Buah ini ketahui mengandung senyawa metabolit seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana aktivitas antioksidan buah Tampoi (Baccaurea macrocarpa) dengan metode DPPH. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan variabel bebas ekstrak etanol buah tampoi dan variabel terikat aktivitas antioksidan. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan slimpisia, ekstraksi secara maserasi, skrining fitokimia penetapan kadar air ekstrak, uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. Data aktivitas antioksidan diperoleh dari persentase inhibisi DPPH dan nilai IC50. Skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil uji menunjukkan ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki nilai IC50 rata-rata 11,8165 ppm yang tergolong sangat kuat, sedangkan vitamin C sebagai pembanding memiliki IC50 sebesar 7,5019 ppm.Dengan demikian, ekstrak etanol kulit buah tampoi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN PETAI BELALANG (Archidendron clypearia) (Jack) Nielsen DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Archidendron clypearia (Jack) Nielsen, dikenal sebagai petai belalang, merupakan tumbuhan yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid (robenetin, fisetin, kuersetin), asam galat, alkaloid, tanin, serta antioksidan yang berpotensi sebagai agen tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun petai belalang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi airnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan variabel bebas berupa jenis ekstrak dan fraksi, serta variabel terikat berupa nilai Sun Protection Factor (SPF). Variabel kontrol adalah daun petai belalang, etanol 70%, metode ekstraksi, dan metode spektrofotometri. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 400 ppm yaitu 38,44 ± 0,05 (kategori tinggi), diikuti oleh ekstrak etanol sebesar 33,40 ± 2,28 (kategori tinggi), fraksi air sebesar 21,75 ± 0,23 (kategori sedang), dan fraksi n-heksan sebesar 8,54 ± 0,07 (kategori rendah). Uji statistik menunjukkan nilai signifikansi untuk semua kelompok menunjukan p = 0,001 0,05 yang berarti adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antar kelompok. Hasil ini menunjukan bukti variabel yang diuji berpengaruh atau berbeda secara nyata antar kelompok adanya perbedaan tersebut menujukan bahwa setiap kelompok mempunyai kemampuan sebagai tabir surya yang berbeda mengikuti tingkat kelarutan pelarut masing-masing.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Efektivitas Antioksidan Terhadap Ekstrak Daun Bakau Hitam (Rhizophora muncronata Poir) menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-Ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic Acid)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakau hitam merupakan salah satu jenis tanaman bakau yang tersebar luas di Kawasan Samudra Hindia dan Pasifik, salah satu spesies mangrove yang umum ditemukan di sepanjang pesisir wilayah Semenanjung Malaya. Masyarakat pesisir banyak memanfaatkan bahan mentahnya untuk pengobatan tradisional dengan khasiat berbagai penyakit, termasuk diare, malaria, cacar, asma, diabetes, demam, pembengkakan, rematik, penyakit kulit, hepatitis, diuretik, kusta, antitumor, leukemia, antikanker, antivirus, gondok, sebagai obat pelangsing, antimuntah, dan beri-beri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas antioksidan dari ekstrak daun bakau hitam (Rhizophora mucronata Poir) menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Daun bakau hitam diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid yang berperan sebagai antioksidan alami. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dan aktivitas diukur berdasarkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun bakau hitam memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 10,97 ± 3,19 ppm, mendekati efektivitas vitamin C sebagai pembanding. Dengan demikian, daun bakau hitam berpotensi sebagai sumber antioksidan alami.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENENTUAN NILAI SPF (Sun Protection Factor) EKSTRAK ETANOL BUAH TERONG SUSU (Solanum mammosum L.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit merupakan organ terluar tubuh manusia yang berfungsi sebagai pelindung utama terhadap radiasi sinar ultraviolet (UV), sehingga penggunaan tabir surya berbahan alami menjadi alternatif yang lebih aman. Salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai tabir surya adalah buah terong susu (Solanum mammosum L.) yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenol yang berpotensi melindungi kulit dari radiasi sinar UV. Pelarut yang umum digunakan untuk mengekstraksi bahan aktif adalah etanol, dimana konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap jenis senyawa metabolit sekunder yang diperoleh dan aktivitas farmakologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF pada ekstrak etanol buah terong susu dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan etanol 95% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol 70% dan etanol 95% dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan pengujian nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290-320 nm dengan interval 5 nm. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa buah terong susu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan steroid/triterpenoid. Hasil pada serbuk simplisia buah terong susu diperoleh nilai susut pengeringan 5,50% dan hasil rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% serta etanol 95% sebesar 13,66% dengan nilai kadar air pada ekstrak etanol 70% sebesar 19,86% dan ekstrak etanol 95% sebesar 13,05%. Berdasarkan hasil penentuan nilai SPF, ekstrak etanol 70% memiliki rentang nilai SPF sebesar 9,70– 10,82 yang termasuk (kategori rendah), sedangkan ekstrak etanol 95% memiliki rentang nilai SPF yang lebih tinggi yaitu sebesar 21,71–34,43 yang termasuk (kategori sedang-tinggi). Hasil analisis statistik menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen, kemudian digunakan uji Welch T-Test dengan hasil nilai p- value (0,0132) < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penentuan nilai SPF dari kedua sampel.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH TERONG SUSU (Solanum mammosum L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL MENGGUNAKAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Terong susu (Solanum mammosum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi mencegah kerusakan oksidatif dalam sistem biologis, sehingga berperan dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan kanker. Secara tradisional, tanaman ini digunakan dalam pengobatan infeksi jamur, batuk, asma, serta kanker payudara melalui perebusan buahnya. Variasi konsentrasi pelarut akan memengaruhi kualitas ekstrak yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak buah terong susu dengan variasi konsentrasi etanol 70% dan 95% serta vitamin C sebagai pembanding menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penelitian bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tanaman, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, ekstraksi maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan microplate reader. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% dan etanol 95% sebesar 13,66%. Kadar air ekstrak etanol 70% sebesar 19,86 ± 0,12% dan etanol 95% sebesar 13,05 ± 0,65%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70% sebesar 242,04 ± 59,85 ppm (kategori sedang), sedangkan etanol 95% sebesar 83,05 ± 9,71 ppm (kategori kuat). Vitamin C sebagai kontrol positif memiliki IC₅₀ 4,84 ± 1,21 ppm (sangat kuat). Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p 0,05). Hasil uji lanjut Tukey HSD menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan vitamin C, sedangkan ekstrak etanol 95% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan vitamin C.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Berdasarkan Variasi Konsentrasi Pelarut Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia sebagai negara tropis memiliki paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sehingga berisiko menyebabkan berbagai gangguan kulit. Nilai Sun Protection Factor (SPF) digunakan untuk mengukur kemampuan tabir surya dalam melindungi kulit dari sinar UV. Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) berpotensi sebagai tabir surya alami karena mengandung flavonoid, senyawa fenolik, dan kurkumin yang bersifat fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam berdasarkan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, susut pengeringan, ekstraksi dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan pengujian nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 290–320 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai SPF sebesar 34,89–37,32 dengan kategori ptoteksi tinggi, ekstrak etanol 95% sebesar 31,25–37,10 dengan kategori proteksi tinggi, sedangkan ekstrak etanol 70% sebesar 20,46–27,49 dengan kategori proteksi sedang. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen, sehingga dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA. Hasil uji One Way ANOVA diperoleh nilai p-value (0,003) < (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam berdasarkan variasi pelarut yang digunakan. Uji lanjut Post-Hoc Tukey menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan metanol, sedangkan ekstrak etanol 95% dan metanol tidak berbeda signifikan terhadap nilai SPF. Kata kunci: Curcuma caesia Roxb., SPF, etanol, metanol, spektrofotometri UV- Vis.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol dan Metanol Batang Jarak Pagr (Jatropha curcas L.) Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-VIS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur. Flavonoid merupakan senyawa yang bersifat polar sehingga dapat diekstraksi menggunakan pelarut polar seperti etanol dan metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid total ekstrak batang jarak pagar menggunakan pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental. Sampel batang jarak pagar diperoleh dari Desa Berambai melalui teknik purposive sampling. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi, dilanjutkan dengan skrining fitokimia dan penetapan kadar flavonoid total menggunakan standar kuersetin dan pereaksi aluminium klorida (AlCl₃). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70%, etanol 95%, dan metanol positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan steroid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95% memiliki kadar flavonoid tertinggi sebesar 0,2391 ± 0,0195%, diikuti ekstrak metanol sebesar 0,2199 ± 0,0197%, dan ekstrak etanol 70% sebesar 0,1657 ± 0,0367%. Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa kadar flavonoid total ekstrak dengan pelarut etanol 70% berbeda nyata terhadap etanol 95% (p = 0,015) dan metanol (p = 0,047), sedangkan antara etanol 95% dan metanol tidak terdapat perbedaan nyata (p = 0,410). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pelarut memengaruhi kadar flavonoid total ekstrak batang jarak pagar secara signifikan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit dan kematian. Salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering dijumpai adalah Escherichia coli, yaitu bakteri flora normal usus yang dapat bersifat patogen apabila jumlahnya berlebihan. Tingginya kasus resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri dari bahan alam, salah satunya daun singkong (Manihot esculenta Crantz). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun singkong terhadap bakteri E. coli. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah yang relevan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun singkong menghasilkan diameter zona hambat sebesar 19 mm, 25 mm, dan 29 mm pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Pada penelitian lainnya, diameter zona hambat yang diperoleh sebesar 3,5 mm, 4,4 mm, dan 5,2 mm pada konsentrasi 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 150.000 ppm setara dengan 5%, 10%, dan 15%, dengan kategori lemah hingga sedang. Perbedaan aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak, metode yang digunakan, serta faktor biologi dan kimia saat proses pembuatan ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol 70% daun singkong berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami terhadap E. coli.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) DENGAN VARIASI PELARUT MENGGUNAKAN MICROPLATE READER

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa bioaktif, khususnya senyawa fenolik, yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Kandungan senyawa fenolik yang terekstraksi dari bahan alam dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat polaritasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan pembanding asam galat. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar fenolik total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar fenolik total tertinggi sebesar 85,8743 ± 0,8622 mg GAE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 53,9945 ± 0,4897 mg GAE/g dan ekstrak etanol 95% sebesar 49,9234 ± 0,9029 mg GAE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,000 (0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar fenolik total ekstrak kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) DENGAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan untuk pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) berdasarkan nilai IC₅₀. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan metode DPPH dengan prinsip pengukuran penurunan absorbansi radikal bebas. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan vitamin C sebagai pembanding. Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam persentase penghambatan terhadap radikal bebas DPPH dan selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai IC₅₀ sebagai parameter aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai IC₅₀ ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu 13,5849 ppm dan rata-rata nilai IC₅₀ vitamin C sebagai pembanding yaitu 8,4020 ppm. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi dan vitamin C sangat kuat. Hal ini diperkuat dengan uji analisis statistik menggunakan independent sample t-test yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara dua kelompok tersebut.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL HERBA SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) DENGAN METODE DPPH (1,1 Diphenyl-2-Pichrydrazyl)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan berperan dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Salah satu sumber antioksidan alami yang berpotensi adalah herba sirih cina (Peperomia pellucida L.) yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan ekstrak herba sirih cina. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan objek penelitian berupa data sekunder dari jurnal ilmiah nasional. Kriteria inklusi meliputi penelitian yang menggunakan metode ekstraksi maserasi, pelarut etanol dengan variasi konsentrasi, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif dengan membandingkan nilai persen inhibisi dan nilai IC50 sebagai parameter aktivitas antioksidan.Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan pelarut etanol 80% memberikan aktivitas antioksidan terbaik dibandingkan dengan etanol 96%. Berdasarkan data penelitian sebelumnya, ekstrak etanol 80% herba sirih cina menunjukkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 19,031 ppm. Sementara itu, penggunaan pelarut etanol 96% menghasilkan aktivitas antioksidan dengan kategori sedang dengan nilai IC50 sebesar 132,85 µg/mL (ppm). Perbedaan efektivitas ini dipengaruhi oleh tingkat polaritas pelarut yang menentukan optimalisasi penarikan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan polifenol. Studi literatur ini diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai pengaruh pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan herba sirih cina.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAN 96% DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus spina-christi L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Propionibacterium acnes

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jerawat atau acne vulgaris merupakan permasalahan kulit yang disebabakan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) berpotensi dapat digunakan untuk mengatasi bakteri penyebab jerawat. Etanol dengan konsentrasi berbeda sering di gunakan dalam proses ekstraksi. Perbedaan variasi konsentrasi etanol dapat mempengaruhi rendemen, senyawa biaoktif dan aktivitas antibakteri dari ekstrak suatu tanaman. Studi literatur ini bertujuan untuk membandingan aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan 96% daun bidara arab terhadap pertumbuhan bakteri penyebab jerawat Propionibacterium acnes serta untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung. Metode yang digunakan adalah studi literatur dekskriptif menggunakan data sekunder yaitu artikel dari penelitian sebelumnya. Hasil analisis data menunjukkan ekstrak etanol 70% daun bidara arab pada konsentrasi 40% menghasilkan zona hambat sebesar 10,12 mm dengan kategori daya hambat kuat sedangkan ekstrak etanol 96% pada konsentrasi 30% menghasilkan zona hambat sebesar 14,13 mm yang termasuk golongan daya hambat kuat. Hasil analisis skrining fitokimia ekstrak etanol 70% mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak etanol 96% mengandung senyawa aktif flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Perbedaan aktivitas antibakteri dan senyawa aktif yang dihasilkan diakibatkan oleh perbedaan tingkat polaritas serta perbedaan konstanta dielektrik pelarut etanol 70% dan 96%. Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab perbedaan aktivitas antibakteri serta kandungan senyawa aktif yaitu proses pembuatan simplisia, kualitas simplisia yang digunakan, metode ekstraksi, perbandingan bahan dan pelarut, pH, waktu, suhu stabilitas senyawa, konsentrasi antibakteri dalam ekstrak, laju difusi zat antibakteri ke dalam medium, serta faktor lain seperti inokulum, ukuran, suhu, inkubasi, pH, komponen media, dan aktivitas metabolisme mikroorganisme.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BERDASARKAN NILAI IC50 EKSTRAK ETANOL 70% BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas merupakan senyawa reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan sel serta berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes melitus. Untuk menghambat dampak negatif tersebut, tubuh memerlukan antioksidan yang mampu menetralisir radikal bebas. Antioksidan dapat berasal dari berbagai senyawa aktif, seperti flavonoid, alkaloid, dan saponin. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung antosianin serta senyawa bioaktif lain yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai IC₅₀ dari ekstrak etanol 70% bunga telang berdasarkan dua artikel ilmiah yang menggunakan metode DPPH. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ pada jurnal pertama sebesar 41,36 µg/mL dan pada jurnal kedua sebesar 43,68 ppm, yang keduanya termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Perbedaan nilai IC₅₀ tersebut dapat disebabkan oleh variasi metode ekstraksi, konsentrasi larutan induk, serta perlakuan terhadap sampel. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa bunga telang memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli dan Propionibacterium acnes

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun senggani (Melastoma malabathricum L.) merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat salah satunya yaitu sebagai antibakteri. Diare dapat disebabkan karena adanya bakteri disaluran pencernaan, salah satu bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah bakteri Escherichia coli. Jerawat dapat disebabkan karena adanya pertumbuhan koloni bakteri penyebab jerawat dan inflamasi, inflamasi atau peradangan ini umumnya dipicu oleh salah satu bakteri yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui diameter zona hambat dari daun senggani terhadap bakteri Escherichia coli dan Propionibacterium acnes. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan menggunakan metode difusi cakram. Variabel bebas penelitian ini yang digunakan adalah konsentrasi 20%, 40% dan 60%, variabel terikatnya adalah diameter zona hambat bakteri yang terbentuk disekitar kertas cakram dan variabel kontrol penelitian ini adalah perlakuan bakteri Escherichia coli dan Propionibacterium acnes dan metode uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun senggani mengandung metabolit sekunder berupa alkoloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun senggani memiliki aktivitas terhadap bakteri Escherichia coli ditandai adanya diameter zona bening disekitar kertas cakram, aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 20% (12,88 mm), 40% (15,03 mm) dan 60% (15,71 mm). Sedangkan aktivitas zona hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan kosentrasi 20% (13,13 mm), 40 % (15,90 mm) dan 60% (16,71 mm). Uji daya hambat ekstrak etanol 70 % daun senggani terhadap bakteri Escherichia coli dan Propionibacterium acnes menunjukkan hasil bahwa daun senggani memiliki daya hambat terhadap kedua bakteri dengan kategori kuat.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONSENTRASI PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat yang berasal dari famili Zingiberaceae. Temulawak sering dimanfaatkan sebagai obat herbal atau jamu yang digunakan secara turun-temurun, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Rimpang temulawak diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, flavonoid, terpenoid dan triterpenoid yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan suatu bahan alam adalah konsentrasi pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan pada ekstrak rimpang temulawak menggunakan metode ABTS. Tahapan dalam penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pembuatan serbuk simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut menggunakan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan dan analisis data. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temulawak dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan 95%. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid). Data yang diperoleh merupakan data kualitatif berupa hasil skrinning fitokimia dan data kuantitatif berupa nilai IC50. Data kuantitatif dari hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol rimpang temulawak dengan vitamin C sebagai pembanding dan pengujian secara deskriptif Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan terbaik yaitu pada ekstrak rimpang temulawak dengan pelarut etanol 70% dengan nilai IC50 sebesar 2,6045 ppm, sedangkan pada pelarut etanol 95% dengan nilai IC50 sebesar 1,1641 ppm. Sedangkan pada pembanding vitamin C diperoleh nilai IC50 sebesar 0,6413 ppm Ekstrak etanol rimpang temulawak dan vitamin C ketiganya masuk dalam kategori sangat kuat.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antioksidan Kulit Naga Merah (Hylocereus Polyrhrizus) dengan Metode DPPH

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah naga memiliki kulit yang pada umumnya hanya dibuang sebagai limbah sehingga tidak dimanfaatkan secara optimal. Kulit buah naga merah mengandung vitamin C, vitamin E, vitamin A, fenolik, flavonoid, karotenoid, dan antosianin. Kulit buah naga bermanfaat sebagai antimikroba, antikanker dan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol kulit buah naga merah metode DPPH (2,2 difenil-1-pikrihidrazil). Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental, sampel kulit buah naga merah diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah naga merah menggunakan metode DPPH sebagai radikal bebas yang diukur menggunakan Spektofotometer UV-Vis pada panjang gelombang serapan maksimum 520 nm. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) diperoleh ekstrak kental dengan presentase rendemen 11,25%. Hasil skrining fitokimia didapatkan bahwa ekstrak etanol kulit buah naga merah positif mengandung flavonoid, tanin dan steroid. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 814,821 ppm termasuk kategori sangat lemah.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Pro-Antosianidin Pada Seduhan dan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan metode spektrofotometri UV-Vis

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan tumbuhan yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia secara alami sebagai tanaman kaya antioksidan, namun pemanfaatan dari kulit buah naga merah belum sepenuhnya dimaksimalkan. Kulit buah naga merah dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Penarikan senyawa serta aktivitas biologis dari suatu tanaman dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Metode seduhan dan maserasi dipilih karena merupakan metode yang mudah, murah serta lebih aplikatif digunakan masyarakat. Ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid dan proantosianidin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kadar proantosianidin ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi, pengumpulan kulit buah naga merah, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, pembuatan seduhan, dan penetapan kadar proantosianidin menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding katekin. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar pada ekstrak sebesar 7,47 mgCE/ g ± 0,18 dan pada seduhan didapatkan hasil sebesar 6,33 mgCE/g ± 0,21667. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar proantosianidin pada ekstrak lebih besar dibanding pada seduhan. Hasil analisis data secara statistik kadar proantosianidin menggunakan uji Independent Sample Test menunjukkan nilai P 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara ekstrak dan seduhan kulit buah naga merah.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria) dengan variasi konsentrasi pelarut

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temu putih (Curcuma zedoaria) termasuk dalam tanaman keluarga yang mempunyai khasiat sebagai penambah nafsu makan, mengatasi kram akibat menstruasi, gangguan pencernaan, muntah, penawar racun menurunkan demam, mengobati gatal-gatal, bronkitis serta radang akibat luka. Tanaman ini juga memiliki kandungan fitokimia yaitu alkaloid, saponin, tannin, fenol, terpenoid, dan flavonoid. Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam senyawa fenol yang struktur benzenanya tersubstitusi dengan gugus OH. Flavonoid tardapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga dapat ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria) berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari determinasi tanaman, pengumpulan sampel, penetapan susut pengeringan, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol (30%, 50% dan 70%), penetapan kadar air, dan penetapan kadar flavonoid dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding kuersetin. Berdasarkan hasil rata - rata penetapan susut pengeringan sebesar 9,45%. Pada uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin dan triterpenoid. Hasil rendemen eksrak etanol 70%, 50% dan 30% secara berturut - turut yaitu 31,25%, 27,00% dan 11,76%. Sedangkan pada penetan kadar air mendapatkan hasil sebesar 9,49%, 18,9% dan 9,07%. Hasil panjang gelombang maksimum yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 441 nm. Pada penelitian ini diperoleh hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak rimpang temu putih dengan konsentrasi 70% memiliki kadar flavonoid yang lebih tinggi yaitu 1,3964 ±0,0195 di bandingkan dengan konnsentrasi etanol 50 % (1,2667±0,0187) dan 30% (1,1243±0,0171). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel sesuai dengan pertimbangan tertentu dari peneliti. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini dilakukan secara statistik menggunakan uji ANOVA dengan aplikasi Minitab. Nilai p value yang diperoleh sebesar (0,000 0,05) maka dapat disimpulkan hasil uji statistik pada ketiga variasi konsentrasi pelarut etanol tersebut menunjukkan adanya nilai kadar flavonoid yang signifikan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Temu Putih (Curcuma zedoaria) Dengan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Etanol Menggunakan Metode DPPH

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan merupakan senyawa yang penting bagi tubuh karena dapat menghambat molekul radikal bebas sehingga dapat mencegah penyakit. Radikal bebas yang dapat masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sistem imun tubuh. Temu putih (Curcuma zedoaria) merupakan salah satu rimpang yang memiliki kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ekstrak adalah kepolaran pelarut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak rimpang temu putih dengan variasi konsentrasi pelarut etanol. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan serbuk simplisia temu putih, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak sampel menggunakan variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 30%, 50%, dan 70% dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan susut pengeringan sebesar 11,29%. Uji skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan triterpenoid. Hasil rendemen ekstrak etanol 70%, 50%, dan 30% secara berturut-turut adalah 21,19%, 21,19%, 19,27%. Sedangkan kadar air sebesar 13,35%, 19,58%, 9,23%. Hasil uji aktivitas antioksidan pada penelitian ini diperoleh nilai panjang gelombang maksimum sebesar 519 nm. Nilai IC50 yang terbaik diperoleh pada ekstrak temu putih dengan konsentrasi etanol 70% yaitu sebesar 142,139 ppm yang dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sedang. Pada ekstrak etanol 50% diperoleh nilai IC50 sebesar 227,522 ppm sedangkan pada etanol 30% sebesar 289,699 ppm sehingga keduanya menunjukkan kategori aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Hal ini dapat terjadi karena ekstrak etanol 70% termasuk kedalam larutan yang bersifat polar, semakin polar pelarut etanol yang digunakan maka nilai IC50 semakin besar dan aktivitas antioksidannya menjadi semakin lemah. Sebagai pembanding dalam uji ini digunakan vitamin C dengan nilai IC50 sebesar 6,84 ppm, menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI PELARUT

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) merupakan salah satu genus Curcuma yang banyak digunakan sebagai obat. Temu Putih memiliki aktivitas aktioksidan karena mengandung senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman dengan kombinasi antara mono dan polisakarida yang berikatan dengan satu atau lebih gugus fenolik, atau sebagai turunan ester atau metil ester. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenol total dari ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah kadar fenol total ekstrak etanol rimpang temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pelarut etanol dengan konsentrasi 30%, 50%, dan 70% dan variabel terikat yaitu kadar fenol total ekstrak rimpang temu putih. Pada penelitian ini juga memiliki variabel kontrol yaitu rimpang temu putih dan spektrofotometri UV-Vis. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rimpang temu putih dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Bagian yang diambil dari temu putih adalah bagian rimpang yang telah cukup umur 11 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang temu putih mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid , saponin, dan terpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenol total ekstrak temu putih dengan perbedaan konsentrasi pelarut etanol 30%, 50%, dan 70% diperoleh masing-masing kadar sebesar 23,4477±0,9827 mg GAE/g, 32,2464±1,3022 mg GAE/g, dan 51,6880±0,4948 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen sehingga digunakan uji one way anova dengan hasil nilai p value (0,00) (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenol total dari ketiga sampel.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail