ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produk prototipe kapsul haruan soybean merupakan sediaan berbasis bahan alam yang mengkombinasikan minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max) dengan perbandingan 70% dan 30% yang berpotensi dikembangkan sebagai produk kesehatan. Sebelum dikembangkan lebih lanjut, produk perlu melalui pengujian keamanan sebagai skrining awal untuk mengetahui potensi toksisitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi toksisitas akut produk prototipe kapsul haruan soybean terhadap Artemia salinamenggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan variasi konsentrasi sampel 0, 100, 200, 400, dan 800 ppm. Larva Artemia salina berumur 24–48 jam digunakan sebagai organisme uji, dengan masing-masing konsentrasi terdiri atas 10 larva dan dilakukan empat kali replikasi. Larva dipaparkan selama 24 jam, kemudian diamati jumlah kematian untuk menentukan persentase mortalitas pada setiap konsentrasi. Data mortalitas dianalisis menggunakan metode probit untuk memperoleh nilai LC₅₀ sebagai indikator tingkat toksisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi sampel diikuti dengan peningkatan persentase mortalitas larva. Nilai LC₅₀ yang diperoleh sebesar 404,1104 ppm, sehingga produk prototipe kapsul haruan soybean termasuk dalam kategori toksik terhadap larva Artemia salina. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal mengenai keamanan produk serta menjadi dasar bagi penelitian toksisitas lanjutan menggunakan hewan uji tingkat yang lebih tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Petai belalang (Archidendron clypearia (Jack) Nielson) secara tradisional digunakan sebagai tumbuhan obat untuk detoksifikasi, mendinginkan, mengurangi edema, dan mengobati diare. Tumbuhan petai belalang juga dipercaya dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, faringolaringitis, tonsilitis, dan gastroenteritis. Pemakaian dengan jumlah yang melebihi batas takaran dapat menyebabkan keracunan (ketoksikan), sehingga untuk menjamin keamanannya harus dilakukan uji toksisitas ekstrak daun petai belalang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun petai belalang terhadap larva udang Artemia salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 sebagai konsentrasi kontrol (negatif), 100, 150, 200, dan 250 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang yang berumur 24 jam. Analisis data dari hasil uji toksisitas menggunakan metode analisis probit untuk menghitung LC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak etanol daun petai belalang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid, dan pada Perhitungan rendemen diperoleh hasil sebesar 18,16 %. Pada hasil uji toksisitas diperoleh dengan nilai LC50 sebesar 251,2465 µg/mL, sehingga ekstrak etanol daun petai belalang termasuk dalam kategori toksik terhadap larva udang Artmia salina Leach.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun bayam hijau (Amaranthus Hybridus) merupakan sayuran yang memiliki vitamin A, vitamin C, niasin, thiamin, fosfor, riboflavin, natrium, kalium dan magnesium. Daun bayam hijau memiliki beberapa kandungan kimia, salah satunya yaitu flavonoid sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebas. Pengujian flavonoid dilakukan dengan skrining fitokimia yang mengandung senyawa kuersetin. Kuersetin memiliki aktivitas biologi seperti antivirus, antibakteri , antiinflamasi, dan memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak etanol daun bayam hijau terhadap kematian larva Artemia salina Leach menggunakan metode BSLT. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui toksisitas ekstrak etanol dari daun bayam hijau (Amaranthus Hybridus) terhadap larva udang yang telah ditetaskan selama 48 jam dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, dan 750 ppm lalu diuji selama 24 jam untuk melihat total nilai kematian dari larva Artemia salina Leach lalu mengetahui nilai LC50.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Noorhayati Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Kulit Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata) Terhadap Larva Udang Artemia salina LeachDengan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Pembimbing : 1. apt. Supomo, S.Si.,M. Si. 2. apt. Nurul Fatimah, M.Sc. Limpasu (Baccaurea lanceolata) secara empiris memiliki khasiat untuk mengobati demam, diare, dan kesehatan kulit. Pemakaian dengan jumlah yang melebihi batas takaran dapat menyebabkan keracunan (ketoksikan), sehingga harus di uji untuk memastikan keamanannya dapat terjamin dengan melakukan uji toksisitas ekstrak etanol kulit buah limpasu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol kulit buah limpasu terhadap larva Artemia salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan antara lain: pembuatan simplisia, determinasi tumbuhan, ekstraksi, skrining fitokimia, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 ppm sebagai kontrol (negatif), 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina Leach yang berumur 24 jam dan dibagi dalam 5 kelompok pengujian. Tiap kelompok pengujian terdiri dari 10 ekor larva dengan 3 kali pengulangan. Analisis data dari hasil uji toksisitas menggunakan metode analisis probit untuk menghitung LC50. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah limpasu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan triterpenoid. Pada hasil uji toksisitas diperoleh dengan nilai LC50 sebesar 254.9693 µg/mL sehingga ekstrak etanol kulit buah limpasu termasuk dalam kategori toksik terhadap larva udang Artemia salina Leach.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan Rambutan yang akan digunakan sebagai bahan obat harus diuji kualitas mutu dengan dengan melalui serangkaian uji agar keamanannya dapat terjamin dengan melakukan uji karakterisasi dan uji toksisitas akut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjamin mutu ekstrak melalui karakteristik parametrik spesifik dan non spesifik lalu dilanjutkan dengan mengetahui Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan tingkat toksisitas dari ekstrak terhadap larva Artemia salina L.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan non eksperimental, dengan tahapan penelitian antara lain: pembuatan simplisia, determinasi, ekstraksi maserasi, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik ekstrak, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 ppm sebagai kontrol (negatif), 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina Leach yang berumur 18-36 jam dan dibagi dalam 5 kelompok pengujian. Tiap kelompok pengujian terdiri dari 10 ekor larva dengan 3 kali pengulangan. Analisis data untuk menghitung LC50 dihitung menggunakan metode analisis probit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Selutui puka adalah tumbuhan yang berasal dari Kutai Barat Kalimantan Timur. Berdasarkan empiris yang beredar dikalangan masyarakat daun dan buah Selutui puka digunakan sebagai obat sakit gigi, namun beberapa masyarakat sekitar juga menyatakan buah Selutui puka memiliki efek racun. Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut ekstrak daun dan buah Selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) sehingga didapatlan perbedaan nilai LC50 dan potensi toksik terhadap larva Artemia salina Leach. Uji toksisitas menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC50. Didapatkan nilai LC50 daun selutui puka sebesar 0,7440 µg/mL dan buah selutui puka sebesar 77,62 µg/mL, ekstrak daun selutui puka lebih toksik dibandingkan ekstrak buah selutui puka. Daun selutui puka mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Sedangkan buah selutui puka mengandung flavonoid dan alkaloid. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah ekstrak daun dan buah selutui puka memiliki potensi ketoksikan dengan kategori sangat toksik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Uji toksisitas akut adalah salah satu cara yang dirancang untuk menentukan dosis LD50 atau LC50 dari suatu zat dan kemungkinan mekanisme kerja dan target organnya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 dari kulit kayu terap (Artocarpus odoratissimus Blanco) terhadap larva Artemia salina Leach dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Parameter yang digunakan untuk menunjukkan aktivitas biologi dari senyawa yang terkandung dalam tanaman adalah jumlah kematian pada larva Artemia salina Leach yang kemudian akan ditentukan tingkat ketoksikan senyawa yang dinyatakan dalam nilai LC50. Nilai LC50 merupakan angka yang menunjukkan konsentrasi ekstrak suatu tanaman yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sebesar 50% dari jumlah hewan uji. Metode pada penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, methanol, fraksi n-heksan dan etil asetat. Hasil uji dari keempat penelitian dapat disimpulkan bahwa pelarut yang paling banyak bersifat toksik yaitu yang menggunakan pelarut fraksi n-heksan dengan range 30-1000 ppm (Toksik). Hasil uji fitokimia didapatkan metabolit sekunder kulit kayu terap seperti alkaloid, saponin, triterpenoid dan flavonoid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut ekstrak etanol dengan dua daun yang berbeda yaitu daun sukun (Artocarpus atilis) dan daun cempedak (Artocarpus champeden.L) dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan LC50. Nilai LC50 merupakan angka yang menunjukkan konsentrasi ekstrak suatu tanaman yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sebesar 50% dari jumlah hewan uji. Maka didapatkan LC50 daun sukun (Artocarpus atilis) adalah 3608.893 ppm dan daun cempedak (Artocarpus champeden.L) sebesar 314,78 ppm. Daun sukun dan daun cempedak mengandung flavonoid dan tanin. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa terjadi perbedaan nilai LC50 pada kedua jenis tanaman tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pemakaian setiap bahan atau zat memiliki potensi yang bersifat toksik atau menyebabkan keracunan tergantung takarannya. Selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) secara empiris digunakan sebagai obat sakit gigi, tumor, dan kanker. Kamboja putih (Plumeria alba L.) digunakan masyarakat sebagai obat sakit gigi, pencahar, dan antigatal. Khasiat kedua famili Apocynaceae ini selain digunakan masyarakat sebagai obat sakit gigi juga dilaporkan pada pemakaian jumlah tertentu dapat menyebabkan keracunan atau toksik di dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan LC50 ekstrak etanol daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun kamboja putih (Plumeria alba L.) terhadap larva Artemia Salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur. Objek yang diteliti adalah toksisitas ekstrak etanol daun selutui puka dan daun kamboja putih terhadap larva Artemia salina Leach. Analisa yang dilakukan adalah menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data terkumpul. Hasil penelitian menunjukan toksisitas pada daun selutui puka menghasilkan nilai LC50 0,7440 µg/mL dan untuk nilai LC50 ekstrak etanol daun kamboja putih adalah 132,340 µg/mL. Kedua tumbuhan ini masuk dalam kategori sangat toksik.