Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Petai belalang
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun petai belalang (Archidendron clypearia ( Jack) I.C Nielsen) Terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Petai belalang (Archidendron clypearia) adalah tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk demam, diare, dan detoksifikasi yang mengandung senyawa flavonoid seperti robinetin, quercetin, serta memiliki aktivitas antiinflamasi, antibakteri. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun petai belalang terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan ekstrak dan skrining fitokimia. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus untuk menilai potensi antimikroba ekstrak tumbuhan ini. Ekstrak dibuat dengan konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, menggunakan kontrol positif amoxicillin dan kontrol negatif DMSO 1%. Metode difusi cakram digunakan untuk mengukur zona hambat bakteri. Analisis data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan metode statistik One Way Anova. Hasil Penelitian aktivitas zona hambat pada ekstrak etanol daun petai belalang pada konsentrasi 15% menghasilakan zona hambat sebesar 8,7 mm dengan kategori sedang, terhadap bakteri Escherichia coli, sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 15% menghasilkan zona hambat 7,9 mm. Hasil analisis statistik One Way Anova menunjukkan adanya perbedaan terhadap bakteri gram postif dan negatif.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

"UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN PETAI BELALANG (ARCHIDENDRON CLYPEARIA) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN SALMONELLA TYPHI"

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi merupakan salah satu penyebab penyakit yang sering terjadi di masyarakat. Salah satu jenis infeksi disebabkan oleh Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab infeksi kulit pada manusia yang ditandai dengan abses bernanah. Selain itu, Salmonella typhi juga merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan demam tifoid. Infeksi akibat mikroorganisme dapat diatasi dengan pemberian antimikroba. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antimikroba adalah tumbuhan petai belalang (Archidendron clypearia). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun petai belalang terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri. Ekstrak dan fraksi dibuat dalam konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, dengan kontrol positif amoksisilin 0,1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran untuk mengukur zona hambat. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode difusi cakram, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berada pada kisaran 7,3–10,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 7,6–10,1 mm. Pada metode difusi sumuran, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berkisar antara 12,1–16,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 12,5–16,8 mm. Zona hambat terbesar diperoleh dari fraksi etil asetat dengan diameter 16,8 mm pada metode difusi sumuran. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri pada bakteri gram positif dan gram negatif dengan nilai signifikan 0,005 pada metode cakram dan 0,006 pada metode sumuran.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN PETAI BELALANG (Archidendron clypearia (Jack) Nielson) TERHADAP LARVA UDANG Artemia Salina Leach DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Petai belalang (Archidendron clypearia (Jack) Nielson) secara tradisional digunakan sebagai tumbuhan obat untuk detoksifikasi, mendinginkan, mengurangi edema, dan mengobati diare. Tumbuhan petai belalang juga dipercaya dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, faringolaringitis, tonsilitis, dan gastroenteritis. Pemakaian dengan jumlah yang melebihi batas takaran dapat menyebabkan keracunan (ketoksikan), sehingga untuk menjamin keamanannya harus dilakukan uji toksisitas ekstrak daun petai belalang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun petai belalang terhadap larva udang Artemia salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 sebagai konsentrasi kontrol (negatif), 100, 150, 200, dan 250 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang yang berumur 24 jam. Analisis data dari hasil uji toksisitas menggunakan metode analisis probit untuk menghitung LC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak etanol daun petai belalang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid, dan pada Perhitungan rendemen diperoleh hasil sebesar 18,16 %. Pada hasil uji toksisitas diperoleh dengan nilai LC50 sebesar 251,2465 µg/mL, sehingga ekstrak etanol daun petai belalang termasuk dalam kategori toksik terhadap larva udang Artmia salina Leach.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail