ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Melastoma malabathricum L. (senduduk) dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antiseptik, antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan. Kandungan metabolit sekundernya, seperti flavonoid, tanin, dan triterpenoid, berpotensi sebagai agen tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan etanol-air daun senduduk. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan tanin; sedangkan komposisi senyawa bervariasi pada masing-masing fraksi. Pada konsentrasi 800 ppm, nilai SPF tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat (30,91 ± 0,43) dan ekstrak etanol (30,06 ± 1,70), dikategorikan sebagai aktivitas tinggi. Fraksi n-heksan dan fraksi air masing-masing menunjukkan nilai SPF sebesar 22,37 ± 0,06 dan 19,00 ± 0,31 (kategori sedang). Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p = 0.000), namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara ekstrak etanol dan fraksi etil asetat (p = 0.281). Dengan demikian, fraksi etil asetat dan ekstrak etanol memiliki potensi setara sebagai agen pelindung terhadap sinar UV.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari tinggi memerlukan perlindungan kulit dengan penggunaan tabir surya, serta pengembangan tabir surya berbahan alami semakin diminati karena lebih aman. Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan serta mampu menyerap radiasi UV. Ekstrak daun senduduk diformulasikan dalam bentuk sunscreen stick karena praktis, stabil, dan mudah diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi optimum carnauba wax dan cera alba sebagai basis sunscreen stick ekstrak daun senduduk yang memenuhi persyaratan fisik dan nilai SPF sediaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Ekstrak daun senduduk diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode factorial design dengan aplikasi Design Expert versi 13 dengan memvariasikan konsentrasi carnauba wax dan cera alba sebagai variabel bebas. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan titik lebur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi optimum diperoleh pada carnauba wax 10% dan cera alba 20% dengan nilai desirability sebesar 0,669. Formula optimum menghasilkan karakteristik fisik yang memenuhi kriteria, meliputi pH 5,72, daya sebar 5,63 cm, daya lekat 26,12 detik, dan titik leleh 62°C. Aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290–320 nm dengan perhitungan menggunakan rumus Mansur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat merusak sel tubuh dan memicu penyakit degeneratif seperti kanker, penuaan dini, dan penyakit jantung. Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas tersebut. Tanaman senduduk (Melastoma malabathricum L.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar aktivitas antioksidan ekstrak etanol dari daun, ranting, dan batang senduduk dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) melalui studi literatur. Data diperoleh dari dua jurnal utama dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang senduduk memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan persen inhibisi sebesar 88% pada konsentrasi 100 ppm, diikuti oleh ranting (82%) dan daun (80%) pada konsentrasi 50 ppm. Nilai estimasi IC₅₀ seluruh bagian berada di bawah 50 ppm, menunjukkan kategori antioksidan kuat. Perbedaan aktivitas ini berkaitan erat dengan kandungan metabolit sekunder masing-masing bagian tanaman. Kandungan flavonoid dan tanin yang lebih tinggi pada batang diyakini berperan besar dalam memberikan aktivitas antioksidan tertinggi. Metode DPPH yang digunakan dalam pengujian memiliki kelebihan dalam kecepatan, kesederhanaan, dan sensitivitas terhadap donor elektron atau atom hidrogen. Hasil studi ini menegaskan bahwa seluruh bagian tanaman senduduk, terutama batangnya, memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami yang efektif untuk menangkal radikal bebas dan dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk herbal atau fitofarmaka
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa kimia seperti golongan fenol, alkaloid, dan saponin. Daun Senggani dapat dimanfaatkan berbagai penyakit, seperti diare, disentri, luka infeksi, sakit gigi, sakit perut, perut kembung, dan sariawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak daun Senggani serta kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bersifat non eksperimental. Penelitian dimulai dari pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dengan etanol 96%. Karakteristik spesifik dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan identitas dengan pengamatan organoleptik pada simplisia berupa potongan tipis, bau khas, hijau, dan rasa pahit serta hasil pengamatan pada ekstrak berupa ekstrak kental, berbau khas, berwarna hijau tua, dan rasa pahit. Kadar senyawa terlarut dalam air untuk ekstrak sebesar 3,3% dan simplisia sebesar 1%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol untuk ekstrak sebesar 98% dan simplisia sebesar 5%. Karakterisasi non spesifik dari simplisia dan ektrak etanol buah labu kuning didapatkan kadar abu total ekstrak sebesar 2,40% dan simplisia sebesar 3,5%, kadar abu tidak larut asam ekstrak sebesar 0,68% dan simplisia sebesar 0,38%. Kadar air esktrak sebesar 17,55% dan simplisia sebesar 4,33%. Bobot jenis ekstrak 0,98 g/mL dan hasil dari total cemaran mikroba pada ekstrak sebanyak 9,840 koloni/g dan simplisia sebesar 3,093,3 koloni/g serta angka kapang khamir pada ekstrak sebesar 20,820 koloni/g dan simplisia sebesar 1,243,3 koloni/g. Pada pengujian skrining fitokimia dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan hasil bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun senggani mengandung metabolit sekunder diantaranya alkaloid, flavonoid, saponin, dan terpenoid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun cengkeh (Syzygum aromaticum L.), daun pacar kuku (Lawsonia inermis L.) dan daun karamunting (Melastoma malabathricum L.) adalah tumbuhan dengan ordo Myrtales, memiliki kandungan seyawa kimia berupa flavonoid yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kadar flavonoid dari daun cengkeh, daun pacar kuku dan daun karamunting. Data yang digunakan dalam studi literatur ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal ilmiah. Tahapan penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, pembahasan dan penarikan kesimpulan. Objek penelitian adalah kadar flavonoid ekstrak etanol daun cengkeh, daun pacar kuku dan daun karamunting. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid daun cengkeh sebesar 7,308%, daun pacar kuku 6,15% dan daun karamunting 0,011% menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi AlCl3 sebagai pembentuk komplek.